Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 30– Pemburu Misterius, part 2


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Telah muncul suara tembakan sebanyak 3 kali!" teriak Rina.


"4 kali sebenarnya."


"Ah, iya itu! Apakah kakakku sedang memburu manusia?"


"Eh? Kakakmu bisa berburu di siang hari?" tanya Dennis tidak percaya. Rina mengangguk. "Iya. Dia bisa melakukannya kapan saja asal ada manusia lain yang ia lihat."


"Manusia lain?" Dennis berpikir dalam hati. Lalu tak lama ia pun terkejut. "Tunggu! Jangan-jangan...."


"Rina! Kau tunggu di sini sebentar!" Dennis berdiri, lalu menyentuh pintu untuk menutup gubuknya. Tapi sebelum ia pergi, Dennis sempat melirik ke arah tubuh Rina yang kebasahan. Dennis kembali membuka pintu sedikit, lalu menyentuh lengan atas Rina.


Karena terangsang, Rina pun terkejut. Wajahnya memerah, dan dengan cepat ia bertanya, "De–Dennis! Apa yang kau lakukan?"


Dennis tidak menjawab. Saat disentuh, ternyata tubuh Rina sedikit agak hangat dan gemetar. Dennis tahu kalau gadis itu sedang kedinginan. Bajunya juga masih basah. Seharusnya Rina mengganti pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian baru. Tapi karena Dennis tidak ingin melepaskan Rina, maka ia akan membantu Rina untuk tetap hangat.


Dennis membuka penutup mata Rina, lalu menyimpan kain itu di saku celananya. Rina dapat melihat wajah Dennis yang terlihat mencemaskan dirinya. Tapi karena merasa tersipu tanpa sebab, Rina merasa tidak ingin menatap wajah Dennis.


Dennis meminta Rina berbalik badan agar ia bisa membuka ikatan tangan Rina. Gadis itu menurut. Secara perlahan, Dennis membuka ikatan Rina pada tangannya. Rina terheran dengan Dennis. Kenapa dirinya dilepaskan begitu saja oleh Dennis? Katanya dia tidak ingin melepaskan Rina?


"De–Dennis. Kenapa kau–"


"Jangan mencoba untuk kabur! Aku sungguh tidak ingin melepaskanmu." Ujar Dennis menyela. Lalu ia melepas kancing kemejanya satu persatu sampai bawah, setelah itu membukanya. Dennis masih memakai kaus putih polos. Sedangkan kemeja itu akan Dennis berikan untuk menyelimuti Rina agar tetap hangat. Setelah itu, dengan cepat Dennis kembali mengikat tangan Rina. Tapi di depan.


"Sekarang aku pergi dulu untuk mengecek suara tembakan itu." Dennis kembali berdiri, lalu membuka pintu. Lalu tanpa berkata hal lain lagi, langsung saja Dennis berlari keluar gubuk. Ia sengaja membiarkan pintu gubuknya tetap terbuka agar udara segar bisa masuk ke dalam ruangan untuk memberikan pernafasan bagi Rina.


Setelah Dennis pergi, Rina meringkuk di pojokan sambil merasakan kehangatan dari selimut kemeja milik Dennis. Ia menyukainya. "Terimakasih, Dennis. Kau baik juga ternyata. Dan... baumu harum, terasa nyaman sekali."


****


Di dalam hutan–


"Dian... apa kau baik-baik saja?" tanya Mizuki pelan sambil terus menggenggam bagian atas lututnya dengan tangan. Karena pada bagian betis, terdapat luka tembak yang dalam yang terus mengeluarkan darah.


"Apa maksudmu baik-baik saja? Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu, dong!" Akihiro mengangkat tubuh Mizuki ke posisi duduk. Lalu setelah itu, ia juga ikut membantu Mizuki untuk menghentikan pendarahannya.


Akihiro akan mencari sesuatu. Seperti kain bekas atau daun untuk menutupi lukanya. Pokoknya pendarahan di kaki Mizuki harus berhenti saja!


Tapi saat Akihiro kembali berdiri, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan lagi. Langkah Akihiro terhenti. Ia dikejutkan dengan peluru yang melesat lewat di samping kepalanya. Lalu tak lama, dari atas lubang kawah kecil, Akihiro melihat ada seseorang yang muncul di hadapannya.

__ADS_1


Orang itu mengenakan pakaian serba hitam dan di tangannya membawa senjata Laras panjang bernama AK-47. Senjata yang dikenal mematikan, dapat menembakan peluru sejauh ratusan meter.


Orang itu mengarahkan senjatanya pada Akihiro, dan bersiap untuk menembaknya karena jika orang itu menarik pelatuknya, maka habis sudah nyawa Akihiro.


Tapi sebelum orang itu menembak, ia sempat mendapat panggilan dari seseorang lewat ponselnya. Akihiro pikir, ini kesempatan untuknya kabur bersama dengan Mizuki selama orang itu lengah. Tapi ternyata setelah orang itu mengambil ponselnya, tangan kanannya masih mengangkat senapannya yang diarahkan pada Akihiro. Karena tidak ingin tertembak, maka terpaksa Akihiro akan diam sejenak untuk mengetahui apa tujuan orang itu mengincar dirinya.


"Halo."


Suara yang Akihiro dengar adalah seorang lelaki dengan suara yang berat seperti bapak-bapak dewasa. Tapi saat Akihiro perhatikan bentuk tubuhnya, orang itu tidak bisa dibilang tinggi juga. Tubuhnya setinggi Rei kalau Akihiro lihat dari dalam lubang. Ia tidak memiliki otot yang kekar, tapi rupa tubuhnya terlihat jantan.


"Sepertinya dia bukan orang main-main, deh. Aku harus bagaimana agar bisa bebas dari sini?" pikir Akihiro dalam hati. Lalu matanya melirik ke arah Mizuki yang masih berusaha untuk menahan sakitnya. "Mizuki bertahanlah! Kumohon! Akh! Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Walau hanya terkena tembak di kaki, tetap saja akan berakibat fatal jika tidak segera diobati."


"Malah saat ini Mizuki tidak membawa kotak P3K-nya lagi!" Akihiro memiringkan tubuhnya lalu secara perlahan, tangannya merogoh sakunya. "Apa aku meminta bantuan lewat telepon saja, ya?"


"Seharusnya begitu! Dia juga sedang menelepon seseorang. Pasti tidak akan mudah untuk ia mendengar suara gerakanku."


"Tapi kalau aku mengeluarkan ponselku, maka orang itu akan sadar jika aku sedang berusaha untuk meminta bantuan." Akihiro tersenyum. Ia sudah hapal dengan ketikan di ponselnya. Jadi selama tangannya masih di dalam saku, Akihiro mengetik beberapa tombol di ponselnya. Siapa saja, pokoknya Akihiro akan menekan nomor telepon siapa saja yang akan bisa membantu dirinya.


"Kalau aku tidak bisa mengangkat teleponku, lebih baik aku biarkan ponselku menyala dan–"


"Jatuhkan ponselmu!"


"Eh?! Dia... menyadarinya?!" Akihiro terkejut. Dengan cepat, ia kembali mengeluarkan tangannya dari dalam saku. "Sial, padahal aku belum sempat untuk menekan satu nomor!"


"Jatuhkan ponselmu, cepat!" Orang itu berteriak pada Akihiro. Akihiro berdecih. Ia akan menurut demi keselamatannya. Akihiro kembali memasukan tangannya ke dalam saku, lalu mengambil ponselnya keluar. Setelah itu, dengan ragu Akihiro menjatuhkan ponselnya di depan dirinya.


"Hidih! Jadi dia mengancamku, ya?" Akihiro sedikit menunduk. Ia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini, selain berdiri dan menunggu penjahat di depannya itu selesai berteleponan dengan orang lain.


[ ... Hmm... kalau begitu. Seharusnya kau jangan melukai mereka. Nanti darah yang keluar dari luka itu akan tercampur dengan kotoran tanah kan jadi gak enak. ]


"Lalu apa yang harus aku lakukan, ayah?"


"Eh? Ayah?" Akihiro mendengar pembicaraanya. Ia berpikir lagi dalam hati, "Berarti di sekitar sini... ada satu keluarga pembunuh, dong."


[ Bawa mereka seperti kau memburu manusia seperti biasa saja. ]


"Tapi ayah, lelaki dari Villa yang aku tangkap tadi siang itu masih belum aku potong. Tempatnya tidak akan muat."


"Lelaki dari Villa? Jangan-jangan..." Akihiro melebarkan matanya karena terkejut. Begitu juga dengan Mizuki. Suara berat orang itu ternyata bisa terdengar jelas juga.


"Apakah Dennis dan Rei yang dia maksud?" Mizuki bergumam. Akihiro mendengar Mizuki bergumam seperti itu. Ia melirik ke arah gadis yang ada di bawahnya, lalu beberapa detik kemudian kembali melirik ke penjahat yang ada di depannya. "Tidak mungkin. Seharusnya kau tidak boleh bicara seperti itu, Mizuki."


[ Kalau begitu, bawa mereka ke dapur saja. Kita selesaikan langsung ketiga penemuanmu itu nanti malam. ]


"Baiklah, Ayah."


[ Ingat! Pastikan kau tidak melukai mereka. ]

__ADS_1


"Aku mengerti."


TUT!


Telepon diakhiri. Orang itu kembali menutup ponselnya, lalu memasukannya ke dalam saku baju. Setelah itu, ia kembali mengangkat senapannya dengan dua tangan. "Apa kalian berdua dengar? Kalian harus ikut denganku, ayo!"


"Tidak akan!" Akihiro menolak dan membentak. "Memangnya apa yang ingin kau lakukan pada kami?!"


"Ikut saja susah amat, sih!"


"Tetap kami tidak mau!!"


"Baiklah. Kalau begitu, terpaksa aku harus..." Orang itu meletakan senapan panjangnya di tanah, lalu mengambil senjata lain berupa pistol yang dikhususkan untuk menembakan peluru ukuran besar seperti Dart Bius yang selalu ia gunakan untuk melumpuhkan korbannya.


Ia mengarahkan pistol itu ke arah Mizuki. Akihiro terkejut. Ia langsung berlari menghampiri Mizuki untuk melindunginya. Ia memeluk Mizuki dan tubuhnya membelakangi penjahat itu.


"Aku yang akan membawa kalian berdua saja tanpa kalian sadari." Orang itu mulai menarik pelatuknya, dan....


PSYU!


"Akh!" Dart itu berhasil mengenai tubuh Akihiro. Mizuki berteriak ketakutan. "Dian! Dian! Kau baik-baik saja, kan?"


"Mi–Mizuki... seharusnya kau... cepat pergi dari sini..." Mata Akihiro secara perlahan mulai menutup. Mizuki akan tetap membuat Akihiro terjaga. Ia terus menampar pipi Akihiro sambil berteriak memanggil namanya.


Tapi pada akhirnya juga, tubuh Akihiro lama-lama melemah, dan jatuh lemas di pelukan Mizuki. Mizuki berusaha untuk membangunkan Akihiro lagi. Tapi karena Akihiro telah terkena Dart itu, mustahil baginya untuk bisa bangun lagi dengan waktu yang singkat.


Orang berbaju hitam itu melompat masuk ke dalam kawah, lalu berjalan pelan mendekati Mizuki. Mizuki terus menggenggam erat dan memeluk Akihiro karena ia merasa ketakutan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain hanya duduk dengan pasrah. Menunggu orang asing di depannya itu melakukan hal buruk padanya.


Orang berbaju hitam mengarahkan pistolnya yang telah ia isi ulang dengan Dart lainnya ke arah Mizuki. "Sekarang jangan takut. Aku akan membawamu ke tempat yang lebih–"


BUAK!!


Seseorang datang dan langsung menendang kepala Orang berbaju hitam sampai terjatuh. Ada orang lain yang telah menyelamatkan Akihiro dan Mizuki. Ternyata orang itu adalah....


"Mizuki-chan! Daijoubu desuka?!"


"Onii-chan!!"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2