Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 61– Dennis VS Bapak Tertua


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Dennis keluar dari dalam gubuk. Ia berjalan menghampiri Cahya, lalu mereka berdua tos bersama karena merasa senang rencana mereka berhasil.


"Huh, aku lega sekarang. Aku pikir, aku tidak akan berhasil, hehe..." Ujar Cahya dengan tertawa kecilnya.


"Haha, iya. Tapi..." Dennis menyentuh pipinya lalu mengeluh. "Kau memukul wajahku terlalu keras tadi. Aduh!"


"Ah, maafkan aku! Aku memang seperti itu. Padahal aku mukul pelan, tapi orang lain bilang pukulanku sangat keras dan menyakitkan." Jelas Cahya. Lalu ia ikut mengusap-usap pipi Dennis untuk membersihkan sedikit kotoran di wajahnya.


Karena jari-jari lembut Cahya menyentuh wajahnya, Dennis jadi sedikit ragu dan malu. Wajahnya jadi memerah tanpa sebab dan jantungnya berdegup kencang. Lalu dengan cepat, ia menghempas tangan Cahya dengan lembut.


"Ah, maaf, Cahya! Aku... aku sudah merasa baikan, kok!" Dennis tertawa kecil sambil memutar-mutar rambutnya dengan jarinya.


"Oh," Cahya meneleng. Ia memejamkan mata sambil tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Sekali lagi, maaf, ya?"


Cahya dan Dennis hanya berdiam diri sambil bertatap muka. Saat ini entah apa yang mereka lakukan. Hanya bengong saja sambil menatap satu sama lain. Tapi di dalam pikiran masing-masing, mereka membicarakan fisik dan sifat orang dihadapannya itu.


Lalu tak lama kemudian, Dennis kembali tersadar setelah ada nyamuk yang hinggap di dahinya. Dengan cepat, Dennis menepuk nyamuk tersebut sampai mati, lalu tertawa kecil. "Ah, apa yang kita lakukan?! Seharusnya kita menjalankan rencana selanjutnya!"


Cahya juga ikut tersentak. Ia membuka matanya lebar-lebar, mengedipkannya beberapa kali, lalu mengangguk cepat. "Ah, iya! Benar juga!"


"Sekaran ayo kita–"


"Tidak ada rencana yang akan kalian jalankan!"


Dennis terkejut. Melihat ekspresinya Dennis seperti itu, Cahya langsung menoleh ke belakang. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja ia merasa ada seseorang yang telah mendorong tubuhnya dengan kuat sampai Cahya terjatuh ke tubuh Dennis.


Karena mendadak, Dennis juga tidak bisa menahan keseimbangannya dalam berdiri. Jadi setelah Cahya mendorong tubuh Dennis, mereka berdua terjatuh ke belakang bersama.


Tapi sekarang bukan waktunya untuk mengeluh sakit. Karena tepat di hadapan mereka itu, sang Bapak Tertua telah bangkit kembali.


Dennis tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Efek obat biusnya telah menghilang dengan cepat dan si Bapak Tertua itu bisa bangun kembali sebelum Dennis memulai rencananya.


Bapak Tertua itu mengarahkan tangannya pada Cahya. Ia menjambak rambut Cahya, lalu menariknya. Mereka berdua saling bertatap mata. "Ternyata kau selama ini bersekongkol dengan anak-anak di Villa itu, ya?!" Ayahnya membentak tepat di depan wajah Cahya.


Cahya tidak menjawab. Ia berusaha untuk melepaskan tangan ayahnya dari rambutnya itu karena ia merasa kesakitan rambutnya terus ditarik seakan ingin ikut tercabut dengan kepalanya juga.


"Hei, kau! Jangan sakiti dia!!" Dennis kembali berdiri lalu dengan kekuatannya, ia memukul tubuh Bapak Tertua dengan keras.

__ADS_1


Tapi tidak ada hasil. Dia merasa tubuh Bapak Tertua itu keras sekuat baja. Yang ada tangannya yang kesakitan.


Bapak Tertua itu melirik ke arah Dennis dengan tatapan tajamnya, lalu dengan tangan yang satunya lagi ia menarik lengan Dennis dengan paksa, lalu menendang perutnya sampai tubuh Dennis terdorong ke belakang dengan kuat.


Dennis jatuh terduduk. Ia mengeluh sakit di bagian perutnya. Tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan dirinya sendiri. Tepat di depan mata Dennis, Cahya sedang dalam bahaya. "Aku akan menyelamatkannya terlebih dahulu!"


Dennis kembali bangkit secara perlahan. Tapi sebelum ia sempat berdiri kembali, Dennis melihat Cahya melakukan perlawanannya.


Gadis itu mengayunkan kakinya dengan cepat sampai akhirnya ia bisa menendang wajah ayahnya. Saat itulah, ayahnya melepaskan rambut Cahya.


Setelah Cahya terbebas, ia menoleh ke arah Dennis dan bertanya tentang keadaanya. "Kau tidak apa-apa, Dennis?!"


Dennis tersenyum dan mengangguk. "Iya, aku baik-baik saja. Eh! Awas!!" Dennis terkejut. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri agar bisa menyelamatkan Cahya.


Tapi sudah terlambat.


Bapak Tertua itu kembali menyerang Cahya. Kali ini ia memukul wajah manis Cahya dengan keras sampai gadis itu terdorong ke belakang dan menabrak dinding kayu gubuk sampai retak.


Yang membuat Dennis khawatir adalah, setelah tubuh Cahya membentur dinding kayu, seketika gubuk tersebut langsung ikut terdorong ke belakang. Sedangkan di belakangnya ada jurang. Bisa saja tempat yang sekarang ia pijak, bisa menyebabkan longsor yang hebat. Gubuk itu sudah terlihat rapuh, jadi bagian kayunya lapuk dan jadi ringan. Tidak kuat untuk menahan tempelan kayu lainnya untuk membentuk rumah kecil, walau sudah ditahan oleh paku-paku yang menancap.


Setelah pukulan tadi, Cahya langsung tak sadarkan diri. Ia terduduk di pinggir gubuk. Dennis mengerutkan keningnya sejak ia melihat wajah manis Cahya jadi terluka dan mengalirkan darah dari hidung dan mulutnya.


Dennis berteriak memanggil gadis itu. Tapi setelah ia berteriak begitu, si Bapak Tertua langsung menoleh cepat ke arahnya. Dennis terkejut. Ia mundur perlahan ke belakang karena merasa takut berhadapan langsung dengan Bapak Tertua itu.


Sebelumnya ia telah berjanji akan melindungi dan menyelamatkan semua teman-temannya. Jadi sekarang, ia tidak boleh menyerah untuk menghadapi satu musuh yang ada di hadapannya itu. "Kau harus jadi lebih kuat, Dennis! Ayolah! Maju!"


Dennis berteriak keras, lalu ia mulai melangkahkan kakinya untuk berlari menghampiri Bapak Tertua sambil mengangkat tangan kanannya. Ia akan menyerang dengan kekuatannya sendiri.


BUAK!!


Dennis pikir, ia berhasil memukul si Bapak Tertua. Tapi ternyata ia tidak bisa melakukannya. Saat ini, entah kenapa tubuhnya terasa ringan.


Tapi tak lama kemudian, tubuhnya menghantam sesuatu. Ia terjatuh ke tanah dan punggungnya membentur batu besar yang ada di dekat semak dan pepohonan.


Ia tersungkur di depan batu itu. Sesekali terbatuk lalu memuntahkan sedikit darah. Setelah itu, kepalanya kembali menoleh secara perlahan. Melirik ke arah Bapak Tertua yang sedang berjalan pelan menghampiri dirinya.


Rasanya sakit sekali saat dadanya kena pukulan. Kepalanya juga mulai pusing dan pandangannya jadi kabur. Rasanya ingin pingsan. Tapi Dennis berusaha untuk menahannya. Jika dia ambruk duluan, apa yang akan Bapak Tertua itu lakukan padanya?


Bisa saja Dennis akan dibunuh di waktu dan tempat yang sama!


Sebelum Bapak Tertua sampai di hadapannya, Dennis menggerakkan tubuhnya untuk bangun kembali secara perlahan. Ia masih menyentuh dadanya yang sakit. Menatap Bapak Tertua dengan wajah yang sudah meninggalkan luka lebam, rambut yang acak-acakan dan kotor.


Ia tidak peduli dengan keadaan tubuhnya. Yang penting sekarang ia berniat ingin mengalahkan Bapak Tertua dengan tenaganya sendiri.


Setelah Dennis kembali berdiri, Bapak Tertua itu juga sudah sampai di hadapannya. Dennis mengangkat tangan kanannya, lalu menunjuk ke arah Bapak Tertua dan membentaknya. "A–aku akan membunuhmu!"

__ADS_1


Bapak Tertua menatap Dennis dengan pandangan biasa. Kemudian ia menggenggam lengan Dennis dengan kuat, lalu memutarnya sampai terdengar suara persendian tulang Dennis yang bergeser. Dennis berteriak kesakitan.


Kemudian Bapak Tertua menarik tubuhnya Dennis dan berbisik padanya, "Aku yang akan menjadi orang pertama yang membunuhmu."


BUAK!!


Satu serangan lagi yang Bapak Tertua berikan pada Dennis.


Ia menendang kaki Dennis, lalu menghantam perutnya dengan dengkulnya. Setelah itu, Bapak Tertua baru melepaskan tangan Dennis.


Saat Dennis kembali tersungkur ke tanah, Bapak Tertua menginjak-injak tubuhnya dan kepalanya dengan kasar sambil bergumam, "Mati, mati, mati," berkali-kali.


Dennis tidak bisa berkata apa-apa. Dengan tangannya ia terus melindungi kepalanya dan membiarkan tubuhnya terus dihajar habis-habisan oleh Bapak Tertua. "Akh! Kumohon... tolong aku... Ah! Aaaakh!"


"Jangan kau sakiti temanku!!"


Dennis kembali membuka matanya secara perlahan. Ia melihat ada Cahya yang berlari cepat ke arahnya. Walau pandangannya buram, tapi Dennis yakin itu Cahya karena ia kenal dari suara teriakannya.


Lalu tak lama, Dennis sudah tidak merasakan kesakitannya lagi. Bapak Tertua berhenti menendang tubuhnya. Apa yang terjadi?


Dennis melemaskan tubuhnya dan terus merasakan sakit yang membekas. Lalu tak lama kemudian, ada darah yang menetes di hadapannya. Beberapa tetesan darah itu muncrat dan mengenai wajahnya.


Dengan cepat, Dennis melebarkan matanya dan mengangkat kepalanya secara perlahan dengan tubuhnya yang mulai gemetar. Ia terkejut saat melihat keadaan Bapak Tertua.


Tangan kirinya telah menghilang dan potongan tangannya itu terjatuh di belakang kepala Dennis. Penyebab dari terpotongnya tangan Bapak Tertua itu adalah dari Cahya.


Saat ini, gadis itu sedang menggenggam sebuah golok tajam yang ia ambil dari dalam gubuk. Ia menggunakan golok untuk menyerang Bapak Tertua. "Makan itu kebal!" Cahya membentaknya.


Bapak Tertua hanya terdiam setelah tangannya terpotong. Tapi tak lama kemudian, mendadak tangan yang satunya lagi mendorong Cahya dengan cepat sampai Cahya terjatuh. Lalu dengan tangan kanannya itu, Bapak Tertua merebut golok dari Cahya, kemudian....


JLEB!!


Mata pisau golok itu menusuk perut Cahya. Cahya mengeluarkan air matanya karena merasakan sakit yang luar biasa. Lalu tak lama, ia berteriak keras. Membuat Dennis yang mendengarnya langsung menggerakkan tubuhnya yang lemah dengan paksa.


Dennis melebarkan mata karena terkejut, lalu mengulurkan tangan kanannya dan berteriak, "CAHYAAAA!!"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2