
Keesokan harinya setelah sarapan, seperti yang telah dijanjikan oleh ibunya, hari ini Chu Pian Ran akan membawa putri kecilnya ke markas besar prajurit.
Setelah mendapat ijin dari suami dan kedua mertuanya, berangkatlah perempuan cantik itu beserta anaknya dengan naik kudanya.
Bukan main senangnya Lee Chu Mian Yin saat itu yang diajak berkuda oleh ibunya untuk pergi ke markas besar prajurit.
Setelah dua puluh menit perjalanan, sampailah ibu dan putri kecilnya itu di depan gerbang markas. Saat tahu jika putri angkat kaisar datang bersama anaknya, dua orang prajurit yang berjaga di pintu gerbang pun memberi hormat dengan sedikit membungkukkan badan mereka.
Tanggap jika perempuan cantik itu akan turun dari punggung kudanya, salah satu prajurit pun berjalan mendekat lalu mengangkat tubuh gadis cilik itu lalu diturunkannya ke bawah.
Sesaat kemudian, tampaklah Chu Pian Ran berjalan beriringan dengan Lee Chu Mian Yin memasuki gerbang markas.
Begitu masuk ke dalam markas, terlihatlah ratusan prajurit sedang melakukan gerakan pemanasan di halaman markas yang lumayan luas sebelum latihan beladiri dimulai.
Ketika mata Lee Chu Mian Yin melihat kumpulan prajurit itu, berteriak-teriaklah dia dengan kegirangan yang berhasil menyita perhatian para prajurit.
"Yit yiiiit, yit yiiiiit..."
Para prajurit yang mendengar teriakan dari bibir mungil gadis kecil itu pun tersenyum sambil melambaikan tangannya. Sebagai reaksi balasan, Lee Chu Mian Yin juga melambaikan tangan kanannya dengan gaya yang menggemaskan. Tak pelak, tingkahnya membuat beberapa prajurit yang ada di barisan depan pun tersenyum.
Saat Lee Chu Mian Yin melangkahkan kakinya hendak turun ke halaman, maka ibunya pun mencegahnya dengan memegang lengannya.
"Bu bu, yit yit, na na..." Ucap putri kecilnya sempat ingin memberontak dari cekalan tangan perempuan cantik itu.
"Jangan kesana ya sayang, kan prajuritnya sedang latihan..." Kata Chu Pian Ran dengan pengucapan kalimat yang agak lambat.
Karena dicegah, maka gadis kecil itu pun langsung duduk begitu saja dengan tubuh dihadapkan pada kumpulan prajurit itu sambil melambai-lambaikan tangannya dengan gaya yang membuat gemas siapa saja yang melihatnya termasuk ibunya sendiri.
Rupanya, tingkah laku Lee Chu Mian Yin menjadi hiburan tersendiri bagi para prajurit itu.
Beberapa menit kemudian, datanglah sosok Qin Wu Zhu mendekati ibu dan anak itu dengan perasaan heran.
"Kau kemari Nanyang?" Tanya pangeran kedua kaisar Qin setelah ada di hadapan adik angkatnya.
"Iya kak, dari kemarin Yin Er minta diajak kemari, tapi aku baru bisa menuruti keinginannya hari ini karena kemarin tubuhku masih lelah sehabis pulang dari Han." Balas Chu Pian Ran.
"Benarkah? Aku baru tahu jika putrimu ada minat untuk melihat para prajurit." Kata Qin Wu Zhu.
"Sebelum berangkat ke wilayah Han dua bulanan yang lalu, aku dan suamiku pernah mengajak Yin Er ke sini kak. Begitu dia melihat prajurit yang jumlahnya banyak, dia pun mulai terlihat tertarik." Terang nyonya muda Lee.
"Begitu ya... Jangan-jangan kelak jika Yin Er besar nanti, dia berminat bergabung dengan kemiliteran Qin." Lanjut pemuda itu.
"Mungkin saja kak... Kalau aku sih tidak masalah kelak dia ingin menjadi apapun, asal hidupnya bisa berguna untuk orang lain." Sahut perempuan cantik itu.
Beberapa saat kemudian, Qin Wu Zhu pun ikut duduk di samping Lee Chu Mian Yin.
"Halo gadis kecil yang cantik, kau suka dengan prajurit itu?" Tanya pangeran kedua kaisar Qin sambil menoleh pada Lee Chu Mian Yin.
"Man man, yit yit..." Ucap gadis kecil itu sambil tangannya menunjuk pada sekelompok prajurit yang ada di depannya.
__ADS_1
"Yin Er lihatnya dari sini saja ya, karena sebentar lagi para prajurit itu akan latihan..." Ucap Qin Wu Zhu dengan menatap gadis cilik yang terlihat menggemaskan itu.
Tak berapa lama, turunlah pemuda itu di halaman lalu memberi isyarat kepada para prajurit jika latihan beladirinya bisa dimulai. Beberapa detik kemudian, tampaklah para prajurit itu melakukan gerakan-gerakan beladiri yang sama dan serempak dengan diawasi oleh Qin Wu Zhu di depan para prajurit itu.
Otomatis, Lee Chu Mian Yin yang dalam tahap usia meniru pun segera bangkit berdiri lalu menggerakkan anggota tubuhnya mengikuti gerakan para prajurit dengan gaya gerakan yang lucu dan menggemaskan.
Melihat aksi gadis cilik itu, maka para prajurit yang ada di halaman tidak bisa menahan senyumannya. Sekalipun sebenarnya itu melanggar aturan keprajuritan, namun Qin Wu Zhu mendiamkannya saja.
Selama para prajurit melakukan gerakan beladiri, selama itu juga putri kecil Chu Pian Ran terus mengikuti gerakan mereka tanpa merasa lelah.
Nyonya muda Lee yang menyaksikan tingkah Lee Chu Mian Yin pun sengaja membiarkannya sambil beberapa kali tersenyum melihat gaya putrinya yang menggemaskan itu.
Dua jam kemudian, latihan dihentikan lebih awal oleh Qin Wu Zhu, mengingat pemuda itu tahu jika gerakan para prajuritnya diikuti oleh Lee Chu Mian Yin.
Begitu melihat para prajurit berhenti melakukan gerakan beladiri dan buyar dari barisan, maka putri kecil Chu Pian Ran pun lalu mendekati ibunya.
"Bu, us us..." Ucap bibir mungil gadis cilik itu.
"Yin Er haus? Minta minum pada paman Zhu Er yuk..."
Tak berapa lama, nyonya muda Lee menggendong tubuh putrinya lalu membawanya menuju ruang kerja Qin Wu Zhu. Setelah itu, perempuan cantik itu menuangkan teh ke dalam cangkir yang tersedia di situ lalu meminumkannya pelan-pelan pada putrinya.
"Bu bu, gi..." Kata Lee Chu Mian Yin sambil menunjuk teko teh.
Chu Pian Ran yang paham dengan maksud putrinya pun menuangkan teh lagi ke cangkir dan meminumkannya pada gadis cilik itu. Kejadian itu berulang hingga lima kali, sampai rasa haus Lee Chu Mian Yin menghilang.
"Bu bu, lang..." Ucap bibir mungil putri kecilnya sambil melihat mata ibunya.
Baru saja Chu Pian Ran membalikkan badannya, masuklah pangeran kedua kaisar Qin ke dalam ruangan.
"Yin Er minta pulang sekarang kak, jadi aku tidak bisa berlama-lama di sini." Kata Chu Pian Ran masih dengan menggendong putrinya.
"Ya sudah kalau kalian ingin pulang sekarang. Kapan-kapan saja aku berkunjung ke kediaman Lee untuk mengobrol." Sahut Qin Wu Zhu.
"Yin Er sayang, ayuk pamitan dulu pada paman..." Ucap perempuan cantik itu sambil menoleh pada putrinya.
"Man man, lang..." Seolah mengerti dengan yang dikatakan ibunya, gadis kecil itu pun berpamitan pada pamannya.
"Iya Yin Er cantik, hati-hati di jalan dan jangan nakal ya..." Balas pemuda itu sambil mencolek pipi kanan Lee Chu Mian Yin.
Beberapa menit kemudian, Chu Pian Ran pun meninggalkan ruangan dengan diikuti tatapan sedih dari mata Qin Wu Zhu.
Sampai sekarang, pangeran kedua kaisar Qin itu belum bisa melepaskan secara penuh perasaannya pada istri Lee Jiang Wook itu. Ditambah lagi saat perempuan itu hamil hingga saat ini sudah memiliki anak hingga sebesar itu, Qin Wu Zhu malah semakin bertambah iri dengan keberuntungan Lee Jiang Wook, karena tahu jika Chu Pian Ran ternyata memiliki jiwa keibuan yang lumayan tinggi.
****
Sepulang dari markas prajurit, tampaklah Chu Pian Ran sedang berbincang dengan ibu mertuanya di gazebo, sementara si kecil Lee Chu Mian Yin sedang bermain dengan mainan yang diberikan oleh selir Chi Min Ru.
Sambil mengawasi gadis cilik itu, nyonya muda Lee pun bercerita tentang peristiwa yang terjadi saat dia dan putrinya di markas tadi.
__ADS_1
"Benarkah itu?" Tanya mertuanya masih tidak percaya setelah Chu Pian Ran menceritakan tingkah putri kecilnya yang menirukan gerakan beladiri prajurit saat di markas tadi.
"Iya bu... Aku sendiri tidak menyangka jika Yin Er akan melakukan hal seperti itu." Sahut menantunya.
"Jangan-jangan, jika sudah besar nanti cucuku ingin menjadi seorang jenderal atau semacamnya... Padahal ibu sangat berharap kelak Yin Er menjadi gadis rumahan saja, jadi dia tidak perlu pergi jauh kemana-mana seperti dirimu yang sering membuat orang khawatir..." Ucap nyonya Lee terus terang.
"Entahlah bu, aku juga tidak tahu... Untuk saat ini yang aku pikirkan adalah bagaimana cara membesarkan Lee Chu Mian Yin dengan baik agar kelak dia menjadi anak yang berbakti." Kata Chu Pian Ran.
****
1,5 bulan kemudian, kaisar Qin Shi Huang mendapatkan surat dari kaisar Han Zhuo Lung, yang memberi kabar jika tanaman pertanian di daerah bagian barat Han saat ini sudah menghasilkan panen yang melimpah.
Membaca berita itu, tentu saja penguasa nomer satu di wilayah Qin itu merasa senang. Tak lama kemudian, pria itu pun memerintahkan salah satu prajuritnya untuk meneruskan kabar gembira itu kepada putri angkatnya.
Tak beda jauh dengan reaksi kaisar Qin Shi Huang, Chu Pian Ran pun juga merasa senang karena usahanya dua bulanan yang lalu tidaklah sia-sia.
Sementara pihak kedua kerajaan itu sedang gembira hatinya, mahkluk yang berada dalam kurungan tersegel justru sebaliknya.
Hatinya meluap dengan amarah karena niatnya ingin melepaskan diri dari kurungan itu ternyata gagal total.
Semenjak dia dikurung di dalam pusat kawah gunung dengan mantra bersegel kuat oleh beberapa mendiang peri senior ribuan tahun yang lalu, iblis Qing Liong memanfaatkan kesempatan itu untuk bermeditasi agar kekuatan supranaturalnya pulih kembali sehingga dia dapat merusak mantra dan bisa keluar dari kurungan itu.
Namun, niatnya itu ternyata mengalami kegagalan karena usahanya yang ingin melepaskan diri dari kurungan itu ketahuan dan akhirnya mengundang para peri senior dari berbagai penjuru daratan China berkumpul di mulut kawah untuk memperkuat segel kurungan itu kembali.
Menghadapi kenyataan pahit itu, maka muncullah sebuah strategi dari iblis jahat itu, yakni kelak jika dia ingin kabur, dia tidak akan menimbulkan tanda-tanda apapun lagi sehingga tidak menarik perhatian siapapun.
****
Sejak kemunculan Lee Chu Mia Yin ke markas prajurit Qin dan menirukan gerakan beladiri para pria dewasa beberapa waktu yang lalu, putri kecil Chu Pian Ran jadi sering berkunjung ke markas dengan rasa keingintahuannya yang besar.
Jika kebetulan para prajurit sedang tidak latihan, maka gadis cilik itu akan meminta pada ibunya untuk menemani dia berkeliling markas, hingga Lee Chu Mian Yin mengenal beberapa alat yang ada di tempat itu, mulai dari : tombak, pedang, panah, dan alat lainnya.
Rasa ketertarikan gadis cilik itu pada prajurit dan hal yang berkaitan dengan keprajuritan, makin lama makin meningkat. Tentu saja hal ini memunculkan pemikiran bagi orang-orang terdekatnya, jika kelak dia besar nanti pasti Lee Chu Mian Yin akan bergabung dalam kemiliteran Qin. Entah kelak dia akan menjadi komandan atau jenderal, hal itu masih dalam tahap tanda tanya.
Lee Jiang Wook yang selaku ayah kandungnya, awalnya tidak setuju jika istrinya sering mengajak Lee Chu Mian Yin ke markas besar prajurit. Ayah muda itu sebenarnya memiliki harapan yang besar, kelak jika putrinya telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik, Lee Chu Mian Yin akan menjadi gadis pada umumnya yang bisa diserahi tanggung jawab bisnis yang dikelola oleh ayahnya.
Namun, fakta yang terjadi malah kebalikannya. Putri kecilnya itu semakin lama semakin tertarik dengan hal-hal yang berbau militer, bahkan saat di rumah, Lee Chu Mian Yin jadi sering mengulang gerakan-gerakan beladiri yang pernah dia lihat di markas prajurit bersama ibunya.
Mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya Lee Jiang Wook berusaha menerima kenyataan dan mengalir dengan apa yang ada di depannya.
Sementara itu, Qin Wu Zhu yang saat itu telah menjabat sebagai jenderal kedua setelah pamannya Long Yuan, ketika semakin tahu jika putri Chu Pian Ran memiliki ketertarikan dengan kemiliteran, maka pemuda itu tidak pernah keberatan jika Lee Chu Mian Yin sering kedapatan berkeliaran di markas prajurit dengan ditemani ibunya.
Bahkan, untuk mengasah bakat gadis cilik itu pelan-pelan, pemuda itu sengaja membuatkan pedang-pedangan yang terbuat dari bahan yang ringan dan tidak berbahaya untuk anak sekecil itu.
Di saat pemuda itu sedang longgar, dan kebetulan Lee Chu Mian Yin datang ke markas, maka pemuda itu akan mengajak gadis cilik itu berlatih ringan dengan pedang-pedangannya.
Untungnya, karena putri Chu Pian Ran adalah tipe anak yang cerdas dan penurut, hingga saat ini gadis cilik itu tidak pernah membuat masalah terkait dengan minatnya yang aneh itu. Dengan di bawah bimbingan ibunya, Lee Chu Mian Yin semakin lama semakin nampak punya kepribadian yang kuat dan mandiri.
Selain itu, gadis cilik itu juga semakin suka mengajak bicara dengan beberapa binatang yang kebetulan dia jumpai, seperti : kupu-kupu, kuda, burung, dan binatang lainnya.
__ADS_1
Perilaku Lee Chu Mian Yin yang unik itu awalnya juga sempat membuat orang-orang terdekatnya khawatir, namun setelah Chu Pian Ran melakukan penerawangan dan memberi pengertian pada anggota keluarganya, maka mereka semua akhirnya bisa menerima kelebihan aneh Lee Chu Mian Yin.
Berdasarkan penerawangan nyonya muda Lee, putri kecilnya itu kelak akan bisa berkomunikasi dengan binatang jika semakin terus diasah, namun bukan berarti semua jenis binatang dapat berkomunikasi dengannya.