
Mohon maaf untuk episode ini dan selanjutnya sedang tahap revisi...🙏
Tuan dan Nyonya Chu Jeong Byun benar-benar merasa lega. Setelah putrinya diajak Lee Jiang Wook melihat perayaan festival lentera, kondisi fisiknya tetap stabil hingga hari ini.
Hal yang sama juga dirasakan oleh keluarga Lee, khususnya Lee Jiang Wook. Setelah mengantar pulang Chu Pian Ran, dia merasa was-was saja, takut gadis itu kenapa-kenapa. Pemuda itu merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan Chu Pian Ran karena dialah yang mendesak paman dan bibi Chu Jeong Byun agar diijinkan membawa gadis itu ke perayaan festival lentera.
Perpustakaan Keluarga Chu
Seorang gadis cantik terlihat sedang memusatkan perhatiannya pada sebuah cangkir kosong yang ada di atas meja. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan gadis itu terulur, berusaha untuk memindahkan benda tersebut tanpa menyentuhnya.
Gadis cantik itu tampak beberapa kali menggerak-gerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya dengan pelan, namun cangkir yang ada di depannya hanya bergoyang- goyang sedikit di tempat. Gadis itu tidak putus asa, dia masih terus mencoba hingga...
Tuk! Terdengar suara cangkir jatuh di atas meja.
Gadis cantik tersebut merasa sedikit puas dengan usahanya. Yups, gadis itu adalah Chu Pian Ran, yang dimasuki oleh jiwanya Song Hyu Meen. 'Kelebihan' ini tidak dimiliki oleh pemilik tubuh asli namun oleh Song Hyu Meen.
Awalnya, Song Hyu Meen mengetahui keistimewaannya tersebut secara tidak sengaja. Dia ingat betul waktu itu dia masih berusia 10 tahunan. Ketika malam hari dia sedang berkutat di kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolah, secara tidak sengaja siku tangan kanannya menyenggol sebuah cangkir susu yang ada di dekatnya.
Ketika cangkir tersebut jatuh, dengan spontan gadis kecil itu berusaha menangkap benda tersebut agar tidak berbenturan dengan lantai atau pun pecah.
Namun, Song Hyu Meen dibuat terkejut. Saat telapak tangannya terbuka hendak meraih cangkir itu, benda tersebut tiba-tiba diam tak bergerak di udara sebelum dia menyentuhnya. Kejadian tak masuk akal itu tentu saja membuat gadis kecil tersebut bertanya-tanya.
Untuk memastikan keraguannya, dia pun mengadakan percobaan. Beberapa kali dia berusaha untuk menggerakkan atau memindahkan barang-barang yang ada di dekatnya tanpa menyentuh dengan telapak tangan kanannya yang sekarang dia anggap memiliki kekuatan ajaib. Alhasil, dia semakin dibuat heran karena benda-benda itu berhasil dia gerakkan atau pindahkan.
Setelah yakin tangan kanannya memiliki kemampuan yang tidak biasa. Sekarang ia ganti mengadakan percobaan dengan tangan kirinya. Ternyata hasilnya sama. Telapak tangan kirinya pun memiliki kemampuan yang setara.
Ini benar-benar aneh... Apa yang terjadi pada diriku ini... Batin Song Hyu Meen kecil saat itu sambil mengamati kedua telapak tangannya.
Sejak saat itu, secara diam-diam Song Hyu Meen melatih kelebihannya. Mulai dari menggerakkan dan memindahkan barang-barang berukuran kecil hingga ukuran besar dan berat.
Terakhir kali, gadis itu menggunakan kelebihannya tersebut untuk mengangkat meja belajarnya yang di atasnya terdapat berbagai macam alat tulisnya. Dengan memusatkan kekuatan pada kedua telapak tangannya, benda yang beratnya ada 5 kilo lebih itu bisa terangkat sekitar 1 meteran dari lantai.
__ADS_1
Song Hyu Meen benar-benar dibuat tidak mengerti bagaimana bisa dia memiliki kelebihan seperti itu. Gadis kecil tersebut menyembunyikan kelebihannya itu rapat-rapat hingga ayahnya pun tidak tahu akan hal tersebut hingga ajal menjemputnya karena penyakit leukimia.
Hari ini, muncul pikiran dalam jiwa Song Hyu Meen untuk mengetahui apakah kelebihannya itu turut serta dengannya atau tidak.
Dengan alasan tidak ingin diganggu, gadis cantik itu berhasil membuat pelayannya yang bawel keluar dari perpustakaan. Agar gadis tersebut bisa berlatih dengan aman, dia pun menutup pintu perpustakaan.
Sekarang ini, tampaklah 'Chu Pian Ran' sedang menegakkan cangkir kosong yang jatuh tadi. Kali ini dia lebih konsentrasi lagi agar bisa mengangkat benda itu.
Lagi-lagi jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya terulur di dekat cangkir tersebut. Setelah berusaha beberapa menit, akhirnya dia bukan hanya bisa mengangkat namun juga membuat benda itu melayang di udara.
Praang! Terdengar suara barang pecah.
Aduh... Batin 'Chu Pian Ran' sampil menepuk dahinya.
Seperti perkiraannya, beberapa detik kemudian terdengarlah pintu perpustakaan dibuka dengan cepat lalu muncul sosok gadis di balik pintu itu, siapa lagi jika bukan Xi'er.
"Nona nona, kau kenapa?" tanya pelayan itu dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa. Tadi secara tidak sengaja tanganku menampik cangkir kosong itu sampai pecah," jawab gadis cantik itu datar dan menutupi fakta yang sesungguhnya terjadi.
"Nona, kau yakin menampik cangkir itu dengan tidak sengaja?" lanjut Xi'er merasa tidak percaya dengan alasan yang diberikan oleh majikannya tadi
"Iya Xi'eeer... Sudahlah tidak perlu membahas soal itu lagi," balas gadis cantik tersebut sambil pura-pura kembali membaca buku yang ada di depannya.
Xi'er terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dengan cekatan gadis pelayan itu membereskan pecahan cangkir tersebut.
Karena Xi'er sudah berhasil diusirnya lagi dari ruang perpustakaan, Chu Pian Ran pun kembali melakukan aksinya. Namun kali ini dia menggunakan buku, bukan barang pecah belah seperti sebelumnya agar tidak menimbulkan kecurigaan Xi'er lagi jika terjadi peristiwa yang seperti barusan.
Selama dua jam gadis cantik itu menghabiskan waktunya untuk melatih kemampuan yang dimilikinya. Dan kini, kelebihannya tersebut telah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dia sudah bisa mengerahkan kekuatannya untuk mengangkat meja yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi yang ada di ruang perpustakaan itu. Pelatihan yang dilakukan Chu Pian Ran terhenti ketika jam makan siang telah tiba.
Saat ini, tampaklah gadis cantik itu melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan yang ternyata di ruangan tersebut telah menunggu Nyonya Chu Jeong Byun. Sedangkan suaminya masih ada di luar kediaman untuk mengurus pekerjaannya.
__ADS_1
"Selamat siang bu...," Chu Pian Ran memberi salam pada wanita paruh baya yang wajahnya masih terlihat cantik dan awet muda tersebut.
"Kemari nak, sudah waktunya makan siang...," undang Nyonya Chu Jeong Byun sambil tangan kanannya menarik sebuah kursi yang ada di samping kanannya.
Tak lama kemudian, ibu dan anak itu pun makan siang bersama dengan suasana yang hangat layaknya sebuah keluarga.
Awalnya, 'Chu Pian Ran' merasa canggung untuk bertemu dan berkomunikasi dengan kedua orang tua si pemilik tubuh asli yang ditempatinya. Namun seiring berjalannya waktu, rasa canggung itu pun mencair sedikit demi sedikit.
Setelah menyelesaikan acara makan siang, Nyonya Chu Jeong Byun lalu mengajak putrinya untuk ngobrol di gazebo taman.
Beberapa detik kemudian, terlihatlah wanita paruh baya itu beserta putrinya berjalan menuju ke arah taman bunga lalu duduk di gazebo yang ada di taman tersebut.
"Bagaimana keadaanmu hari ini nak?" Tanya Nyonya Chu.
"Aku baik-baik saja bu... Ibu tidak perlu cemas, sekarang tubuhku sudah semakin membaik." Balas Chu Pian Ran.
"Ayah dan ibu merasa lega dan tenang sekarang melihatmu kembali sehat nak... Tapi kau tetap harus hati-hati dalam beraktivitas. Jika merasa lelah tidak perlu dipaksakan." Lanjut Nyonya Chu.
"Baik bu, aku akan menuruti kata-kata ibu..." Sahut gadis itu.
2 bulan telah berlalu semenjak Ran Er hilang ingatannya. Kini tubuh gadis itu semakin menunjukkan kemajuan yang meningkat. Perawakan tubuhnya sudah kembali normal seperti sediakala setelah sempat kehilangan banyak berat badan hingga tubuhnya menjadi kurus.
Nyonya Chu mulai mengajari Chu Pian Ran kembali dengan berbagai keterampilan secara bertahap.
Bagi seorang putri bangsawan, pejabat istana apalagi keluarga kerajaan wajib hukumnya untuk memiliki keterampilan agar kelak semua itu dapat digunakan pada masa yang akan datang. Selain itu, dengan kemampuan yang dimiliki akan memberikan citra positif di mata orang banyak.
Dengan sabar Nyonya Chu mengajari putrinya menyulam, melukis, memainkan alat musik, dan masih banyak hal lagi.
Untuk keterampilan yang khusus, Nyonya Chu akan mendatangkan seorang guru untuk mengajari Chu Pian Ran.
Karena Song Hyu Meen di dunia modern adalah anak yang pintar dan rajin. Dia dengan mudah memahami dan menguasai semu yang diajarkan.
__ADS_1
Di sela-sela kesibukannya itu, tak lupa Chu Pian Ran selalu melatih kemampuannya setiap hari sebelum tidur malamnya.
Jika Xi Er sudah keluar dari kamar, maka Chu Pian Ran segera memulai aksinya dengan barang-barang yang ada di kamarnya itu.