Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 28– Kejujuran Rina


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Ya. Begini saja cukup. Emm... apa aku terlalu berlebihan, ya?"


Dennis sudah mengamankan lawannya itu. Ia mengikat tangan dan kaki Rina, membekap mulutnya dengan plester dan menutup matanya dengan kain. Dennis akan duduk di atas meja untuk menunggu Rina terbangun kembali, karena ada satu hal yang harus ia tanyakan dan wajib ia ketahui.


Tapi kalau menunggu sampai Rina bangun, akan memakan waktu yang lama. Dennis juga sudah merasa bosan. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Tapi ternyata ponsel Dennis tidak ada. Dennis menghela nafas lalu bergumam, "Pasti ponselku telah diambil oleh orang dewasa tadi. Ah! Bagaimana aku ingin menghubungi Bu Mia? Masa aku harus kembali ke Villa dan meninggalkan Rina di sini?"


"Aku tahu Rina tidak akan bisa melepaskan dirinya sendiri. Tapi... bukan hanya dia saja yang mengetahui gubuk ini. Ada temannya yang sama-sama jenis manusia gak waras."


"Sekarang bagaimana, ya? Aku di sini hanya ingin mengetahui keberadaan temannya itu. Yang sama-sama suka membunuh dan memakan korbannya. Tapi kalau terus menunggu seperti ini akan sangat membosankan. Apalagi ponselku tidak ada."


Dennis turun dari atas meja, lalu berjalan mendekati Rina. Ia memandang gadis itu dengan tatapan menyeramkan, lalu menyeringai. "Iya juga. Pastinya gadis ini juga memiliki ponsel, dong. Kenapa aku tidak melihat isinya saja?"


Dennis menggeleng. Ia mengurungkan niatnya untuk merogoh setiap kantung yang ada di pakaian Rina. "Sebaiknya jangan, deh. Kalau pemiliknya belum mengizinkan aku, berarti namanya tidak sopan, hehe...."


Dennis berjalan keluar gubuk untuk mencari udara segar. Dennis berkeliling di tanah kosong dekat dengan gubuk. Siapa tahu saja ia menemukan sesuatu yang penting. Dennis berjalan ke arah barat. Karena tak jauh dari sana, ia melihat ada semak-semak dengan tumbuhan kecil lainnya. Entah kenapa hanya semak bisa menarik perhatian Dennis untuk mendekatinya.


Tapi setelah jarak beberapa meter dari semak itu, Dennis mendengar ada suara aliran air yang mengalir. Karena penasaran Dennis pun berlari kecil, lalu membuka semak yang menutupi. Ternyata benar dugaannya. Ada mata air kecil yang mengalir di dekat jurang belakang gubuk. Air itu terjun masuk ke dalam jurang. Ternyata pengikisan tanahnya juga sampai di depan aliran mata airnya? Panjang juga. Apa pengikisan tanah ini yang dimaksud Cahya tentang longsor yang sudah lama itu?


Dennis tidak tahu. Mau atau tidak, ia ingin meminum sedikit air yang mengalir dari dalam bumi. Setelah itu, Dennis memetik daun besar yang akan ia gunakan untuk menampung air yang akan ia bawakan untuk menyadarkan Risa.


****


"Haduh... seberapa jauh sih si Dennis sama Rei jalan di hutan seperti ini?" keluh Akihiro yang mulai kelelahan dan enggan untuk menggerakkan kakinya lagi. Ia duduk di tanah yang ia pijak saat ini.


Mizuki menoleh ke belakang, lalu menghembuskan nafas berat. Ia tidak suka melihat Akihiro mengeluh seperti itu. Tapi sebenarnya Mizuki juga sudah merasa tidak ingin melangkah lagi. Kakinya pegal semua dan tenggorokannya kering.


"Yah... baiklah kita istirahat dulu." Mizuki duduk di samping Akihiro. Mereka berdua duduk di tengah jalan sepetak yang mereka lewati, karena mereka tahu kalau hutan ini jarang dilewati oleh orang. Karena dilihat dari suasana hutan yang terlihat sunyi. Bahkan tidak ada satu hewan pun yang mereka lihat sedsri tadi. Hanya tumbuhan, tumbuhan dan tumbuhan saja.


"Berharaplah Dennis dan Rei akan baik-baik saja sebelum kita datang." Ujar Mizuki pada Akihiro. Lelaki itu mengangguk lalu bergumam sambil menundukkan kepala. "Iya. Semoga."


"Hah... di mana kita bisa mendapatkan air, ya?" gumam Mizuki. Ia masih mengeluh tentang tenggorokannya yang terasa kering dan harus dilewati oleh air yang ia minum.


"Kan biasanya kau membawa minuman dan makanan, Mizuki?"


"Tadinya aku mau bawa. Tapi kan... aku tidak sempat pergi ke kamarku untuk mengambil perbekalanku." Jelas Mizuki. Lalu tak lama ia malah membentak Akihiro. "Tadi kan kita berkumpul di dalam kamarmu! Kenapa kau tidak mengambil cemilan? Biasanya kau selalu membawa makananmu, kan?!"


"Eeeeh? Kapan kita masuk ke kamarku?" Akihiro terkejut.


"Eh? Bukannya kau sekamar dengan Dennis dan Rei?"


"Tidak. Kamarku di sebelah kamar mereka."

__ADS_1


"Cih! Itu kan dekat! Kenapa kau tidak mengambil perbekalan, daripada kita keburu mati di sini karena kelaparan!"


"Kan kau sendiri yang ngajak aku suruh buru-buru!" Akihiro kembali menunduk. Ia tidak ingin membentak Mizuki lagi. "Sudahlah. Berdebat tidak akan menyelesaikan masalah."


"Ah, iya. Kau benar." Mizuki mengangguk, lalu mendongak menatap langit biru yang sedikit terlihat karena tertutupi oleh rimbunnya pepohonan. "Kira-kira... di hutan seperti ini ada sungai gak, ya?"


"Oh iya! Ayo kita cari sungai saja, Mizuki!" Akihiro berdiri kembali. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Mizuki berdiri. "Kita tidak bisa mencari Dennis dan Rei jika stamina kita saja kosong. Ayo!"


Mizuki tersenyum dan mengangguk. Lalu ia meraih tangan Akihiro dan berdiri. Setelah itu, Akihiro dan Mizuki kembali berjalan bersama walau... di belakang mereka ada seseorang yang mengawasi.


"Ada dua ternak yang memasuki wilayah serigala. Khu~ khu~"


****


BYUUUR....


"Ah!"


Setelah Dennis menyiram wajah Risa seketika gadis itu pun terbangun. Dennis tidak menggunakan daun besar yang ia dapatkan untuk menampung air, tapi ia menggunakan ember yang ia temukan di samping gubuk.


"Kau mudah untuk dibangunkan, ya?" Dennis berujar. Risa memberontak dengan cepat untuk melepaskan dirinya. Tapi karena ikatan Dennis sangat kuat, Risa tidak mudah melepaskannya. Tapi Dennis masih berbaik hati dengan ingin melepas plester yang membekap mulutnya agar ia bisa bernafas saat air yang mengalir di wajahnya itu menutupi lubang hidungnya.


"Siapa kau?!" Rina membentak. Matanya masih tertutup kain, jadi dia tidak tahu siapa orang yang ada di hadapannya itu.


"Kau tidak usah takut. Ini aku, Dennis. Aku masih menemanimu di sini." Jawab Dennis.


"Kan sudah aku bilang, aku tidak akan membunuhmu." Ujar Dennis lirih. Ia berjongkok di hadapan Risa yang sedang terduduk di pojokan.


"Lalu kenapa kau masih ada di sini?!" bentak Risa lagi.


"Aku akan pergi. Tapi nanti. Aku hanya ingin kau memberitahu aku sesuatu. Kau jawab jujur pertanyaan aku, ya?"


"Heh, kenapa aku ingin menjawab jujur padamu? Kau tidak akan bisa membuatku bicara." Rina menyeringai.


"Oh, tidak bisa, ya?" Dennis berdiri. Ia berjalan menghampiri papan meja yang diatasnya ada berbagai macam benda tajam. Sebagian besar, semuanya benda itu adalah pisau, pisau dan pisau. Kalau begitu Dennis akan mengambil pisau terkecil saja, lalu kembali ke hadapan Rina. "Aku tidak ingin melukai seorang gadis. Tapi... dengan pisau ini, aku bisa membuat suara decitan yang akan mengganggu pendengaranmu."


Dennis memulainya. Ia menggesekkan bagian ujung mata pisau ke arah besi pengasah benda tajam. Setelah digesekkan, dapat terdengar suara decitan yang mengganggu. Membuat seluruh tubuh jadi merinding dan ngilu jika bagi orang yang tidak tahan mendengarnya. Ternyata Rina termasuk orang yang tidak menyukai suara decitan dari kedua besi dan logam yang digesekkan.


CKIIIITT....


"He–hentikan, Dennis!" Rina membentak lagi. Ia ingin menutup telinganya, tapi ia tidak bisa karena kedua tangannya masih terikat ke belakang.


"Oh kenapa? Kau tidak suka, ya?" Dennis menghentikannya, lalu menyahut.


"Sial, bagaimana kau bisa tahu kalau aku–"


CKIIT...


"Ikh! Hentikan, bodoh!"

__ADS_1


"Wah~ Untuk seorang gadis berumur 17 tahun saja ternyata omongan mu bisa kasar juga, ya?" Dennis tertawa menahan ekspresi lucu yang dikeluarkan Rina saat marah. Pipinya mengembang dan mulutnya monyong.


"Umurku 18 tahu."


"Oh, hanya beda 2 tahun saja denganku. Ternyata kau lebih tua dariku. Aku tidak tahu itu. Maaf, ya?~ Haha... ternyata benar dugaanku. Kebanyakan anak perempuan itu paling tidak suka dengan suara decitan." Dennis terkekeh lagi. Masih dengan memegang pisau, Dennis berjalan ke hadapan Rina lalu bertanya, "Hei? Coba jawab, siapa orang yang bekerja sama denganmu untuk membunuh semua manusia ini? Dan apa tujuan kalian ingin merasakan daging mereka?"


"...." Rina hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya dan menggertakkan giginya, menahan rasa merinding di sekujur tubuhnya akibat gesekan pisau dengan asahannya yang baru saja Dennis lakukan tadi.


"Oh? Kau tidak mau menjawab. Baiklah... kalau begitu apa boleh buat."


CKIIITT... CKIIITT....


"Ah! Aaargh! Hentikan... Dennis."


"Makanya bicara. Jawab jujur saja susah amat, sih?!"


"Baiklah. Tapi tolong... jangan gosokan benda itu lagi."


"Oke. Aku berjanji!" Dennis tersenyum. Ia mengangkat tubuhnya, lalu duduk di atas meja dan mulai menyimak. "Jadi... siapa orang yang bekerja sama denganmu? Tidak. Tidak. Orang yang menyuruhmu untuk memotong jariku saja, tadi. Siapa dia?" tanya Dennis sekali lagi.


"A–aku tidak bisa memberitahumu karena aku takut. Aku sudah diperingati oleh dia untuk tidak memberitahu identitasnya pada orang-orang pengunjung Villa." Ujar Rina pelan. Kain yang menutupi matanya kembali basah, apa Rina menangis?


"Jangan khawatir. Setelah kau memberitahu aku, maka aku akan melindungimu agar kau tidak akan dibunuh oleh mereka. Percayalah padaku. Aku hanya ingin informasi darimu tentang mereka saja."


"Benarkah? Kalau aku memberitahumu, aku tidak akan kena bunuh oleh mereka?" tanya Rina lagi.


"Iya. Tenang saja."


Rina mempercayai Dennis. Ia akan menjawab jujur. "Emm... sebenarnya yang menyuruhku untuk memotong jarimu itu adalah Kakak tertuaku. Dia diperintahkan oleh Ibu dan Ayah juga. Kedua orang tuaku yang akan merasakan kenikmatan daging jari manusia sebelum dicincang seluruh tubuhnya." Jelas Rina.


Mendengarnya saja sudah langsung membuat Dennis jadi mual. Tapi ia sedikit terkejut saat mengetahui kalau ternyata....


"Jadi keluargamu itu adalah manusia pemakan manusia?" tanya Dennis tidak percaya. "Jadi selama ini, kami tinggal di sarang pemilik Villa yang haus darah?!"


Rina hanya mengangguk. Dennis menggeleng cepat, ia menyentuh kepalanya lalu bergumam dalam hati, "Jika kami tidak segera pergi dari Villa itu, maka keluarganya Rina akan memburu teman-temanku dan... Bu Mia juga akan dalam bahaya!"


"Tapi... Bu Mia sudah membayar mahal untuk Villanya. Kasihan dia. Lagipula, masih ada 5 hari lagi untuk kita tinggal di Villa. Satu persatu, setiap harinya, pasti ada orang yang mati. Mereka dikabarkan menghilang, tapi sebenarnya diculik dan dibawa ke gubuk ini untuk dibunuh dan dijadikan santapan sehari-hari untuk keluarga pemilik Villa itu."


"Eh? Santapan... sehari-hari? A–apa jangan-jangan... makanan yang selalu kumakan setiap di aula Villa itu... adalah... daging manusia?!"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2