Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 17– Uji Nyali


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Di dalam hutan yang gelap, para pengawas dewasa sudah berdiri di tempatnya masing-masing. Mereka berjaga di tempat yang sudah ditentukan. Beberapa orang dewasa itu adalah orang terpilih yang berasal dari desa di dekat Villa yang diminta Bu Mia dan Pak Wija untuk membantu melindungi anak-anak yang ikut permainan Uji Nyali.


Salah satu dari pengawas itu ada Natsuki juga. Dia tidak berani masuk ke dalam hutan semakin dalam, jadi... Natsuki akan berjaga di tempat yang tak jauh dari pintu hutan. Ia berdiri dibalik lebatnya semak, daun besar dan pepohonan.


Ia sengaja memilih tempat yang cocok untuknya. Karena... saat di dalam hutan, Natsuki tidak ingin pakaian dan tubuhnya jadi kotor karena tanah, lalu tidak lupa juga dengan serangga kecil menjijikan yang suka menempel di pohon dan daun. Tapi untungnya, tempat yang Natsuki pilih itu sudah ia periksa. Semuanya aman dan terlihat baik-baik saja. Jadi Natsuki tidak perlu takut untuk duduk dibalik semak karena tanahnya yang kering, tidak terlalu kotor dan tempatnya juga tidak lembab.


"Sutekina basho." Gumam Natsuki pelan setelah ia menggelar alas dari daun besar yang akan ia gunakan untuk duduk di tanah agar tidak kotor. Lalu setelah duduk, Natsuki memperhatikan keadaan sekitarnya, setelah itu ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan berniat akan mengirim pesan pada adiknya.


Ia mengetik pesannya dengan ketikan Jepang. Begitu juga dengan tulisannya. Berbagai hiragana, kanji, katakana, ia tulis semua di sana.


[ 試合中は注意してください。]


TRING!


Seketika, pesan itu pun langsung masuk ke dalam ponsel Mizuki. Mizuki mendengar suara nada deringnya yang berbunyi, lalu dengan cepat ia langsung membuka ponselnya yang kebetulan sedang ia pegang sedari tadi.


"Oh? Onii-chan?" Mizuki bergumam. Saat membaca pesan dari kakaknya, Ia sedikit tertawa lalu membalasnya. [ はいー♡≧∀≦! ]


Mizuki tidak percaya kalau sebelum memulai Uji Nyali, kakaknya sudah memperingati Mizuki untuk berhati-hati. Mizuki akan menjawab pesan kakaknya itu dengan emot yang lucu lalu mengirimnya.


Natsuki menerima pesan masuk dari adiknya. Ia suka dengan ketikan emot yang diberikan Mizuki. Lalu untuk membalasnya, Natsuki mengirim stiker berbentuk karakter cowok yang sedang mencium kening seorang anak cewek. Ia anggap kalau karakter di dalam stiker itu adalah dirinya yang sedang menyayangi Mizuki.


Setelah mengirim stiker itu, Natsuki melirik ke jam ponselnya, lalu segera berdiri. Ia tahu waktunya sudah tiba. Tak lama lagi, anak-anak yang ikut permainan Uji Nyali akan segera datang. Jadi dia harus bersiap.


****


"Mizuki? Dari tadi kau terlihat senang. Ada apa?" tanya Akihiro yang sedang berjalan di sampingnya. Saat ini mereka berjalan bersama dengan semua anak lainnya pergi melewati jalan kecil menuju lapangan berumput untuk sampai ke hutan.


"Oh, bukan apa-apa." Sekali lagi Mizuki tertawa. Lalu memasukan ponselnya ke dalam tas kecil yang ia bawa. Tas itu berisi peralatan P3K, seperti obat luka dan perban. Ia takut kalau ada temannya yang terluka dalam permainan malam ini.


"Kak Mizuki, sepertinya tasmu itu akan sangat berguna sekali!" ujar Adel senang setelah ia mengintip sedikit ke dalam tas yang Mizuki bawa. Setelah itu, Mizuki kembali menutup resleting tasnya untuk berjaga agar barangnya tidak ada yang hilang. Apalagi sekarang di dalam tasnya itu ada ponselnya yang berharga.


"Aku sengaja membawa ini semua agar kalian yang terluka bisa langsung dapat pertolongan pertama." Mizuki membalas ujaran Adel tadi. Lalu tak lama, Yuni yang ada di samping Adel juga ikut berujar pelan.


"Memang sangat diperlukan. Kita tidak tahu bahaya apa yang akan mengancam di dalam sana."


"Tapi semoga saja semuanya akan baik-baik saja. Jika ada bahaya, aku siap untuk menjadi dokter untuk mereka!" tegas Mizuki dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Wah~ Cita-cita Kak Zuki mau jadi dokter, ya?" tanya Adel.


"Entahlah. Aku masih belum menentukannya. Kemauan aku banyak, sih, hehe...."


"Adel juga banyak, kok!"


"Cepat putuskan sebelum dewasa mendatang." Itu suara Yuni. Mizuki mengangguk cepat. "I–iya! Tentu saja semua orang pasti punya cita-cita! Akan segera aku pikirkan."


Yuni hanya mengangguk. Lalu Mizuki kembali mengarahkan pandangannya ke depan jalan. Lalu tak lama, Mizuki merasa menginjak sesuatu yang lembut dan bercabang-cabang. Saat ia melirik ke bawah kakinya, ternyata dirinya itu telah menginjak rerumputan yang lebat. Ternyata mereka semua telah sampai di lapangan luas berumput yang gelap!


Karena gelap, jadi semua orang menyalakan lampu flash dari ponsel mereka. Kalau Mizuki, ia akan mendekat dengan Adel saja karena ia sendiri malas mengeluarkan ponselnya lagi. Setelah itu, Bu Mia dan Pak Wija pun mengajak anak muridnya untuk berjalan mendekat ke dalam hutan.


Saat di depan hutan yang ternyata dalamnya terlihat lebih gelap daripada lapangan. Sebelum masuk saja, hawanya merindingnya langsung terasa. Ditambah dengan udara dingin dari angin malam di atas perbukitan. Sungguh... malam yang terbaik untuk permainan Uji Nyali. Tapi tidak untuk murid yang penakut. Baru sampai di depan dan melihat bagian luar hutan itu saja sudah merasa ketakutan dan tidak ingin memasukinya.


Tapi berkat teman sekelompoknya, mereka yang takut dapat diatasi dengan bimbingan dan dukungan semangat dari teman-temannya. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kok.


Bu Mia berdiri di depan kerumunan para muridnya untuk mengumumkan sesuatu. "Baiklah, sekarang pukul 1 pagi. Karena tadi kita terlalu lama sama pengumumannya. Jadi sekarang... langsung saja dimulai permainannya!"


"Apa kalian sudah siap?" tanya Pak Wija.


"Ya!!"


"Kalian tahu kan apa saja yang harus kalian lakukan?"


"Baiklah, sekarang... ayo kalian langsung masuk saja ke dalam hutan ini!"


"Tenang saja. Seperti yang Ibu bilang, tempatnya sudah terjaga oleh beberapa orang dewasa di dalam sana. Jika ada apa-apa kalian harus berteriak meminta pertolongan, ya? Saling menjaga satu sama lain dengan kelompok kalian. Jangan berkumpul dengan kelompok lain. Fokus dengan kelompoknya sendiri. Masing-masing kelompok harus bisa mendapatkan kotak itu. Jangan pergi jauh-jauh. Kalian juga jangan khawatir jalanan gelap karena di dalam sana sudah dipasang lampu minyak yang digantungkan di beberapa pohon." Bu Mia menjelaskan lagi untuk yang terakhir kalinya. Lalu ia sedikit mendekat ke arah semuanya dan berujar pelan, "Sedikit kunci. Jika kalian sudah menemukan tumbuhan nanas merah liar, maka jarak kalian dengan kotak kunang-kunang itu sudah dekat. Kalian pasti akan mudah untuk menemukannya. Mengerti?"


"Mengerti, Bu!" Semuanya menjawab dengan gembira. Tidak ada yang harus ditakutkan. Karena masing-masing kelompok beranggota 3 orang saja. Dengan kelompoknya, mereka pasti memiliki satu atau dua anak yang pemberani. Jadi tidak perlu khawatir kalau ada sesuatu yang muncul di dalam hutan itu.


Lagi pula, mereka juga tidak mungkin percaya kalau hutan itu berhantu, kan? Karena tidak ada yang mengatakan kalau hutan tersebut menyimpan banyak kisah seram di dalamnya. Tapi semoga saja semuanya bisa keluar dan kembali ke lapangan dengan selamat dan menyelesaikan tugas mereka.


****


SRAK... SRAK....


Suara tapak kaki saat ini tidak berbunyi seperti biasanya saat mereka sedang berjalan di atas tanah. Karena saat di dalam hutan, jalannya dipenuhi oleh dedaunan yang gugur dan menumpuk.


Dennis, Rei dan Akihiro selalu menggunakan ponsel mereka untuk penerangan walau sudah dipasang lampu minyak di setiap tempat. Karena dengan penerangan tambahan, mereka bertiga bisa melihat keadaan hutan dengan jelas. Tapi... ternyata di dalam hutan tidak bisa mendapatkan sinyal karena dedaunan yang tubuh di pohon besar sangat lebat sampai menutupi langit malam. Bahkan, bulan dan bintang saja tidak dapat terlihat. Tempatnya memang tertutup dan gelap sekali. Jadi... sangat sulit untuk menghubungi seseorang jika batang sinyal semuanya menghilang.


"Serasa tidak berguna sekali ponselku ini jika tidak mendapat sinyalnya." Dennis menggerutu sambil terus mengangkat ponselnya ke atas dan berharap bisa mendapat sinyal. Satu batang saja! Karena sinyal di ponsel Dennis telah menunjukan tanda silang merah yang artinya, ponsel Dennis sudah tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi dan memakai internet lagi.


"Tetap perhatikan jalan, Dennis. Nanti kan kalau ada lubang tidak tahu." Ujar Rei memperingati Dennis. "Mending kalau lubang kecil, tapi bagaimana kalau lubang besar? Bisa saja jurang."


"Oh! Iya, iya." Dennis terkejut mendengarnya. Ia tidak ingin hal mengerikan terjadi menimpanya. Ia tidak hanya mengkhawatirkan dirinya sendiri. Ia juga mencemaskan kedua teman sekelompoknya. Karena... Dennis juga tidak ingin membuat repot Rei dan Akihiro jika dirinya dalam masalah di hutan itu.

__ADS_1


"Aku akan berusaha untuk tidak ceroboh dan selalu berhati-hati saat di dalam tempat ini." Dennis sudah berjanji di dalam hatinya. Ia benar-benar bersumpah!


Sekarang... melanjutkan perjalanannya lagi. Tujuan pertama mereka adalah mencari si Nanas Merah Liar itu. Karena kata Bu Mia, kunci untuk mempermudah mencari Kotak Kunang-kunang adalah dengan menemukan tumbuhan Nanas itu terlebih dahulu. Karena Kotak Kunang-kunang itu letaknya tidak jauh dari tumbuhan Nanas.


****


DI dalam ruangan berdarah yang belum diketahui lokasinya, terdapat banyak potongan daging dan benda tajam. Terdapat lampu berwarna kuning di tengah-tengah langit ruangan sebagai penerangan. Dan di bawah langit tersebut terbaringlah seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya.


Keadaan wanita sangat mengenaskan. Penuh luka gores dan memar di lengan dan kakinya. Kedua tangan dan kakinya terikat erat di atas meja tempat ia berbaring. Memberontak ketakutan saat melihat orang lain di sana yang datang menghampirinya.


Orang itu menutupi wajahnya dengan masker dan kedua tangannya ditutupi oleh sarung tangan yang sudah dipenuhi bercak darah.


Orang itu mengambil sebuah golok, lalu dengan tangan yang satunya lagi menggenggam erat tangan kanan si wanita. Karena matanya tidak ditutupi, wanita itu dapat melihat apa yang ingin dilakukan oleh orang misterius yang ada di sampingnya. Setelah melihat orang itu membawa goloknya, seketika si wanita pun memberontak semakin kuat dan berteriak ketakutan. Setelah tangan kanan si wanita dapat ia tenangkan, orang itu mengangkat goloknya tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya dengan cepat.


TAK!


Memotong jari tengah si wanita itu sampai terpisah dari tubuhnya. Darah mengalir. Setelah potongan jari itu terjatuh dari atas meja, seketika si wanita itu pun berteriak kesakitan sampai mengeluarkan air matanya. Teriakannya yang sangat keras itu terdengar sampai ke luar ruangan.


****


"Eh?" Dennis menoleh ke belakangnya dengan cepat. Rei yang ada di sampingnya terkejut saat Dennis tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Dennis?" tanya Akihiro.


"Apa kalian mendengarnya? Tadi baru saja ada yang berteriak." Jawab Dennis.


"Hah? Siapa yang berteriak?"


"E–entahlah. Aku mendengarnya. Ada suara teriakan gitu."


"Benarkah?" Rei terlihat tidak yakin dengan perkataan Dennis. Ia belum bisa mempercayainya karena Rei sendiri tidak mendengar teriakan yang dimaksud Dennis itu.


*


*


*


To be Continued-


**Follow IG: @pipit_otosaka8


Sekarang, mumpung lagi ada jam kosong, jadi aku up aja. Tapi mulai sekarang, up sehari sekali, ya? Jika ada waktu, mungkin bisa 2x per hari seperti biasa. Oke^^


Jangan lupa like dan komennya ≧∨≦⊃✿**

__ADS_1


__ADS_2