
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Sampai di kantin. Semuanya masuk begitu saja dan beberapa anak langsung pergi ke tempat duduk yang akan mereka pilih. Sementara, ada juga yang mengantri seperti mereka ingin memesan makanan biasa.
Dennis juga ikut berbaris. Dia ada di barisan paling depan. Langsung saja Dennis berjalan sampai ke tempat biasanya ia bertemu dengan Ibu kantin dan mengambil makanan.
"Oh~ Jadi kalian semua sudah datang?" Akihiro muncul dari tempat yang seharusnya ditempati oleh Ibu kantin. Dia mengejutkan Dennis. "Ah! Ka–kak Dian?!"
"Iyap! Ini aku." Akihiro melambai pada semuanya dan menyapa orang-orang di kantin itu dengan nama mereka satu persatu. Dan yang terakhir adalah nama....
"Hai, Rei! Kau pasti rindu padaku, kan?" Akihiro tersenyum lebar. Lalu ia berlari sambil melompat kecil menghampiri Rei. "Iya, kan? Aku rindu sama kamu. Kamu juga pasti rindu padaku, kan?"
Rei cuek, tidak menjawab dan selalu membuang muka dari Akihiro. Tapi tetap saja Akihiro masih suka menggoda Rei. Dan hal itu ternyata malah membuat Mizuki jadi marah. Ia membentak, "Hei! Sekarang apa maumu? Kita semua sudah berkumpul di sini!"
"Ah, maaf!" Akihiro akhirnya diam. Lalu dengan cepat, ia langsung bersembunyi dibalik tubuh Dennis untuk menghindar dari amarahnya si Mizuki. "A–apakah hanya segini? Di mana yang lainnya?"
BRAK!
"Ah, maaf kami terlambat!" Arya datang dan mendobrak pintunya. Sebelum masuk, ia sempat mengatur nafasnya dulu yang terengah-engah karena kelelahan. Lalu tak lama kemudian, beberapa anak lainnya muncul dari depan pintu. Semua anak-anak itu adalah kelompoknya Rasya yang masih tersisah.
"Maaf kami juga terlambat!" Rasya tertawa kecil setelah ia membungkuk lalu menaikan tubuhnya lagi. Semuanya menggeleng sambil tersenyum.
"Ah, tidak masalah. Kami juga belum memulai apa-apa, kok!"
"Ah, syukurlah...."
"Eh, sudah? Apa hanya segini? Dikit sekali!" gerutu Akihiro. Dennis mengangguk. "Iya Kak Dian. 28 orang termasuk aku ini adalah anak-anak yang telah selamat dalam Ujian ketiga kita."
__ADS_1
Penjelasan Dennis telah membuat Akihiro terkejut. "Hah?! Berarti yang meninggal hari ini...."
Semuanya menunduk. Sesekali mereka mengangguk pelan. Akihiro sudah menduganya. Walau ia tidak ikut dalam ujian ketiga itu, tapi ia bisa tahu betapa susahnya Ujian IPS itu. "Cih!" Akihiro berdecih. Ia menundukkan kepala sambil mengepal erat tangannya. "Ternyata banyak teman yang sudah mendahului kita. Ujian yang aku anggap pembajakan ini benar-benar menyebalkan." Akihiro bergumam. Lalu kembali mendongakkan kepalanya dan berkata dengan nada keras. "Maka dari itu, kita harus menyelesaikan ini semua! Kita harus mengakhiri Ujian yang menyebalkan ini!!"
"Ta–tapi Kak Dian, bagaimana caranya?" tanya Dennis ragu.
"Caranya ada dua." Jawab Akihiro. Lalu ia mengacung tangannya dan mengeluarkan telunjuknya. "Satu! Selesaikan Ujian ini sampai hari Sabtu!"
"Dan dua!" Akihiro menunjukan jari tengahnya. "Kita harus... menghentikan langsung orang sialan yang telah membuat Ujian ini! Kalau perlu, kita bunuh saja dia!"
"Eh?!"
"Hanya dua cara itulah yang mungkin bisa menyelamatkan kita semua! Tapi... cara pertama itu terlalu beresiko. Kita tidak tahu. Bisa saja di ujan kedepannya akan lebih sulit dan berbahaya." Lanjut Akihiro.
Semuanya mengangguk paham. Akihiro melanjutkan lagi, "Jadi, pilihlah keputusan kalian! Mau dengan cara satu, atau cara dua. Jika ingin cara pertama, maka tidak usah ikut masuk ke kantin ini. Dan jika kalian memilih cara kedua, kalian harus ikut mendekat padaku karena aku punya rencana."
"Sepertinya..." Rei mulai memutuskan. Setelah ia berpikir sejenak, Rei kembali mendongakkan kepalanya menatap ke arah Akihiro. "Aku memilih cara kedua!"
"Aku juga!" Dennis mengacung.
"Cara kedua itu lebih menyenangkan sepertinya!"
"Aku setuju dengan cara dua!"
Ternyata semuanya mengacung dan mereka memilih cara kedua. Yaitu cara untuk keluar dari Ujian ini tanpa harus menyelesaikan ujiannya. Dan cara kedua itu, sudah Akihiro rencanakan.
"Bagus! Karena kalian semua memilih rencana kedua itu, maka aku akan memberitahukan rencanaku!" ujar Akihiro lagi. "Tapi sebelum itu...."
Akihiro memberikan jalan untuk seseorang yang datang di belakangnya. Orang itu maju ke depan dan melambai kecil pada semuanya. Sebelum Akihiro memperkenalkan orang itu, ternyata semuanya sudah tahu siapa dia.
"I–ibu kantin!" Semuanya menyeru. Ya. Orang itu adalah Ibu kantin yang biasanya suka menyediakan makanan yang enak di kantin sekolah.
"Dian, bagaimana kau bisa bersama dengan Ibu kantin? Kau berteman dengannya?" tanya Rei.
__ADS_1
"Iya!" Akihiro mengangguk. "Dia sudah banyak membantuku. Dan... Ibu ini dengan baik hati telah memberitahu rahasia tentang sekolah ini. Rahasia itu dapat membantu kita untuk keluar dari sekolah ini, sekaligus membunuh si orang yang membuat game ini. Orang itu bernama Bob!"
"Eh, Bob?"
"Iya. Itulah namanya. Dan sekarang, tujuan kita berkumpul di sini adalah untuk mendiskusikan rencana kita untuk membunuh si Bob itu."
"Kau tahu caranya, Kak Dian?" tanya Dennis. Akihiro mengangguk untuk mengiyakan. Lalu setelah itu, dia akan meminta bantuan Ibu kantin untuk membantunya juga. Dengan senang hati, Ibu kantin mau membantunya. Semuanya senang sekali.
Tapi sebelum dimulai, Rei ingin bertanya satu hal lagi pada Akihiro. "Hei, bagaimana kau bisa bersama dengan si Ibu Kantin? Dan satu lagi! Kenapa saat di dalam Ujian IPS itu, kau malah menghilang?"
"Oh~ Itu! Kalian menganggap aku ini sakit demam, kan? Tapi padahal tidak. Aku hanya kelelahan saja. Dan... aku juga tidak tahu kenapa bisa kembali ke kelas dan meninggalkan kalian. Intinya, saat aku terbangun, aku sudah melihat diriku berada di dalam kelas. Tapi tak lama setelah aku bangun, tiba-tiba saja ada... keluargaku yang datang."
"Eh?! Keluargamu? Oh tidak! Lalu bagaimana itu?" tanya Dennis cepat.
"Yah... keluargaku yang datang hanya Ibu dan Kakakku saja. Mereka ingin membawaku pergi keluar rumah. Tapi tak lama, tiba-tiba saja ada yang menyerangku. Orang itu adalah si Botak 2 yang membawa pistol. Pertama dia menembak tangan kakakku, lalu setelah itu peluru pistolnya melesat mengenai perutku."
"Saat disitulah aku kembali terjatuh dan aku tidak tahu bagaimana keadaan keluargaku. Karena mungkin saja setelah aku pingsan, aku melihat si Botak 1 itu pergi keluar kelas. Mungkin dia mengejar keluargaku."
"Aku sendirian di kelas. Bersimbah darah di lantai sambil mengerang kesakitan. Aku pikir, tidak ada yang akan menolongku dan aku akan mati di dalam kelasku sendiri. Tapi ternyata... Ibu Kantin yang baik ini datang dan menolongku tepat pada waktunya."
"Aku tidak sadar kalau dia yang telah menolongku. Tapi saat aku terbangun kembali, aku sudah berada di dalam kantin ini." Akihiro mengangkat bajunya sampai terlihat perban yang masih terlihat bercak darah di perutnya. "Dan lukaku itu sudah diobati. Aku ternyata masih bisa hidup. Lalu setelah itu, Ibu kantin memberitahu aku tentang semuanya. Dengan tujuan dia ingin membantu kita semua!"
"Wah~ Ibu kantin! Terima kasih banyak karena sudah menolong Kak Dian!" ucap Dennis dengan senangnya. Ia lega karena temannya yang selama ini ia cemaskan ternyata baik-baik saja. Jadi... tidak ada yang harus Dennis cemaskan lagi. Semua teman-temannya sudah berkumpul bersama di kantin. Dan sekarang, mereka ingin membahas tentang rencana yang dibilang Akihiro.
"So... ayo kita mulai! Dengarkan aku baik-baik semuanya." Ujar Akihiro. Ia mengambil sebuah kertas dari atas meja, lalu menuliskan sesuatu di atas kertas itu dengan menggunakan pensil.
"Aku... akan menjelaskan rencananya! Semua harus bekerja sama!"
*
*
*
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8