
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Pukul 13.44—
Waktunya jam bebas sudah tiba sejak jam 1 tadi. Semuanya senang sekali bisa bebas bermain, mengobrol dan bercanda bersama. Kadang kebanyakan anak perempuan selalu berselfie bersama di atas papan dekat tebing. Memang pemandangan yang indah. Cocok sekali untuk membuat kenangan di sana.
Sebagian anak lain juga memutuskan untuk berenang di kolam renang karena siang hari, cuacanya sedikit panas. Kolam renangnya berisi air dingin yang cocok sekali untuk cuaca panas di atas bukit.
Matahari berada tepat di atas kepala. Semuanya sedang bersenang-senang, sementara Dennis dan Rei berada di dalam kamar untuk menyiapkan senjata tajam sebagai alat perlindungan.
Dennis mengambil pisau kecil dari dalam lemari, lalu menyelipkannya di dalam saku celana. Hanya itu saja yang ia bawa. Begitu juga dengan Rei. Untuk senjata lainnya, mereka bisa menggunakan batang kayu sebagai alat pemukul.
"Ayo, Kak Rei." Ajak Dennis setelah ia mengantungkan pisau kecil yang ia bawa ke dalam sakunya. Lalu setelah itu, Dennis berdiri dan berjalan mendekati pintu depan. Rei yang sudah siap pun mengikuti Dennis dari belakang.
Setelah keduanya keluar, Dennis menutup pintu lalu berjalan di taman berumput yang ada di samping kolam renang. Saat mereka lewat sana, hanya beberapa anak saja yang memerhatikan. Tapi mereka tidak mencurigai Dennis dan Rei kalau mereka mau pergi. Pergi ke luar zona aman di dekat Villa.
Selagi tidak ada yang melihat, Dennis dan Rei langsung berlari sampai ke jalan kecil menuju ke lapangan berumput dekat hutan. Setelah berhasil sampai di jalan kecil, Dennis dan Rei bersembunyi dibalik tembok dan pepohonan, lalu Rei mengeluarkan kepalanya untuk mengintip. Ia ingin mengecek, apakah ada anak lain yang melihat mereka berdua pergi atau tidak.
"Bagaimana Kak Rei?" tanya Dennis.
"Aman. Mereka tidak sempat melihat kita karena terlalu sibuk bersenang-senang." Jawab Rei.
"Oh, baguslah!"
"Sekarang ayo pergi."
Dennis dan Rei melanjutkan perjalanan mereka melewati jalan kecil sampai ke tengah lapangan. Saat sampai di sana, Rei menghentikan langkah lalu bertanya, "Ngomong-ngomong, apa kau masih ingat letak gubuk dalam hutan itu?"
"Iya... mungkin." Dennis menjawab ragu sambil tertawa kecil dan memainkan rambutnya.
"Kau memainkan rambutmu lagi. Jangan bilang kalau kau lupa letak gubuk itu?"
Dennis tersentak. Ia tertawa lagi, lalu melipat tangannya ke belakang. "Aku ... tahu kok. Soalnya, di dekat gubuk itu, aku meletakan kotak kunang-kunang ku di satu pohon besar, dan ... saat kita hampir dekat dengan gubuk itu, aku melihat ada tanah yang terkikis seperti perosotan gitu."
"Perosotan?"
"Ah, kita cari saja langsung, kak! Ayo!" Tanpa membuang banyak waktu, Dennis langsung saja mengajak Rei untuk masuk ke dalam hutan. Rei mengikuti Dennis. Lalu saat kaki mereka sudah menyentuh tanah yang penuh dengan rerumputan dan daun kering, Rei mengikat satu pohon dengan pita merah sebagai tanda agar tidak tersesat. Setelah itu, ia kembali berjalan mengejar Dennis.
"Eh? Apa kemarin ada dua jalan yang terbentuk seperti ini, ya?" Dennis berhenti sejenak karena ia melihat ada yang janggal dengan hutannya. terdapat dua jalan sepetak yang terbentuk. Menuju ke kiri dan kanan. Semalam tidak ada jalan seperti itu.
"Oh iya. Ah, mungkin saja semalam kita tidak melihatnya karena gelap. Jadi kita tidak tahu." Ujar Rei.
"Kalau begitu, kita harus ke mana, nih?" tanya Dennis bingung. Ia tidak pintar memilih. Ia tidak tahu mau ke arah jalan yang kiri apa yang kanan.
__ADS_1
Tapi kalau menurut Rei, lebih baik ke kanan. "Katamu di dekat gubuk itu terdapat perosotan tanah, kan? Itu jalan curam namanya. Jadi kalau kupikir, jalan kanan ini akan membawa kita masuk lebih dalam ke hutannya. Coba kita lihat ini dulu."
Dennis mengangguk. Rei mengambil pita lainnya lalu mengikat pita itu di pohon sebagai tanda. "Kita tidak akan tersesat kalau kuberi tanda pada setiap pohon. Dah, sekarang ayo lanjut!"
Dennis dan Rei terus berjalan melewati jalan kecil di depan mereka. Jalan itu tidak dipenuhi oleh dedaunan. Hanya tanah biasa saja yang pinggirannya terdapat banyak pohon dan tumbuhan kecil seperti semak, rumput dan lainnya.
Hutannya terlihat indah kalau di siang hari. Tidak ada hewan buas, hanya ada beberapa serangga terbang seperti lalat, capung dan lebah. Siang hari di hutan itu juga tidak terlalu panas, karena pepohonan yang rimbun menutupi langit dan sinar matahari.
Anehnya, di dalam hutan itu tidak pernah terdengar suara burung lain yang berkicau. Bahkan melihat burung yang terbang dari pohon ke pohon lain saja tidak terlihat. Walau indah, tapi hutan itu terlalu sepi karena jarang ada makhluk hidup yang muncul.
"Hewan-hewan di sini lagi berhibernasi untuk menghadapi musim panas, haha..." Canda Dennis. Tapi Rei menganggapnya serius. "Bukannya musim dingin, ya?"
"Iya musim dingin. Kak Rei aku hanya bercanda saja."
"Tapi jangan bercanda di saat seperti ini, dong. Tempatnya sepi sekali." Rei memandang sekitarnya, lalu menghentikan langkah. Ia ingin menandakan satu pohon lagi dengan pita. Sementara Dennis akan terus berjalan lurus.
Saat Dennis sedikit melirik ke arah lain, ia terkejut sekaligus senang. Lalu Dennis berteriak memanggil Rei karena ia ingin memberitahu Rei tentang temuannya itu.
"Ada apa, Dennis?" tanya Rei sambil berjalan menghampiri Dennis.
"Kak Rei! Lihat itu." Dennis menunjuk ke arah pohon besar yang ada di depannya. Rei melirik ke arah benda yang ditunjuk Dennis. Sedikit mensipitkan matanya, dan terkejut. Dengan cepat Rei mundur ke belakang sambil berteriak, "Ah! Kecoak! Itu kecoak! Jauhkan hewan itu dariku!"
"Ta–tapi kak Rei, ini bukan–"
GDUBAK!
"A–aduh!"
Adel kembali berdiri setelah Dennis membantunya. Ia tertawa sambil menggaruk kepalanya dan menjawab, "Hehe... Adel liat kalian pergi. Jadi Adel ikut saja."
"Eh? Yuni memangnya ke mana? Apa dia ikut denganmu juga?" tanya Rei.
"Oh! Yuni tadi dipanggil Bu Mia untuk bantu Kak Zuki membawa makanan. Jadi saat Adel sedang menunggu di dekat kolam renang, Adel melihat kalian berdua berlari. Jadi Adel ikutin deh, daripada bosan. Tapi ternyata malah ketahuan di sini, hehe..." Adel mengeluarkan lidahnya sambil tersenyum dan tertawa lagi.
Dennis akan membiarkan adiknya untuk ikut. Soalnya kalau menyuruh Adel untuk kembali ke Villa, nanti takut dia tidak bisa menemukan jalan keluar. Apalagi hutan ini sangat sepi, bisa-bisa saja nanti Adel menghilang kalau tidak ada yang mengawasi.
"Eh, Adel udah ketahuan. Sekarang Adel balik lagi, ya?"
"Tunggu! Jangan. Kau ikut sama aku aja. Nanti kalau sendirian hilang loh. Memangnya kau tahu jalan keluarnya?" tanya Dennis cemas.
"Tidak, hehe..." Adel menggeleng pelan. "Kan aku sampai sini karena ikutin kakak terus dari tadi."
"Ah, makanya kamu ikut kakak saja, ya?"
"Oke, baiklah!"
"Hati-hati, ya, Adel? Hutan ini banyak akar yang menjuntai ke atas tanah. Jadi jangan lari-larian. Nanti kesandung lagi, loh!" pesan Rei. Lalu setelah itu, ia berbalik badan dan kembali melanjutkan perjalanannya. Dennis mengajak Adel untuk jalan lagi. Dia membiarkan adiknya jalan di tengah, sementara dirinya jalan di belakang Adel.
"Oh iya, Kak Dennis? Tadi Kak Rei teriak-teriak kenapa, ya? Adel jadi kaget juga." Tanya Adel.
__ADS_1
Dennis melirik ke arah Rei lalu menjawab, "Oh! Tadi Kak Rei melihat ada kecoak di pohon. Padahal itu Kumbang tanduk, haha...."
"Berisik kau, Dennis!"
****
2 menit kemudian–
"Nah, ini dia, Kak Rei!" Dennis berhasil menemukan Kotak Kunang-kunang yang semalam ia tinggalkan di dekat pohon besar. "Pasti tidak jauh dari sini gubuk itu."
"Iya. Sekarang ayo kita lanjutkan. Kau lihat gubuk itu di mana dari sini?" tanya Rei.
"Semalam... aku memutari pohon ini beberapa kali." Dennis mempraktekkannya. Ia memutar pohon sebanyak dua kali sambil mengingat. "Kalau tidak salah, saat putaran ketiga, aku melihat ada cahaya dari balik semak. Dan Cahaya itu ada di ...."
"Apa semak ini yang kau maksud?" tanya Rei sambil menunjuk. Ia ternyata menemukannya. Lalu Adel berlari menghampiri semak yang Rei tunjuk. Adel membuka semak yang menghalangi, lalu berteriak, "Kak Dennis! Itu rumahnya, bukan?"
"Eh?"
Dennis dan Rei berlari menghampiri Adel. Saat mereka berdua berhenti di depan semak, Dennis mengangguk. "Iya! Itulah rumahnya."
"Haruskah kita mendekat?" tanya Rei.
"Iya! Untuk apa kita jauh-jauh ke sini."
"Baiklah, ayo!" Rei mengeluarkan tali pita, lalu mengikat pita itu ke pohon yang ada di dekat semak. Sementara Dennis dan Adel berjalan melangkahi semak pembatas, lalu berjalan secara perlahan melewati tanah lembut yang membentuk seperti perosotan besar yang Dennis bilang. Setelah mereka berdua, Rei juga ikut. Ia menghentakkan kakinya, dan membiarkan tubuhnya terperosok ke bawah.
Setelah itu, mereka bertiga mendekati gubuk tua di depan mereka secara perlahan dan hati-hati.
"Hantu hitam keluar setiap malam. Sekarang, dia pasti sedang tidak ada di dalam rumah ini." Ujar Dennis. Rei mengangguk, lalu Rei pun membuka pintu gubuk itu secara perlahan. Sedikit mengintip ke dalam untuk melihat isi gubuk tersebut.
"Kak Dennis. Apa di sini ada hantu?" tanya Adel. Ia mengeratkan pelukannya pada kakaknya.
"Tidak ada. Kau tenang saja. Ini masih siang."
"Eh, Dennis!"
Dennis dan Adel terkejut. Tiba-tiba saja Rei berteriak saat sedang mengintip masuk ke dalam gubuk itu. Dennis dan Adel pun langsung mendekati Rei, lalu membuka pintu gubuk lebar-lebar agar mereka berdua juga bisa melihat isi dari gubuk tersebut.
Saat mereka melihatnya, Dennis dan Adel langsung mundur ke belakang karena terkejut. Ternyata benar apa yang dikatakan Cahya. Di dalam gubuk itu benar-benar berisi oleh potongan daging manusia.
Tembok dalam gubuk juga dipenuhi oleh bercak darah. Dan pada bagian tengah ruangan terdapat meja panjang yang penuh dengan darah juga serat dari daging yang masih merah.
Di langit-langitnya, terdapat tangan dan kaki manusia yang digantung. Lalu di pojokan terdapat 2 karung penuh yang berisi dengan kepala manusia!
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8