Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 138 Para Peri Senior Berkunjung Ke Kediaman Chu


__ADS_3

Setelah membereskan Qing Liong, para peri senior itu pun sepakat untuk berkunjung ke kediaman Chu Jeong Byun dengan maksud menunjukkan rasa belasungkawanya yang mendalam sekalipun sudah bisa dikatakan sangat terlambat, namun bagi mereka hal tersebut tidak menjadi masalah karena mereka memang baru mengetahui berita tentang kematian Chu Pian Ran dari Peri Jinfeng Zhui.


Tak berapa lama, belasan peri senior itu pun merubah wujudnya masing-masing menjadi seberkas cahaya putih lalu melesat cepat menuju luar gerbang ibukota Qin.


Begitu sampai di luar gerbang ibukota, para peri senior tersebut lalu merubah wujudnya kembali menjadi manusia tanpa diketahui oleh siapa pun kemudian masuk ke wilayah ibukota menuju ke kediaman Chu Jeong Byun dengan berjalan kaki agar tidak menarik perhatian manusia.


Karena diantara mereka belum ada yang tahu dimana letak kediaman Chu Jeong Byun termasuk Peri Jinfeng Zhui, maka salah satu peri senior itu pun bertanya kepada seorang penduduk yang kebetulan lewat di dekat mereka.


Sesudah mendapatkan petunjuk, maka rombongan peri yang penampilan luarnya seperti wanita paruh baya itu pun segera melangkahkan kaki mereka sesuai dengan arahan yang diberikan oleh orang tadi.


Tiga puluh menit an kemudian, tibalah belasan peri senior itu di depan sebuah kediaman yang dari luarnya tampak lumayan megah dan luas dengan papan nama yang tertempel di bawah atap gerbang.


Ketika mereka menapakkan kakinya masuk ke halaman, para peri senior tersebut disambut oleh salah seorang pelayan perempuan yang kebetulan melihat rombongan wanita itu.


"Maaf nyonya-nyonya, kalau boleh saya tahu anda semuanya ada keperluan apa datang ke kediaman Chu ini dan ingin bertemu dengan siapa?" tanya si pelayan itu dengan sopan bercampur penasaran karena tamunya adalah sekelompok orang yang isinya wanita semua.


"Kami semua datang kemari untuk bertemu dengan tuan rumah, dan kami ini adalah teman dari mendiang nyonya muda Lee...," jawab Peri Jinfeng Zhui yang membuat pelayan perempuan tersebut lumayan terhenyak untuk sesaat dan menyimpan pertanyaan dalam benaknya.


Tak berapa lama, pelayan itu pun mengajak para tamunya menuju ke teras kediaman utama dan meminta mereka untuk menunggu sebentar di tempat tersebut, sementara si pelayan tadi masuk ke dalam kediaman untuk memanggil majikannya.


Beberapa detik kemudian, muncullah sosok Nyonya Chu Jeong Byun dari dalam rumah besar tersebut yang sampai saat ini wajahnya masih terlihat sedikit lesu dan menyiratkan kesedihan karena memang dia baru kehilangan putri tunggal yang sangat dikasihinya.


"Selamat siang nyonya-nyonya semuanya, anda sekalian ini siapa ya? Sepertinya baru kali ini saya melihat anda semua...," kata wanita paruh baya itu dengan suara tak bersemangat bercampur keheranan dengan kehadiran tamunya tersebut.


"Perkenalkan Nyonya Chu, saya adalah Peri Jinfeng Zhui yang berkuasa di hutan Jinfeng, dan ini semuanya adalah para peri senior teman saya sekaligus juga teman dari mendiang nyonya muda Lee karena kami pernah bersama-sama memperkuat segel mantra iblis Qing Liong dua tahunan yang lalu...," jelas peri penguasa hutan Jinfeng itu sambil tangan kanannya bergerak sekilas ke arah teman sesama perinya sekedar untuk memberitahu pada tuan rumah jika mereka semua adalah bangsa peri yang menjadi temannya mendiang Chu Pian Ran.


"Oh begitu ya... Kalau begitu silahkan masuk ke dalam nyonya-nyonya peri semuanya...," ucap Nyonya Chu Jeong Byun setelah terkejut untuk sesaat ketika tahu jika tamunya tersebut adalah dari golongan peri.


Karena kursi yang ada di ruang tamu itu jumlahnya kurang, maka si nyonya rumah memerintahkan beberapa pelayannya untuk mengambilkan kursi dari ruang keluarga yang merupakan ruangan terdekat dengan ruang tamu.


Saat ini, terlihatlah para kaum hawa tersebut telah duduk di kursi kayu dengan formasi delapan orang duduk di sebelah kanan dalam dua barisan. Sementara yang lain ada di sebelah kiri juga dalam jumlah barisan yang sama.


Sedangkan untuk Nyonya Chu Jeong Byun dan Peri Jinfeng Zhui duduk di paling ujung dengan jarak berdekatan agar mereka berdua lebih enak dalam berbincang.


"Kami semua datang kemari untuk menyampaikan rasa belasungkawa dari hati kami yang paling dalam atas meninggalnya nyonya muda Chu Pian Ran. Saya secara pribadi benar-benar minta maaf karena baru bisa menyampaikan berita duka tersebut kepada teman-teman sesama peri dikarenakan saya sedang terluka sangat parah akibat terkena serangan Qing Liong...," ujar Peri Jinfeng Zhui memecah keheningan ruang tamu.


"Peri Jinfeng Zhui tidak perlu minta maaf, anda semua datang kemari sudah menjadi kehormatan tersendiri bagi kami bangsa manusia...," sahut wanita paruh baya itu jujur.


"Saya sangat menyesal dan juga minta maaf karena tidak bisa melindungi nyonya muda Lee yang mengakibatkan dia meninggal...," imbuh peri senior itu dari kedalaman hatinya.


"Anda jangan berkata demikian Peri Jinfeng Zhui, meninggalnya putri tunggal saya bukan karena kesalahan anda, tapi ini akibat ulah iblis jahanam itu...," balas Nyonya Chu Jeong Byun tidak ingin melimpahkan kesalahan pada siapapun atas kematiannya Chu Pian Ran, kecuali pada si Qing Liong.

__ADS_1


Selama beberapa menit, dua wanita beda golongan itu pun terlibat perbincangan seputar nyonya muda Lee hingga tak berapa lama Tuan Chu Jeong Byun telah pulang dari istana setelah mengikuti acara persidangan rutin.


Karena kedatangan tamu yang 'tidak biasa', maka pria paruh baya itu pun turut bergabung di ruang tamu dan ikut mengobrol dengan istrinya dan Peri Jinfeng Zhui selaku wakil dari para teman perinya.


Tiga puluh menit an kemudian, masuklah Lee Chu Mian Yin ke gerbang kediaman Chu yang juga baru pulang dari kegiatan belajarnya di istana dengan diiringi oleh Xi'er.


Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, entah kenapa gadis kecil itu mempunyai keinginan untuk mampir dulu ke rumah nenek Chu sekembalinya dari istana.


Kebetulan, saat para peri senior pamit pulang dan masih ada di teras kediaman utama, sepasang mata Peri Jinfeng Zhui melihat sosok gadis kecil berwajah cantik dengan memanggul tas sekolah di punggungnya yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka dengan diikuti oleh seorang gadis dewasa di belakangnya.


Peri penguasa hutan Jinfeng yang tahu jika anak perempuan tersebut adalah putrinya Chu Pian Ran berdasarkan dari penerawangannya, tanpa menunggu lama peri senior itu pun menghampiri Lee Chu Mian Yin lalu jongkok di depan gadis kecil tersebut, yang tentu saja sikapnya itu mengundang perhatian teman perinya yang lain.


"Kamu pasti Lee Chu Mian Yin kan?" tanya Peri Jinfeng Zhui dengan menatap lekat pada putrinya mendiang Chu Pian Ran.


"Iya nek, nenek siapa?" jawab gadis kecil itu sambil melihat wanita paruh baya yang sedang jongkok di depannya tersebut.


"Nenek adalah Peri Jinfeng Zhui, mendiang ibumu pernah bercerita tentangmu pada nenek...," ucap peri senior itu.


"O nenek Peri Jinfeng Zhui... Ibuku juga pernah beberapa kali bercerita padaku tentang nenek. Nenek juga ikut bertarung dengan iblis jahat itu kan?" balas Lee Chu Mian Yin.


"Iya sayang, nenek benar-benar minta maaf ya karena tidak bisa melindungi ibumu, karena nenek sendiri juga terluka sangat parah...," untuk kesekian kalinya Peri Jinfeng Zhui merasa menyesal atas kematiannya nyonya muda Lee.


"Iblis jahat itu sudah musnah selamanya sayang, sebelum kami datang kemari, kami sudah memburu iblis itu dan membakarnya bersama-sama agar tidak membuat kekacauan di dunia manusia lagi," terang peri senior itu.


"Syukurlah kalau begitu, iblis jahat itu pantasnya memang dibakar... Lalu nenek-nenek itu siapa? Kok lumayan banyak? Apakah mereka juga temannya ibuku?" Putrinya Lee Jiang Wook penasaran dengan belasan wanita yang sedang berdiri di teras kediaman utama yang juga ada kakek neneknya di situ.


"O mereka? Mereka juga golongan peri seperti nenek yang juga teman dari mendiang ibumu nak... Kenalan dengan mereka yuk," sambung Peri Jinfeng Zhui lalu bangkit dari jongkoknya dan memperkenalkan Lee Chu Mian Yin pada para teman perinya.


Tentu saja belasan peri itu pun merasa sangat iba dengan gadis kecil tersebut yang telah ditinggal oleh ibundanya.


Setelah berdiskusi sebentar, maka belasan peri itu termasuk Peri Jinfeng Zhui sepakat memberikan pelindung dan sebagian kekuatan supranatural mereka untuk Lee Chu Mian Yin agar gadis kecil itu tidak menjadi sasaran bagi makhluk jahat golongan siluman atau iblis yang mungkin menaruh dendam akibat pernah dilukai oleh mendiang ibunya.


Tak berapa lama, peri penguasa hutan Jinfeng pun mengeluarkan sebuah cincin dari telapak tangannya lalu membuat benda tersebut melayang ke atas sekitar dua meteran dan kemudian belasan peri itu menyalurkan sebagian kekuatan supranaturalnya pada cincin tersebut dengan cara mengeluarkan sinar cahaya putih dari masing-masing jari telunjuk dan jari tengah mereka.


Setengah jam an kemudian, para peri senior itu pun menghentikan aksinya, lalu Peri Jinfeng Zhui mengambil cincin yang melayang tersebut dan mengenakannya di jari tengah tangan kanan Lee Chu Mian Yin yang untuk sesaat sempat membuat gadis kecil itu seperti tersengat aliran listrik.


"Ingat ya sayang, jangan pernah sekali-kali melepas cincin ini," peri penguasa hutan Jinfeng memberi pesan pada putrinya mendiang Chu Pian Ran.


"Iya nek..."


Beberapa saat kemudian, para peri senior itu pun sekali lagi pamit kepada tuan rumah sebelum mereka meninggalkan kediaman tersebut dengan cara yang sama seperti mereka berangkat tadi, dan tak lupa sebelum pergi mereka semua mencium pipi kanan dan pipi kiri Lee Chu Mian Yin.

__ADS_1


Malam harinya...


Di saat putrinya Lee Jiang Wook sedang tidur dengan pulasnya di atas ranjang pribadinya, cincin yang diberikan oleh para peri tadi mengeluarkan berkas-berkas cahaya putih yang kemudian merambat di seluruh tubuh gadis kecil itu hingga dua jam an.


🌹


Jum'at pukul 9 nan di markas besar prajurit...


Saat ini Lee Chu Mian Yin terlihat sedang berada di area latihan memanah dan sedang konsentrasi pada alat yang dia pegang agar anak panahnya nanti tepat mengenai sasaran yakni bagian papan yang paling tengah.


Begitu dia melepaskan anak panah tersebut dari busurnya, anak panah itu ternyata 'langsung' menancap di bagian tengah papan sesuai dengan yang diharapkannya yang tentu saja membuat gadis kecil yang sekarang berumur 7 tahun 7 bulanan itu merasa heran bercampur senang, karena biasanya saat berlatih, anak panah yang dia lepaskan akan tepat pada sasaran setelah beberapa kali dia mencoba memanah.


Karena hasil panahan pertamanya sukses, maka timbullah semangat pada diri Lee Chu Mian Yin yang membuat gadis kecil itu beberapa melepaskan anak panah yang semuanya berhasil menancap di bagian tengah.


Sekarang ini, terlihatlah putrinya Lee Jiang Wook itu mencoba memanah papan sasaran dalam jarak 50 meter an. Kebetulan saat gadis kecil itu sedang konsentrasi dengan alat yang dipegangnya, Qin Wu Zhu berniat untuk menghampiri putrinya mendiang Chu Pian Ran itu.


Saat sepasang mata jenderal muda itu melihat Lee Chu Mian Yin sedang fokus pada alat panahnya dan berdiri tambah jauh dari jarak biasanya, Qin Wu Zhu pun berdiam diri untuk sesaat dan mengamati aksi keponakan angkatnya itu.


Kini, tampaklah gadis kecil itu telah melepaskan anak panahnya tersebut dan lagi-lagi anak panah itu sukses menancap tepat pada sasaran yang tentu membuat Lee Chu Mian Yin sangat senang sementara Qin Wu Zhu malah dibuat heran dan kagum.


Tak berapa lama, jenderal muda itu pun menghampiri keponakan angkatnya.


"Hebat sekali anak panahmu bisa tepat mengenai target dengan jarak sejauh ini," kata Qin Wu Zhu sambil melihat pada putrinya mendiang nyonya muda Lee setelah dia berdiri di samping kiri gadis kecil itu.


"Yin'er sendiri juga tidak tahu paman, semua anak panah Yin'er tadi menancap tepat di bagian tengah papan sasaran...," sahut Lee Chu Mian Yin dengan jujur.


"Jangan-jangan kamu pakai 'ilmu sihir' ya?" tanya jenderal muda itu yang sebenarnya memang sengaja memberikan sedikit 'bumbu candaan' pada perkataannya dengan maksud untuk menghibur keponakan angkatnya yang ternyata ucapannya itu membuat putrinya mendiang Chu Pian Ran mengamati cincin yang melingkar di jari tengah tangan kanannya itu.


"Apa gara-gara ini ya?" gumam Lee Chu Mian Yin berusaha menebak.


"Cincin darimana itu Yin'er?" tanya Qin Wu Zhu yang juga melihat cincin yang dikenakan oleh keponakan angkatnya itu.


"Ini cincin pemberian dari para peri temannya ibu yang kemarin datang berkunjung ke rumah kakek Chu... Kemarin cincin ini dimasuki kekuatan supranatural oleh para peri itu," jelas gadis kecil itu terus terang.


"Berarti benar kamu pakai ilmu sihir, itu namanya latihan yang curang dong. Sini untuk paman saja, paman beli mahal deh."


Kata-kata jenderal muda itu langsung membuat Lee Chu Min menyembunyikan tangan kanannya di belakang punggungnya.


"Enak saja mau dibeli. Kata Peri Jinfeng Zhui cincin ini untuk Yin'er dan tidak boleh dilepas," tukas gadis kecil itu jujur dengan wajah sedikit cemberut sambil sepasang matanya menatap sedikit tajam pada pamannya itu.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2