Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 58– Cahya dan Ayahnya


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Sepertinya saat kita pergi, ada yang masuk ke dalam dapur ini."


Setelah Cahya mendengar ayahnya bergumam seperti itu, ia langsung merasa takut. Takut kalau ayahnya mengetahui semua yang telah ia rencanakan untuk membunuhnya.


Tapi Cahya selalu berharap, semoga ayahnya hanya menduga dan tidak benar-benar menganggap kalau semua orang di dekatnya berencana untuk membunuhnya. Jangan sampai ia tahu!


"Cahya," ayahnya memanggil. Cahya tersentak kaget dan langsung menyahut, "I–iya?!"


"Kau... apakah kau melihat ada orang yang masuk ke dalam dapur?" tanya Ayahnya dengan nada curiga dan mata sipit yang menatap tajam pada Cahya.


"Ah, tidak kok!" Cahya menggeleng dan tertawa kecil. Ia bersikap seolah dirinya tidak tahu apa-apa. "Aku tidak melihat siapapun yang masuk. Lagipula, saat kita pergi aku menutup pintu dapur, kok!" Cahya mengeluarkan senyumannya agar ayahnya tidak merasa curiga lagi padanya.


"Apa benar begitu?" Ayahnya bergumam, lalu memalingkan wajahnya dari Cahya. Ia membuka satu lemari yang tertempel di dinding dan mengambil satu potongan daging dari dalam sana.


"Sebentar lagi hari ketujuh. Persediaan ayah sudah hampir habis." Ujar ayahnya. Cahya masih menunggu dan mendengarkan. Ia berdiri di depan pintu.


Ayahnya menoleh ke belakang. Kembali menatap Cahya dan bertanya, "Ngomong-ngomong... apa kau melihat Kai dan ibumu?"


"Eh?!" Cahya terlihat terkejut. Di dalam hatinya, ia bergumam, "Mereka kan sudah tidak ada. Ini saatnya aku mengeluarkan jawabanku!"


Cahya tersenyum pada ayahnya lalu menggeleng pelan. Ia menjawab dengan suara yang sedikit diimutkan. "Aku... aku tidak tahu mereka ke mana, ayah! Tapi yang pasti, kak Kai pasti sedang berburu. Kan tadi kita dengar sendiri ada suara tembakan."


"Oh iya juga," Ayahnya ternyata percaya. "Lalu... kalau Ibumu di mana? Si Rina juga gak kelihatan dari tadi."


"Ah! Kalau Ibu dan Kak Rina, aku melihatnya! Mereka pergi mengambil air ke sungai."


"Oh benarkah? Tapi tidak biasanya mereka berjalan berdua seperti itu."


"Ah kalau soal itu... emm... entahlah! Mungkin mereka sudah akrab, ayah! Seharusnya ayah senang. Mereka sudah dekat dan tidak pernah bertengkar seperti dulu lagi." Cahya tertawa kecil, lalu berjalan pelan menghampiri ayahnya. "Sekarang ayah jangan khawatir! Aku akan menjaga ayah selama mereka semua pergi."


Ayahnya hanya terdiam. Kemudian Cahya mengajak ayahnya untuk kembali ke tempat duduknya. Di kursi goyang dengan bantal yang empuk untuk diduduki.


"Nah, ayah kan katanya mau tidur. Sekarang ayah bisa tidur dengan nyaman di sini!"


"Lalu kau mau ke mana?"


"Ah, aku... aku ingin mengawasi anak-anak yang menumpang di Villa kita itu, ayah!" Setelah menjawab, Cahya ingin pergi meninggalkan ayahnya. Tapi setelah ia berbalik badan, tiba-tiba saja ayahnya menarik tangan Cahya dan tidak membiarkannya untuk pergi.

__ADS_1


Karena terkejut, Cahya pun berbalik badan. Ia bertanya dengan nada gugup. "A–ayah? Ada apa?"


"Cahya, selama ini kau tidak pernah memburu satu manusia untuk ayah. Jadi sekarang, apakah kau mau memberikan ayah satu manusia dari beberapa anak di luar sana?" tanya ayahnya.


Seketika Cahya langsung terkejut mendengarnya. "A–aku disuruh memburu manusia?! Bagaimana ini?!" Ia jadi merasa panik di dalam hatinya.


"Kau mau kan memberikan ayah daging manusia dari hasil tangkapanmu sebelum hari ketujuh?"


"Ta–tapi ayah, Cahya tidak bisa menangkap orang. Cahya bahkan tidak bisa melakukan kekerasan terhadap mereka!"


Ayahnya tersenyum manis pada Cahya lalu menarik tubuhnya secara perlahan. Ia mengelus pipi lembut Cahya, lalu berkata, "Ayah tidak menyuruhmu untuk membunuh mereka. Ayah hanya ingin melihat kemampuanmu dalam menangkap mereka. Jika kau bisa melakukannya lebih baik dari kedua kakakmu, maka... ayah akan mengabulkan semua permintaanmu. Termasuk yang itu!"


"Eh?!" Mata Cahya membulat dengan cepat setelah ia mendengarnya. Cahya hanya menggeleng pada ayahnya karena ia tidak mau melakukannya.


"Apa kau takut? Atau jangan-jangan... ada seseorang yang penting dalam kelompok mereka? Kau berteman dengan mereka, ya?"


"Ah, itu... tidak, kok!"


"Ah jangan malu. Punya teman itu bagus. Sekarang, kalau seandainya ada orang yang kau sayangi," Ayahnya berdiri dari kursi goyangnya, lalu berbisik di samping Rina. "kau bisa menjadikan dia korbanmu."


"Ah, ayah, aku..." Cahya sedikit berjalan mundur menjauh dari ayahnya. "Aku tidak bisa melakukannya!"


"Kalau kau tidak mau, maka tidak ada pilihan untukmu mendapatkan apa yang kau inginkan." Ujar ayahnya dengan nada dingin. "Ayah akan melupakan semua permintaanmu dan harapanmu itu. Tidak ada lagi... si Putih dengan mata merah."


"Ah, ayah! Tu–tunggu!" Cahya memanggil ayahnya. Beliau hanya menoleh dengan tatapan tajam tanpa menyahut. Cahya mengetukkan kedua telunjuknya, lalu bergumam dengan ragu. "Aku... aku akan melakukannya."


Cahya menggertakkan giginya, lalu menurunkan kedua tangannya dan menatap dengan pandangan serius pada ayahnya. "Aku akan melakukannya! Akan... aku tangkap manusia itu demi harapanku!" ucapnya dengan nada tegas.


Ayahnya tertawa kecil, lalu mengusap kepala Cahya dengan lembut. "Ayah ingin kau untuk menangkap si 'pemeran penting' di sini. Siapakah orang yang paling kau sayangi?"


"De–Dennis?"


"Kau mengenal salah satu dari mereka, ya?"


"Iya begitulah, ayah."


"Kalau begitu... jadikan dia mangsa pertamamu. Kalau untuk ayah, bawakan saja potongan jarinya."


Cahya terdiam. Ia masih memikirkannya. Apakah ia ingin melakukannya atau tidak. Tapi ternyata, keputusannya telah bulat. "Baiklah. Aku pergi sekarang. Akan aku bawa dia ke tempat biasa."


****


Saat ini, Dennis dan Mizuki sedang berada di dalam rumah kecil yang menyediakan banyak makanan. Sebuah rumah untuk berdagang, namun saat ini sudah tidak ada yang menjaga rumah itu.


"Kan sudah aku bilang. Tidak ada bahan bakar yang tersedia di sini." Keluh Dennis setelah ia duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu di luar warung. "Kita harus bagaimana? Aku juga kurang tahu bahan bakar untuk bus itu apa? Antara solar sama bensin gitu. Tapi kalau bensin, entah jenisnya apa."

__ADS_1


Mizuki tidak menjawab. Di dalam dia masih sibuk membuka beberapa lemari kaca yang dalamnya terdapat beberapa rokok dan minuman lainnya.


Lalu tak lama kemudian, dia kembali berdiri setelah ia menemukan sesuatu yang tergeletak di samping lemari kaca itu. Langsung saja Mizuki memberitahukan penemuannya itu pada Dennis.


"Dennis, aku menemukan satu peluru bius yang sudah kosong di sini. Haruskah kita menyimpannya? Siapa tahu saja bakal berguna."


"Hah... kak Zuki, kalau sudah kosong tidak ada gunanya. Bukan peluru bius namanya kalau tidak terdapat cairannya lagi. Sebaiknya dibuang saja." Dennis tidak menginginkan benda temuan Mizuki itu. Ia masih sibuk mencari cara untuk menghidupkan mobil Busnya kembali.


"Tapi siapa tahu saja berguna! Sekarang kau simpan saja!"


"Haduh, aku ngeri ketusuk jarumnya saat kusimpan di dalam kantung. Kak Zuki yakin benda ini bakal berguna?"


"Semoga saja!" Mizuki tersenyum sambil meneleng dan melipat tangannya ke belakang. Dennis juga ikut tersenyum. Ia akan menerima dan menyimpan benda itu.


Mizuki jadi ikut senang karena Dennis mau menerimanya. Setidaknya dirinya telah meringankan sedikit beban Dennis.


Setelah ia menyimpan peluru bius kosong itu di dalam kantung celananya, ia kembali memikirkan masalah sebelumnya.


"Sekarang kita harus tahu bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan bahan bakar untuk mobil Busnya." Dennis mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik beberapa kata. "Apa aku coba buka di internet saja? Bahan bakar darurat gitu?"


"Hmm..." Mizuki juga ikut memikirkannya. Ia membiarkan Dennis untuk mencari info penting di dalam internet selagi ada sinyal.


Tapi setelah Dennis membuka info yang ingin ia cari di internet, tiba-tiba saja ada telepon masuk ke ponselnya. Nada deringnya sedikit mengejutkan Dennis. Saat dilihat dari layar ponselnya, ternyata itu Cahya.


"Cahya? Dia sudah selesai dengan tugasnya, makanya dia menghubungiku untuk membuat laporan, ya?" gumam Dennis. Setelah itu, ia menekan tombol tengah untuk menerima telepon dari Cahya.


Ia ingin keluar dari warung untuk bicara dengan Cahya sebentar saja. Sementara itu, Mizuki akan mencari beberapa makanan saja sebagai bekal di dalam bus.


"Halo, Cahya? Ada yang ingin kau beritahu padaku?" tanya Dennis lewat ponselnya. Ia berdiri di samping warung.


[ Dennis, temui aku di belakang kamarmu sekarang. ]


"Ah, untuk apa?"


[ Aku tunggu di sana, ya? ]


TUT!!


Telepon diakhiri dari Cahya. Dennis sedikit bingung. Saat ia tanya, Cahya tidak menjawabnya. "Ah, mungkin ada hal penting yang ingin ia bicarakan padaku. Kalau begitu aku akan pergi menemuinya!"


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2