Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 81– Sifat yang Tersembunyi


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Kak Rei hebat sekali! Dia berhasil membuat si 'Bos' terakhir itu kalah." Puji Dennis kegirangan sendiri. Yuni yang ada di sampingnya menghela nafas, lalu berujar, "Selain ketakutan karena kata-kata Rei, si Bob itu juga takut akan sesuatu yang ia lihat."


Dennis tersentak, ia menutup mulutnya lalu secara perlahan menengok ke arah Yuni. Dennis juga menunduk sedikit untuk melihat anak di sampingnya itu yang ternyata punya tinggi tubuh lebih pendek darinya. "Apa maksudmu?"


"Ada seseorang yang berdiri di belakang Rei. Dan seseorang itu bukan manusia."


Dennis terkejut mendengarnya. Lalu secara perlahan, ia melirik ke arah Rei kembali untuk mencari seseorang yang dimaksud Yuni. Walau Dennis sudah berusaha untuk mencari sosok itu, tapi ia tidak bisa melihatnya. Dan lagi-lagi hanya Yuni lah yang dapat melihatnya.


"Emm... kalau boleh tahu, sosok itu seperti apa?" tanya Dennis ragu. Ia ternyata penasaran dengan orang yang tidak terlihat yang hanya bisa dilihat oleh Yuni itu.


"Sosoknya seperti manusia biasa saja. Hanya saja, tubuh dan wajahnya mirip seperti Bob. Dan... setengah wajahnya itu terlihat sudah hancur dan berdarah-darah." Jelas Yuni mendeskripsikan tentang sosok yang ia lihat di matanya.


Setelah mendengar perkataan Yuni, Dennis kembali terkejut. Lalu secara tidak sengaja, tiba-tiba saja ia mengingat suatu kejadian di mana dirinya pernah diterror oleh hantu dengan ciri-ciri tubuh yang dideskripsikan dari Yuni barusan.


Dennis menggeleng cepat. Untuk memastikan pemikirannya itu, Dennis kembali bertanya pada Yuni. "Yuni, aku mau tanya lagi. Apakah hantu itu berbadan gemuk?"


"Kan sudah aku bilang, sosok itu mirip seperti Bob."


"Eh!" Dennis tersentak. Dugaannya benar. "Ja–jadi hantu itu... datang lagi?!"


JLEB!!


"AAAAAAKKH!"


Dennis terkejut dengan suara teriakan yang tiba-tiba muncul. Lalu dengan cepat, ia kembali melirik ke arah Rei. Ternyata, dengan cutter yang ia pegang, Rei akhirnya menusuk mata Bob untuk serangan pertamanya.


Setelah Bob mengerang kesakitan, Rei mengeluarkan senyumnya lagi. Ia sangat menyukai suara teriakan yang dikeluarkan dari Bob. Lalu setelah itu, Rei kembali mencabut cutter yang tertancap di mata Bob dengan paksa. Menyebabkan rasa sakit yang luar biasa sampai Bob kembali teriak lagi sambil memegang matanya itu.


"Ini... baru tusukan pertama. Aku ingin... kau merasakan apa yang teman-temanku rasakan." Rei kembali mendekat. Lalu menjambak rambut Bob dengan kasar. Setelah itu, ia kembali berbisik, "Aku akan menusukmu sesuai dengan jumlah anak-anak yang mati di sekolah ini. Jika ditotal, semua anak yang mati berjumlah lebih dari 100 murid. Maka dari itu, aku juga harus memberikanmu 100 kali tusukan."


"Ti–tidaaak! JANGAAAAN!!"


JLEB!

__ADS_1


Tusukan kedua, Rei menancapkan cutter-nya ke mata sebelah Bob. Lalu... kembali menusuk lagi, ke kening Bob. Setelah itu, mencabutnya lagi dan kembali menusuk. Tusuk terus, dan tusuk terus.


Sembari menusuk, Rei juga tidak lupa untuk menghitung tusukan tersebut dengan ekspresi wajah senangnya karena mencoba untuk membunuh seseorang.


JLEB! JLEB!! JLEB!!!


"... 10... 11... 12... 13... Menyenangkan sekali...."


Tanpa berhenti, Rei terus menusuk beberapa tubuh Bob dengan cutter kecil. Pada bagian kepala, sudah Bob sudah dipenuhi oleh warna merah yang terus mengalir dari lubang-lubang di kepalanya. Warna merah itu sampai mewarnai seluruh kepala Bob. Bahkan... bagian dalam mulutnya juga berlubang, rahang atas dan bawah juga begitu. Lidahnya terpotong dan entah sejak kapan kedua bola mata Bob sudah tidak ada di tempatnya lagi. Bola mata itu sudah jatuh ke tanah dan diinjak-injak oleh Rei sampai hancur.


Saat ini, Rei masih sibuk membunuh Bob dengan kejamnya tanpa henti. Tapi saat dia menusuk ke bagian kaki Bob, tiba-tiba saja cutter yang sudah penuh dengan cairan darah lengket itu bengkok pada bagian mata pisaunya karena tidak kuat untuk menusuk tulang kering Bob.


Saat di situlah Rei baru berhenti. Ia berdiri dan menjatuhkan tubuh Bob yang sudah tidak bernyawa lagi. Lalu setelah itu, Rei menjatuhkan cutter yang ia pegang ke tanah.


"Sial. Padahal lagi seru-serunya. Baru dihitungan ke–46, eh tiba-tiba saja senjatanya malah tidak bisa digunakan lagi." Rei menggerutu sambil melirik ke sekitar. Pada saat lirikan matanya ke arah Dennis, seketika Dennis pun terkejut dengan tatapan tajam mata Rei itu. Ditambah dengan cipratan dan tetesan darah yang tersebar di sekujur tubuh Rei.


Bahkan bagian tangannya saja sudah terpenuhi oleh warna merah. Sosok Rei saat ini terlihat menyeramkan. Ia sudah seperti Zombie yang habis memakan korbannya. Berdarah-darah dan menikmati kematian lawan yang sudah dibunuhnya.


"Ka–Kak Rei?" Dennis memanggilnya lirih.


Rei hanya diam saja dengan ekspresi wajah yang tidak berubah. Lalu setelah puas menatap Dennis tanpa sebab, Rei mengalihkan pandangannya ke arah teman-teman yang ada di belakangnya. Semuanya terkejut dan seketika mereka langsung mundur ke belakang setelah Rei memutar kepalanya ke belakang.


Setelah kepala, dilanjutkan dengan tubuh Rei yang ikut berbalik juga. Lalu tak lama, ia berjalan secara perlahan mendekati teman-temannya. Semuanya merasa takut dengan Rei.


"Yah... beginilah sikapnya Rei yang selama ini dia pendam akhirnya dikeluarkan juga."


"A–apa sikapnya?"


"Sikap dari si malaikat pembunuh. Disaat emosinya telah meningkat, tiba-tiba saja dia berubah menjadi monster seperti ini. Dia... tidak akan berhenti sampai tubuh musuhnya hancur. Kejadian ini seperti yang dulu." Jelas Yuni.


"Ya–yang dulu?"


"Iya. Entah ada apa dengan Rei, tapi tiba-tiba saja dia membunuh murid di sini dengan sadis. Saat ditanya alasannya, ternyata karena teman yang sudah ia bunuh itu telah mengganggu beberapa anak perempuan di sekolah ini. Hal itu telah membuat Rei marah dan langsung saja... dia membunuh anak pengganggu tersebut. Tampa ampun." Jelas Yuni lagi.


"Bagaimana bisa seperti itu? Sebelumnya, aku tidak pernah melihat Rei membunuh orang dengan cara seperti ini!"


"Kan sudah aku bilang, dia selalu menyembunyikan sifatnya itu. Tapi sekarang, entah kenapa dia malah mengeluarkannya."


Dennis tidak percaya dengan apa yang sudah ia dengar. Dennis menggeleng pelan, lalu kembali melirik ke arah Rei yang masih berjalan pelan mendekati beberapa anak yang berkumpul di dekat gedung 2.


Semuanya tidak berani mendekati Rei setelah melihat kelakuan Rei yang sudah ia perbuat untuk membunuh Bob tadi. Bahkan para guru sekalipun hanya bisa diam saja. Karena mungkin mereka sudah pernah melihat kejadian yang sama dulu.

__ADS_1


"Tapi untuk yang sekarang ini... sikap Rei berubah bukan kerena emosi dari hatinya sendiri. Tapi... dari hati orang lain," Ujar Yuni lagi. Dennis semakin bingung dengan perkataan Yuni itu. Ia akan mencoba untuk menahan diri dan tidak bertanya lagi.


Tapi tanpa bertanya, Yuni melanjutkan perkataannya, "Emosi itu berasal dari Hantu Gemuk yang berhasil membisikan sesuatu pada Rei untuk mewujudkan kemauannya."


"A–apa maksudmu Kak Rei itu sedang dirasuki oleh Hantu Gemuk itu?" Kali ini Dennis bertanya, karena dia tidak tahan untuk melontarkan pertanyaannya itu. Tentu saja kalau dia penasaran, dia pasti harus mencaritahu jawabannya dengan cara bertanya.


"Setengahnya saja."


"Loh?"


"Karena... keinginan hantu itu dengan Rei sama. Merek berdua sama-sama ingin membunuh Bob. Tapi hanya ada sedikit perbedaan."


"Apa itu?"


"Yang ku ketahui, Hantu itu datang sebab ia marah pada Bob karena si Bob itu telah mengingkari janjinya pada si hantu. Makanya hantu itu jadi marah. Lalu... kalau Rei. Tentu saja dia ingin membalas dendam atas kematian teman-teman kita yang sudah tiada akibat dari ujian yang sudah Bob buat untuk kita mainkan."


Dennis sedikit menunduk, lalu mengangguk pelan. "Oh, begitu. Lalu sekarang–"


SIING!!


"RE–REI!"


Semuanya berteriak saat Rei mengambil sebuah golok yang tergeletak di pinggir gedung 2. Lalu setelah mengambil golok itu, Rei berbalik badan, berjalan pelan ke arah tubuh Bob yang sudah penuh dengan lubang sambil menggesekkan mata pisau golok itu ke aspal lapangan.


"Di–dia belum selesai?!" Dennis juga ikut terkejut. Ia tidak percaya kalau Rei benar-benar akan membuat daging cincang dari tubuh Bob.


"Hantu itu masih terus berjalan di belakang Rei. Dia tidak ingin jauh-jauh dari Rei." Ujar Yuni lagi.


"Hah?! Lalu sekarang, apa yang harus kita lakukan?! Jika terus seperti ini, maka Kak Rei tidak akan berhenti untuk terus menghancurkan tubuh si Bob itu!" Dennis jadi panik. Semuanya juga terkejut saat mendengar perkataan Dennis barusan. Sampai akhirnya... para guru akan bergerak sekarang. Mereka berniat ingin menghentikan Rei yang tidak sadar kalau dirinya telah menjadi seorang pembunuh yang kejam.


Tapi sebelum para guru berlari menghampiri Rei, tiba-tiba saja mereka mendengar suara benda yang jatuh ke tanah. Suara yang sangat keras. Semuanya juga mendengarnya. Sampai Rei juga mendengar suara itu. Makanya dia menghentikan langkahnya dan menjatuhkan kembali golok yang ia pegang ke tanah.


"A–apa itu?"


"KYAAAAAA!!"


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2