Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 127 Qin Wu Zhu Menggoda Lee Chu Mian Yin


__ADS_3

Sementara itu, Gang Shuang dan beberapa pegawainya yang melihat 'kejadian luar biasa' dari balik gerbang kediaman Chu pun akhirnya membubarkan diri setelah Dewa Shao Hao dan burung raksasanya menghilang dari pandangan di langit yang gelap.


Si kepala biro keamanan pulang ke kediamannya, Meng Fei dan seorang temannya lagi melanjutkan patroli malam, sedangkan petugas yang lain kembali ke kantor.


*


Keesokan harinya...


Berita tentang datangnya Dewa Shao Hao dan burung raksasanya ke kediaman Chu mulai menyebar dari mulut ke mulut, siapa lagi yang memulainya jika bukan beberapa petugas dari biro keamanan yang kemarin malam menyaksikan secara langsung 'peristiwa luar biasa' itu.


Dari sekian penduduk ibukota yang telah mendengar kabar tersebut, sebagian besar ada yang percaya dengan disertai rasa terkejut dan kagum pada keluarga tuan Chu, sedangkan sebagian kecilnya lagi tidak mau percaya bahkan hanya menganggapnya sebagai 'bualan' semata, karena mengingat para dewa dewi tempatnya ada di dunia atas dan 'sangat mustahil' jika mau datang ke dunia manusia.


Seperti yang telah dijanjikannya kemarin, hari ini Dewa Shao Hao datang kembali ke kediaman Chu sambil membawa seekor burung merak jantan yang sangat cantik bulunya untuk Lee Chu Mian Yin. Tentu saja pemberian si Dewa Burung membuat gadis kecil itu sangat senang.


Karena Dewa Shao Hao ada urusan penting yang harus segera dikerjakan, maka Dewa Burung itu pun langsung pamit undur diri setelah menyerahkan burung merak itu.


Saat ini, tampaklah nyonya Chu dan Lee Chu Mian Yin sedang berada di taman bunga, dengan gadis kecil itu duduk jongkok di depan si burung merak sambil tangan kanannya mengelus bulu berwarna biru cerah yang menutupi tubuh binatang itu.


"Lihat nek, bulungnya cantik sekali ya...," ucap Lee Chu Mian Yin pada neneknya yang saat itu juga sedang duduk jongkok di samping kiri cucunya.


"Iya sayang, burung merak jantan itu memang salah satu burung yang paling cantik di dunia, selain itu harganya juga sangat mahal, apalagi ini burung merak jantan spesial milik Dewa Burung, pasti tak ternilai harganya... Makanya dirawat yang baik ya burung meraknya...," timpal wanita paruh baya itu.


"Iya nek, Yin'el akan lawat bulung melaknya dengan baik...," sahut gadis kecil itu.


"Halo bulung melak, pelkenalkan namaku Yin'el...," kata Lee Chu Mian Yin memperkenalkan dirinya pada si burung merak.


"Keeer, keeer...," burung merak itu mengeluarkan suaranya.


"Kamu sudah makan apa belum?" tanya gadis kecil itu dan dibalas dengan anggukan dari binatang berbulu indah itu.


"Makananmu apa bulung cantik?" lanjut Lee Chu Mian Yin yang dijawab dengan gerakan paruh binatang itu.


"O makananmu buah-buahan juga sepelti Jinying?" sambung gadis cilik itu yang diberi anggukan kepala oleh si burung merak.


Belasan menit kemudian, terlihatlah Lee Chu Mian Yin sedang bermain kejar-kejaran dengan si burung merak di sekitar taman bunga. Sementara itu, neneknya telah masuk ke dalam kediaman utama karena ada hal yang harus dikerjakan.


Saat beberapa pelayan lewat di dekat taman dan melihat burung merak itu, mereka pun mampir sebentar untuk menyaksikan keindahan bulu si burung merak.


Rupanya, berita tentang datangnya Dewa Burung bersama burung raksasa peliharaannya di kediaman Chu juga sampai di telinga Qin Wu Zhu dan Han Zhuo Jin yang saat itu si kedua pangeran tampan kebetulan sedang berada di area pembangunan rumah khusus untuk para tunawisma.


Setelah mendengar kabar tersebut, mereka berdua pun berniat mampir di kediaman Chu sebelum kembali ke istana.


Kini, terlihatlah Qin Wu Zhu dan Han Zhuo Jin telah sampai di depan kediaman Chu. Tak berapa lama, kedua pangeran tampan itu pun turun dari punggung kudanya masing-masing lalu menambatkan binatang berkaki empat itu pada sebuah palang kayu yang memang khusus digunakan untuk menambatkan kuda.


Sesudah menapakkan kakinya beberapa langkah, Qin Wu Zhu dan Han Zhuo Jin pun secara serempak menghentikan langkahnya saat mata mereka melihat sosok Lee Chu Mian Yin yang sedang bermain kejar-kejaran dengan burung merak yang bulunya dalam keadaan mengembang.


Otomatis, keindahan bulu binatang berkaki dua itu pun membuat kedua pangeran itu sangat terpesona, karena memang pada saat itu di daratan China, burung merak adalah binatang yang sangat langka.


"Paman Ju, paman Jin, Yin'el punya bulung melak yang cantik loo...!" seru Lee Chu Mian Yin memamerkan burung berbulu indah itu pada Qin Wu Zhu dan Han Zhuo Jin sambil melambaikan tangan kanannya.


Beberapa detik kemudian, kedua pangeran itu pun melanjutkan langkah kakinya untuk mendekati gadis kecil dan burung merak itu.

__ADS_1


"Darimana kau mendapatkan burung merak ini Yin'er?" tanya Qin Wu Zhu penasaran sambil matanya menatap keindahan bulu binatang yang masih dalam keadaan mengembang itu.


"Ini dibeli oleh paman dewa sebagai gantinya Jinying...," jawab Lee Chu Mian Yin jujur.


"Paman dewa? Maksudnya Dewa Burung?" lanjut pangeran kedua kaisar Qin.


"Iya...," balas gadis kecil itu.


"Lalu siapa itu Jinying?" imbuh pangeran tampan berwajah dingin itu.


"Jinying itu bayi bulung elang emas anak dali bulung elang emas laksasa miliknya paman dewa...," jelas Lee Chu Mian Yin dengan tubuh menghadap pada paman angkatnya itu.


Untuk sesaat, Qin Wu Zhu pun berdiam diri dengan alis sedikit berkerut karena sedang mencerna arah cerita putrinya Chu Pian Ran yang menurutnya lumayan rumit itu.


" Apakah Jinying itu ditemukan oleh ibumu?" sambung jendral muda itu sambil menoleh pada gadis kecil yang saat ini berdiri di samping kanannya itu.


"Ibu menemukan Jinying saat masih telul paman... Telulnya besal lo paman, segini...," ucap Lee Chu Mian Yin sambil melengkungkan kedua tangannya di depan tubuhnya membentuk seperti lingkaran sebesar telur yang pernah ditemukan oleh ibunya.


"Begitu ya...," Qin Wu Zhu sedikit manggut-manggut karena sudah mulai paham dengan maksud cerita dari putrinya Chu Pian Ran itu.


"Lalu kenapa Jinying nya ditukar?" buru pangeran kedua kaisar Qin itu karena ingin tahu kebenarannya secara detail.


"Kata paman dewa, Jinying nya bisa jadi incalan iblis atau siluman jahat, kalena hati dan jantungnya bisa untuk meningkatkan kekuatan suplanatulal...," terang gadis kecil yang cerdas itu.


"Ya ya, aku paham sekarang... Kira-kira kalau burung meraknya paman beli boleh tidak?" lanjut pemuda tampan itu.


"Ye enak saja dibeli! Ini kan bulung pembelian paman dewa untuk Yin'el," ujar Lee Chu Mian agak sengit seperti gaya bicara ibunya dengan wajah cemberut sambil matanya mulai mendelik pada paman angkatnya itu.


"Ayolah sayaang, jangan pelit seperti itu... Paman beli mahal deh...," seumur-umur, baru kali ini Qin Wu Zhu 'merayu' seseorang karena memang menginginkan burung merak itu.


Han Zhuo Jin yang sedari tadi hanya berdiam diri sambil menyimak percakapan antara pangeran kedua kaisar Qin dan putrinya Nanyang pun menjadi tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu paman ganti dengan burung pegar emas ya, Yin'er mau tidak? Burungnya juga cantik, lincah dan 'genit' loo...," kata Qin Wu Zhu mulai sembarangan bicaranya.


Untuk sesaat suasana pun menjadi hening karena Lee Chu Mian Yin terlihat sedang berpikir.


"Memangnya bulung pegal emas itu sepelti apa?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya.


"Ya 'hampir' sama dengan burung merak...," sahut pangeran kedua kaisar Qin itu berbohong.


"Paman punya bulung itu? Boleh Yin'el lihat?" sambung Lee Chu Mian Yin penasaran.


"La kan burung pegar emasnya sudah ada di rumah Yin'er..." balas Qin Wu Zhu dengan wajah yang tampak biasa saja padahal pemuda itu sedang menahan rasa geli dalam hatinya karena berhasil mengerjai ponakan angkatnya itu.


Nyonya Chu yang sedari tadi mendengar pembicaraan antara Qin Wu Zhu dan cucunya dari balik pintu kediaman utama itu pun tertawa pelan sambil tangan kanannya memegang perutnya yang kaku. Sebenarnya, wanita paruh baya itu sudah tahu ujung pembicaraan pangeran kedua kaisar Qin itu.


"Mana ada bulung pegal emas di lumah Yin'el?" tanya gadis kecil itu dengan lugunya.


"La kan bibi Zhin Zhuan mu itu peri burung pegar emas, dia juga bisa dijadikan binatang peliharaanmu..." jawab Qin Wu Zhu yang akhirnya sampai pada puncak kebohongannya.


Mendengar perkataan paman angkatnya yang sembarangan, Lee Chu Mian Yin pun langsung memukuli dan menendang-nendang Qin Wu Zhu, namun pangeran tampan itu selalu berhasil menghindar.

__ADS_1


"Paman Ju nakal, jelek, belani-belaninya bicala sembalangan tentang bibi Jin Juan. Awas ya nanti Yin'el adukan pada bibi Jin Juan," ujar Lee Chu Mian Yin dengan masih terus berusaha menyerang paman angkatnya itu.


"Adukan saja, paman tidak takut...," timpal Qin Wu Zhu sambil terus menghindar dari serangan ponakan angkatnya itu.


Menyaksikan tingkah konyol antara pangeran kedua kaisar Qin dengan putrinya Nanyang, Han Zhuo Jin pun tersenyum geli.


"Yin'er!"


Tiba-tiba sebuah suara tegas menghentikan serangan Lee Chu Mian Yin pada Qin Wu Zhu.


"Tidak boleh bersikap seperti itu pada paman Zhu," ujar tuan Chu sambil menatap cucunya begitu pria paruh baya itu telah ada di dekat gadis kecil itu.


Rupanya, saat tuan Chu telah pulang dari sidang rutin di istana, pria paruh baya itu kebetulan melihat Lee Chu Mian Yin sedang memukuli dan menendang-nendang Qin Wu Zhu tanpa tahu masalah apa yang sedang terjadi yang akhirnya membuat tuan Chu sedikit memberi teguran pada cucunya itu.


"Habis, paman Ju nakal dan bicalanya sembalangan kek... Katanya bulung melak Yin'el mau diganti dengan bibi Jin Juan. Masa' bibi Jin Juan mau dijadikan binatang pelihalaan Yin'el...," adu Lee Chu Mian Yin dengan jujur yang tentu saja membuat pangeran kedua kaisar Qin itu 'sedikit' malu pada penasehat kerajaan itu.


Mendengar penjelasan polos dari cucunya, tuan Chu pun sebenarnya lumayan terkejut karena baru kali ini pangeran kedua kaisar Qin itu bersikap demikian. Namun, karena tidak berani menyinggung Qin Wu Zhu, maka pria paruh baya itu pun mengalihkan pembicaraan.


"O, burung meraknya sudah diantar?" ucap tuan Chu.


"Sudah sedali tadi, cantik kan kek...," sahut Lee Chu Mian Yin sudah mulai lupa dengan rasa jengkelnya pada paman angkatnya.


"Iya burung meraknya sangat cantik... Dirawat yang baik ya Yin'er...," kata pria paruh baya itu.


"Iya kek, bulung melaknya akan Yin'el lawat dengan baik...," balas cucunya.


"Jadi betulan burung meraknya tidak boleh dibeli?," sela Qin Wu Zhu mulai membangkitkan kembali amarah ponakan angkatnya.


"Tidak boleh! Pokoknya Yin'el tidak akan menjual bulung melak itu. Awas ya kalau paman belani menculinya saat malam hali. Yin'er akan mengadukan paman Ju pada ibu," ujar gadis kecil itu sambil menatap pangeran kedua kaisar Qin itu.


Malam harinya, karena kandang untuk si burung merak belum jadi, maka binatang berbulu indah itu pun tidur di kamar Lee Chu Mian Yin dengan beralaskan sepotong selimut tebal.


****


Tiga hari kemudian (waktu yang berlaku di dunia atas)


Bagian luar Istana Dewa Shao Hao


Di sebuah lahan yang lumayan luas, yang nampak asri, sejuk dan banyak pohon buah-buahannya, tampaklah si Jinying sedang membujuk ibunya agar mengantarnya ke rumah Lee Chu Mian Yin, dan tentu saja dibalas dengan gelengan kepala yang tegas dari si induk burung.


Baru saja dia pulang dan berkumpul kembali dengan induknya, tapi bayi burung itu sudah merasa rindu saja dengan putrinya Chu Pian Ran. Harap maklum, saat dia keluar dari cangkang telur, yang pertama kali dia lihat adalah wajahnya Lee Chu Mian Yin.


"Ki kik, ki kik, ki kik, ki kik...," bayi burung elang emas itu masih berusaha terus merayu ibunya namun hasilnya masih tetap sama.


Karena si induk burung kukuh dengan pendiriannya, maka si Jinying pun melangkahkan kedua kaki pendeknya menjauh dari ibunya dengan wajah sedih lalu dia pun berhenti di balik sebuah pohon besar, menekuk kedua kakinya dan kemudian berdiam diri saja di tempat itu hingga lebih dari dua jam.


Melihat 'aksi ngambek' dari anak satu-satunya itu, si induk burung pun menjadi tidak tega dan akhirnya binatang raksasa itu pun menegakkan kedua kakinya yang kuat yang awalnya tadi dia tekuk, lalu induk burung itu pun berjalan beberapa langkah untuk mendekati bayinya dan menggerak-gerakkan paruhnya di depan si Jinying, yang arti gerakan paruhnya adalah : 'baiklah, untuk sekali ini ibu akan menuruti permintaanmu, tapi lain kali ibu tidak mau mengantarmu lagi karena ini sangat berbahaya untukmu'.


Spontan, bayi burung elang emas yang tadinya duduk tepekur dengan sedih itu, akhirnya melompat-lompat kegirangan sambil mengepak-ngepakkan sayapnya yang pendek.


"Kik kiiik, kik kiiik," Jinying pun mengeluarkan suara yang artinya : 'ayo bu, kita segera berangkat'.

__ADS_1


Karena Dewa Shao Hao sedang tidak ada di istana, maka ibunya Jinying pun nekat mengantar anaknya ke rumah Lee Chu Mian Yin tanpa menunggu kepulangan si Dewa Burung terlebih dahulu.


Kini, tampaklah burung elang emas raksasa itu sedang terbang di angkasa sambil cakar kaki kanannya menjepit si Jinying.


__ADS_2