
"Hei, kalian semua baik-baik saja?" tanya Rei cepat sambil memegang pundak Dennis. Lalu ia membantu Adel kembali berdiri.
"Re–Rei? Kau masih hidup?!" tanya Dennis tidak percaya. Lalu Akihiro dan Yuni berlari cepat kembali menghampiri Dennis.
Akihiro memukul punggung Dennis. "Hei, bicara apa kamu? Kau lihat sendiri, kan? Rei sudah ada di depan mata kita. Dia masih hidup ternyata!"
Rei tersentak. "Eh? Memangnya kalian pikir aku sudah mati, apa?"
"Kak Rei, syukurlah kau baik-baik saja." Yuni berujar. Ia juga ikut senang. tapi senyum di wajahnya itu masih saja ia sembunyikan.
"Yah... tapi sekarang sedang tidak baik-baik saja," Rei berbalik badan lalu matanya melirik tajam ke arah hantu-hantu yang akan menyerangnya itu. "Mereka semua benar-benar merepotkan! Dari tadi tidak pernah mati. Padahal aku sudah melawannya cukup lama."
Dennis terkejut. "Eh? Jadi sedari tadi kakak sudah melihat dan melawan hantu-hantu itu?"
"Ya... pada awalnya hanya hantu manusia seperti zombie. Tapi saat aku tebas kepalanya, dia tiba-tiba terbang menghilang. Aku harus mencarinya. Dan akhirnya ketemu juga, dia malah memanggil teman-temannya. Merepotkan sekali!" jelas Rei.
"Ah, menebasnya?! Dengan apa?"
"Kebetulan tadi di jalan aku menemukan pecahan beling. Dengan beling itu, aku menggores tenggorokannya dengan cepat."
"Hanya dengan pecahan beling? Masa bisa sampai membuat kepalanya putus gitu, sih?"
"Yah... entahlah. Saat aku sudah menggores dan menusuknya semakin dalam, tiba-tiba saja bagian leher hantu manusia itu seperti terbakar dan sebagiannya mengulang jadi abu begitu. Ah, bagaimana menjelaskannya, ya? Sulit untuk digambarkan. Tapi intinya sekarang, hantu manusia itu sudah tidak memiliki kepala lagi."
Sebenarnya Rei belum selesai menjelaskan, tapi tiba-tiba saja ada hantu kuntilanak itu yang menyerang Rei dengan kukunya sambil membungkuk dengan rambut panjangnya.
Beruntung gerakan hantu itu agak lambat, jadi Rei masih sempat menangkisnya. Lalu dengan cepat, Rei mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaket yang ia pakai.
Rei mengeluarkan kantung plastik yang berisi garam. Lalu ia melemparkan segenggam garam itu ke arah si Hantu Kuntilanak. Lalu seketika, Kuntilanak itu mengerang kesakitan.
Setelah lama berguling-guling karena merasa kepanasan, tubuh hantu Kuntilanak itu akhirnya meleleh dan menjadi abu. Abu kuntilanak itu terbang ke langit dan lenyap begitu saja.
Rei menghembuskan nafas lega, lalu ia memberikan kantung garam itu pada Dennis. "Ini ambilah. Para hantu yang melayang biasanya lemah dengan garam. Mereka bisa mati jika terkena banyak garam. Cepat ambilah dan lawan mereka!"
Dennis terkejut. "E–eh?! Lawan mereka?! Ah... sepertinya aku tidak bisa me–melakukannya! Ah...."
"Jangan takut, hei! Cepat ambil!" Rei membentak. Lalu ia menendang sesuatu yang ada di belakangnya. Ternyata ada hantu Pocong itu yang sudah semakin mendekat.
Setelah Rei menendang pocong itu, hantu melompat itu langsung terguling ke lantai dan tidak bisa bangun lagi. Lalu Rei merauk segenggam garam lagi dan langsung melempar garam itu ke arah pocongnya.
Pocong itu bertingkah seperti Kuntilanak tadi, lalu menghilang menjadi abu. Setelah itu, Rei kembali memberikan kantung plastiknya ke Dennis.
__ADS_1
"Cepat, Dennis! Ambil ini! Ayo bantu aku melawan mereka."
"Ta–tapi bagaimana, ya? Ah! Tidak... mereka terlalu banyak. A–aku juga tidak bisa melakukannya." Dennis tidak ingin menerima pemberian garam dari Rei. Ia mundur secara perlahan karena merasa takut.
"Ah, kalau begitu biar aku saja, Rei! Berikan sini." Akihiro merebut kantung garam itu dari tangan Rei.
"Nah, begitu bagus! Sekarang Dennis, ayo ambil ini juga. Aku punya lagi. Cepat! Mereka bukan hantu biasa soalnya."
"Hah? Lalu hantu jenis apa mereka?!"
"Mereka hantu yang berasal dari kekuatan ilmu hitam yang berbahaya. Seseorang pasti telah mengirimkan hantu-hantu itu dengan ilmu santet." Jelas Rei.
"Eh?! Itu berarti, ada yang berusaha untuk membunuh kita semua, dong!"
"Iya begitulah. Tapi sekarang kita habisi hantu-hantu ini dulu. Sedari tadi aku sudah melawan mereka, dan mereka malah semakin bertambah. Hantu utamanya adalah si Manusia tanpa kepala itu. Kita harus mengalahkannya terlebih dahulu." Rei kembali menjelaskan. Lalu ia melemparkan sesuatu ke arah hantu Sadako yang merangkak ke arahnya.
Sebuah pisau kecil menancap tepat di kepala hantu Sadako itu. Sadako hanya merintih kesakitan. Tapi ia tidak menghilang dan lenyap. Karena yang bisa membuat hantu itu lenyap adalah dengan cara menaburkan garam saja.
"Baiklah ayo kita lawan mereka semua! Sepertinya akan menyenangkan!" Akihiro terlihat bersemangat sekali. Lalu ia melemparkan garam itu ke arah Sadako yang sudah tergeletak dengan kepalanya yang mengeluarkan darah.
"Jangan berlebihan juga, Dian!" Rei memperingati. "Cukup sedikit saja juga bisa membuatnya mati. Jangan banyak-banyak, soalnya aku hanya memiliki dua kantung garamnya saja. Tidak ada lagi. Jika garamnya habis, kita bisa celaka."
"Tenang saja, Rei! Aku akan mengirit garam ini, loh...."
GREP!
"Eh?!"
Akihiro terkejut. Tiba-tiba saja ada yang menggenggam kakinya. Saat Akihiro melirik ke bawah, ia melihat kakinya sudah terikat oleh rambut panjang milik hantu Sadako itu.
"Hati-hati Dian! Hantu Sadako itu bisa mengendalikan rambutnya untuk menangkap korbannya. Semakin lama rambut itu semakin menyebar ke seluruh tubuhmu. Jika dirimu berhasil terkurung oleh rambutnya itu, maka kau bisa menjadi makanannya!" Rei kembali menjelaskan. Lalu ia berlari menghampiri Hantu Sadako itu dan langsung menginjak kepala hantu itu.
Lalu Rei kembali menengok ke arah Akihiro. "Cepat, Dian! Lemparkan garam itu."
"Ah, akan kubunuh kau! Hantu jelek. Kalau kau masih menyentuh kakiku dengan rambutmu, akan aku cukur rambutmu!" Akihiro memberikan garam itu seperti ia sedang memercikkan air saja.
Tak lama kemudian, akhirnya hantu Sadako itu lenyap setelah ia menerima serangan garam milik Akihiro. Sekarang yang tersisah dari Hantu itu hanya rambutnya saja yang tidak ikut menghilang.
Akihiro mengangkat kakinya sedikit lalu melakukan gerakan menendang untuk melepaskan rambut yang masih menempel dari kakinya.
Lalu setelah itu, tiba-tiba saja ada serangan dari samping. Rei sempat menangkisnya sebelum hantu itu menusuk kepala Akihiro dengan tongkat kayu berkas kaki kursi yang rusak.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan Teke-teke?
Hantu yang satu itu memang agak lincah. Jadi Rei dan Akihiro harus ekstra waspada untuk melawannya.
"Begini, Dian! Aku akan mencoba untuk menjatuhkannya lagi, lalu jika dia sudah lumpuh, kau cepat taburkan dia garam lagi." Kata Rei.
Akihiro mengangguk paham.
"Dan untuk kalian bertiga jangan diam saja! Bantu kami juga!" Rei berteriak ke arah Dennis, Adel dan Yuni.
Dennis dan Yuni tersentak kaget. Lalu mereka berdua bertanya dengan kalimat yang sama. "Bagaimana cara melakukannya?!"
"Cari alat yang tidak terpakai, lalu gunakanlah sebagai senjata. Dan ini... ambillah!" Rei melempar sekantung garam terakhirnya pada Dennis. Dennis menangkap kantung itu.
"Sekarang apa yang aku lakukan?!"
"Lawan mereka cepat!"
Saat ini Rei tidak bisa banyak bicara dan menjelaskan lagi karena ia sedang sibuk dengan hantu Teke-teke itu.
"Alat apa yang akan kita gunakan?" tanya Dennis pada Adel. Adel menggeleng sambil mengangkat kedua pundaknya. Lalu mata Dennis melirik ke arah Yuni.
"Oh ayolah, Yuni! Kamu jangan diam saja, dong! Lakukan sesuatu."
"Pada yang harus aku lakukan? Aku tidak punya rencana." Yuni menjawab dengan nada dingin sambil menatap Dennis sinis dengan matanya itu.
"Hei Rei! Kami tidak menemukan senjatanya!"
"Ini dia teman-teman! Kami sudah menemukan semua apa yang Rei suruh tadi."
Tiba-tiba Mizuki dan Sachiko datang lewat jendela. Ia melompati jendela itu sambil membawa beberapa alat bantu untuk mengusir hantu dengan cara tradisional.
Jadi sekarang, apakah hantu-hantu menyebalkan itu bisa mereka kalahkan?
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1