Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 62– Akihiro dan Ujian IPS, part 4


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Kenapa mereka berdua bisa datang ke sini?!!" panik Akihiro di dalam hatinya. Ia benar-benar tidak menduga kalau keluarganya yang masih tersisah itu benar-benar datang untuk mencari dirinya.


Akihiro benar-benar takut. Ia semakin melangkah mundur dan mundur, sampai tubuhnya terpojok dan menyentuh tembok di samping jendela.


Kakaknya Akihiro masuk ke dalam kelas, sementara Ibunya tetap menunggu di depan kelas karena ia malas untuk menemui anaknya. Kakaknya memperhatikan seluruh isi kelas dan terheran. "Loh? Ini masih jam pelajaran, kan? Kenapa semua anak-anak di sini malah tidur? Dan... gurunya ke mana?" Ia bergumam.


Lalu setelah itu lirikan matanya mengarah ke Akihiro. Ia mensipitkan mata dan tersenyum. "Hei~ Anak bawang. Selama ini ternyata kau ada di sini, ya?"


Untuk sementara, Akihiro tidak berani menjawab. Ia masih gemetar ketakutan karena kehadiran kakaknya dan ibunya itu. Sampai sesekali, tiba-tiba saja kejadian di masa lalunya muncul di pikiran Akihiro. Membuat ia menjadi ingat dengan tampang wajah kakaknya yang menyeramkan saat memukuli tubuh adiknya.


"Hei! Kalau ditanya itu jawab, dong!" kakaknya menghentakan kaki dengan kuat dan membentak. Akihiro tersentak kaget. Ia berani mengeluarkan suaranya. "A–apa maumu?"


"Weh, ayolah lu pulang ikut sama gue." Tiba-tiba saja ia mengubah topik pembicaraanya. Ia mengulur tangan untuk mengajak Akihiro pergi bersamanya. Jika Akihiro tidak mau, maka dengan tangan itu, kakaknya akan menarik paksa tangan Akihiro.


"Kenapa aku harus ikut denganmu?! Kau... kau kakak yang jahat! Aku tidak mau melihatmu lagi!" Akihiro membentak.


"Heeh? Ngomong apa lu barusan? Lu berani ngebentak gue, ya?!" Kakaknya melangkah maju dengan cepat. Semakin mendekat dengan Akihiro. Lalu ia menjambak rambut Akihiro dengan kasar dan membenturkannya ke tembok yang ada di belakang Akihiro.


"Sa–sakit..." erangan pelan Akihiro keluar sambil menahan sakit. Lalu setelah itu, tanpa melepaskan rambut Akihiro, kakaknya mendekatkan wajah mengerikannya ke samping wajah Akihiro dan berbisik, "Lu tau ga? Keluarga kita sedang kesulitan dalam mencari uang. Dan sekarang, makanya itu gue susah-susah nyari lu karena gue pengen jual lu untuk mendapatkan uang tambahan!"


Seketika Akihiro terkejut mendengarnya. "Ke–kenapa... kenapa kalian tega sekali sama aku?" Akihiro mengerutkan keningnya dan kembali membalas bentakan kakaknya itu. "Kenapa tidak kau saja yang menjual dirimu?! Jadi kau tidak usah repot-repot mencariku!!"


"Aaargh! Anak kecil tidak bakal mengerti!" Kakaknya menggeram kesal lalu dengan cepat ia menarik Akihiro dan menghempaskan tubuhnya ke lantai. Setelah itu, ia menginjak kepala Akihiro yang masih tersungkur di bawahnya. "Kau hanya harus menuruti apa kata-kata gue saja sudah amat, sih?!"


TUK! TUK!


Ibunya mengetuk pintu dari depan kelas dan berteriak, "Jangan kau lukai anak itu dulu. Karena kita membutuhkannya dalam keadaan yang baik biar laku dia!"


"Hah, menyusahkan saja orang tua yang satu itu." Kakaknya bergumam lalu kembali melirik ke arah Akihiro. Terlihat Akihiro sudah mulai lemas di lantai. Ia sudah pasrah mau diapakan saja oleh kakaknya yang kejam itu. Bahkan saat kakaknya menginjak kepalanya saja dia masih tetap terima dan diam saja. Walau ada ras sakit yang ia tahan.


"Hah, untuk kali ini gue biarin lu, deh! Gue nahan diri aja." Gumam kakaknya, lalu menurunkan kakinya dari atas kepala Akihiro. Tapi setelah kakaknya melepaskan Akihiro, tetap saja Akihiro tidak ingin bergerak untuk bangun. Ia tetap berposisi seperti sebelumnya. Karena saat ini, tenaga untuk menopang tubuhnya saja sudah hampir habis. Tapi ia bersyukur, kakaknya tidak menghajarnya di saat ini juga dan... tidak ada teman-temannya yang melihat dirinya dianiaya oleh kakaknya sendiri.


Kakaknya mengeluarkan ponsel lalu bergumam, "Hah, sekarang gue harus menghubungi teman gue dulu buat nyari orang yang pingin bawa lu, Dian."


Akihiro melebarkan mata. Ia terkejut saat melihat kakaknya memegang ponsel dan dengan kata "menghubungkan" itu telah membuat Akihiro teringat akan sesuatu.


"Kakak bisa menghubungi seseorang lewat ponselnya?" tanya Akihiro tanpa menengok ke arah kakaknya itu.


Kakaknya mendengar. Lalu melirik ke arah Akihiro. Ia menarik baju belakang Akihiro untuk membangunkan tubuh adiknya itu. "Apa maksud lu? Tentu saja gue bisa memainkan ponsel gue lah!"


"Eh, benarkah? Kalau begitu bagus!" Akihiro tersenyum senang. Lalu ia menunjukan ekspresi senangnya itu pada kakaknya.


"Hei! Kenapa lu menatap gue seperti itu? Bikin muak saja!"

__ADS_1


"Bukan seperti itu, kak! Ah! Aku... boleh minta tolong?"


"Ah, males."


"Kumohon, kak! Tolong aku dulu. Sekali saja." Akihiro terdiam. Kakaknya masih menatap dingin ke arahnya dan menunggu Akihiro melanjutkan perkataanya.


Sebenarnya Akihiro tidak ingin mengatakan itu, tapi karena terpaksa dan demi teman-temannya juga, maka Akihiro akan mengatakannya. Ia melanjutkan, "Jika kakak mau menolongku, maka aku... aku akan menuruti semua perintah kakak. Termasuk, permintaan Ibu untuk menjual diriku."


Kakaknya masih terdiam dengan ekspresi wajah yang sama. Setelah mendengar Akihiro mengatakan itu, Ibunya Akihiro pun sedikit melirik ke arah anaknya. "Turuti saja. Itu mungkin permintaan terakhirnya." Ujar si Ibu dengan nada cuek. Ia benar-benar tidak peduli.


Kakaknya menghembuskan nafas berat lalu berkacak pinggang. "Terserah. Sekarang, lu mau apa?" tanyanya.


Akihiro terlihat senang karena kakaknya menerima permintaanya itu. Sebelum menjawab, Akihiro kembali berdiri dan menghadap di depan kakaknya. "Aku... aku ingin kakak menelepon polisi sekarang juga."


Kakaknya terkejut. Begitu juga dengan ibunya. "A–apaan itu?! Lu mau gue hubungi polisi? Ohh... pasti lu mau ngadu, ya? Tentang perbuatan gue sama ibu lu!" bentak kakaknya.


Akihiro tersentak dan menggeleng cepat. "Ah, tidak, tidak! Bukan itu maksudku. Kak, kumohon... aku ingin menolong teman-temanku. Jadi... seperti ini ceritanya."


"Kakak lihat sendiri? Mereka semua jadi seperti orang mati ini karena apa?"


"Gak tau. Memangnya gue peduli?"


"Ikh! Mereka ini sedang terjebak di dalam sebuah Ujian Virtual yang mematikan. Jiwa mereka sekarang ini sedang berada di dalam sebuah dunia aneh di dalam komputer. Makanya mereka semua jadi seperti ini."


"Oh. Gitu? Terus... sekarang apa tujuan gue buat hubungi polisi?" tanya Kakaknya santai.


"Kak, kumohon! Hubungi polisi sekarang juga. Hanya itu permintaan aku. Jika polisi itu datang, maka si penjahat yang sudah melakukan semua ini pada teman-temanku akan segera ditangkap dan mereka semua bisa bebas dari ujian yang mematikan itu!" jelas Akihiro. Ia kembali memohon pada kakaknya agar permintaannya bisa dikabulkan oleh kakaknya.


"Tapi setidaknya, setelah aku pergi, aku bisa menyelamatkan kalian semua. Dan anggaplah, perbuatanku itu sebagai kenangan untuk kalian." Gumam Akihiro di dalam hatinya.


Kakaknya mengangguk paham. "Hmm... baiklah. Gue akan telpon polisi sekarang. Tapi... awas saja kalau kau berani buka mulut di depan polisi itu tentang perbuatanku, akan kubunuh kau!"


Akihiro mengangguk pelan. "Iya... baiklah. Aku berjanji, setelah teman-temanku selamat, aku akan ikut dengan kalian. Kakak dan Ibu boleh melakukan apapun terhadap diriku." Akihiro menundukkan kepalanya. "Aku berjanji."


"Hm! Anak pintar." Kakaknya tersenyum. Ia kembali mengeluarkan ponselnya untuk menelepon polisi. "Sekarang, akan aku hubungi para po–"


DOR!


"Eh?" Akihiro terkejut. Tiba-tiba saja tepat di depan matanya, ia melihat tangan kakaknya yang sedang memegang ponsel itu hancur dan mengeluarkan banyak darah.


"AAASRRRGGHHH!" Kakaknya berteriak kesakitan. Ia jatuh duduk sambil menggenggam tangannya yang mengalirkan cairan kental berwarna merah yang menetes ke lantai.


Masih dengan ekspresi terkejutnya, Akihiro menengok cepat ke arah pintu depan. Karena di depan pintu kelas, ia melihat ada seorang berbadan besar yang memegang sebuah pistol di tangannya.


Ibunya Akihiro juga terlihat kaget saat orang itu datang. Jadi Ibu Akihiro berlari menjauh dari si orang besar itu. Ia mendekati meja guru yang ada di dalam kelas.


"Tidak ada yang boleh menggunakan ponsel jika berada di tempat ini." Ujar orang besar itu tanpa ekspresi. Akihiro menggeleng cepat, lalu ia mendekati kakaknya untuk membantu kakaknya berdiri kembali.


"Ka–kakak! Kau baik-baik saja?" tanya Akihiro cemas. Tapi tiba-tiba saja kakaknya mendorong Akihiro untuk menjauh dari dirinya dan lagi-lagi membentak. "Jangan sok peduli sama gue! Gue tau! Ini semua rencana lu buat membunuh gue, kan?! Lu pasti mau balas dendam!"


"Ti–tidak, kak! Aku tidak pernah berniat ingin melakukan itu." Akihiro menggeleng cepat. Lalu ia menengok ke arah orang berbadan besar dengan pistol itu. "Orang itu... bahkan aku tidak mengenalnya!"

__ADS_1


"Kau pasti bercanda!"


"Tidak, kak! Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak mengenal orang itu."


Kakaknya kembali berdiri. Ia masih menggenggam tangannya yang terluka. Bukan terluka lagi, tapi memang sudah terlihat tidak ada sisah. Kedua jarinya hilang dan telapak tangannya hancur. Entah kenapa hanya dengan senjata pistol saja bisa membuat tangan kakaknya jadi seperti itu.


Tidak hanya tangan yang menjadi korban, tapi ternyata ponsel kakaknya juga rusak karena terkena tembakan dan membentur lantai.


"Dian! Jangan diam saja! Lakukan sesuatu anak sialan!" bentak Kakaknya. Akihiro terkejut. Ia mengangguk cepat. Tapi padahal saat ini, ia tidak tahu harus melakukan apa untuk mengusir orang besar itu. Jangan lupa juga, orang itu membawa senjata. Jika sudah seperti itu, Akihiro tidak akan bisa melawannya!


****


SREK....


Rei membuka jalan dengan cara menyingkirkan beberapa daun yang menghalangi jalan mereka. Saat ini, tentunya Rei masih memimpin kelompoknya di depan.


GRRR....


Rei mengarahkan tangannya ke belakang. Meminta semua orang untuk segera berhenti saat ia mendengar suara erangan dari balik pohon besar di depannya.


Rei akan pergi duluan untuk memeriksa. Semuanya juga ikut. Rei akan mengintip dibalik pohon besar di depannya itu untuk memeriksa sesuatu yang ada dibalik pohon. Karena ia mendengar suara dari sebuah hewan yang sedang memakan sesuatu. Ada suara orang yang sedang makan juga.


KRAUKS... GRRAAW... GRRR....


Suaranya semakin jelas saat Rei mendekatkan dirinya pada pohon besar. Setelah Rei menyentuh pohon itu, ia mulai menggerakkan kepala dan setengah tubuhnya untuk mengintip.


Saat dilihat dari balik pohon, Rei melihat ada sebuah makhluk berbentuk reptil yang seukuran dengan tubuhnya. Reptil itu berbentuk seperti Spino. Hanya saja ukuran tubuhnya lebih kecil.


Tapi saat Rei melihat sesuatu yang sedang dimakan reptil itu, Rei melebarkan matanya karena terkejut. Lalu dengan cepat, ia kembali berbalik badan dan bersembunyi dibalik pohon bersama dengan temanya yang lain.


Rei memberitahu teman-temannya untuk jangan berisik. "Ssstt... diam, ya? Itu di sana ada bahaya." Bisik Rei.


Semuanya mengangguk paham. Mereka menutup mulut mereka dan berusaha untuk bernafas tanpa mengeluarkan suara. Dan mereka tidak akan menggerakkan tubuhnya sedikitpun.


"Sial! Dinosaurus itu sedang memakan orang. Anak mana yang berhasil dia tangkap?" Batin Rei. Ia merasa takut setelah melihat mayat seorang murid yang dimakan oleh makhluk itu. "Malah sekarang ini, jarak kita dengan makhluk itu dekat sekali. Aku harap, dia bisa pergi dengan cepat dan kami semua bisa aman."


Tuk, tuk!


"Eh?" Dennis tersentak. Ia merasakan ada seseorang yang menyentuh pundaknya. Sontak, Dennis pun langsung menengok ke belakang dan kembali terkejut karena... ia melihat seorang gadis misterius yang berdiri dekat di belakangnya.


"Ka–Kau!" tanpa sengaja Dennis mengeluarkan suaranya dengan nada keras. Sontak semuanya terkejut dan Rashino langsung menutup mulut Dennis.


"Kreek?" Suara dinosaurus yang ada di balik pohon itu terdengar keras. Apakah Dinosaurus itu tahu keberadaan Dennis dan teman-temannya?!


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2