
"Akulah saksi yang kau cari itu. Benar, kan... Rei?" Ternyata itu benar si Akihiro.
"Ja, jadi kau si saksi itu?" tanya Rei.
"Iya. Aku melihat dia (murid yang meninggal itu) terjun dari lantai paling atas menara itu." Kata Akihiro lagi.
"Ah, baguslah..." Rei bergumam lega. Ia senang kalau ternyata saksi yang bisa memberikan informasi penting itu ternyata adalah teman dekatnya. "Bagus, Dian. Sekarang, beritahu aku apa saja yang kau lihat tadi?"
"Sebentar, biar kuingat adegan dramatis yang tadi." Akihiro menempelkan telunjuknya di bibirnya, mata melirik ke atas. Mode berpikir keras ala Akihiro dimulai.
"Sok mikir nih anak, ya ampun...." Batin Rei mulai geram. Karena ia pikir, Akihiro telah membuang banyak waktunya. Hanya untuk mengingat kejadian yang ia lihat. Pasti nanti jawaban Akihiro tidak jelas, nih!
"Aha! Aku ingat." Akihiro mengacungkan telunjuknya ke atas. Ia tersenyum miring sambil mensipitkan matanya. "Sekarang aku ingat. Ingat. Ingat! Aduh... otakku ini benar-benar berfungsi dengan baik, ya?"
"Ish! Sudah cepat katakan saja langsung!" Rei membentak.
Akihiro tersentak. "Ah, iya, iya! Jadi seperti ini kejadiannya...."
Akihiro mulai menceritakan kejadian sebelum murid itu meninggal akibat bunuh diri katanya.
Saat itu, masih jam istirahat pertama. Akihiro baru saja lari dari Rei. Lalu tanpa sadar, ternyata ia sudah berlari masuk ke dalam taman sekolah yang suasananya lumayan sepi.
Di mana lagi kalau bukan di tempat menara tua itu berada? Apalagi taman itu dekat dengan kolam berdarah yang terdapat banyak mitosnya itu.
Nah, saat di situ Akihiro berdiri tepat di samping pintu masuk ke menara tua itu. Saat melihat menara itu, ia jadi teringat dengan kejadian mengerikan yang ia alami sebelumnya bersama dengan teman-temannya. Kejadian di mana hantu Chika marah.
Tapi kejadian yang paling teringat di pikirannya itu setelah hantu Chika tenang. Yaitu, saat di dalam gedung itu, Akihiro pernah kejatuhan tubuh teman-temannya. Dan menurutnya, kejadian itu sangat menyakitkan.
Ah, lupakan soal masa lalu. Sekarang ini, Akihiro sedang mengatur nafasnya. Dia sangat kelelahan setelah berlari jauh dari lorong pertama, melewati lapangan yang luas sampai ke tempat sepi itu. Sambil membungkuk, dan menahan tubuhnya dengan tangan yang ia tekan di dengkulnya.
Setelah memulihkan energinya, Akihiro kembali berdiri tegak. Lalu karena sudah merasa aman akan kehadiran Rei, Akihiro pun berjalan santai di sana sambil memperhatikan pemandangan yang lumayan tak indah di tempatnya berada.
Apanya yang indah? Batu berlumut. Kolam yang kotor dan menjijikan dengan mitosnya yang menyeramkan. Juga, ditambah dengan pandangan gedung menara tua itu.
Lalu karena sudah merasa bosan dengan tempat di sekitarnya, Akihiro akan pergi dari tempat itu. Tapi sebelum matanya beralih ke arah lain, Akihiro sempat melihat bayangan seseorang yang terlihat dari jendela lantai ke tiga menara itu.
Akihiro mensipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. Apakah itu orang atau bukan yang ada di dalam sana?
__ADS_1
Jawabannya adalah orang. Karena sosok manusia itu benar-benar menampakkan dirinya lewat keluar jendela.
Dari atas sana, ia melambai tinggi dengan kedua tangannya. Akihiro pikir, orang yang ada di atas sana itu sedang menyapanya. Jadi... Akihiro membalas sapaannya dengan melambai juga pada orang itu.
Lalu tak lama kemudian, orang yang ada di atas sana mulai melambaikan tangannya cepat. Seolah sedang memberikan suatu isyarat. Tapi Akihiro tidak tahu apa itu. Lalu orang itu memberontak, sampai akhirnya badannya semakin maju ke depan. Semakin ke depan. Terus maju ke depan sampai akhirnya kepala sampai pinggangnya berada di luar jendela. Dan saat di situlah, orang itu terjatuh dari atas lantai tiga itu.
Akihiro sangat terkejut. Ia pun langsung berlari menghampiri orang yang terjatuh tadi. Orang itu berpakaian seperti murid perempuan pada umumnya di sekolah itu.
Saat melihat keadaan murid malang itu, Akihiro langsung merasa perutnya mual. Karena, perempuan itu terjatuh dalam posisi kepala di bawah dan tubuhnya yang terangkat ke atas sebelum akhirnya juga ikut tersungkur ke tanah di taman itu.
Darah dari kepalanya yang pecah bermuncratan ke mana-mana. Pinggiran dari gedung menara tua itu juga terkena cipratan darahnya.
Setelah ia melihat ada murid yang terjatuh dari lantai tiga di gedung menara tua yang ada di depannya itu, Akihiro pun langsung berlari untuk memanggil guru lain yang akan membantu anak malang itu.
"... Tapi sayang, anak itu sudah tidak bisa diselamatkan." Akihiro melanjutkan ceritanya.
Saat ini, murid yang meninggal itu pun ditutupi kain putih. Karena pada bagian kepala murid itu, setengahnya sudah hilang. Yang tersisah hanya darah yang masih mengalir lewat kepalanya yang terbuka lebar serta dalaman kepalanya itu dapat terlihat. Memang sungguh mengerikan!
Setelah terdiam sejenak, Rei pun kembali bertanya pada Akihiro, "Dian, apa kau melihat detik-detik anak ini melompat dari gedung itu? Maksudku, sebelum ia melompat. Apa kau melihat sesuatu yang janggal?"
Akihiro berpikir sejenak. Di dalam kepalanya, ia kembali melihat kejadian sebelum anak perempuan itu melompat dari atas gedung.
Tak lama, Akihiro kembali membuka mulutnya. Ia menjawab, "Hmm... tunggu, sepertinya ada. Sebentar. Rei! Coba kau pikir ini. Jika dia ingin bunuh diri, kenapa anak ini malah melambai padaku?"
Akihiro kembali bicara. "Nih, sebelum aku melihatnya terjun bebas dari lantai ke tiga itu, anak ini sempat melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi padaku. Aku tidak mengerti dia mau ngapain. Apa mungkin saja itu... ucapan selamat tinggal?"
"Apa mungkin, dia ingin memberitahu sesuatu?" Rei menimpali.
Mereka berdua berpikir keras. Untuk apa anak itu melambaikan tangannya. Benarkah anak itu ingin mengucapkan selamat tinggal sebelum dia berniat untuk bunuh diri? Atau apakah lambaian itu untuk memberitahu sesuatu?
"Apa jangan-jangan, anak ini ingin meminta pertolongan?" Rei kembali berujar. Ia mengejutkan Akihiro.
"Eh, pertolongan? Oh iya! Aku ingat." Akihiro tersentak. Ia kembali berusaha untuk mengingat detik-detik kejadian mengerikan yang ia lihat tadi.
"Apa? Apa ada sesuatu yang ingin kau beritahu padaku?" tanya Rei penasaran.
"Oh iya itu!"
"Apa? Apa?"
__ADS_1
"Nih! Setelah anak ini melambaikan tangannya, aku sempat melihat tubuhnya semakin maju ke depan. Bagaimana cara mencontohkannya, ya? Ah, intinya... tubuh anak itu tiba-tiba saja terdorong keluar jendela, seolah ada orang lain di dalam gedung itu yang telah mendorongnya." Jelas Akihiro.
Rei terkejut mendengarnya. "Hah? Benarkah begitu?!"
"Iya! Aku yakin aku tidak salah lihat. Lagi pula, untuk apa anak ini melambai padaku? Mau bunuh diri ya tinggal lompat, kan? Tidak usah memberitahuku."
"Hei kau tidak boleh seperti itu!" Rei memukul pundak Akihiro. "Jadi dugaanku benar. Lambaian tangannya itu adalah isyarat untuk meminta pertolongan."
Rei memejamkan matanya sambil menunduk. Ia berpikir lagi di dalam hatinya. Lalu tak lama kemudian, ia kembali mendongakkan kepalanya. Menatap ke Akihiro.
"Aku mengerti sekarang. Ini bukan kasus bunuh diri. Tapi ini adalah kasus pembunuhan!" ujar Rei.
Seketika, Akihiro dengan Pak Satpam yang dari tadi hanya menyimak itu pun terkejut. "Hah? Tidak mungkin!" Akihiro masih tidak percaya kalau ternyata dirinya telah melihat detik-detik si pembunuh misterius telah merenggut nyawa seorang murid perempuan malang itu.
"Dian, apa kau melihat pelakunya?" tanya Rei.
"Tidak. Aku hanya melihat perempuan ini jatuh itu saja. Aku tidak melihat ada orang lain di sana." Jelas Akihiro.
"Huh, sepertinya pelaku itu bersembunyi di dalam gedung menara itu. Kita harus periksa sekarang juga! Siapa tahu saja kita mendapatkan petunjuk." Tegas Rei.
"Tapi Rei? Mungkin saja pelaku itu sudah melarikan diri! Kan sudah lama sekali. Dia pasti sudah pergi dari gedung itu."
"Haduh... ini sulit. Kau benar juga. Tapi, aku tidak akan menyerah. Aku akan menemukan pelaku dari pembunuhan ini!"
"Ah! Kalau begitu, aku ingin ikut juga, ya?"
"Baik. Silahkan." Rei mengizinkan Akihiro untuk ikut dengannya. Lalu Rei melirik ke arah Pak Satpam yang ada di sampingnya itu.
"Pak, maaf. Tolong urus jenazah ini, ya? Saya akan pergi ke bangunan tempat kejadian itu." Pinta Rei.
Pak Satpam mengangguk.
Lalu, setelah itu Rei mulai menggerakkan kakinya. Ia akan pergi ke tempat kejadian untuk memeriksa bangunan menara tua itu. Akihiro ikut di belakang Rei.
Sambil berjalan, Rei bergumam di dalam hatinya, "Hari ini ada dua murid yang terbunuh secara mengenaskan. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa sekarang ini, pembunuh dari luar sana telah memasuki tempat wilayah aku dibesarkan?!"
*
*
__ADS_1
*
To be Continued-