Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 73 Kerajaan Lian Terpuruk


__ADS_3

Sejak peristiwa kebakaran di istana dan ke delapan pangeran Lian didapati tiba-tiba lumpuh, suasana istana itu berubah menjadi sangat memprihatinkan.


Ibu suri, permaisuri dari mendiang kaisar sebelumnya yang saat ini bisa dikatakan sebagai pimpinan sementara tidak bisa berbuat banyak karena masih shock dan bingung dengan kejadian dua hari yang lalu.


Sementara itu, para tabib istana Lian yang memeriksa kondisi tubuh ke delapan pangeran juga angkat tangan karena racun yang telah menyebar dalam tubuh mereka tidak ada penawarnya.


Sekalipun wilayah Lian membudidayakan berbagai tanaman beracun, namun jenis racun yang telah melumpuhkan kedelapan pangeran itu adalah jenis racun yang aneh.


Dikatakan aneh karena berdasarkan pemeriksaan tabib istana, racun pelumpuh yang digunakan itu sebenarnya adalah racun pelumpuh yang banyak ditemui di wilayah Lian, namun racun ini seperti diberi campuran 'sesuatu' yang membuat racun tersebut tidak bisa diobati. Sedangkan 'sesuatu' itu yang sampai sekarang belum diketahui oleh para tabib.


Belum juga hilang rasa shock, takut dan bingung yang menimpa para penghuni istana itu, datanglah kabar lain yang membuat kaget setengah mati ibu suri dan anggota kerajaan lainnya.


Seorang prajurit dari salah satu markas yang ada di wilayah Lian dengan tergopoh-gopoh memberi laporan bahwa 95% prajurit yang ada di markas tersebut tiba-tiba saja lumpuh dan belum ada obatnya.


Prajurit itu juga mengatakan bahwa sumber masalahnya berasal dari air sumur yang telah diracuni.


Tak berhenti sampai di situ, selama satu minggu ke depan ada lagi 3 orang prajurit dari markas yang berbeda memberikan laporan yang sama.


Alhasil, berita buruk yang datang bertubi-tubi itu telah membuat ibu suri terkena serangan jantung dan tubuhnya mulai sakit-sakitan.


Kini kondisi dalam istana kerajaan Lian benar-benar kacau, hanya tinggal Lian Xiao Yuan dan Lian Xiao Yung yang menjadi tumpuan.


Kedua pangeran kakak beradik itu akhirnya bekerja sama untuk memulihkan istana Lian terlebih dahulu pasca terjadinya kebakaran.


Akibat kebakaran itu, beberapa bangunan dan banyak barang-barang yang hangus terbakar.


Dengan mengerahkan tenaga para prajurit dan pelayan pria yang ada di istana, perbaikan istana pun dimulai.


Kedua pangeran itu kini berada di ruang kerja Lian Xiao Yuan.


"Kak, apakah ini semua dilakukan oleh nona Chu?" Tanya Lian Xiao Yung dengan wajah putus asa.


"Bisa saja seperti itu..." Balas Lian Xiao Yuan pelan sambil memijit-mijit pelipisnya.


"Peristiwa ini sungguh mengerikan, aku tidak menyangka sama sekali jika kerajaan Lian berakhir menjadi seperti ini..." Lanjut Lian Xiao Yung.


"Inilah akibatnya jika terlalu berambisi untuk mengalahkan kerajaan lain. Cepat atau lambat balasannya pasti akan diterima." Ucap Lian Xiao Yuan.


"Lalu apa rencana kita selanjutnya kak?" Tanya Lian Xiao Yung.


"Untuk saat ini kita fokus dulu dengan perbaikan istana. Masalah prajurit yang ada di markas, untuk sementara biarkan saja terlebih dahulu. Kepalaku pusing memikirkan kejadian-kejadian ini. Aku akan menyarankan pada lainnya untuk kita berdamai saja dengan kerajaan Qin." Jelas Lian Xiao Yuan.


Kedua pangeran itu memang sama sekali tidak tahu jika kakak tertua mereka alias kaisar Lian Xiao Jung mengirimkan dua mata-mata ke wilayah Qin untuk membunuh Lee Jiang Wook yang membuat Chu Pian Ran berang.


Di tengah musibah besar yang dialami oleh kerajaan Lian, dengan sembunyi-sembunyi selir Xie Yu Mei mengutus seorang pelayan kepercayaannya untuk mengirim surat kepada ayahnya yang adalah kaisar Han.


Selir Xie Yu Mei memberi kabar bahwa kerjaan Lian sekarang sedang terpuruk karena diserang secara membabi buta oleh musuh yang tak terlihat.


Di sisi lain istana, rupanya selir Ming Zhi Chui juga melakukan hal yang sama. Wanita itu juga memberikan kabar kepada ayahnya yang adalah kaisar Ming.

__ADS_1


Selir Xie Yu Mei sebenarnya tidak sudi dijadikan selir kaisar Lian. Tapi karena kerajaan Han sudah ditundukkan oleh kerajaan Lian, mau tidak mau wanita itu menuruti keinginan kaisar Lian.


Musibah besar yang menimpa kerajaan Lian dengan cepat tersebar di daratan China.


Kaisar Qin, keluarga Lee dan keluarga Chu merasa lega, akhirnya usaha Chu Pian Ran tidak sia-sia.


Begitu pula dengan jenderal Long Yuan, Qin Wu Zhu dan semua prajurit di markas perbatasan Qin, mereka menyambut berita itu dengan gembira.


Banyak orang yang merasa senang dengan kejadian itu, bahkan mereka mengatakan bahwa kerajaan Lian sekarang terkena 'karma'.


Bukan hanya itu saja, orang-orang di dataran China juga telah mendengar rumor bahwa malapetaka yang menimpa kerajaan Lian disebabkan oleh orang hebat dan misterius dari Kerajaan Qin.


Dari rumor yang beredar itulah banyak orang yang menjadi penasaran dan ingin mengetahui siapa sebenarnya orang misterius yang telah berhasil membuat kerajaan Lian kolaps seperti itu.


Sejak saat itu muncullah niat dari para kaisar kerajaan lain untuk mengadakan kerjasama dengan kerajaan Qin.


Setelah merasa yakin keadaan Lian sudah tidak berdaya, kupu-kupu jelmaan Chu Pian Ran pun berniat untuk kembali ke perbatasan.


Dengan segera kupu-kupu itu terbang meninggalkan ibukota Lian menuju perbatasan Qin.


Satu minggu kemudian, sampailah kupu-kupu itu di markas perbatasan Qin. Binatang itu lalu langsung ke kamar, merubah wujud menjadi manusia dan naik ke atas ranjang untuk tidur.


Keberadaan Chu Pian Ran yang sudah ada di dalam kamar belum diketahui oleh siapapun orang di dalam markas.


Karena lelah setelah melakukan pekerjaan besar dan perjalanan panjang, gadis itu sudah tertidur selama dua hari dua malam.


Chu Pian Ran baru terbangun saat merasakan perutnya perih karena kelaparan.


Beberapa orang prajurit yang melihat putri Nanyang yang tiba-tiba sudah keluar dari kamar sangat terkejut, dan segera melaporkan hal itu pada jenderal Long Yuan.


Kebetulan saat itu Qin Wu Zhu juga berada di ruang kerja pamannya.


Mendengar laporan dari prajurit, dengan segera kedua pria itu keluar ruangan dengan maksud menemui Chu Pian Ran.


Dalam perjalanannya menuju ke kamar gadis itu, merekapun bertemu Chu Pian Ran dan melihat gadis itu sedang memegang perutnya.


"Paman aku lapar sekali. Apakah paman punya makanan yang enak dan banyak?" Tanya Chu Pian Ran tanpa sungkan.


"Ah ya, kau sabar dulu ya, aku akan memerintahkan prajuritku untuk membeli makanan untukmu. Aku sama sekali tidak tahu jika kau sudah kembali, jadi kami hanya punya makanan yang biasa kami makan." Balas jenderal Long Yuan.


Tak menunggu lama pria paruh baya itu segera memanggil seorang prajurit dan memerintahnya untuk membeli makanan enak dan banyak di desa dekat markas.


Sambil menunggu makanannya datang, Chu Pian Ran dan Qin Wu Zhu duduk di depan teras dan berbincang.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Qin Wu Zhu.


"Bagaimana aku baik-baik saja, perutku saja lapar sekali." Balas Chu Pian Ran terus terang.


"Maksudku apakah kau terluka?" Lanjut pemuda itu.

__ADS_1


"Ada, di dalam perutku ini ada yang luka karena terlalu sering berpuasa." Kata Chu Pian Ran sambil jarinya menunjuk perutnya.


Jawaban gadis itu membuat Qin Wu Zhu merasa jengah. Maksud hati dia bertanya serius karena memang khawatir, namun jawaban Chu Pian Ran malah mengandung gurauan.


Setelah dua puluh menit menunggu, dari kejauhan datanglah prajurit yang ditugasi membeli makanan.


Melihat itu, Chu Pian Ran pun langsung berlari dan meminta buntelan yang dibawa prajurit itu lalu membawanya ke dalam kamar.


Qin Wu Zhu dan jenderal Long Yuan yang melihat tingkah gadis itu hanya terdiam.


Setelah makan sampai puas, Chu Pian Ran pun mandi lalu menulis surat untuk keluarganya.


Di surat itu, dia memberitahu bahwa tidak bisa pulang lebih awal karena berencana akan mencari obat untuk Lee Jiang Wook.


Sore harinya...


Saat ini Chu Pian Ran dan Qin Wu Zhu terlihat sedang bermain catur di depan teras ruang kerja jenderal Long Yuan.


"Apa kau akan langsung pulang ke ibukota?" Tanya Qin Wu Zhu sambil terus bermain catur.


"Tidak. Aku berencana akan mencari obat untuk Lee dulu." Balas Chu Pian Ran juga dengan pandangan tertuju pada permainan catur itu.


"Kemana kau akan mencari obat itu?" Lanjut pemuda itu.


"Aku juga belum tahu." Jawab Chu Pian Ran.


Untuk sesaat Qin Wu Zhu menghentikan permainan caturnya lalu menatap gadis yang ada di depannya itu.


Merasa diperhatikan, Chu Pian Ran juga melakukan hal yang sama.


"Kalau kau belum tahu tempatnya lalu bagaimana kau akan mencarinya?" Sambung Qin Wu Zhu.


"Aku akan bermeditasi dulu untuk meminta petunjuk. Selama ini banyak hal yang kudapatkan dari meditasiku." Jelas gadis itu.


Sedari tadi jenderal Long Yuan yang mendengar percakapan muda mudi itu pun keluar dari ruang kerjanya dan ikut mengobrol dengan mereka berdua.


"Lalu kapan kau akan berangkat Nanyang?" Sela jenderal Long Yuan.


"Tergantung seberapa cepat aku mendapat petunjuk itu paman." Ucap Chu Pian Ran.


"Bagaimana kalau aku ikut denganmu?" Tanya Qin Wu Zhu.


"Tidak, kau tidak perlu ikut kak, aku lebih suka melakukan ini sendiri." Balas gadis itu.


Jika Chu Pian Ran sudah mengatakan hal itu, maka tidak ada seorangpun yang bisa membantahnya.


Mulai keesokan harinya hingga tiga hari ke depannya Chu Pian Ran bermeditasi dengan khusyuk untuk meminta petunjuk dimana dia bisa mendapatkan obat yang bisa menyembuhkan kelumpuhan tunangannya.


Pada tengah malam di hari ketiga bermeditasi, muncullah suara batin yang kuat : 'pergilah ke hutan Jianfeng dan temuilah peri penunggu di sana, maka kau akan mendapatkan obat darinya'.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian terbukalah mata Chu Pian Ran. Gadis itu lalu menyudahi meditasinya dan pergi tidur sebelum dia melakukan perjalanan panjang ke hutan Jianfeng.


__ADS_2