
Gacha Life :v
________________________________________
****
Rei pun mensipitkan matanya, lalu bergumam, "Jadi itu dia. Ternyata benar kata Akihiro kalau kamarnya itu memang ada penghuninya."
Rei pun pergi mendekati kamar Akihiro. Sampai di depan kamarnya, Rei pun langsung membuka pintu kamar itu. Saat di lihat, ternyata di dalamnya tidak ada apa-apa.
Rei menghembuskan nafas lega. Lalu karena merasa sudah aman, ia pun memasuki kamar itu dengan santai. Tapi saat beberapa langkah ke depan, tiba-tiba muncul bayangan putih dari hadapan Rei, lalu mendorongnya dengan kuat.
Rei pun terjatuh di depan pintu kamar itu. Lalu dengan cepat Rei langsung berdiri kembali. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat tadi. Eh, sebenarnya Rei belum sempat melihat jelas sosok yang menabraknya itu. Karena sosok putih yang tadi bergerak dengan cepat. Ia melayang di langit-langit.
"Ta, tadi itu apaan? Sepertinya aku harus cari tahu!" batin Rei.
Rei tersentak. "Eh, apa itu?"
Ia melihat ada bayangan hitam yang sedang melintas di lorong yang ada di depannya itu. Bayangan itu hanya lewat saja. Tak lama kemudian, bayangan itu pun menghilang. Rei yang penasaran dengan bayangan tadi, berniat untuk mencari bayangan itu.
Rei melangkahkan kakinya. Ia akan berjalan pelan ke lorong yang ada di depannya. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu. Ia merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
Lalu dengan cepat, Rei langsung berbalik badan. Dan alangkah terkejutnya ia. Ternyata di belakangnya itu ada...
Sosok putih menyeramkan yang melayang!
Rei menahan dirinya untuk tidak takut pada sosok itu. Saat ini, ia hanya berdiam diri di tempat sambil memandang sosok itu.
"Kalau di lihat dari fisiknya... sepertinya makhluk itu tidak asing." Pikir Rei dalam hati. "Kok dia seperti... Lisa?"
Apakah benar itu hantu Lisa? Seperti yang kita tahu, semasa hidupnya, Lisa itu adalah sosok gadis yang pemarah dan dingin. Berambut panjang yang dikuncir dua. Mirip seperti hantu yang sedang Rei lihat saat ini. Tapi... yang membuat Rei tidak yakin kalau itu Lisa adalah... warna rambutnya. Lisa memiliki rambut berwarna coklat, sedangkan hantu itu berwarna hitam gelap.
"Anu... permisi... apa kamu...."
"GRROOOO!"
Rei terkejut. Tiba-tiba saja hantu itu mendekat dengan cepat ke arahnya, lalu mulai menyerang dengan tangan berkuku tajam yang hantu itu sembunyikan di balik lengan baju panjangnya.
Untung saja Rei masih sempat menghindar. Lalu karena dirinya merasa terancam dengan hantu yang berbahaya itu, Rei pun langsung berlari ke lorong sebaliknya. Lorong tempat hantu itu muncul tadi.
Hantu itu terdiam di belakang Rei. Kepalanya masih dimiringkan dengan mulutnya yang ternganga dan matanya yang mengeluarkan darah.
__ADS_1
Tak lama terdiam, hantu itu pun kembali bergerak lagi. Kali ini hantu itu mengubah bentuk dirinya. Dia sedikit membungkuk, lalu menjatuhkan dirinya ke lantai. Setelah itu, hantu itu melayang cepat sampai ke langit-langit lorong itu.
Di atas sana, hantu itu jadi berbentuk seperti hantu Kayako. Di langit-langit, ia berjalan merangkak seperti hantu aslinya. Wujudnya benar-benar menyeramkan. Tapi dengan wujud seperti itu, tidak membuat hantu itu semakin lambat. Melainkan sebaliknya. Ia merangkak dengan cepat mengejar Rei yang padahal sudah jauh darinya.
Rei berlari sekuat yang ia bisa untuk terhindar dari kejaran hantu itu. Rei tahu kalau dirinya masih diincar oleh hantu itu tanpa sebab. Sebenarnya apa mau hantu itu? Apa Rei telah mengganggunya? Atau apakah hantu itu memang punya niat untuk menyerang Rei sampai dia mati? Dengan kata lain, hantu itu mau membunuh Rei?!
"Jika memang benar hantu itu ingin membunuhku tanpa sebab, itu berarti... murid-murid yang telah meninggal hari ini disebabkan oleh hantu itu? Mereka dibunuh juga oleh Hantu itu?" pikir Rei.
Hantu di belakang Rei itu ternyata masih mengejar. Kali ini wajahnya terlihat semakin menyeramkan. Karena mulutnya itu semakin ternganga sampai pinggiran bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
Sambil berlari, Rei melihat jam tangannya terlebih dahulu. Ternyata saat ini sudah pukul 8 malam. Sebentar lagi waktu semua murid untuk kembali ke kamar mereka dan tidur di dalamnya.
"Pantas saja tempat ini sepi. Semua anak sudah menuju ke kamarnya. Itu bagus. Karena... aku tidak akan melibatkan orang lain dalam masalah hantu yang mengejarku ini. Haduh... bagaimanapun daranya, aku harus mengusir hantu ini dari sekolah sebelum ada korban lagi! Aku yakin, pasti hantu ini lah yang sudah membunuh kedua murid malang itu." Rei berpikir lagi di dalam hatinya.
Lalu dengan berani, Rei menengok ke belakang tanpa menghentikan langkah berlarinya sedikitpun. Ia menyentakkan matanya karena terkejut. Hantu itu sudah semakin dekat saja dengan dirinya.
Mau berlari semakin cepat lagi percuma. Karena... Rei sudah mulai kelelahan. Nafasnya sudah terengah-engah saat berlari. Ia harus mencari tempat sembunyi dulu untuk berhenti sejenak dan menghindar dari kejaran hantu itu.
Tapi ia berpikir, tidak ada waktu lagi untuk bersembunyi. Karena yang mengejarnya itu adalah hantu. Makhluk ghaib yang seharusnya tidak ada. Lagi pula, jika Rei bersembunyi tetap saja hantu itu akan menemukannya karena saat ini, jarak Rei dengan hantu itu hanya 2 meteran saja (mungkin).
Jarak yang sangat dekat! Jika Hantu itu memiliki tangan yang panjang, ia akan bisa meraih Rei lalu mencengkram kepalanya.
"Hah, sekarang juga aku harus menghentikan hantu itu!"
Dirinya melompat dengan tangan yang terangkat tinggi. Lalu menampar wajah hantu itu dengan kuat sampai akhirnya, hantu itu pun terjatuh ke lantai. Tapi ternyata hantu itu masih bisa bergerak.
"Cih, masih bisa berdgerak, ya?" gumam Rei. Lalu sebelum hantu itu kembali pulih, ia menggunakan kesempatan itu untuk menghancurkan hantu itu langsung.
Seperti dulu, Rei akan menempelkan telapak tangannya di atas kepala hantu itu, lalu membacakan mantera khusus untuk mengusir setan itu. Mantera itu sangat rahasia dan hanya Rei saja yang bisa melakukannya.
Rei menginjak tubuh hantu itu dengan kuat, lalu ia menempelkan telapak tangannya ke atas kepala si hantu. Setelah itu, Rei memejamkan matanya, lalu mulut dan pikirannya mulai bekerja.
Seketika, hantu itu berteriak setelah Rei memperlakukannya dengan kasar. Menurut hantu itu cukup kasar karena terasa menyakitkan baginya. Lalu karena tak tahan lagi, hantu itu mulai bertindak. dengan kedua tangannya yang masih bisa digerakkan, hantu itu menyentuh kaki Rei yang satunya lalu mencengkram nya dengan kuat. Lalu hantu itu pun menusukkan beberapa jarinya yang terdapat kuku tajamnya itu pada kaki Rei.
Suara Rei meringis sedikit terdengar. Tapi ia mencoba untuk tetap fokus dengan mantra nya sampai hantu itu benar-benar hancur dan menghilang.
Ini yang terakhir. Kali ini Rei meletakkan tangannya yang lain untuk mencengkram wajah hantu itu. "Sedikit lagi...." pikirnya dalam hati, tapi ucapan di mulutnya untuk membacakan mantra itu masih tetap berjalan.
"GRAAAWW!" Hantu itu semakin berteriak kesakitan.
"AAAAAAKH! Pergilah kau!" Rei berteriak, lalu ia melepaskan kedua tangannya, dan kaki yang menginjak hantu tadi langsung menendang tubuh hantu itu sampai terpental ke atas. Saat menyentuh langit-langit di lorong itu, hantu itu pun menghilang. Lenyap dalam kumpulan asap hitam.
Setelah hantu menyeramkan tadi menghilang, Rei pun menghembuskan nafas lega. "Akhirnya... aku berhasil. Hah, aku yakin dialah pembunuhnya. Tapi... bagaimana cara aku memberitahu fakta ini kepada guru-guru yang lain, ya? Mereka pasti tidak akan percaya."
"Jadi itu kau? Kau lah yang telah membunuh hantu-hantu itu?"
__ADS_1
Rei terkejut. Ia mendengar suara seorang perempuan yang berbicara kepadanya tentang hantu itu. Dengan cepat, Rei pun berbalik badan. Ia bisa melihat ada gadis berambut putih panjang dengan piyama yang gadis itu pakai, berdiri tak jauh di depannya.
"Diana?" Rei bergumam. "Sedang apa kau di sini? Apa kau melihat...."
"Ya. Aku melihat hantu itu. Kau yang telah membunuh hantu itu, ya? Hebat sekali." Diana memuji. Tapi dengan ekspresi wajah yang datar. Mata merahnya sedikit disipitkan.
"Ya... sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Karena malam ini banyak sekali makhluk seperti itu yang berkeliaran di sekolah. Kau harus berhati-hati." Pesan Rei pada Diana.
Diana memasang senyum miring khasnya itu. Lalu ia menjawab Rei dengan kata yang sedikit menyeramkan. "Seharusnya kau yang berhati-hati. Karena maut selalu ada di sekitarmu. Bahkan seseorang yang sangat kau percayai itu bisa menjadi malaikat maut untukmu. Sebaiknya kau lari sekarang juga."
"Eh? Apa maksud...."
JLEB!
Mata Rei membesar dengan cepat, disusul dengan pupil mata kuningnya yang mengecil. Ekspresi itu. Secara perlahan, Rei melirikan matanya ke bawah. tangannya terangkat. Terlihat di telapak tangannya itu sudah dipenuhi darah yang masih segar.
"Akh!" Mulut Rei mengeluarkan darah. Lalu tangan yang satunya itu mendekat ke arah perutnya yang sudah tertancap oleh pisau yang ukurannya lumayan besar. Pisau daging yang panjang.
Secara perlahan Rei mencabut pisau itu. Lalu setelah pisau itu terpisah dari perutnya, Rei langsung menjatuhkan pisau itu ke lantai. Lalu seketika tubuhnya pun langsung jatuh terduduk di lantai sambil memegang perutnya yang terluka dan berlumuran darah itu.
"Kenapa kau... Diana... kenapa?" Rei merintih kesakitan.
Diana tersenyum manis pada Rei. Lalu ia berjalan santai ke arah Rei. "Kan sudah kubilang untuk berhati-hati. Karena malaikat maut yang akan menjemputmu itu akan datang."
"Akh! Diana... tolong... tolong panggilkan guru yang lain... kau harus membantuku...."
"Huh? Memanggil guru? Hah... buang-buang waktu. Sudahlah... kematian sudah menjemputmu. Sebaiknya, kau ku panggilkan malaikat maut untukmu, ya?"
Rei mengerutkan keningnya. Lalu tangannya terangkat dengan cepat dan langsung menarik kerah baju Diana. "Perempuan... sialan...! Se... sebenarnya siapa... kau?"
"Ouh, Rei... jangan memperlakukan seorang gadis dengan kasar, dong. Sebenarnya, dari awal aku memang sudah mengincarmu, Rei. Karena... aku khawatir kalau kau itu akan menghancurkan rencanaku." Ucap Diana lirih.
"Rencana...? Apa yang ingin kau... lakukan?" Rei masih sempat berbicara. Genggaman tangannya di kerah Diana perlahan semakin melonggar.
"Sial! Kesadaran ku...." panik Rei dalam hatinya.
"Ohoho... kalau aku beritahu kamu, nanti kamu malah semakin penasaran. Sudah lah yak? Kamu tidak pantas ada di sekolah ini lagi... Aku... akan memindahkanmu ke tempat yang lebih pantas. Selamat malam, Rei~"
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1