
Istana Kerajaan Qin
"Long Yuan, bagaimanakah hasil penyelidikan prajuritmu? Apakah mereka sudah mendapat petunjuk tentang si pelaku?" Tanya kaisar pada adiknya itu.
"Menjawab yang mulia kaisar, berdasarkan penyelidikan kami, beberapa hari sebelum pangeran Qin Wu Zhu dan Lu Zee dicelakai, ada lima orang pria pendatang masuk ke ibukota dan menginap di sebuah penginapan selama beberapa hari. Ada penduduk yang mengatakan jika perilaku mereka sedikit mencurigakan. Dan yang lebih aneh lagi, mereka keluar penginapan tanpa pemberitahuan dulu kepada si pemilik bertepatan dengan pangeran Qin Wu Zhu dan Lu Zee dicelakai." Terang jenderal Long Yuan.
"Benarkah itu? Lalu siapakah mereka?" Lanjut kaisar.
"Benar yang mulia. Untuk identitas kelima orang itu dan dimana mereka sekarang, kami masih terus menelusurinya. Tapi menurut hamba mereka sepertinya mata-mata dari Lian yang mulia." Jawab Long Yuan.
Mendengar jawaban adiknya itu, kaisar Qin terkejut.
"Mata-mata Lian? Kau yakin? Lalu apa alasannya mereka datang ke ibukota?" Sambung kaisar.
"Itu masih dugaan hamba sementara yang mulia. Hamba memiliki pemikiran bahwa mereka datang ke ibukota terkait dengan keberadaan tuan Song. Terakhir kali tuan Song terluka parah dan sempat dirawat sementara oleh pangeran Qin Wu Zhu. Jadi mungkin saja mereka melukai pangeran Qin Wu Zhu dan Lu Zee karena tidak mau memberitahu dimana keberadaan pria bertopeng itu." Jelas Long Yuan.
"Jadi maksudmu mereka mencari tuan Song untuk mengajaknya bersekutu dengan mereka?" Tanya kaisar.
"Menurut hamba seperti itu yang mulia. Karena mereka juga mendengar kehebatan tuan Song, jadi mereka ingin mengajak pria itu bergabung." Sahut Long Yuan.
"Jika itu benar-benar terjadi maka nasib kerajaan Qin bisa di ujung tanduk. Tapi setahuku pria bertopeng itu bukan tipe orang yang mudah tergoda oleh iming-iming duniawi." Ucap kaisar.
"Benar sekali yang mulia, hamba juga sepemikiran. Tapi tidak ada salahnya kita terus bersiaga agar siap menghadapi kemungkinan terburuk terjadi." Kata jenderal itu.
"Kau benar Long Yuan. Urusan keamanan Qin aku serahkan padamu. Dan jangan lupa, suruh prajurit penjaga gerbang untuk memperketat masuknya orang-orang ke ibukota." Pesan kaisar.
"Untuk hal itu sudah hamba laksanakan selama dua minggu ini yang mulia." Balas Long Yuan.
"Baiklah kalau begitu, kau boleh pergi sekarang. Jika ada berita lagi segera kau hubungi aku." Lanjut kaisar.
"Baik yang mulia, hamba undur diri dulu."
Setelah berpamitan dan memberi hormat, jenderal Long Yuan meninggalkan ruang kerja kakaknya.
Seperti biasa, tabib akan memeriksa Qin Wu Zhu dan Lu Zee setiap paginya sambil terus menyembuhkan luka-luka yang ada di sekujur tubuh dua pemuda itu.
Namun hari ini beberapa tabib merasa heran setelah melakukan pemeriksaan karena mereka mendeteksi bahwa kadar racun dalam tubuh Qin Wu Zhu dan pengawalnya itu sudah berkurang sehingga keadaan dua pemuda itu menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dengan segera tabib Xie dan tabib Nuan memberikan laporan tersebut pada kaisar Qin.
"Benarkah itu tabib?" Tanya kaisar dengan nada tak percaya.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan kami hari ini memang demikian adanya yang mulia. Denyut nadi yang mulia pangeran dan tuan muda Lu Zee mulai stabil." Jelas tabib Xie.
"Aneh sekali, bagaimana bisa tiba-tiba seperti itu? Bukankah kalian mengatakan kalau mereka berdua kena racun langka?" Tanya kaisar lagi untuk memastikan.
__ADS_1
"Masalah racun itu benar adanya yang mulia. Sedangkan untuk keanehan yang terjadi, kami masih belum tahu penyebabnya." Terang tabib Nuan.
Untuk sesaat kaisar Qin Shi Huang terdiam. Pria itu kelihatan sedang berpikir.
"Ya sudah, kalian lanjutkan terus tugas yang aku berikan. Jika ada apa-apa lagi segera laporkan padaku." Perintah kaisar.
"Baik yang mulia." Jawab kedua tabib itu serempak.
Keanehan yang terjadi pada tubuh Qin Wu Zhu dan Lu Zee menjadi bahan perbincangan hangat di biro tabib istana.
Tabib Lou yang sering menangani nona Chu yang mengalami hal yang serupa, akhirnya mengaitkan keanehan itu.
Berita terbaru tentang Qin Wu Zhu yang dinyatakan lebih baik dari sebelumnya disambut gembira oleh semua penghuni istana khususnya anggota keluarganya.
Saat ini keempat saudaranya sedang berkumpul di kamar Qin Wu Zhu.
"Aku harap dengan berita baik ini, keadaan kakak kedua semakin lebih baik lagi dan sembuh seperti sediakala." Kata Wang Er.
"Kita semua juga berharap seperti itu Wang Er. Sampai sekarang pun pelakunya masih belum tertangkap juga. Aku penasaran sekali, siapa yang berani berbuat demikian pada anggota kerajaan." Ucap Zhi Er.
"Aku baru mendapat kabar dari paman Long jika pelakunya kemungkinan adalah orang Lian." Ujar Zhang Er.
"Orang Lian? Benarkah itu kakak pertama?" Tanya Wang Er sedikit terkejut.
"Kemungkinan besar demikian." Jawab Zhang Er.
"Mereka sedang mencari keberadaan pria bertopeng." Lei Er yang sedari tadi berdiam diri akhirnya membuka suara.
"Sepertinya mereka sedang mengincar tuan Song agar mau bersekutu dengan mereka." Tambah Zhang Er
"Dengan sifat tuan Song yang tulus seperti itu, aku rasa dia tidak akan mau bersekutu dengan Lian yang terkenal licik itu." Kata Zhi Er.
"Aku pun juga berpikir demikian. Tapi sekarang pria bertopeng itu seolah-olah menghilang bak ditelan bumi setelah terluka parah akibat bertarung dengan iblis di Qianzhong." Sahut Zhang Er.
"Kakak kedua yang terakhir kali bersamanya saja juga tidak tahu dimana keberadaannya sekarang. Aku benar-benar penasaran sekali dengan pria itu. Andai saja aku bisa berguru padanya pasti aku akan hebat seperti dia." Ucap Wang Er.
Tengah malamnya...
Untuk kesekian kalinya Chu Pian Ran berusaha untuk mengobati Qin Wu Zhu. Tengah malam ini merupakan yang ketiga kalinya gadis itu datang ke kamar Qin Wu Zhu.
Setelah melakukan proses pengobatan selama dua jam dan membaringkan lagi tubuh pemuda itu, tiba-tiba tangan kanan Qin Wu Zhu mencekal pergelangan tangan kiri Chu Pian Ran.
Gadis itu lumayan terkejut. Untuk pergi dari tempat itu tanpa sepengetahuan si pemilik kamarpun sudah tidak mungkin lagi.
"Nona Chu..." Kata pemuda itu pelan.
__ADS_1
"Yang mulia pangeran, anda sudah sadar?" Tanya Chu Pian Ran.
"Apakah aku sedang sakit? Tubuhku rasanya benar-benar tidak nyaman..." Lanjutnya dengan suara lemah.
"Benar yang mulia pangeran, anda sedang sakit keras dan saya berusaha untuk menyembuhkan anda." Terang Chu Pian Ran.
"Nona Chu, tolong jangan pergi, temanilah aku di sini..." Pinta pemuda itu dengan masih memegang pergelangan tangan kiri Chu Pian Ran.
"Yang mulia pangeran, saat ini anda sedang sakit, sebaiknya anda kembali istirahat." Ucap Chu Pian Ran.
"Aku mohon nona Chu, tolonglah temani aku..." Pemuda itu memohon dengan wajah yang sedih dan pucat.
Mau tidak mau, akhirnya Chu Pian Ran menuruti pemuda itu. Dia lalu duduk di tepi ranjang Qin Wu Zhu.
Pemuda itu sekarang sudah menggenggam tangan kanan Chu Pian Ran dan meletakkannya di atas dadanya.
"Terimakasih..." Kata pemuda itu pelan.
Tak berapa lama, pemuda itu kembali tertidur dengan tangan kanannya masih menggenggam tangan kanan Chu Pian Ran dengan kuat.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengintip mereka dari celah pintu kamar.
Sepasang mata itu adalah milik pangeran ketiga, Qin Wu Lei.
Entah apa sebabnya, tengah malam tadi dia tiba-tiba ingin menjenguk kakaknya.
Dan saat sampai di depan pintu kamar dia sangat terkejut saat melihat ada seorang gadis yang sedang mengobati kakaknya itu.
Ingatan Qin Wu Lei masih sangat jelas jika gadis itu adalah putri penasehat kerajaan yang sempat membuat heboh pada saat acara pentahbisan selir.
Qin Wu Lei masih terus mengawasi gerak-gerik gadis itu.
Setelah satu jam kemudian dirasa genggaman tangan Qin Wu Zhu melemah, Chu Pian Ran menarik tangan kanannya dan bangkit berdiri.
Setelah memejamkan mata sebentar gadis itupun merubah wujudnya menjadi kupu-kupu lalu terbang keluar kamar melalui ventilasi.
Bukan main terkejutnya Qin Wu Lei menyaksikan kejadian itu.
Rasanya dia benar-benar tidak percaya jika ada manusia bisa merubah dirinya menjadi binatang.
****
Keesokan harinya, terdengarlah kabar di kediaman Chu bahwa pangeran Qin Wu Zhu dan Lu Zee sudar sadar.
Semua penghuni istana sangat senang dengan peristiwa ini.
__ADS_1
Dengan terus mendapatkan perawatan dari tabib, keadaan kedua pemuda itu semakin lama semakin membaik.
Akhirnya sayembara itu ditarik kembali oleh kaisar karena dirasa sudah tidak diperlukan lagi.