Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 79– BOB


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Haaah... aku senang mereka semua bisa selamat. Tapi... kenapa kelompoknya Rei masih belum datang, ya?" gumam Mizuki yang sedang mengamati lingkungan sekolah dari atas atap.


"Mungkin mereka agak sedikit lama. Karena tujuan mereka kan lebih banyak." Jawab Nashira yang sedang berdiri di samping Mizuki. Seperti biasa, ia berdiri dengan tongkat yang selalu ia gunakan untuk berdiri maupun berjalan.


"Apa jangan-jangan... mereka dalam bahaya?"


"Hei! Jangan bicara seperti itu. Mereka kan anak-anak hebat. Masa melawan satu penjahat saja bakal kalah."


"Tapi ya... bisa saja penjahat itu punya ilmu bela diri yang kuat."


"Yah... kalau memang begitu, kita berharap saja. Semoga Rei dan Akihiro juga dengan yang lainnya akan selamat dan membawa si penjahat yang namanya Dob itu."


"Eh? Bob, kali!"


"Ah, iya itu!"


"Wah! Itu mereka!!"


Mizuki dan Nashira terkejut saat tiba-tiba saja Lania berteriak kegirangan sambil menunjuk ke bawah. Sontak semua yang ada di atas atap gedung 1 langsung menghampiri Lania untuk melihat sesuatu yang ia tunjuk di bawah sana.


Setelah mereka tahu, mereka juga merasa senang karena mereka melihat Rei dan Ethan berhasil membawa guru-guru kembali bertemu dengan murid-muridnya. Guru-guru itu dalam keadaan selamat dan masih sehat-sehat saja.


"Rei itu memang penyelamat, ya?" gumam Mizuki sambil tersenyum menatap Rei secara diam-diam dari atas. Nashira sempat meliriknya, lalu kembali melirik ke bawah. "Loh? Tapi... kenapa hanya mereka berdua saja? Adit dengan Dian... mereka ke mana?" gumam Nashira.


"Oh! Iya juga!" Mizuki juga menyadarinya. Ia tidak melihat Akihiro dengan Adit.


Nashira berpikir sejenak, lalu bergumam, "Apa jangan-jangan... Dian sama si Adit itu pergi menemui Bob?"


"Hmm... haruskah kita turun sekarang? Kan semuanya sudah selamat." tanya Rizky.


"Jangan dulu." Nashira menggeleng. "Kita belum tahu. Barangkali nanti ada yang meminta bantuan kita. Tetap waspada semuanya! Aku punya perasaan tidak enak." Di akhir kata, Nashira sedikit bergumam. Mizuki melirik ke arah si kembarannya Rashino itu.


"Apa yang kau pikirkan, Nashira?" gumam Mizuki heran dengan perkataan Nashira.

__ADS_1


****


Di bawah sana, semuanya terlihat senang karena mereka bisa bertemu wali kelasnya masing-masing. Dan syukurlah, harapan mereka terkabul. Guru-guru yang selamat terlihat baik-baik saja.


Tapi setelah beberapa anak bercerita tentang kematian teman-temannya setelah mengikuti Ujian Visual yang berujung pada kematian itu, telah membuat para guru jadi down. Mereka terlihat sedih dan tidak kuat untuk menahan rasa sakitnya.


Apalagi ternyata... ada murid dari kelas 1 yang menjadi anaknya Bu guru mata pelajaran Fisika meninggal karena Ujian tersebut. Tentu sakit sekali rasanya ditinggal sama anak sendiri.


Beberapa anak muridnya berusaha untuk menenangkan guru-guru mereka. Sedangkan Rei tetap berdiri untuk melihat tanda bahaya sambil menunggu Akihiro dan Adit kembali. Tapi sudah lama mereka menunggu. Sampai akhirnya... Rei memutuskan untuk mencari kedua temannya yang tak kunjung kembali itu.


Rei dengan Dennis. Mereka berdua ingin mencari, sementara yang lainnya tetap tinggal. Tapi sebelum Rei beranjak pergi, ia sempat meminta Rashino untuk segera pergi keluar dari lingkungan sekolah untuk mencari bantuan.


Tapi Rashino menolaknya. Ia memberikan alasan yang masuk akal pada Rei. "Aku tidak bisa. Pintu gerbangnya digembok dan aku tidak mendapatkan kuncinya pada kedua robot ini."


"Kalau begitu, kau panjat saja temboknya. Dibantu oleh anak lainnya, bisa kan?"


Rashino mengangguk. "Iya tentu bisa! Aku akan meminta bantuan dari temanku yang lain untuk mengangkat ku sampai ke atas tembok itu."


"Yah, bagus! Kalau begitu–"


"Kalian tidak boleh ada yang keluar dari lingkungan ini."


Semuanya terkejut. Begitu juga dengan beberapa anak yang ada di atas atap. Mereka mendengar suara orang yang sangat tidak asing di telinga mereka. Seseorang yang selalu muncul disaat ketakutan dan ketegangan sedang memuncak.


Bob! Alias, nama aslinya adalah Bima Oktavio Bama. Sungguh nama yang aneh dan terdengar menggelikan. Tapi itulah singkatan dari nama Bob itu.


"Kalau ada yang berani keluar, aku tidak akan segan-segan untuk memutuskan leher anak ini."


"Ka–kak Dian!!"


Dennis berteriak setelah ia melihat si Bob itu menjambak rambut Akihiro dengan tanagn kanananya dan menariknya ke atas, lalu mendekatkan sebuah golok yang didekatkan ke leher Akihiro. Dan di belakang Bob itu, di sana tergeletak tubuh Adit yang masih belum sadarkan diri.


Akihiro tidak bisa membebaskan dirinya karena kedua tangannya telah terikat ke belakang dan jika dia bergerak untuk memberontak maka golok itu akan memotong lehernya sampai ke tulang.


"Pe–pergilah!! Jangan pedulikan aku!" Akihiro berteriak. Tapi tiba-tiba saja, Bob semakin menguatkan cengkeramannya di rambut Akihiro dan mendekatkan goloknya sampai mengenai leher Akihiro. Lalu secara perlahan Akihiro mengeluarkan suara erangan kesakitan setelah golok itu mengenai lehernya. Lalu tak lama darah muncul secara perlahan di golok itu.


"Kau diam! Dan kalian semua juga jangan ada yang melangkah untuk mendekat! Atau aku akan benar-benar membunuhnya, ingat itu!" bentak Bob mengancam. Ia menodongkan goloknya ke semua orang lalu kembali mendekatkan golok itu pada Akihiro.


"Sekarang apa maumu?!" bentak Rashino membalas si Bob. Ia sudah terlanjur kesal.


"Tunggu dulu." Bob mengenai leher Akihiro dengan goloknya lagi. Ia sudah tahu, kalau ada beberapa anak dari kelompok penjaga yang turun untuk menyelamatkan Akihiro. "Kalian yang di belakang, berhenti. Jangan coba-coba untuk maju satu langkah lagi!"

__ADS_1


Beberapa anak yang ada di belakang itu adalah semua kelompok penjaga dari gedung 1. Mereka tersentak dan langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar Bob berkata seperti itu. Mereka semua menurut demi keselamatan Akihiro.


Lalu setelah berhenti, Mizuki sempat melirik ke arah Akihiro dengan wajah cemasnya. Dengan ekspresi yang dikeluarkan Akihiro, Mizuki tahu kalau Akihiro itu berusaha untuk menahan sara sakit dari luka-lukanya. Apalagi... luka tembak yang belum sembuh itu terbuka kembali dan darahnya kembali menetes.


"Maaf, Dian-kun." Mizuki menunduk. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menolong Akihiro. Lalu tak lama, Mizuki kembali mendongak dengan cepat saat mendengar suara Rei yang berteriak memanggil nama Bob.


"Woy, Bob!"


"Ehh... kau rupanya." Bob tersenyum sinis, lalu menjatuhkan goloknya dari Akihiro.


"Sebenarnya yang kau mengincar diriku, kan?! Kalau begitu, bunuh aku saja! Dan lepaskan temanku!"


"Eh, Kak Rei?" Dennis berbisik. Ia tidak percaya dengan perkataan Rei barusan.


"Tenang Dennis. Aku sudah pernah menghadapi dirinya dulu." Rei membalas bisikan Dennis. Dennis mengerutkan keningnya. Ia masih belum paham.


"Cepat lepaskan temanku dan lawan aku saja kalau kau berani!" Rei menyipitkan matanya dan menatap tajam dengan mata kuningnya itu ke arah Bob. "Ayo kita berduel bersama."


"Ooh~ Kelihatannya menarik." Bob akhirnya melepaskan Akihiro. Lalu dengan cepat, ia menendang di bagian luka di perut Akihiro yang terbuka sampai tubuhnya terjatuh. "Kuberikan temanmu kembali!"


"Aahh... sakit! A–aduh!" Di tanah, Akihiro mengerang kesakitan sambil terus menggenggam perutnya yang mengeluarkan darah.


Setelah Akihiro dilepaskan, Mizuki langsung berlari menghampirinya. Lalu setelah itu, ia merangkul tubuh Akihiro dan membawanya pergi ke tempat yang aman. Sementara temannya yang lain akan membantu Adit yang sampai sekarang ini masih belum sadar juga.


Bob menjatuhkan goloknya ke tanah, lalu berjalan pelan mendekati Rei. "Ayo, Rei... kita akan membuktikan siapa dari kita ini yang akan kalah. Kau lawan aku sekarang dengan tangan kosong!"


"Baik. Aku terima!"


"Ka–Kak Reeeii!"


"Tenang Dennis. Ini demi keselamatan semuanya. Aku akan baik-baik saja."


"Tapi Kak Rei–"


"Sudah diam! Untuk kali ini, aku tidak akan kalah dari si gendut ini." Setelah berkata seperti itu, Rei langsung berjalan pelan mendekati Bob setelah ia melepas jaketnya dan menjatuhkannya di tanah.


"Untuk semuanya tidak boleh ada yang mengganggu kami!" Bob berteriak memperingati semuanya untuk tetap diam di tempat mereka. Karena di tengah lapangan itu, Bob dan Rei akan saling melawan sampai ... salah satu dari mereka akan...


Mati!


****

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2