Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 40– Makan Malam


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Siapa itu, ya?" Dennis bergumam. Matanya masih melirik ke arah turunan bukit. Sosok bayangan yang ia lihat hanya sekilas saja. Tapi Dennis yakin bayangan itu adalah orang lain yang sedang berjalan menuju ke bawah.


Dennis masih belum tahu sosok itu siapa. Tapi untuk sekarang ia berusaha untuk tidak mempedulikannya.


Dennis kembali menutup pintu, lalu berjalan menghampiri Rei yang sudah menenangkan kedua temannya yang sedang memperebutkan makanan itu. Saat ini mereka berdua sedang duduk bersama, hadap-hadapan. Sementara kantung plastik hitam itu sudah berada di tangan Rei karena Rei berhasil merebutnya dari Rashino.


"Hei, Rei! Apa yang akan kau lakukan pada makananku?!" bentak Rashino sambil mengulurkan tangannya untuk meminta pengembalian kantung plastik miliknya yang sudah direbut Rei itu. "Kembalikan plastik itu padaku!"


Rei menarik plastiknya lalu menyembunyikannya dibalik tubuhnya. Rei memasang wajah dingin, lalu berkata, "Seharusnya kau tidak boleh pelit dengan temanmu sendiri."


"Tuh! Haha... kau harus berbagi denganku, No!" Akihiro berteriak senang, lalu ia mengulurkan kedua tangannya pada Rei. "Rei, Rei yang baik, yang ganteng, yang pinter, yang manis, yang kawaii, yang super ikemen, berikan plastik itu padaku, dong~ Kan Rashino sudah mau membaginya denganku."


Rei tidak menjawab. Ia tetap tidak ingin mengeluarkan plastik hitam itu. Dengan ekspresi yang tidak berubah, Rei kembali berkata, "Aku tidak bisa mempercayai plastik ini padamu, Dian. Yang ku maksud dengan berbagi itu bukan hanya untukmu saja. Tapi untuk semuanya."


Rei kembali menunjukan plastik hitam itu, lalu merogoh ke dalamnya mengambil sesuatu. "Kita semua harus bisa makan malam ini."


Rei mengambil sesuatu. Sebuah sosis sapi di dalam kemasan. Rei akan memberikan satu makanan itu untuk Akihiro. Akihiro menerimanya dengan senang hati dan kembali menunggu karena Rei akan membagikan semua isi di dalam plastik itu pada semuanya. Sampai Akihiro berharap kalau dia yang akan mendapatkan makanan terbanyak karena diantara yang lainnya, hanya dia saja yang merasa kelaparan.


Setelah semuanya mendapatkan makanan dari Rei, Rei pun mengembalikan plastik hitam itu pada Rashino. Di dalamnya terdapat satu bungkus biskuit lagi. Hanya itu makanan yang tersisah.


Rashino menerimanya dengan senang. "Yes! Aku dapat makanannya, haha...."


"Eh, Rei? Kok Rashino dapat dua, sih? Aku masa cuma sosis. Ini kan tidak adil!" gerutu Akihiro.


"Kan yang beli makanan itu Rashino bukan kau. Jadi yang mendapat sisahnya itu adalah orang yang memberi makanan ini untuk kita." Jawab Rei.


"Tapi makananku paling kecil, haaa... mana kenyang?!"


"Kan kau yang suka gak sabaran. Jadi aku memberikan kamu makanan yang pertama kali aku dapat di tanganku. Dan makanan pertama yang aku pegang itu adalah sosis. Jadi... kau mendapatkan sosisnya lah." Jelas Rei sambil membuka sebungkus roti yang ia dapat.


"Hmm..." Akihiro mengeluh. Ia tidak ingin makan sosis yang isinya dikit. Dia mau makanan yang banyak. Matanya melirik ke semua temannya satu persatu. Ternyata sebagian besar, mereka mendapat bungkusan biskuit. Jika Akihiro menukarnya, sama saja bohong. Dia tidak akan kenyang hanya dengan memakan satu bungkus biskuit saja.


Tapi setelah Akihiro melirik ke arah Dennis, ia menyentakan mata karena melihat makanan yang Dennis dapat. Ternyata Dennis mendapatkan makanan dengan isi yang banyak dan bisa membuat perut jadi kenyang. Makanan itu adalah Mie Cup yang enak. Saat ini Dennis sedang membuka bumbu di sebelum menuangkan airnya.

__ADS_1


Tapi sebelum Dennis ingin membuka bungkus kecil minyaknya, Akihiro sempat memanggilnya. Dennis menghentikan pergerakannya, lalu melirik ke arah Akihiro dan menyahutnya, "Ada apa Kak Dian?"


Akihiro menghampiri Dennis dengan cepat lalu berbisik, "Hei, mau barter gak? Sama sosis, hehe...."


"Eh? Emm..." Dennis melirik ke arah Mie Cup-nya lalu kembali melirik ke Akihiro dan tersenyum kecil. Ia menjawab, "Kak Dian boleh ambil ini. Kan kita makannya bersama-sama."


"Eh? Bersama-sama?"


"Iya." Dennis mengangguk. "Kak Rei sengaja memberikan aku Mie Cup ini untuk aku buatkan dan kita bisa makan bersama. Aku tidak memakan Mie ini sendirian loh!"


"Eh?" Akihiro terkejut mendengarnya. Ia mundur dari Dennis lalu menundukkan kepala karena malu. "Jadi Mie itu untuk makan bersama, ya?" Ia bergumam.


"Baiklah, sekarang kita ambil air panasnya di aula Villa!" ujar Dennis senang sambil mengangkat Mie Cup yang sudah ia bumbui itu. Dennis berdiri, lalu melirik ke semua temannya. Ia meminta satu orang untuk pergi menemaninya.


"Ah, Dennis, Dennis, aku saja yang akan menemanimu!" Akihiro mengacungkan tangan. Dennis mengangguk lalu mengibaskan tangan kirinya untuk memperbolehkan Akihiro ikut dengannya.


Akihiro juga terlihat senang. Entah apa rencana dan keinginannya untuk ikut dengan Dennis. Apa mungkin saja jika Mie itu sudah matang, maka Akihiro akan memakannya duluan? Ah, tidak mungkin. Akihiro tidak serakus itu.


Tapi ternyata Rei juga mengangkat tangannya. Ia saja yang akan mengantar Dennis ke Villa. Dennis jadi bingung. Teman mana yang ia ingin ajak ikut dengannya?


Dennis tidak pandai memilih. Ia tidak tahu harus mengajak yang mana. Akihiro berisik keras untuk meminta Dennis agar bisa mengajak dirinya. Dennis ingin mengangguk. Ia ingin dengan Akihiro tapi dia ingin juga dengan Rei.


Karena terlalu lama memilih, langsung saja Rei menarik tangan Dennis pergi dari kamar. Akihiro ditinggalkan. Jadi yang pergi ke Villa adalah Dennis dan Rei.


****


Saat di dalam Villa, Dennis dan Rei melihat keadaan yang sunyi dan kosong di dalam Aula. Tidak ada siapapun yang ada di sana, hanya ada properti yang kebanyakan dibuat dari kayu dan bambu.


Tanpa menunggu lama lagi, langsung saja Dennis mengambil air panas dari dispenser yang terletak di jendela kecil dekat dengan bangku bambu. Sementara Dennis mengambil air, Rei akan duduk di bangku bambu itu sambil menunggu Dennis.


Mungkin untuk mengambil air sampai Mie Cup itu penuh tidak akan memakan waktu lama. Jadi Rei juga tidak akan bosan menunggunya.


Tak lama kemudian, Dennis pun selesai dengan air panasnya. Ia kembali berjalan ke Rei sambil meniup uap panas yang keluar dari dalam Mie Cup-nya. Setelah itu, Dennis menutup gelas cup itu dengan penutup dari kemasannya agar Mie di dalamnya bisa cepat mekar dan lembek. Sesekali Dennis mengaduk Mie itu sampai uap harum yang berbau makanan enak keluar.


Setelah mencium bau enak itu, seketika perut Dennis langsung berbunyi dan sedikit mengeluarkan suara gemuruh. Ia sudah kelaparan. Begitu juga dengan Rei. Di dalam kamar, mereka hanya memiliki satu Mie Cup itu saja. Dan satu Cup itu dibagi oleh semua orang yang ada di kamar. Entah cukup apa tidak, Dennis tidak tahu. Tapi intinya jika dibagi rata, maka satu anak akan mendapat beberapa helai Mie itu saja. Pasti sedikit.


"Kak Rei? Apa segini saja cukup?" tanya Dennis sambil menunjukan isi Mie Cup itu pada Rei.


Rei menghela nafas lalu menjawab, "Sepertinya tidak akan cukup, hah... lebih baik kau dengan yang lainnya saja yang makan. Aku tidak makan agar kalian bisa dapat makan banyak. Bagianku ambil saja."


"Eh, tapi Kak Rei, nanti Kak Rei bisa kelaparan, loh!"

__ADS_1


"Lebih baik aku kelaparan daripada harus makan daging dari tempat seperti ini." Balas Rei dingin.


Dennis terdiam. Ia merasa tidak enak dengan Rei karena temannya itu tidak ikut makan bersama juga. Agar merasa adil, Dennis juga memutuskan untuk tidak memakan Mie Cup itu juga. Ia ingin ikutan seperti Rei saja.


"Kalau Kak Rei tidak makan, aku juga tidak ingin makan, deh!" ujar Dennis pada Rei yang duduk di hadapannya.


Dengan cepat Rei langsung melirik ke arah Dennis, lalu berdiri dari tempat duduknya. "Kau tidak boleh seperti itu! Kau harus makan juga, Dennis. Nanti kalau sakit bagaimana?"


"Aku tidak enak. Aku tidak bisa makan kalau Kak Rei juga tidak makan. Pokoknya aku tidak ingin makan."


"Kau kan mudah jatuh sakit. Nanti repot. Lebih baik kau ikut makan saja. Aku tahu kau sudah mulai merasa lapar."


"Tidak apa, Kak Rei. Aku akan menemani Kak Rei. Hehe... kelompok yang gak makan. Gitu deh namanya."


"Ah, kenapa kau selalu–"


"Oh, kalian ada di sini juga?"


Dennis dan Rei langsung menoleh ke arah belakang mereka. Di dekat ruang menonton TV, di sana tiba-tiba saja muncul Mizuki yang berjalan menuruni 3 anak tangga dari dekat kamarnya di dal Villa.


"Kalian pasti sedang membuat Mie juga, ya?" lanjut Mizuki bertanya.


"Eh? Darimana kau tahu?" tanya Rei.


"Karena... aku juga ingin membuatnya!" Mizuki menunjukan Mie Cup miliknya sambil tersenyum. "Kebetulan persediaan Mie Cup di kamarku lagi banyak. Jadi kami puas-puasin buat makan, deh!"


"Benarkah?"


Mizuki terkejut saat Dennis dan Rei bertanya dengan nada keras. "E–eh? Memangnya ada apa?" tanya Mizuki.


"Emm... boleh kami minta satu Mie Cup itu?" tanya Dennis dengan nada memohon. Mizuki sedikit terheran dengan ucapan Dennis.


"Eh? Kenapa dia... meminta Mie Cup padaku?" batin Mizuki sambil meneleng bingung.


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2