Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 107 Mustika Kehidupan Dewi Bulan (1)


__ADS_3

Keesokan harinya, Bei Mang, si kepala biro keamanan dengan ditemani Wang Shu Jung, berkunjung ke satu persatu rumah korban siluman Xhian Shi Mei untuk memberitahu bahwa mayat anggota keluarga mereka telah ditemukan dan saat ini telah dimakamkan di suatu tempat.


Maka, atas keinginan anggota keluarga masing-masing, kuburan itu dibongkar lagi dengan maksud untuk mengkremasi jenazah itu.


Begitu mendapat kabar jika ayahnya sudah meninggal, maka kedua anak laki-laki Phang Shu Jing kembali ke Kota Huang Chang untuk meneruskan bisnis ayahnya sekaligus menemani ibu tercintanya yang selama ini mereka telah tahu jika wanita yang sudah melahirkan mereka berdua sering memendam kesedihan akibat kelakuan ayahnya. Sementara itu, bisnis yang ada di luar kota, mereka serahkan kepada orang kepercayaan untuk dikelola.


Jika boleh jujur dari kedalaman hati, kedua pemuda itu merasa lega karena ayah mereka yang tidak bisa memberikan teladan yang baik untuk istri dan anaknya itu telah tiada, dan penyebab kematiannya juga akibat tabiat buruknya yang suka 'jajan' di rumah bordil itu.


Sebagai rasa terimakasih karena jasad anggota keluarganya telah ditemukan, maka ketiga keluarga itu datang berkunjung ke rumah kepala biro keamanan untuk menemui putri angkat kaisar dan kedua rekannya.


Selain mengucapkan terimakasih, di kesempatan itu mereka juga memberikan bingkisan sebagai kenang-kenangan. Awalnya, Chu Pian Ran sempat menolak dengan halus pemberian mereka. Namun, karena ketiga keluarga itu sangat berharap agar nyonya muda Lee menerimanya, maka mau tidak mau, perempuan cantik itu pun akhirnya bersedia menerima bingkisan mereka.


Karena urusan di Kota Huang Chang telah selesai, maka Chu Pian Ran dan yang lainnya berpamitan untuk kembali ke ibukota Qin.


Setelah mendapatkan ucapan terimakasih dari kepala biro keamanan, segera berangkatlah mereka bertiga dan meninggalkan Kota Huang Chang.


****


Empat hari kemudian...


"Aku sangat merindukanmu, sayang...," ucap Lee Jiang Wook pada istri tercintanya malam itu dengan suara pelan agar tidak mengganggu putri kecilnya yang saat itu sedang tidur dengan posisi membelakangi kedua orang tuanya.


Tak berapa lama, ayah muda itu pun menciumi wajah cantik istrinya dengan lembut sambil tangan kanannya mulai merayap masuk di balik pakaian Chu Pian Ran.


Begitu menemukan bagian tubuh istrinya yang sangat diinginkannya saat itu, jari-jarinya pun mulai mengelus, memijit dan memainkan puncaknya dengan lembut.


Beberapa saat kemudian, terlihatlah pasangan suami istri itu saling berciuman lembut untuk beberapa menit sambil tangan kanan Lee Jiang Wook terus bergerak pelan di gundukan kiri istri tercintanya.


Baru saja gairah cinta mereka mulai menyala, tiba-tiba terdengar ocehan pelan dari bibir mungil Lee Chu Mian Yin, yang rupanya gadis cilik itu sedang mengigau.


Mau tidak mau, Lee Jiang Wook pun menarik tangan kanannya dari balik pakaian istrinya. Sementara itu, dengan segera nyonya muda Lee meraih tubuh putrinya dan membalikkan posisi tidurnya sehingga putrinya itu sekarang berhadapan dengan dirinya, lalu perempuan cantik itu pun memeluk sambil menepuk-nepuk pelan punggung putri kesayangannya. Tak berapa lama, gadis cilik itu pun kembali tidur dengan pulas dan tenang.


Lee Jiang Wook yang merasa gejolak cintanya tidak tersalurkan sampai puas pun akhirnya harus rela sekedar melakukan ciuman-ciuman hangat di pipi kanan Chu Pian Ran, dan setelahnya ayah muda tampan itu pun tertidur dengan memeluk pinggang istri tercintanya.


****


Sementara itu, nun jauh di dunia atas, tepatnya di Istana Bulan. Tampaklah seekor 'nyamuk jadi-jadian' sedang melesat secepat kilat menuju dalam istana itu dengan maksud ingin mencuri mustika kehidupan milik Dewi Chang'e, si Dewi Bulan yang akan digunakan untuk mengumpulkan jiwa ayahnya Gong Mohei, si raja iblis yang tercerai berai 20.000 tahunan yang lalu setelah perang besar-besaran antara suku langit dan suku iblis.


Sekalipun setelah perang itu suku iblis menyatakan tunduk dan tidak akan memberontak lagi, yang namanya iblis tetaplah iblis, yang suka sekali berbohong dan ingkar, khususnya putra kedua Gong Mohei yang bernama Gong Fang Chong.


Sesudah kejadian perang besar yang membuat jiwa ayahnya tercerai berai dan jiwa kakak sulungnya musnah selama-lamanya, maka Gong Fang Chong menjadi rajin bermeditasi panjang agar kekuatan supranaturalnya meningkat.


Setelah kurun waktu 20.000 tahun, dengan modal nekat, putra kedua raja iblis itu pun berniat mencuri mustika kehidupan Dewi Chang'e.


Karena kekuatan supranaturalnya yang tidak kaleng-kaleng, saat 'nyamuk jadi-jadian' itu melintas halaman istana hingga sampai masuk ke dalam, tidak ada satu pun prajurit penjaga Istana Bulan yang sadar jika istana itu telah dimasuki penyusup.

__ADS_1


Sesudah perjuangan selama tiga puluh lima menit, maka terlihatlah Gong Fang Chong sedang berdiri di suatu ruangan khusus dengan menatap mustika kehidupan yang saat ini telah ada di depan matanya.


Dengan mengerahkan kekuatan supranaturalnya, berhasillah anak raja iblis itu mengambil mustika itu dari tempatnya. Namun tanpa dia ketahui, rupanya mustika kehidupan itu telah dimantrai secara khusus oleh Dewi Chang'e, sehingga saat benda magis itu diambil dari tempatnya, otomatis ada semacam 'alarm' dalam insting Dewi Bulan.


Begitu instingnya mengirimkan sinyal, maka dengan segera, dewi cantik itu pun pergi ke ruang penyimpanan mustika kehidupannya.


Saat akan menuju ke ruangan tersebut, tampaklah oleh penglihatan Dewi Bulan sekelebat nyamuk yang terbang secepat kilat yang sedang berusaha keluar dari istananya.


Maka, yang terjadi kemudian adalah adanya aksi kejar-kejaran antara Dewi Chang'e beserta beberapa prajuritnya dengan nyamuk jelmaan Gong Fang Chong.


Begitu jiwanya terancam, maka yang ada dalam pikiran anak raja raja iblis itu hanyalah bagaimana caranya dia bisa menyelamatkan diri, sedangkan masalah mustika kehidupan yang berhasil dia curi tadi sudah tidak menjadi fokus yang utama lagi.


Sambil mengejar 'nyamuk jadi-jadian' itu, Dewi Bulan dan beberapa prajuritnya melepaskan serangan berupa kilatan-kilatan cahaya dari kedua tangan mereka. Namun, sampai satu jam lebih kilatan cahaya itu belum berhasil mengenai sasarannya.


Akhirnya, karena terus diserang dan dikejar tanpa henti, ketika Gong Fang Chong sedikit lengah, kenalah dia oleh kilatan cahaya putih milik Dewi Chang'e. Spontan, berubahlah tubuh nyamuk itu ke wujud aslinya.


Sekalipun sudah terkena oleh serangan Dewi Bulan, anak raja iblis itu masih bisa terbang dengan kekuatan penuh, hingga tanpa disadari mereka telah sangat jauh dari Istana Bulan.


Suatu ketika, saat mereka melintasi suatu tempat yang berkabut tebal dan ditambah lagi saat itu adalah tengah malam, tanpa diketahui oleh si pemilik mustika dan beberapa prajuritnya, Gong Fang Chong pun tanpa pikir panjang sengaja membuang mustika sebesar kelereng itu ke bawah dengan maksud suatu saat nanti dia akan mencari mustika itu kembali.


Sementara itu, benda magis yang dibuang tadi terus meluncur ke bawah hingga bergesekan dengan atmosfer bumi sehingga menimbulkan cahaya orange yang dari kejauhan terlihat seperti bintang jatuh.


Kebetulan, saat mustika itu jatuh ke bumi, Chu Pian Ran yang pada waktu malam itu sedang berbincang santai dengan suami dan ayah mertuanya di depan teras kediaman utama menyaksikan pemandangan itu.


"Ada apa sayang?" tanya suaminya sambil menatap istrinya.


"Ada benda aneh jatuh dari langit suamiku...," jawab Chu Pian Ran yang saat ini telah duduk di kursinya kembali, namun dengan hati yang dipenuhi kegelisahan.


"Maksudmu bintang jatuh nak?" sela ayah mertuanya.


"Batinku mengatakan itu bukan bintang jatuh ayah, sebaiknya aku cari saja benda itu agar tahu jelas kebenarannya," balas perempuan cantik itu lalu bangkit berdiri lagi karena perasaan gelisah yang tiba-tiba menyelimutinya sejak melihat benda aneh yang jatuh dari langit tadi.


"Kau serius mau mencarinya sayang?" lanjut Lee Jiang Wook dengan pandangan mata yang tak lepas dari istrinya yang kegelisahan itu.


"Tentu saja aku serius suamiku, batinku mengatakan kalau itu bukan benda sembarangan. Sejak aku melihat benda itu jatuh dari langit tadi, perasaanku tiba-tiba menjadi gelisah tak karuan. Sebaiknya, aku berangkat sekarang saja."


Tanpa meminta persetujuan dari suami dan ayah mertuanya, Chu Pian Ran pun langsung beranjak menjauh dari tempat itu lalu merubah wujudnya menjadi kupu-kupu yang kemudian terbang untuk mencari keberadaan benda aneh yang jatuh tadi.


Dengan mengandalkan suara batin dan instingnya, setelah empat puluh menit terbang dengan kecepatan sedang, sampailah kupu-kupu itu di hutan yang tak seberapa jauh dari ibukota.


Sesudah menemukan keberadaan 'benda aneh' itu, nyonya muda Lee pun mengubah wujudnya menjadi manusia kembali lalu memungut benda sebesar kelereng yang berwarna putih berpendar itu.


Begitu benda itu terpegang oleh tangan kanannya, terasalah oleh perempuan cantik itu, tangan kanannya seperti tersengat listrik hingga beberapa menit dan secara tak masuk akal menghilanglah benda aneh itu di dalam telapak tangan kanannya yang otomatis membuat perempuan cantik itu sempat terdiam termangu selama beberapa detik.


Setelah sadar dari rasa terkejutnya, kembalilah Chu Pian Ran merubah wujudnya menjadi kupu-kupu lalu terbang pulang ke kediaman Lee.

__ADS_1


"Bagaimana sayang, apa yang kau temukan?" tanya Lee Jiang Wook yang rupanya masih duduk di kursi yang sama karena sengaja menunggu kepulangan istrinya.


"Aku tadi memang sempat menemukan benda aneh sebesar kelereng yang berwarna putih berpendar suamiku, namun secara aneh benda itu malah menghilang begitu saja di telapak tanganku setelah sempat menyengatku selama beberapa menit," terang istrinya.


Setelah mendapat jawaban seperti itu, otomatis ayah muda tampan itu meraih tangan kanan istri tercintanya lalu melihat telapak tangan itu dan terlihatlah olehnya telapak tangan kanan perempuan cantik itu berwarna biru lebam.


Untuk beberapa saat, Lee Jiang Wook mengusap pelan bagian telapak tangan kanan istrinya yang berwarna biru lebam itu.


"Apakah sakit sayang?" ucap Lee Jiang Wook.


"Untuk sekarang tidak suamiku...," balas Chu Pian Ran.


"Sudah malam sayang, sebaiknya kita tidur sekarang. Untuk malam ini Yin Er inginnya tidur dengan ayah dan ibu," lanjut ayah muda tampan itu memberitahu istrinya.


Tak berapa lama, tampaklah pasangan suami istri itu berjalan beriringan menuju ke kamar sambil tangan kanan Lee Jiang Wook menggandeng tangan kiri istri tercintanya.


Setelah menutup pintu kamar, ayah muda itu pun lalu membalikkan tubuhnya dan kedua tangannya merengkuh pinggang ramping perempuan cantik yang telah dia nikahi selama lebih dari empat tahun itu.


Rasanya kebetulan sekali jika malam ini Lee Chu Mian Yin, putri kecil kesayangan mereka sedang ingin tidur dengan kakek neneknya. Jadi, kesempatan ini tidak akan disia-siakan oleh Lee Jiang Wook untuk menyalurkan hasrat cintanya yang sempat tertunda kemarin malam.


Untuk beberapa saat, ayah muda itu menatap lekat mata istri tercintanya hingga merekapun saling beradu pandang dengan rasa cinta yang mendalam.


Tak berapa lama, pasangan suami istri itu lalu memajukan kepalanya dan saling berciuman lembut hingga mereka puas.


"Aku sangat mencintaimu sayang...," kata Lee Jiang Wook dengan menatap penuh cinta mata istrinya yang cantik itu.


"Aku juga sangat mencintaimu suamiku...," sahut istrinya sambil kedua tangannya merangkul leher pemuda tampan itu dan matanya juga menatap suami yang dikasihinya.


Beberapa detik kemudian, Lee Jiang Wook pun tampak mengangkat tubuh istrinya lalu dibawanya dan dibaringkannya di atas ranjang.


21+


Tanpa menunggu lama, kedua tangan ayah muda tampan itu pun mulai melepas kain penutup tubuh bagian atas istrinya hingga polos.


Untuk beberapa saat, Lee Jiang Wook menjelajahi tubuh bagian atas istrinya yang mempesona itu dengan kedua matanya, dan kemudian mulailah dia menyentuh, menciumi dan menjilati bagian tubuh istrinya yang polos itu dengan pelan dan lembut disertai rasa cinta yang mendalam.


Terkhusus pada kedua bagian gundukan istri tercintanya itu, ayah muda itu memberikan perlakuan yang istimewa termasuk memberikan hisapan lembut secara bergantian hingga dia merasa puas.


Karena tersulut gejolak cinta suaminya, maka Chu Pian Ran pun mengimbangi aksi suaminya dengan melepas pakaian atas suaminya juga hingga terlihatlah separuh tubuh gagah ayah muda tampan itu, dan tak lama kemudian perempuan cantik itu pun mendorong tubuh suaminya hingga dia sekarang berada di atas tubuh Lee Jiang Wook.


Setelahnya, Chu Pian Ran pun menciumi wajah tampan suami yang sangat dikasihinya itu dengan lembut. Tak sampai di situ, ciumannya terus berlanjut di tubuh gagah pria muda itu hingga membuat sesuatu yang di bawah sana pun menjadi terbangun. Namun, Lee Jiang Wook berusaha keras untuk menahan hasrat ingin bercintanya karena dia tahu istrinya tadi tidak minum obat anti hamil.


Pasangan suami istri itu telah berkomitmen untuk tidak menambah anak dulu sebelum Lee Chu Mian Yin berumur 5 tahunan, agar kasih sayang mereka dan kakek neneknya tercurah secara penuh pada gadis kecil yang memang sedang butuh-butuhnya kasih sayang, ditambah lagi Lee Chu Mian Yin juga memiliki kelebihan khusus yang perlu perhatian dan bimbingan lebih dari orang-orang terkasihnya.


Akhirnya, ritual bermesraan suami istri itu pun usai tanpa adanya penyatuan. Setelah berpakaian kembali, merekapun tidur dengan saling berpelukan dalam suasana cinta yang mendalam.

__ADS_1


__ADS_2