Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 64– Dennis VS Bapak Tertua (2)


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


TRIIING... TRIIIING....


[ Si Zain menelponku. ] Adit menunjukkan layar ponselnya pada Ethan dan Rei. [ Kira-kira ada apa, ya? ]


"Coba angkat saja."


"Ah, oke." Adit menekan tombol hijaunya. Setelah itu, ia dekatkan ponselnya ke telinga. "Halo, Zain? Ada apa–"


[ Hei! Kabar baik untuk kita semua! ]


"Ah, ada apa memangnya?"


[ Ngomong-ngomong apa kalian sudah menemukan Dennis? ]


"Emm... langsung ke intinya saja! Kabar baik apa yang kau maksud?" tanya Adit penasaran. Rei menghentikan langkahnya, lalu ikut mendengarkan bersama Ethan.


[ Begini, tim penyelamat akan datang untuk membantu kita. Ternyata salah satu anak dari sekolah lain itu ada yang tinggal di kawasan sekitar sini. Di bagian kotanya. Dan katanya juga kalau ayahnya bekerja sebagai polisi. Baru saja dia menghubungi ayahnya dan katanya sebentar lagi orang-orang yang membantu kita akan segera datang. Menggunakan helikopter pula! Keren! ] Zainal menjelaskan. Ia terdengar senang sekali. Tapi tidak dengan Rei.


Tidak ada kesenangan untuknya kalau dia belum mengetahui keadaan Dennis.


Tanpa membuang waktu lagi, Rei dengan cahaya dari ponselnya pergi berlari ke arah jalan kecil dengan rumput di depannya. Ia ingin mencari Dennis sendirian walau Ethan dan Adit tidak ikut.


Tapi ternyata, masih ada Ethan yang ingin ikut dengan Rei. Kalau begitu, Rei akan memberikan tugas untuk Adit. Ia meminta Adit untuk bilang pada Zainal kalau dia sedang membutuhkan banyak bala bantuan. Segera!


"Katakan pada mereka untuk pergi ke hutan! Mereka-mereka itu yang akan pergi mencari Cahya di dalam hutan. Cepat, ya? Sebelum hutannya semakin gelap!" tegas Rei pada Adit. Setelah itu, ia pun berbalik badan dan kembali berlari. "Mohon bantuannya, Adit!!"


"Oke, Rei!" Adit mengangguk. Lalu sebelum Zainal menutup teleponnya, ia sempat bertanya, [ Hei, apa yang terjadi di sana? ]


"Zain, begini! Tolong bantu kami. Kami butuh banyak bantuan di sini. Suruh beberapa anak-anak lainnya untuk pergi ke hutan. Aku tunggu di depan hutannya, ya?"


[ Eh? Siapa saja yang aku ajak? ]


"Siapa saja! Tolonglah! Kau juga boleh ikut sekarang!"


[ O–oke! Sepertinya mendesak sekali. Kalau begitu, aku akan bergerak sekarang! ]


"Ya, terima–"


TUT!


"... Kasih. Yah... sudah dimatiin. Sekarang aku sendirian di hutan yang menyeramkan ini." Adit kembali menyalakan lampu ponselnya. Lalu berjalan perlahan ke pintu hutan sambil memperhatikan ke sekelilingnya. "Jangan nongol apa-apa ya di sini?" Ia bergumam ketakutan.

__ADS_1


****


"Hei, kau! Keluarlah! Aku tidak akan lari lagi sekarang!!" Dennis berteriak dalam hutan yang gelap. Sekarang ini ia sudah menyiapkan alat pelindung berupa tongkat kayu yang akan ia gunakan untuk memukul.


Ia tahu kalau tongkat itu tidak akan bisa berguna banyak. Tapi sekarang ini, yang Dennis mau adalah melihat si Bapak Tertua itu muncul di hadapannya. Setelah itu, Dennis akan berlari ke arah sebaliknya untuk memancing si Bapak Tertua itu ke dalam perangkap yang sudah Dennis rencanakan.


"Aku sudah berjanji tidak akan ada korban lagi. Aku tidak ingin melihat teman-temanku mati." Gumam Dennis. Ia menggenggam erat tongkat yang ia pegang.


Tangannya mulai gemetar karena ia tidak bisa melihat jauh di sekelilingnya. Ia takut kalau Bapak Tertua itu tiba-tiba muncul dan menyerangnya dengan golok.


Tapi sekarang, walau matanya sedang tidak berfungsi dengan baik, Dennis akan menggunakan indera pendengarannya untuk mengetahui pergerakan dan kehadiran dari si Bapak Tertua tersebut.


"Aku... aku akan menghadapimu sekarang! Keluarlah! Jangan hanya bisa bersembunyi dan menyerang secara diam-diam seperti seorang pengecut!" Sekali lagi Dennis berteriak. Lalu ia sedikit menunduk dan tersenyum lalu tertawa kecil. "Hehe... padahal sebelumnya aku yang bersembunyi duluan. Hah, aku memang si pengecut itu."


KREK!


"Eh!" Dennis kembali mendongak. Ia membuka matanya lebar-lebar dan mencoba untuk fokus mendengarkan. Baru saja dia mendengar suara langkah kaki dan ranting pohon yang patah karena terinjak.


"Dia pasti ada di sekitar sini." Sekali lagi Dennis bergumam. Ia tahu serangan akan muncul di mana-mana jika dia tidak salah melangkah. Tapi Dennis sudah siap dengan tongkatnya. Begitu si Bapak Tertua itu muncul, Dennis akan....


SRAK! SRAK SRAK SRAK!!


Dennis mendengarnya. Suara langkah kaki yang sedang berlari cepat. Langkah kaki tersebut menginjak banyak daun kering dan ranting. Akan mudah untuk mendengarnya.


"Kau Dennis, kan? Mati saja sana!!"


Namun dengan cepat, Dennis menghindarinya. Ia menyingkir, lalu membungkuk. Kemudian kembali berdiri di belakang Bapak Tertua. Setelah itu, Dennis mengangkat dan mengayunkan tongkatnya ke arah sasarannya.


BUAK!


Dennis memukul punggung dan leher Bapak Tertua dengan tongkatnya. Lalu memutar badannya, dan kembali memukul. Serangan terakhir, Dennis mengenai tangan kiri Bapak Tertua yang sudah menghilang dan masih mengeluarkan darah.


Seketika setelah pukulan di tangan kirinya tersebut, Bapak Tertua langsung berteriak, lalu berbalik badan. Ini lagi yang akan Dennis lakukan. Ia belum selesai dengan serangannya ternyata.


Setelah Bapak Tertua kembali bertatap muka dengan Dennis, Dennis pun mendorong ujung tongkatnya ke arah wajah Bapak Tertua dengan cepat.


ZLEB!!


Matanya tercolok dengan tongkat yang Dennis pegang. Setelah mengeluarkan banyak darah, Dennis mendorongnya semakin dalam. Sampai akhirnya, ujung tongkat yang sudah dibuat runcing itu tembus melewati kepala belakang Bapak Tertua.


"AAAAARRGH! Apa yang kau lakukan?!"


Bapak Tertua berteriak. Ia menggenggam Tongkat yang mencolok matanya itu, lalu memotong tongkat tersebut dengan goloknya. Dennis melepaskan tongkatnya lalu berlari melewati Bapak Tertua. Ia ingin pergi ke tempat lain. Tidak lupa juga ia harus membuat Bapak Tertua juga ikut mengejarnya.


"Huuuh! Aku dengar tubuhmu itu tahan serangan, gak bisa terluka. Lalu ini apa? Ah, bohong saja!" bentak Dennis sebelum ia pergi. Ia berdiri dua meter dari Bapak Tertua. "Oh, apa jangan-jangan... kekuatan untuk tahan dari luka itu sudah tidak ada. Ah, kau kan belum makan daging manusia selama Minggu ini. Hehe... aku lupa! Kalau begitu, aku bisa menyerangmu kapan saja sampai kau mati, loh~"


"Anak kecil kurang ajar! Aku akan membunuhmu!" Kali ini Bapak Tertua tidak akan diam lagi. Tanpa mencabut tongkat yang masih menancap di matanya, Bapak Tertua itu mengayunkan goloknya untuk menyerang Dennis.


Dennis menghindar agar tidak terkena. Ia melihat gerakan lambat dari Bapak Tertua. "Sepertinya sekarang aku tidak perlu susah-susah untuk membimbingnya kembali ke gubuk. Apa aku langsung saja membunuhnya di sini?" pikir Dennis dalam hati.

__ADS_1


Ia tahu cara membunuh Bapak Tertua sekarang juga. Tapi sebelum itu, Dennis membutuhkan senjata tajam untuknya. Namun saat ini, dia belum memiliki senjata yang ampuh untuk memotong daging selain golok yang ia lihat di genggaman tangan kanan Bapak Tertua.


Sekarang Dennis ingin merebut golok itu dari tangan Bapak Tertua. Tapi ia ingin melihat pergerakan dari serangan orang itu. Jika ada kesempatan, Dennis bisa merebutnya dengan mudah.


"Kau bisa diam tidak?!" Karena kesal semua serangannya tidak mengenai tubuh Dennis, Bapak Tertua membentak kesal. Untuk sementara ia melemaskan tangannya dan menghentikan serangannya.


Begitu juga dengan Dennis. Kalau Bapak Tertua diam, maka Dennis juga akan diam. "Eeeh? Kalau aku diam, nanti aku mati, tau! Kan aku juga ingin hidup."


"Berisik kau!" Bapak Tertua mengayunkan goloknya lagi setelah terdiam untuk beberapa saat. Kali ini ia selalu mengincar kepala Dennis untuk ia tebas.


Tapi jika serangan seperti itu, dapat memungkinkan Dennis untuk merebut goloknya. Setiap golok itu menyerang dirinya, Dennis selalu membungkuk untuk menghindar.


Saat hindarannya yang ketiga, Dennis menangkap tangan kanan Bapak Tertua lalu menusuk lengan tersebut dengan pisau kecil yang sebelumnya selalu tersimpan di saku Dennis. Pisau kecil yang pernah digunakan untuk membunuh Rina.


Akibat rasa sakit dari tusukan itu, Bapak Tertua tak sengaja menjatuhkan goloknya. Dennis melepaskan tangan Bapak Tertua lalu mengambil golok yang terjatuh itu. Kemudian Dennis kembali menyerang Bapak Tertua dengan menebas tangannya yang tersisah sampai putus!


Goloknya masih tajam untuk memisahkan anggota tubuh dari tempatnya.


Setelah potongan tangan kanan itu jatuh ke tanah, Bapak Tertua berteriak kesakitan tanpa kedua tangannya yang hilang. Dennis juga belum selesai. Setelah tangan, Dennis menusuk dada Bapak Tertua dengan goloknya.


Darah segar bermuncratan membasahi tangan Dennis dan menodai wajahnya. Ia terus menekan golok tersebut sampai akhirnya, mata pisaunya menembus ke punggung belakang tubuh.


Bapak Tertua tidak bisa melawan Dennis karena kedua tangannya telah hilang. Dia tidak bisa apa-apa selain berteriak. Begitu juga dengan Dennis. Ia menutup mata saat menusuk Bapak Tertua karena tidak kuat untuk melihat luka dalam akibat tusukan yang mengerikan itu. Karena sebelumnya, Dennis tidak pernah membunuh orang dengan sadis.


Tak lama setelah teriakan tersebut, Bapak Tertua pun terdiam. Begitu juga dengan tubuhnya. Dennis menarik mata pisau golok dari tubuh Bapak Tertua semenjak tidak merasakan pergerakan dari musuh di depannya.


Setelah Dennis mencabut goloknya, Bapak Tertua pun terjatuh ke belakang. Dennis pikir, Bapak Tertua sudah tidak bisa melawan lagi. Jadi langsung saja dia membunuhnya sekarang.


Dennis akan menebas kepala Bapak Tertua. Tapi sebelum ia mengayunkan goloknya, tiba-tiba saja Dennis mendengar suara yang membuatnya terkejut. Suara dari sebuah mesin.


Dennis pun mendongak. Ia menatap langit malam yang gelap. Lalu tak lama kemudian, ia melihat ada dua buah helikopter dengan lampu yang menyala terang, lewat di atas kepalanya.


Hanya lewat saja. Entah kedua helikopter itu ingin ke mana.


Tapi menurut Dennis, kalau ia mengikuti helikopter tersebut, bisa saja dia mendapat bantuan. Karena helikopter itu bisa memberikan jalan keluar dari hutan yang gelap.


Dengan perasaan senang, Dennis menjatuhkan goloknya, lalu berlari mengikuti jejak helikopter tersebut. Ia bisa mengetahui kendaraan itu terbang ke mana dengan cara mendengar suara baling-balingnya yang kencang.


Tapi setelah Dennis pergi, kaki Bapak Tertua kembali bergerak dan tubuhnya pun bangkit. Sepertinya Dennis lupa untuk mengakhiri hidup Bapak Tertua.


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2