Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 14– Siapa pelakunya?


__ADS_3

"Cewek berambut putih. Semalam bapak lihat dia bersama dengan Rei."


Akihiro dan Dennis terkejut. "Eh? Di mana bapak lihat mereka berdua?!"


"Emm... bapak hanya sempat lewat saja saat itu. Mereka sedang berbicara tapi dengan jarak jauh. Mereka ada di... kalian tahu gudang yang di lantai satu itu? Yang dekat dengan kamar mandi?" jelas Pak Satpam.


"Eh? Tidak mungkin! Jangan-jangan...." Dennis bergumam. Ia mulai terpikir sesuatu yang aneh lagi, nih!


"Eh? Tapi tempat itu, baru saja diduga terjadi pembunuhan lagi. Karena hari ini, kami menemukan darah seseorang di dekat tempat itu." Akihiro menjelaskan.


"Eh? Benarkah? Apa mungkin saja itu darah..."


"Tidak Pak! Itu pasti bukan darah dia. Bapak mau menduga kalau itu darah Rei, kan? Itu bukan daranya." Akihiro menyangkal.


Akihiro menghembuskan nafas pelan, lalu ia kembali bertanya, "Apa yang bapak lihat lagi selain itu? Pada malam hari kemarin. Apakah bapak melihat ada yang mencurigakan?"


Pak Satpam itu berpikir sejenak untuk mengingat sesuatu. "Emm... sepertinya tidak ada. Tapi... tunggu dulu."


"Eh? Apa yang bapak lihat?!"


"Semalam, bapak melihat si cewek berambut putih itu telah membuang sampah sembarangan ke sungai yang ada di dekat gudang belakang sekolah itu. Untung saja sempat ketahuan, jadi bapak tegur dia." Jelas Pak Satpam itu.


"Eh?? Dia membuang sampah di sungai? Apa dia tidak tahu peraturan, apa?!" kesal Akihiro.


"Ta, tapi... apa bapak tahu apa yang dia buang itu?" tanya Dennis gugup.


"Entahlah. Dia membawa kantung plastik hitam yang lumayan besar. Mungkin isinya adalah sampah yang banyak yang ia tampung di kamarnya." Jawab Pak Satpam santai.


Akihiro dan Dennis kembali dibuat kaget dengan perkataan Pak Satpam itu. "Eh? Plastik hitam? Besar?!"


"Iya. Dia membuang plastik itu ke sungai. Benar-benar anak yang tidak tahu kebersihan, ya?"


Kali ini Akihiro dan Dennis tidak menjawab. Mereka berdua jadi terdiam.


KRIIIING... KRIIING....


"Eh? Jam kelas sudah masuk, tuh! Kalian tidak mau ke kelas? Eh? Bahkan kalian juga belum mandi ya?" Pak Satpam memberitahu.


Akihiro dan Dennis tersentak. "Oh iya! Eh, terima kasih banyak atas informasinya, ya, Pak!" ucap mereka berdua cepat dengan tubuh yang sedikit membungkuk.


Lalu setelah itu, mereka berdua kembali berlari. Langsung pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Padahal, semua murid sudah keluar dari gedung 1 yang merupakan tempat kamar para murid. Semua murid pergi ke gedung 2 untuk pergi ke kelasnya masing-masing.


Saat di depan pintu kamar mandi, Akihiro menghentikan langkah Dennis. "Den, tunggu dulu."


"I, iya? Ada apa?" Dennis menengok dengan ekspresi wajah terkejut.

__ADS_1


"Kita harus mencari Rei lagi. Kali ini, kita mencari ke luar sekolah!" tegas Akihiro.


"Eh?! bagaimana caranya? Kan kita tidak boleh keluar sekolah. Apalagi kalau sudah di jam masuk seperti ini."


"Tenang saja... aku punya rencana!"


****


GREEEK...


"Maaf, kami terlambat!" ucap Akihiro cepat setelah ia dengan Dennis menggeser pintu kelas.


Semua murid sudah ada di dalam dan pelajaran juga sudah dimulai. Guru yang ada di dalam sana adalah Bu Mia, wali kelas mereka sendiri.


"Kalian terlambat 20 menit. Tidak bisa diampuni lagi. Kenapa kalian bisa terlambat begini?!" tanya Bu Mia dengan nada membentak.


"Maaf... tadi kami...."


"Kalian dihukum!" Bu Mia menyela. Dennis dan Akihiro hanya diam sambil menundukkan kepala mereka. "Tapi sebelum itu, silahkan duduk di kursi kalian. Ibu ingin memberitahu sedikit berita duka." Bu Mia melanjutkan.


Seketika, Dennis dan Akihiro terkejut. Lalu secara perlahan, mereka berjalan ke arah tempat duduknya. Setelah Dennis dan Akihiro duduk, Bu Mia memulai berita yang akan ia beritahukan kepada anak muridnya.


Tapi sebelum itu, Bu Mia menarik napas dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Setelah itu, beliau baru memulai. "Jadi... anak-anak apa kalian sudah tahu? Teman kelas kita, sahabat kita, saudara kita, yang sangat kita sayangi dan banggakan. Seorang murid di kelas ini, bernama Reizal Alfathir... dia... murid yang kita sayangi... dia...."


"Hei, Dennis! Tidak mungkin Bu Mia akan..." Akihiro berbisik pada Dennis yang ada di sampingnya.


"Aku tidak tahu. Semuanya telah percaya kalau Rei sudah pergi. Be, begitu juga dengan aku." Dennis menjawab sambil menggeleng pelan.


"... Eh? Dennis?!"


"Jadi... ibu harap kalian bisa kuat, ya?" Bu Mia kembali melanjutkan setelah tak lama ia terdiam.


Keadaan kelas jadi sunyi. Semua mata selalu terpaku pada Bu Mia. Mereka semua terlihat penasaran.


Bu Mia kembali membuka mulutnya, "Yah... teman kita yang bernama Reizal Alfathir, sudah tidak bisa hadir di hadapan kita lagi. Dia sudah pergi untuk selamanya,"


Semua murid jadi tegang. Mereka juga terkejut saat mendengar perkataan Bu Mia. Tapi mereka masih belum percaya dengan kata-kata itu.


"Dia... menjadi korban pembunuhan yang akhir-akhir ini juga sudah menimpa teman kita yang lain. Dan...."


"Tunggu dulu, Bu!" Akihiro menyela. Ia berdiri dari kursi yang ia duduki itu. "Maaf kalau saya menyela. Tapi... saya belum bisa meyakini berita ini. Teman-teman semua, Rei itu masih hidup dan dia tidak mungkin terbunuh."


Semuanya terkejut. Sekarang semua mata tertuju pada Akihiro.


"Apa yang kau katakan, Kak Dian?" Dennis bergumam sambil menatap teman yang ada di sampingnya itu dengan bingung.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Dian?" tanya Bu Mia.


"Saya hanya tidak mempercayai berita ini. Rei itu belum meninggalkan kita untuk selamanya. Tapi ia hanya meninggalkan kita untuk sementara. Karena aku tahu... saat ini, Rei sedang ada di suatu tempat. Tempat yang jauh di luar sekolah kita ini!" Akihiro menjelaskan.


"Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu, Dian?" tanya Bu Mia tidak percaya lagi.


"Bagi semua yang telah melihat bercak darah yang muncul di depan gudang di lantai satu dekat kamar mandi itu, pasti kalian menganggap kalau ada pembunuhan di tempat itu, kan? Dan... kalian bisa menduga kalau orang yang terbunuh kali ini adalah Rei, karena seseorang telah memberitahu kalau Rei menghilang. Maka dari itu, kalian menganggap kalau darah itu adalah darah Rei yang telah terbunuh dan dirinya saat ini menghilang karena disembunyikan oleh pembunuhnya." Akihiro kembali menjelaskan. Ia berhenti sejenak karena membutuhkan napas.


Tak lama kemudian, Akihiro kembali melanjutkan. "Kalian semua salah. Salah hanya karena menganggap kalau Rei sudah meninggal karena pembunuhan itu. Tapi kalau soal Rei yang terbunuh itu memang benar. Ada yang mencoba untuk membunuh Rei. Semalam, Rei sempat berkelahi dengan seseorang yang ingin membunuhnya itu. Tapi karena ia kalah, Rei pun akhirnya berhasil di serang dengan menggunakan pisau. Lalu, tubuhnya yang diduga sudah tidak berdaya lagi dimasukan ke dalam kantung plastik besar yang biasanya untuk tempat sampah. Lalu si pelaku pembunuhan itu, langsung membuang plastik besar yang berisi tubuh Rei ke dalam sungai."


Akihiro terdiam, lalu bicara lagi. "Kalian tahu? Semalam air sungai sedang naik karena hujan gerimis. Jadi saat malam itu, air sungai sedang mengalir deras. Kemungkinan besar, plastik yang berisi tubuh Rei itu terbawa arus sungai dan tidak tenggelam sampai ke dasar sungai. Pasti saat ini, Rei sedang terdampar di tempat lain. Dia masih hidup!"


Akihiro akhirnya selesai menjelaskan teorinya sendiri. Semuanya masih diam sambil menelaah penjelasan Akihiro tadi. Semuanya juga pusing saat mendengar penjelasan Akihiro.


Tapi tidak dengan Bu Mia. Ternyata dia mengerti. "Oh jadi begitu. Dian, apa kamu mengira kalau Rei masih hidup dan dia ada di suatu tempat sekarang?" tanya Bu Mia.


Akihiro mengangguk yakin. "Iya. Begitulah, Bu!"


"Hmm... lalu, bagaimana dengan pembunuhan itu? Apa kau tahu siapa pelakunya yang menyerang Rei?"


"Aku tahu! Pelakunya ada di dalam kelas ini." Jawab Akihiro dengan penuh percaya diri.


Semuanya terkejut. Mereka menengok ke arah Akihiro. Kecuali, Diana yang hanya bisa melirik sinis ke Akihiro.


"Siapa pelakunya, Dian?"


"Siapa? Siapa?"


"Waah... kau sungguh mengetahui pelaku pembunuhannya?"


Semua murid bertanya karena mereka penasaran. Akihiro tersenyum miring. Ia tahu kalau semua teman sekelasnya itu mulai mempercayai dirinya. Jadi, jika ia memberitahu pelakunya saat ini juga, maka semuanya akan langsung percaya begitu saja.


"Tentu saja aku tahu. Pelakunya adalah... Diana. Si anak baru itu adalah seorang pembunuh!" Akihiro menunjuk ke orang yang telah ia sebutkan namanya itu.


Sekarang ini, semua orang yang ada di kelas itu langsung menengok ke arah Diana. Diana hanya terdiam sambil mengangkat alis sebelahnya. Memandang Akihiro bingung. Gadis berambut putih itu terlihat santai saja walau sudah dianggap menjadi tersangka.


"Jadi, Diana pelakunya?!"


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


__ADS_2