Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 41 Kemunculan Tuan Song Di Penjara Istana


__ADS_3

Qin Wu Zhu sangat terkejut saat mendapat laporan jika tuan Song, si pria bertopeng tiba-tiba muncul di penjara istana. Dengan segera pemuda tampan itu dan Lu Zee pun pergi kesana.


Kabar tentang keberadaan tuan Song yang tiba-tiba muncul di penjara istana telah menyebar dengan cepatnya. Kaisar Qin Shi Huang pun lalu dengan segera mengutus kasim Liu untuk menemui si pria bertopeng dan mengundangnya datang ke istana.


Tak berapa lama, Qin Wu Zhu dan Lu Zee pun telah sampai di penjara istana. Mengetahui pangeran kedua kaisar Qin datang di tempat itu, kepala penjara, para tabib dan para penjaga yang ada memberi hormat pada pemuda itu, kecuali si pria bertopeng.


Setelah memberi hormat pada pangeran kedua, para tabib kembali melanjutkan tugasnya untuk mengobati ketiga pria yang telah dituduh sebagai pemberontak tadi.


"Salam tuan Song." Qin Wu Zhu memberi salam pada pria bertopeng yang saat itu sedang duduk di sebuah kursi kayu.


"Saya benar-benar tidak menyangka jika tuan ada di sini." Kata Qin Wu Zhu.


Pemuda itu lalu duduk di sebuah kursi yang ada di samping tuan Song.


"Aku bukan tipe orang yang suka basa-basi yang mulia pangeran. Langsung saja ke intinya. Aku ingin ketiga pria itu dipindahkan ke tempat yang layak dan diobati sampai sembuh. Bagaimana bisa kalian menganiaya orang yang tidak bersalah." Ucap tuan Song.


"Tuan Song, saya dengar mereka adalah pemberontak dari Hanzhong." Balas Qin Wu Zhu.


"Dengar dari mana? Itu semua adalah fitnah." Jelas tuan Song.


"Tapi gubernur daerah Hanzhong memiliki bukti yang kuat jika mereka memang melakukan pemberontakan." Sahut Qin Wu Zhu.


"Itu semua bukti palsu. Seorang pejabat pasti bisa melakukan apapun yang diinginkannya." Lanjut si pria bertopeng.


"Apakah anda mempunyai bukti yang menyatakan bahwa mereka tidak bersalah tuan Song?" Tanya Qin Wu Zhu.


"Kata hati dan instingku mengatakan mereka tidak bersalah. Selama ini aku bisa memecahkan beberapa masalah karena kata hati dan instingku." Jawab tuan Song.


"Baiklah, jika memang demikian kami akan menuruti keinginan anda tuan. Masalah mereka bersalah atau tidak, kita harus memeriksa ulang kembali." Ucap Qin Wu Zhu.


"Aku akan pergi ke Hanzhong untuk menyelidiki hal ini." Kata tuan Song.


"Saya juga akan ikut pergi ke sana tuan. Saya ingin tahu pasti masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi." Imbuh Qin Wu Zhu.


Beberapa saat kemudian datanglah kasim Liu ke penjara istana. Laki-laki itu memberi hormat pada pangeran kedua dan tuan Song lalu menyampaikan pesan kaisar untuk pria bertopeng itu.


"Kasim, bukannya aku tidak menghargai undangan kaisar, tapi untuk saat ini aku sedang tidak berminat untuk bertemu dengan beliau." Kata tuan Song terus terang.


Demi mendengar jawaban tuan Song, semua orang yang ada di ruangan itu sangat heran. Baru kali ini ada orang yang berani menolak undangan yang mulia kaisar.


"Tuan Song, anda tidak perlu khawatir dengan ketiga pria itu, saya akan mengurusnya sebaik mungkin. Jika anda ingin bertemu dengan yang mulia kaisar, silahkan mengikuti kasim Liu." Ucap Qin Wu Zhu.


"Jika aku boleh jujur, aku menolak undangan yang mulia kaisar bukan karena semata-mata mengkhawatirkan ketiga pria itu. Tapi karena memang aku tidak suka dengan suasana yang ada di istana dan semua aturannya." Balas tuan Song tanpa rasa takut.


"Baiklah jika itu kemauan tuan, saya tidak akan memaksa. Kalau begitu saya undur diri dulu untuk memberi laporan pada yang mulia kaisar." Ujar kasim Liu.


Setelah memberi hormat pada pangeran kedua dan tuan Song, kasim Liu meninggalkan penjara istana.


****

__ADS_1


Berita tentang kemunculan tuan Song yang secara tiba-tiba di penjara istana rupanya telah terdengar sampai di kediaman Chu.


Demi mendengar kabar itu, tuan dan nyonya Chu pun lumayan terkejut.


Tuan Chu akhirnya memanggil Xi Er.


Kini pelayan itu sudah berdiri di depan tuan dan nyonya Chu.


"Xi Er, apa kau sudah tahu jika nona mudamu sekarang ada di penjara istana?" Tanya tuan Chu.


Xi Er dibuat kaget mendengar perkataan tuan besarnya itu.


"Maaf tuan besar saya tidak tahu. Tapi tadi pagi saya menemukan secarik kertas ada di atas meja nona." Balas Xi Er.


"Kertas? Kertas apa itu Xi Er?" Sekarang gantian nyonya Chu yang bertanya.


Xi Er lalu mengambil secarik kertas yang diselipkan di bajunya.


"Ini nyonya." Xi Er menyerahkan secarik kertas itu pada nyonya Chu.


Tuan dan nyonya Chu pun membaca tulisan yang ada di kertas itu.


"Jadi kau tidak tahu saat nonamu pergi?" Lanjut tuan Chu.


"Tidak tuan besar. Sepulang berbelanja tadi saya langsung menuju ke dapur untuk mengantar sayuran, setelah itu saya memasak air untuk mandi nona. Saat kembali ke kamar nona, nona sudah tidak ada di kamarnya tuan besar." Terang Xi Er.


Setelah berpamitan, Xi Er pun meninggalkan majikannya itu lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Bagaimana caranya putri kita itu tiba-tiba ada di penjara istana suamiku?" Tanya nyonya Chu.


"Entahlah istriku aku juga tidak tahu. Jika dia berjalan kaki atau berkuda ke sana itu jelas tidak mungkin. Selama ini dia benar-benar merahasiakan identitasnya." Jawab tuan Chu.


"Ada perlu apa dia di sana?" Lanjut wanita paruh baya.


"Aku dengar putri kita sedang membantu tahanan yang katanya dituduh memberontak." Jelas tuan Chu.


"Pasti yang mulia kaisar dan penghuni istana lainnya dibuat gempar oleh kemunculannya itu." Ujar nyonya Chu.


"Sepertinya begitu. Aku akan menyuruh Ah Xhuan untuk mencari kabar terbaru lagi tentang putri kita." Ucap tuan Chu.


(Ah Xhuan adalah salah satu anak buah tuan Chu).


****


Ketiga pria yang awalnya ditahan itu sekarang telah ditempatkan di sebuah ruangan yang cukup luas.


Sebelumnya ruangan itu adalah kamar khusus yang digunakan untuk para pelayan pria.


Karena sekarang kamarnya ditempati oleh ketiga pria itu, para pelayannya dipindahkan ke kamar yang lain.

__ADS_1


Kini ketiga pria itu sedang berbaring di atas ranjang yang ukurannya muat untuk 3 orang.


Tuan Song yang saat itu sedang duduk di tepi ranjang berbicara pada salah satu pria itu. Nama pria itu adalah Nan Bing.


"Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi hingga kalian seperti ini." Kata tuan Song.


Dengan suara pelan karena menahan rasa sakit pria itupun mulai bercerita.


Pangeran Qin Wu Zhu yang saat itu duduk di kursi ikut menyimak penuturan pria itu.


"Apa benar yang kau ceritakan itu?" Tanya Qin Wu Zhu.


"Benar yang mulia pangeran, hamba berkata apa adanya... Gubernur Lei sengaja membayar orang untuk menjatuhkan kami. Untuk itulah rasanya akan sia-sia saja jika kami membela diri." Balas Nan Bing.


"Aku akan pergi ke Hanzhong untuk mengurus masalah ini. Pejabat yang cara kerjanya seperti ini memang harus segera dibereskan agar tidak semakin merajalela kelakuannya dan merugikan banyak rakyat." Ucap tuan Song.


"Kalian baik-baiklah di sini. Jika ada orang yang memperlakukan kalian dengan buruk jangan takut mengatakannya padaku, aku pasti akan menghajar orang itu." Lanjut pria bertopeng itu.


Demi mendengar perkataan tuan Song barusan, Qin Wu Zhu merasa tertampar. Pemuda itu merasa bahwa tuang Song menyalahkan pihak pegawai penjara istana karena telah menganiaya orang yang tidak bersalah.


"Trimakasih banyak tuan karena anda telah menolong kami. Kami benar-benar minta maaf sudah merepotkan anda." Ujar Nan Bing.


"Kalian tidak perlu minta maaf seperti itu. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk menolong kalian." Sambung tuan Song.


"Oh ya, bicara soal minta maaf, kapan pegawai penjara istana itu akan minta maaf kepada ketiga pria ini yang mulia pangeran? Mereka sudah seenaknya saja mencambuki Nan Bing dan kedua temannya." Pertanyaan tuan Song berhasil membuat Qin Wu Zhu terperangah.


"Ah ya tuan Song, jika memang itu yang tuan kehendaki aku akan meminta Lu Zee untuk memanggil mereka." Kata Qin Wu Zhu.


"Tidak perlu yang mulia pangeran, kami sudah melupakan masalah itu. Sebaiknya tidak perlu mengungkit hal ini lagi." Nan Bing mencegah niat Qin Wu Zhu karena dia sadar sedang berurusan dengan siapa.


"Bagaimana bisa kalian semudah itu melupakannya sementara tubuh kalian sudah dibuat babak belur seperti ini? Katakan saja kalau kalian takut berurusan dengan pihak istana." Lagi-lagi tuan Song berbicara tanpa ada rasa takut sama sekali meskipun di situ ada pangeran kedua kerajaan Qin yang lumayan ditakuti oleh banyak orang.


Qin Wu Zhu merasa tertampar lagi oleh ucapan pria bertopeng itu.


"Yang mulia pangeran, sebaiknya anda panggil para pegawai penjara istana yang sudah menganiaya ketiga pria ini sekarang dan suruh mereka untuk meminta maaf." Tuan Song memerintah Qin Wu Zhu tanpa rasa sungkan.


"Baik tuan Song, aku akan melakukannya." Balas pemuda itu tanpa membantah.


Qin Wu Zhu kemudian menyuruh Lu Zee untuk memanggil para pegawai penjara istana yang ikut terlibat dalam penganiayaan ketiga pria itu.


Lima belas menit kemudian, datanglah kepala penjara bersama kelima pegawainya ke ruangan itu.


Qin Wu Zhu lalu memerintah mereka untuk minta maaf kepada tiga pria itu.


Tanpa membantah keenam pria itupun meminta maaf pada Nan Bing dan kedua temannya.


"Jangan lupa berikan kepada mereka masing-masing tiga tael emas dari gaji kalian sebagai pengganti rasa sakit yang sudah mereka terima." Ucap tuan Song.


"Baik tuan Song." Jawab mereka serempak.

__ADS_1


__ADS_2