Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 49 Chu Pian Ran Sadar


__ADS_3

Kediaman Tuan Chu


Setelah selama tiga minggu tubuh Ran Er dikelilingi oleh berkas-berkas sinar dan terangkat dari ranjang, kini tubuh itu kembali tergeletak di ranjang dan berkas sinar itu menghilang.


Dengan adanya perubahan itu tuan Chu memiliki keyakinan bahwa sebentar lagi putrinya akan terbangun.


Malam itu Lee kembali menawarkan dirinya untuk menjaga Ran Er. Seperti sebelumnya, pemuda itu akan berbaring di samping kekasihnya dan memeluk pinggangnya.


Keesokan dini hari, Ran Er merasa perutnya agak berat. Mata gadis itupun terbuka dan merasa heran bagaimana bisa pemuda itu tidur di sampingnya.


"Lee..." Panggil Ran Er dengan suara lemah.


Tubuh pemuda itu tetap diam tak bergerak dengan mata masih tertutup.


Ran Er mengulangi panggilannya.


Beberapa detik kemudian mata pemuda itu terbuka dan diapun terkejut.


"Sayang, kau sudah sadar?" Secara spontan karena senangnya Lee langsung menciumi wajah kekasihnya itu.


Kini sepasang kekasih itu berbaring dengan saling berhadapan. Mata Ran Er terlihat sayu karena gadis itu memang belum pulih sepenuhnya.


"Bagaimana bisa kau tidur di sampingku Lee?" Tanya Ran Er pelan.


"Semenjak kau sakit dan saat aku ingin menjagamu di malam hari, aku terbiasa seperti ini sayang. Paman dan bibi Chu juga tidak keberatan." Jawab Lee.


"Bagaimana keadaanmu sekarang sayang? Apakah tubuhmu terasa sakit?" Tanya Lee cemas sambil mengelus pipi kiri gadis itu.


"Badanku rasanya lemas sekali." Balas Ran Er lesu.


"Aku akan memberitahu paman dan bibi Chu jika kau sudah sadar. Mereka pasti sangat senang. Apa kau tahu, paman dan bibi Chu benar-benar khawatir dengan keadaanmu. Hampir setiap hari bibi Chu menangisimu." Terang Lee.


"Nanti saja Lee kau beritahu mereka. Berapa lama aku sudah tidak sadarkan diri?" Lanjut Ran Er.


"Tiga bulan sayang, kau koma selama tiga bulan." Sahut Lee.


"Bagaimana dengan iblis betina itu, apakah dia sudah musnah atau masih hidup?" Tanya Ran Er.


"Sayang, saat ini kau sedang sakit dan kau masih memikirkan makhluk yang sudah membuatmu seperti ini?" Ucap Lee.


"Iblis itu kuat sekali Lee, aku takut kalau dia mengamuk dan menyakiti banyak orang untuk balas dendam." Ujar Ran Er.


"Iblis itu sudah musnah sayang. Sudah ya kamu jangan membahas yang berat-berat dulu. Yang penting sekarang adalah kau cepat sembuh." Tambah Lee.


Lee kemudian menatap mata kekasihnya lekat-lekat.


Pemuda itu lalu mencium bibir pucat kekasihnya.


Ran Er membalas ciuman itu, dan mereka pun saling berciuman dengan lembut untuk melepaskan kerinduan.


Selama setengah jam mereka berdua saling bersentuhan bibir.


"Lee, aku lapar sekali." Kata Ran Er.


"Kalau begitu aku akan memberitahu paman dan bibi bahwa kau sudah sadar. Kau sabar dulu ya sayang." Balas Lee lalu mencium kening gadis itu sebelum meninggalkan kamar.


Tuan dan nyonya Chu sangat senang saat diberitahu Lee bahwa putri mereka sudah sadar.

__ADS_1


Tak lupa Lee juga memberitahu bahwa saat ini Ran Er sedang kelaparan.


Tuan Chu dan Lee lalu berjalan menuju kamar Ran Er, sedangkan nyonya Chu membangunkan beberapa pelayan agar menyiapkan makanan untuk putrinya.


Setelah mendengar bahwa nona mereka telah sadar, para pelayan itu sangat senang. Dengan segera merekapun memasak makanan di dapur.


Sekarang ini nyonya Chu sudah duduk di tepi ranjang putrinya sambil membelai rambut gadis itu.


"Maaf ayah, ibu, aku sudah membuat kalian khawatir lagi..." Kata Ran Er.


"Sudahlah sayang, tidak perlu berkata seperti itu... Yang penting sekarang kamu sudah sadar." Balas nyonya Chu.


"Apa yang kamu rasakan sekarang nak? Apakah punggungmu sakit?" Lanjut nyonya Chu.


Tuan dan nyonya Chu pernah mendapat laporan hasil pemeriksaan dari tabib Lou bahwa putri mereka selain organ dalamnya luka juga mengalami retak tulang punggung.


"Punggungku baik-baik saja bu. Sekarang yang aku rasakan adalah lemas dan lapar." Ucap Ran Er.


"Kamu sabar ya sayang, ibu sudah menyuruh para pelayan untuk memasak makanan untukmu." Ujar nyonya Chu.


Tiga puluh menit kemudian, Xi Er dan dua orang pelayan lainnya masuk ke kamar Ran Er untuk mengantarkan makanan yang telah matang.


Para pelayan itu kemudian menata makanan itu di atas meja.


Karena kondisi Ran Er masih belum baik, meja itu dipindah di dekat ranjang Ran Er oleh tuan Chu dan Lee.


Karena memang sangat lapar, Ran Er makan tidak menggunakan sumpit tapi langsung menggunakan tangan agar lebih cepat kenyang.


Melihat cara makan gadis itu, tuan Chu, nyonya Chu dan Lee hatinya sangat terenyuh.


Setelah merasa kenyang dan mencuci tangan, Ran Er ingin melanjutkan tidurnya lagi.


Kabar tentang sadarnya nona Chu telah sampai di telinga Qin Wu Zhu.


Dengan segera pemuda itu menyuruh Lu Zee untuk mengantarkan sekeranjang besar buah-buahan yang kualitasnya bagus dan selembar surat di kediaman tuan Chu untuk gadis itu.


Kediaman Tuan Chu


Pada siang hari Xi Er masuk ke kamar nonanya sambil membawa sekeranjang besar buah-buahan lalu meletakkannya di meja.


"Nona, ini ada kiriman buah untukmu." Kata Xi Er.


"Darimana Xi?" Tanya Ran Er.


"Aku tidak tahu nona. Tapi di sini juga ada suratnya." Lanjut Xi Er lalu mengambil gulungan surat itu dan menyerahkan pada nonanya yang sedang berbaring di ranjang.


Xi Er kemudian duduk di tepi ranjang majikannya itu.


Ran Er membuka gulungan surat itu lalu membacanya.


Tuan Song aku sangat lega saat mendengar bahwa kau sudah sadar.


Ini aku memberikan buah-buahan untukmu agar cepat sembuh.


Jaga dirimu baik-baik, suatu saat jika kau sembuh aku ingin bertemu denganmu.


Qin Wu Zhu

__ADS_1


Setelah membaca surat itu alis Ran Er berkerut. Dalam surat tadi jelas tertulis kata 'tuan Song'.


Apakah Qin Wu Zhu sudah tahu bahwa aku adalah tuan Song? Darimana dia tahu identitasku? Hati Ran Er bertanya-tanya.


"Kenapa nona? Dari siapa surat itu?" Tanya Xi Er penasaran karena melihat raut wajah nonanya berubah setelah membaca surat itu.


"Xi, kau bakarlah surat ini." Belum juga menjawab pertanyaan pelayannya itu, Ran Er malah menyuruhnya untuk membakar surat. Xi Er menjadi semakin penasaran.


"Dibakar nona? Kenapa?" Selidik Xi Er.


"Sudahlah bakar saja. Dan ingat, jangan coba-coba kau membaca surat itu." Pesan Ran Er.


Tanpa banyak tanya lagi Xi Er melakukan perintah nona mudanya.


Sore harinya Lee datang lagi di kediaman paman Chu tapi kali ini bersama kedua orang tuanya.


Tuan dan nyonya Lee merasa senang karena Ran Er kini telah sadar.


Sore itu di kamar Ran Er terlihat cukup ramai karena anggota keluarga Chu dan anggota keluarga Lee telah berkumpul di situ.


Setelah dua jam bertamu, tuan dan nyonya Lee undur diri pamit pulang, sedangkan Lee masih ingin menemani kekasihnya itu.


Saat ini di kamar Ran Er tinggal Lee dan gadis itu.


Lagi-lagi Lee naik ke atas ranjang Ran Er lalu membaringkan tubuhnya dengan kepala menghadap kekasihnya.


"Sayang, apakah kau sudah merasa lebih baik dari tadi pagi?" Tanya Lee sambil membelai rambut kekasihnya.


"Masih sama saja, badanku terasa lemas sekali." Jawab Ran Er.


"Lee, apakah kau tahu bagaimana caranya aku dari Qianzhong dibawa pulang ke ibukota?" Lanjut gadis itu.


"Aku sama sekali tidak tahu sayang. Sepertinya paman Chu yang sudah mengatur semuanya. Memangnya kenapa?" Tanya Lee.


"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya saja." Ucap Ran Er.


Lee mendekatkan wajahnya pada wajah kekasihnya itu lalu mulailah dia menciumi wajah gadis itu dengan rasa sayang. Ran Er hanya pasrah saja dengan sikap Lee.


"Sayang, aku benar-benar merindukanmu, rasanya aku ingin terus bersamamu dan tidak ingin berpisah lagi." Ujar Lee mengungkapkan isi hatinya.


Lee kemudian sedikit menurunkan selimut Ran Er, lalu menarik sedikit kerah baju pakaian kekasihnya itu untuk mengintip sesuatu yang ada di dalamnya.


"Sayang tubuhmu terlihat sangat kurus." Ucap Lee sambil tangannya mulai menyusup di balik baju Ran Er.


"Lee aku ini sedang sakit, kau malah mengambil kesempatan dalam kesempitan." Kata Ran Er, tapi gadis itu tidak mencegah kenakalan tangan Lee.


"Itu karena aku sangat merindukanmu sayang. Kau tahu bagaimana tersiksanya orang yang terkena penyakit rindu? Aku sampai kehilangan semangat hidup karena kau tinggal pergi lagi." Terang Lee.


Kini tangan pemuda itu sudah berhasil menyentuh salah satu bagian tubuh Ran Er, lalu dengan lembut membelainya termasuk puncaknya.


Sambil melakukan itu mata Lee menatap lekat mata kekasihnya itu.


Saat ini tangan kiri Lee sudah menopang kepala Ran Er, sehingga wajah mereka sangat dekat sekali.


Beberapa detik kemudian dua insan itupun saling berciuman lembut.


Tangan kanan pemuda itu masih belum juga berhenti membelai bagian tubuh Ran Er yang ada di balik bajunya.

__ADS_1


"Sayang, aku sangat sangat mencintaimu..." Kata Lee.


__ADS_2