
Hari ini, tampak siswa di aula kelas A sedang mengikuti kegiatan belajar tentang sastra, yang guru pengajarnya adalah Tuan Lao Tse, seorang pria yang usianya tidak beda jauh dengan Tuan Bao Zhung.
Saat guru tersebut sedang menuliskan contoh puisi di papan tulis, ada dua siswa laki-laki yang berasal dari keluarga bangsawan kelas atas yang memang terkenal 'badung' nya, sedang bermain lempar-lemparan kertas yang dibuat dalam bentuk bulatan-bulatan kecil, yang salah satu diantara mereka duduknya persis di belakang Lee Chu Mian Yin.
Sekalipun di kelas tersebut ada Qin Wu Dang, namun kedua bocah itu tetap melakukan aksinya tanpa rasa sungkan sedikit pun. Putranya Qin Wu Zhang yang turut melihat tingkah nakal kedua anak laki-laki tersebut tidak mau ambil pusing alias tidak peduli karena mereka berdua sudah pernah beberapa kali kena tegur oleh beberapa guru, namun sikap mereka masih saja seperti itu, kelihatan sekali jika mereka suka 'meremehkan' orang lain. Entah bagaimana didikan orang tua mereka saat di rumah sehingga kedua anak laki-laki tersebut memiliki tabiat yang tidak wajar.
Suatu ketika, di saat siswa yang duduk di baris bagian paling belakang melempar kertas ke arah temannya yang tempat duduknya ada di belakang putrinya Lee Jiang Wook dan teman yang niatnya mau dilempar tersebut kemudian menghindar, tentu saja kertas itu terus meluncur ke depan tepat di belakang punggung gadis kecil itu.
Namun sepersekian detik kemudian, tampak suatu keanehan yang membuat beberapa siswa di kelas tersebut, yang kebetulan juga melihat aksi lempar-lemparan kertas tadi menjadi 'tercengang' termasuk si Qin Wu Dang. Yakni beberapa cm 'sebelum' bulatan kertas tersebut mendarat di rambut panjang Lee Chu Mian Yin, kertas itu tiba-tiba saja jatuh ke bawah alias sama sekali tidak mengenai atau pun menyangkut di rambut gadis kecil tersebut, seolah-olah ada 'perisai tak terlihat' di sekeliling tubuh putrinya Lee Jiang Wook.
Untuk memastikan penglihatannya, siswa badung yang duduk di bagian belakang tadi pun mengulangi lagi perbuatannya dengan melempar bulatan kertas yang sekarang dibentuk agak besar ke bagian belakang tubuh gadis kecil itu yang rupanya kejadian tadi benar-benar nyata adanya.
Sementara itu si Lee Chu Mian Yin, yang tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi, bahkan dia sendiri pun belum sadar tentang salah satu keanehan yang ada dalam dirinya pun tetap fokus pada pembelajaran yang berlangsung, meskipun putranya Qin Wu Zhang sudah beberapa detik yang lalu memperhatikan gadis kecil itu dengan tatapan bertanya-tanya.
Sedangkan di tempat duduk yang lain, tepatnya di baris paling kiri deret ke 3, Liu Xhu Ru yang turut menyaksikan kejadian ganjil tersebut juga sangat keheranan.
Beberapa detik kemudian, keterkejutan dan keheranan beberapa siswa tadi pun menjadi buyar karena Tuan Lao Tse kembali membalikkan badannya lalu memberi penjelasan materi tentang puisi.
Sesudah menyampaikan teori tersebut, para siswa di kelas A kemudian diminta untuk mencoba membuat puisi paling sedikit 3 bait oleh guru sastra itu.
Tentu saja, benak mereka yang sebelumnya tadi memikirkan keanehan Lee Chu Mian Yin, sekarang menjadi teralihkan karena mereka harus konsentrasi untuk membuat puisi seperti yang diperintahkan oleh Tuan Lao Tse.
Beberapa jam kemudian...
Lima belas menit an sebelum tepat tengah hari, kegiatan belajar hari itu pun usai dan anak-anak diperkenankan untuk pulang.
Tak berapa lama, Tuan Lao Tse pun meninggalkan aula tersebut setelah mengucapkan salam perpisahan kepada para siswanya.
"Mian Yin!" panggil Gu Lian Chung, salah satu anak badung yang bermain lempar-lemparan kertas tadi, yang tempat duduknya persis di belakang putrinya Lee Jiang Wook.
"Iya kak Gu, ada apa?" sahut gadis kecil itu sesudah menghadapkan tubuhnya pada anak laki-laki yang berumur 10 tahunan tersebut.
"Kamu punya kekuatan supranatural seperti ibumu ya?" tanya Gu Lian Chung tanpa basa-basi.
Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu saja Lee Chu Mian Yin merasa bingung karena tidak paham arah pembicaraan putra dari Tuan Gu Lian Jui tersebut.
"Maksud kakak Gu apa ya, aku tidak mengerti," balas gadis kecil itu terus terang karena selama ini memang baru keluarganya dan para pelayannya saja yang tahu tentang kesaktian cincinya, ditambah lagi Tuan Chu Jeong Byun dan Tuan Lee Jiang Xun juga sudah mewanti-wanti para pelayan mereka agar tidak membocorkan kelebihan cucunya ke luar kediaman.
"Aku tadi kan sempat main lempar-lemparan kertas dengan si Rui, eh waktu aku menghindar ke samping, kertas itu tidak bisa menyentuh dirimu," terang anak laki-laki badung tersebut.
"Apa iya kak? Jangan-jangan kakak hanya bercanda saja," putrinya Lee Jiang Wook masih belum percaya dengan perkataan Gu Lian Chung barusan.
"Diberitahu tidak percaya, coba kau tanya teman-teman yang lain, mereka juga ada yang melihat," putranya Tuan Gu Lian Jui itu berusaha meyakinkan gadis kecil yang duduk di depannya tersebut.
__ADS_1
"Iya Mian Yin, hal aneh tadi benar-benar terjadi lo, malah aku yang mengulang melemparmu dengan bulatan kertas yang agak besar agar yakin kalau yang aku lihat tadi bukan sekedar khayalan," timpal Rui Xiao Wang, si anak badung lainnya yang tempat duduknya ada di baris paling belakang.
Untuk beberapa saat Lee Chu Mia Yin pun terlihat sedang berpikir. Gadis kecil itu sudah diperingatkan oleh keluarganya agar tidak menceritakan kelebihannya pada teman-temannya bahkan pada pihak anggota keluarga kerajaan.
"Entahlah kak, aku sendiri juga tidak tahu soal itu," putrinya Lee Jiang Wook sengaja memberikan jawaban demikian untuk mencari cara teraman.
"Maaf ya kak Gu, kak Rui, aku mau pulang dulu, bibi Xi'er pasti sudah menungguku sedari tadi," Lee Chu Mian Yin tak ingin berlama-lama di aula itu agar teman-temannya tidak bertanya lebih lanjut lagi.
Dengan segera, gadis kecil itu pun bangkit dari duduknya, memasang tali tas sekolahnya di kedua pundaknya, lalu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan tersebut dengan diiringi tatapan beberapa pasang mata temannya, yang benak mereka masih menyimpan tanda tanya besar tentang keganjilan yang baru saja mereka lihat.
Baru saja beberapa meter keluar dari aula, si Liu Xhu Ru sudah berada di samping kiri Lee Chu Mian Yin dengan mengimbangi langkah kaki gadis kecil tersebut, yang tentu saja hal itu lagi-lagi membuat Qin Wu Dang tidak suka.
Sedangkan ke empat anak perempuan centil yang ada di Kelas A tersebut semakin tidak senang dengan putrinya Lee Jiang Wook, karena kejadian aneh tadi membuat gadis kecil itu menjadi pusat perhatian banyak teman-temannya khususnya teman laki-laki termasuk putranya Qin Wu Zhang yang menjadi target perhatian mereka.
"Mian Yin, kamu benar-benar tidak tahu jika kamu punya kelebihan seperti tadi?" cucunya perdana menteri kesejahteraan rakyat turut mengungkit kejadian aneh tadi karena dia masih sangat penasaran bercampur kagum dengan 'hal yang tidak biasa' yang dimiliki oleh teman sekelasnya sekaligus gadis kecil yang membuatnya jatuh hati itu.
"Aku benar-benar tidak tahu kak," Lee Chu Mian Yin memberikan balasan singkat yang juga jujur karena gadis kecil itu memang baru tahu hari ini jika dia mempunyai 'kelebihan lain' setelah memakai cincin yang ditransferi dengan kekuatan supranatural para peri senior teman dari mendiang ibunya.
"Apa mungkin itu warisan dari mendiang ibundamu ya? Kan selama beliau masih hidup, dia sangat hebat sampai terkenal di seluruh wilayah Qin ini," Liu Xhu Ru mengungkapkan hasil pemikirannya sekaligus memuji mendiang ibunya Lee Chu Mian Yin.
"Mungkin saja begitu kak," putrinya Lee Jiang Wook tidak berani berkomentar panjang karena dia tidak ingin keceplosan tentang kesaktian cincinnya.
Sebelum putranya Tuan Liu Xhu Wang tersebut bertanya lebih banyak lagi, tampaklah sosok Xi'er sedang menapakkan kakinya menghampiri mereka berdua karena gadis pelayan itu sudah menunggu majikan kecilnya lebih lama dari biasanya, hingga akhirnya Xi'er berinisiatif untuk masuk ke dalam area istana setelah mendapat ijin dari para penjaga gerbang.
"Tidak apa-apa sayang, bibi menjemput sampai kesini untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja," terang gadis pelayan itu.
"Kak Liu, Mian Yin pulang dulu ya," pamit putrinya Lee Jiang Wook sambil menoleh pada Liu Xhu Ru.
"Tuan muda, kami berdua duluan ya...," sekarang ganti Xi'er yang menyusul berpamitan pada cucunya perdana menteri kesejahteraan rakyat.
"Iya Mian Yin, bibi Xi'er, hati-hati di jalan ya...," sahut anak laki-laki itu.
Beberapa saat kemudian, terlihatlah Xi'er dan Lee Chu Mian Yin berjalan beriringan menuju ke luar gerbang istana dan dilanjutkan ke kediaman Chu, karena saat ini giliran gadis kecil itu dan ayahnya menginap di kediaman si penasehat kerajaan.
Sejak pertama masuk sekolah, atas kemauan Lee Chu Mian Yin sendiri, gadis kecil itu berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki bukan naik kereta kuda seperti anak-anak lainnya.
Adapun alasan putrinya Lee Jiang Wook adalah karena kelak besar nanti dia bercita-cita ingin menjadi seorang jenderal, jadi dia tidak ingin menjadi seorang anak yang manja sekalipun baru ditinggal oleh ibundanya dan mulai melatih dirinya agar menjadi anak yang kuat alias tahan banting.
🌹
Setelah makan siang...
"Kakek, nenek, Yin'er ingin bicara sesuatu," ucap Lee Chu Mian Yin setelah mereka keluar dari ruang makan.
__ADS_1
"Kamu ingin bicara apa sayang?" balas Nyonya Chu Jeong Byun sambil menoleh pada cucu kesayangannya.
"Tadi waktu di sekolah ada teman Yin'er yang main lempar-lemparan kertas, dan katanya waktu kertas itu mengarah ke Yin'er kertasnya tidak bisa mengenai Yin'er," gadis kecil yang berumur 8 tahunan itu bercerita dengan penyusunan kalimat yang diolahnya sendiri asal inti ceritanya sama dengan yang disampaikan oleh Gu Lian Chung dan Rui Xiao Wang tadi saat di sekolah.
"Apa iya seperti itu Yin'er?" Tuan Chu Jeong Byun memastikan kebenaran cerita cucunya.
"Iya kek, tadi teman Yin'er cerita seperti itu, dan katanya ada beberapa teman yang lain yang juga melihatnya," jelas putrinya Lee Jiang Wook.
"Kita bicara di ruang keluarga saja ya," lanjut pria paruh baya itu.
Tak berapa lama, pasangan suami istri dan cucunya tersebut masuk ke ruang keluarga dan duduk di kursi.
"Maksud ceritamu tadi ada temanmu yang bermain lempar-lemparan kertas, kemudian saat kertas itu mengarah ke kamu kertasnya tidak mengenai tubuhmu begitu?" tuan penasehat kerajaan mengulang cerita cucunya sambil mencerna maksud dari kisah tersebut.
"Katanya begitu kek, tapi Yin'er sendiri tidak tahu kejadiannya seperti apa dan kapan, soalnya teman Yin'er yang main lempar-lemparan kertas tadi duduknya di belakangnya Yin'er," terang Lee Chu Mian Yin dengan melihat pada kakeknya.
Untuk sesaat, Tuan dan Nyonya Chu Jeong Byun saling memandang satu sama lain.
"Bagaimana kalau kita buktikan sendiri saja kek, apakah cerita teman Yin'er tadi benar atau tidak," gadis kecil itu mencoba memberi masukan pada kakek dan neneknya.
"Maksudnya mencoba melemparmu dengan kertas begitu sayang?" Nyonya Chu Jeong Byun berusaha mencerna kata-kata cucunya.
"Iya nek," jawab putrinya Lee Jiang Wook.
"Ya sudah, kalau begitu nenek ambil kertas dulu sebentar ya."
Setelah berkata demikian, wanita paruh baya itu bangkit dari kursinya, dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan menuju ke ruang kerja suaminya untuk mengambil kertas.
Beberapa menit kemudian, datanglah Nyonya Chu Jeong Byun sambil kedua tangannya membuat bulatan dari kertas.
"Nenek lempar kertasnya sekarang ke arah kamu ya," ucap wanita paruh baya itu lalu melempar bulatan kertas yang ada di tangan kanannya ke arah tubuh cucunya yang ternyata 'benar' jika benda tersebut tidak mengenai badan Lee Chu Mian Yin.
Untuk sepersekian detik pasangan suami istri itu saling berpandangan lagi dengan rasa keheranan, sementara itu gadis kecil tersebut mengambil bulatan kertas tadi dari lantai.
"Sehebat inikah kesaktian cincin yang dimasuki oleh kekuatan supranaturalnya para peri senior? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan semua keanehan yang diakibatkan oleh cincin itu," Nyonya Chu Jeong Byun mengungkapkan isi hatinya.
"Aku sendiri juga tidak mengerti istriku. Maksud mereka membekali Yin'er dengan kemampuan yang berlebihan seperti ini untuk apa? Jika teman sekolahnya sudah ada yang melihat keanehan Yin'er, pasti di hari-hari berikutnya dia akan menjadi pusat perhatian," sahut Tuan Chu Jeong Byun.
"Yin'er, kamu kemari sayang," wanita paruh baya itu meminta cucunya untuk mendekat ke arahnya sambil tangan kanannya terulur ke arah gadis kecil yang duduk di samping kanannya tersebut.
"Kamu tidak menceritakan soal cincinmu kepada teman-teman sekolahmu kan?" untuk kesekian kalinya Nyonya Chu Jeong Byun menanyakan hal yang sama.
"Tidak nek, Yin'er tidak pernah menceritakan cincin ini ke teman-teman seperti yang diminta oleh kakek, nenek dan ayah," Lee Chu Mian Yin menjawab jujur apa adanya.
__ADS_1
🌹🌹🌹