Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 121 Pakaian Aneh Chu Pian Ran


__ADS_3

Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ke rumah kayu peri Jinfeng Zhui yang tidak terlalu besar tapi dari luar nampak unik dan asri.


Begitu masuk di dalam rumah yang tampak bersih dan semua perabotannya tertata rapi itu, nyonya muda Lee pun menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangannya untuk sesaat.


Setelah matanya melihat sebuah almari kayu yang lumayan besar, peri cantik itu pun kemudian kembali menapakkan kakinya untuk mendekati almari tersebut.


Seusai membuka pintu almari, terlihatlah di depan matanya, di dalam almari 3 shaf itu terdapat beberapa tumpukan pakaian peri Jinfeng Zhui yang didominasi dengan warna putih. Setelah memilih-milih sebentar, nyonya muda Lee pun mengambil sebuah baju dan kemudian menutup pintu almari itu kembali.


Kini, tampaklah Chu Pian Ran sedang membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi peri Jinfeng Zhui yang terletak di belakang rumah.


Tak lupa, perempuan cantik itu juga mengambil bungkusan berlian dari saku bajunya dan memasukkannya di saku pakaian peri Jinfeng Zhui yang sekarang telah dikenakannya.


Untuk sesaat, nyonya muda Lee memperhatikan tubuhnya yang telah terbalut oleh baju peri Jinfeng Zhui yang membuatnya terlihat 'lucu' bahkan 'bodoh' karena bagian bawah pakaiannya tampak agak kepanjangan belasan cm.


Namun, karena dasarnya Chu Pian Ran yang sekarang lebih memiliki sifat 'masa bodoh', maka dia pun mengenakan baju peri Jinfeng Zhui yang kepanjangan itu dengan penuh percaya diri.


Sesudah urusannya di kamar mandi selesai, peri cantik itu pun keluar dari tempat itu sambil membawa pakaian kotornya yang niatnya akan dia cuci di sungai.


Begitu sampai di sungai yang tak jauh dari kediaman peri Jinfeng Zhui, maka Chu Pian Ran pun mencuci baju kotornya di sungai yang airnya sangat jernih tersebut.


Karena jaman dulu belum ada sabun maupun bahan pembuatnya, maka nyonya muda Lee pun beberapa kali mengucek-ucek bagian pakaiannya yang kotor dalam keadaan tercelup di dalam air agar kotorannya cepat hilang.


Setelah dirasanya cukup bersih, maka perempuan cantik itu pun lalu menjemur bajunya di tali jemuran yang letaknya tak jauh dari sungai.


Karena perutnya sudah semakin menagih saja, maka dengan langkah cepat peri cantik itu pun menapakkan kakinya menuju ke tempat peri Jinfeng Zhui dan Zhin Zhuan yang saat itu sedang mengobrol dengan akrabnya.


Begitu Chu Pian Ran sudah di dekat dua peri itu, maka dia pun menjadi bahan tertawaan karena memang pakaiannya yang terlihat 'menggelikan'.


"Kenapa juga kalian berdua tertawa? Zhuan'er, ayuk kita segera ke rumah makan, perutku sudah lapar sekali nih...," ajak nyonya muda Lee yang langsung di iya kan oleh peri pegar emas, dan Zhuan'er pun langsung bangkit dari tempat duduknya lalu melangkahkan kakinya hingga peri cantik itu sudah ada di dekat Chu Pian Ran.


"Oh ya, nenek titip apa? Senyampang kita mau ke rumah makan, sekali-kali nenek perlu mencoba makanan enak selain buah-buahan..." lanjut perempuan cantik itu sambil menoleh pada si peri Jinfeng Zhui.


"Tidak lah nak, aku tidak titip apa-apa... Lagipula perutku juga tidak lapar...," jawab peri senior itu.


"Ya kan bisa dimakan nanti nek... Rugi lo kalau tidak mau mencicipi makanan lezat bangsa manusia...," tawar peri cantik itu lagi.


"Tidak Ran'er... Sudahlah, sebaiknya kalian berangkat sekarang saja, nanti keburu sore..." sahut peri Jinfeng Zhui menyuruh kedua peri cantik itu agar segera berangkat.


"Ya sudah nek, kita pergi dulu ya, good bye...," balas nyonya muda Lee yang kemudian merubah wujudnya menjadi berkas cahaya putih dengan diikuti oleh Zhin Zhuan.


Mendengar balasan dari Chu Pian Ran tadi, peri senior itu pun sempat terkejut karena telinganya menangkap dua kata yang menurutnya aneh dan asing.


*


Saat ini, tampaklah Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan sedang masuk di sebuah rumah makan yang lumayan besar dan ramai pengunjungnya.


Melihat penampilan nyonya muda Lee yang tampak 'lucu' itu, beberapa pengunjung rumah makan pun ada yang tersenyum bahkan tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan mata memperhatikan pergerakan Chu Pian Ran.

__ADS_1


Sementara itu, makhluk yang mengundang senyuman atau menjadi bahan tertawaan, sama sekali tidak peduli dan dengan percaya dirinya dia melangkahkan kakinya menuju bagian sudut rumah makan yang masih ada beberapa kursi kosongnya dengan diikuti oleh Zhin Zhuan di belakangnya yang menahan rasa malu.


"Kak, mereka sedang menertawakanmu lo...," bisik si peri pegar emas begitu mereka berdua telah duduk di kursi.


"Halah biarkan saja...," jawab Chu Pian Ran dengan santainya.


Tak berapa lama, datanglah seorang pelayan rumah makan mendatangi dua perempuan cantik itu untuk menanyakan pesanan makanan mereka.


Karena perut nyonya muda Lee memang sangat lapar, dia pun memesan banyak makanan yang membuat Zhin Zhuan lumayan terkejut.


"Kakak pesan makanannya banyak sekali, bagaimana kalau nanti jadi gemuk?...," ucap Zhin Zhuan dengan suara pelan setelah si pelayan tadi pergi untuk meneruskan pesanan makanan dua perempuan cantik itu pada pelayan bagian dapur.


"Perutku sangat lapar Zhuan'er... Memangnya kenapa kalau aku gemuk? Sekali-kali merubah penampilan agar terlihat beda kan tidak apa-apa...," sahut Chu Pian Ran sekenanya.


"Ya kan kakak punya suami, kalau kakak jadi gemuk nanti kakak Lee bisa berpaling ke perempuan lain lo...," kata si peri pegar emas mengingatkan nyonya muda Lee.


"Sudahlah Zhuan'er, kau tidak perlu khawatir... Apapun jadinya diriku ini, suamiku tidak bakalan mungkin melirik pada perempuan lain, karena memang dia yang cinta mati denganku...," jelas perempuan cantik itu terus terang.


"Bagaimana hubunganmu dengan Lu Zee, baik-baik saja kan? Akhir-akhir ini sepertinya dia jadi jarang menemuimu," lanjut Chu Pian Ran.


"Aku dan kak Lu Zee baik-baik saja kak. Akhir-akhir ini katanya dia sedang sibuk, jadi dia jarang mengunjungiku," balas Zhin Zhuan.


Tak berapa lama, datanglah dua pemuda mendekati meja Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan.


"Selamat siang nona-nona cantik, bolehkah kami ikut duduk di sini?" tanya pemuda yang berbaju biru muda dengan menunjukkan keramahan palsunya.


"Maaf tuan-tuan, bukankah di sana masih ada kursi yang kosong? Sebaiknya kalian berdua duduk di sana saja," jawab nyonya muda Lee terus terang sambil tangan kanannya menunjuk ke kursi kosong yang tak jauh di sebelah kanannya


"Maaf ya tuan-tuan, saya ini sudah bersuami dan punya seorang anak yang umurnya hampir 5 tahun. Dan nona cantik yang ada di depanku ini juga sudah punya kekasih yang sebentar lagi akan menikah. Jadi silahkan kalian berdua duduk di sana saja ya," terang Chu Pian Ran dengan memberikan penekanan pada ucapannya sambil tangannya kembali menunjuk kursi kosong yang ada di sebalah kanannya.


Mendengar perkataan tegas dari nyonya muda Lee, dua pemuda itu pun akhirnya berpamitan dengan menahan rasa malunya. Tak lama kemudian, mereka berdua pun menapakkan kakinya menuju kursi kosong yang ada di dekat pintu masuk dan tidak di sebelah kanan kedua peri cantik itu.


"Dasar laki-laki penggoda, memangnya kita perempuan gampangan...," gumam nyonya muda Lee.


"Kenapa kakak tadi mengatakan aku dan kak Lu Zee mau menikah?" tanya Zhin Zhuan pelan dengan polosnya.


"Itu tadi hanya alasanku saja agar mereka berdua segera pergi dari sini... Lagipula seharusnya kau kan merasa senang kalau aku berkata seperti itu. Siapa tahu saja kau dan Lu Zee akan segera menikah," balas Chu Pian Ran jujur.


"Kita berdua masih belum kepikiran untuk menikah kak... Untuk saat ini kita jalani saja apa yang ada dulu. Lagipula kak Lu Zee juga belum pernah memperkenalkan aku pada anggota keluarganya. Kalau anggota keluarganya sampai tahu jika aku seorang peri, entah mereka setuju atau tidak dengan hubungan kita berdua," ujar si peri pegar emas terus terang.


"Agar anggota keluarga Lu Zee setuju dengan hubungan kalian, lebih baik kalian berdua sepakat untuk merahasiakan identitasmu untuk sementara. Baru setelah menikah, kalian bicara jujur dengan mereka, pasti mau tidak mau, anggota keluarga Lu Zee akan menerimamu...," nyonya muda Lee memberikan sebuah trik pada Zhin Zhuan.


"Apa itu cara yang baik kak? Bagaimana kalau setelah kita berkata jujur, anggota keluarga kak Lu Zee malah marah dan meminta kita bercerai... Bisa runyam masalahnya...," timpal si peri pegar emas menyampaikan rasa khawatirnya.


"Kau tidak perlu berpikiran negatif dulu Zhuan'er... Apa yang kamu khawatirkan itu, kan belum tentu terjadi. Kalau mereka marah karena kalian ketahuan tidak jujur, biar aku yang bicara dengan mereka. Beres kan?" imbuh Chu Pian Ran yang dibalas dengan anggukan kepala dari Zhin Zhuan.


Beberapa saat kemudian, datanglah dua pelayan yang mengantarkan pesanan makanan kedua peri cantik itu.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi, Chu Pian Ran pun langsung menyantap makanan yang ada di meja dengan gerakan yang lumayan cepat yang membuat Zhin Zhuan terpana dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


****


Saat ini, tampaklah Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan sedang membagi-bagikan buntelan kain, yang masing-masing buntelan berisi 5 buah-buahan yang dicampur kepada orang-orang tidak mampu yang mereka jumpai dalam perjalanan pulang.


Saat di tempat peri Jinfeng Zhui tadi, buah-buahan itu ternyata sudah dibungkus oleh peri senior itu menggunakan kain yang per bungkusnya berisi 5 buah-buahan yang telah dicampur, hingga sekarang ini nyonya muda Lee dan si peri pegar emas tinggal membagikannya saja.


Tak lupa, Chu Pian Ran pun menyisakan 2 bungkus buah-buahan yang nantinya akan diberikan pada Xhi Wan Mei dan neneknya.


Setelah selesai membagi-bagikan buah-buahan, dua peri cantik itu pun segera merubah wujudnya menjadi berkas cahaya untuk langsung pulang karena hari sudah sore.


Saat tiba di kediaman Chu, nyonya muda Lee dan Zhin Zhuan pun mencari tempat yang sepi yang ada di belakang kediaman untuk bertransformasi ke wujud manusia kembali.


Sementara itu, dua bungkus buah-buahan yang dibawa oleh Chu Pian Ran tadi, diberikannya pada Zhin Zhuan agar nanti si peri pegar emas itu mengantarnya ke rumah Xhi Wan Mei.


Tak berapa lama, dua peri cantik itu pun berjalan beriringan, yang beberapa menit kemudian si peri pegar emas berbelok ke arah kiri untuk menuju ke kamarnya, sedangkan nyonya muda Lee terus melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


Namun sebelum sampai di depan kamar, tampaklah oleh perempuan cantik itu, suaminya, Qin Wu Zhu, dan Han Zhuo Jin sedang berbincang santai di dekat kolam yang tak jauh dari kamarnya tersebut.


Begitu ketiga pria tampan itu melihat sosok Chu Pian Ran yang mengenakan pakaian yang bagian bawahnya kepanjangan, Han Zhuo Jin dan Lee Jiang Wook pun tersenyum, sementara pangeran kedua kaisar Qin tetap memperlihatkan wajah dinginnya namun di dalam hatinya dia sedang menahan geli.


"Hei perempuan aneh, baju siapa itu yang kau pakai? Sekarang kau jadi pengutil rupanya...," ucap Qin Wu Zhu mulai menggoda adik angkatnya setelah peri cantik itu duduk di kursi kosong yang diapit oleh suaminya dan Han Zhuo Jin.


"O ini... Iya sih, tadi sewaktu aku melintas di atas sebuah rumah dan melihat di tali jemuran ada pakaian bagus ya kuambil saja," balas Chu Pian Ran mengimbangi ledekan kakak angkatnya dengan wajah datar.


"Lalu bajumu kemana istriku?" tanya Lee Jiang Wook.


"Aku jual di pasar loak suamiku karena aku tadi kekurangan uang...," jawab nyonya muda Lee masih belum serius yang membuat suaminya penasaran.


"Mana laku juga pakaianmu yang bau itu," lanjut pangeran kedua kaisar Qin dengan wajah dinginnya.


"Ya pasti laku lah, yang jual kan perempuan cantik tiada tandingannya," ujar Chu Pian Ran dengan percaya dirinya.


"Heleh, cantik tiada tandingan darimananya... Kalau aneh memang iya," imbuh Qin Wu Zhu.


"Sepertinya sekarang gantian matamu yang bermasalah tuan jendral... Apa mungkin kau terkena rabun jauh? Pantas saja tidak bisa membedakan mana perempuan cantik dan tidak," ledek nyonya muda Lee.


Menyaksikan Chu Pian Ran dan Qin Wu Zhu saling meledek, Han Zhuo Jin pun tersenyum geli tiada hentinya sambil menahan kaku di perutnya.


"Sudah sudah, jangan saling meledek berkepanjangan seperti itu... Bisa-bisa kalian berdua nanti jadi berkelahi," Lee Jiang Wook berusaha menengahi.


"Akhir-akhir ini kelihatannya adik Nanyang sangat sibuk," sela pangeran kedua kaisar Han.


"Iya kak. Jadi maaf kalau aku tidak bisa terlalu sering menemanimu berkeliling di ibukota," sahut Chu Pian Ran terus terang.


"Kau tidak perlu minta maaf adik Nanyang. Urusan yang lebih penting sebaiknya kau selesaikan dulu. Untuk masalah menemaniku berkeliling ibukota Qin, kan ada putra mahkota dan pangeran lain yang bersedia mendampingiku," ucap Han Zhuo Jin.

__ADS_1


"Memangnya urusan penting apa yang sedang kau kerjakan? Apa ada hal gawat yang terjadi di wilayah Qin?" tanya Qin Wu Zhu penasaran.


"Tidak gawat sih, tapi lumayan penting...," jawab nyonya muda Lee terkesan menyembunyikan sesuatu.


__ADS_2