Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 75 Lee Jiang Wook Bisa Berjalan Kembali


__ADS_3

Sepeninggal peri Jinfeng Zhui, Chu Pian Ran mengenakan kembali topengnya dan dia pun terbang dengan ilmu peringan tubuhnya menuju ke tempat kudanya berada.


Sesudah naik ke punggung kuda, gadis itu segera memacu kuda itu untuk pergi keluar area hutan.


Sejak keluar dari hutan Jinfeng, Chu Pian Ran terus berkuda selama 3 hari tanpa henti.


Saat dalam perjalanan, gadis itu pun melihat ada tempat yang cocok untuk beristirahat. Tak menunggu lama, dia pun langsung membelokkan kudanya menuju ke tempat tersebut.


Setelah mengamati pepohonan itu untuk sesaat, mata Chu Pian Ran melihat ada sebuah dahan pohon besar yang bisa dia gunakan untuk rebahan.


Beberapa detik kemudian gadis itu lalu melompat naik dari punggung kuda menuju ke atas dahan itu sambil memanggul karung berisi buah-buahan dan tanaman obat dari peri Jinfeng Zhui.


Karung itu lalu diletakkannya diantara jepitan dahan, sesudah itu dia merebahkan dirinya di dahan itu sambil memakan buah-buahan.


Tak lupa, Chu Pian Ran melemparkan dua buah apel untuk kudanya. Apel yang terjatuh di tanah itu langsung dimakan kuda itu sedikit demi sedikit.


Karena angin di tempat itu semilir, tak butuh waktu lama gadis itu pun tertidur.


Di kejauhan, nampaklah seorang 'pemuda' yang sedari tadi mengamati gerak-gerik gadis itu.


'Pemuda' itu namanya Rong Hya. Dia bukan dari bangsa manusia tapi dari golongan siluman serigala dan umurnya sudah lebih dari 3.500 tahun.


Rong Hya memiliki penciuman yang sangat tajam. Saat dia sedang berjalan-jalan di hutan Jinfeng, hidungnya tiba-tiba mencium aroma yang familier baginya. Yaitu aroma tubuh mendiang peri Mei Hwa Lie, yang dulu pernah dia sukai secara diam-diam.


Karena penasaran, Rong Hya pun mencari sumber aroma itu yang ternyata berasal dari tubuh seorang gadis yang sedang bermeditasi.


Sejak saat itulah siluman serigala itu terus membuntuti Chu Pian Ran karena dia ingin tahu siapa gadis itu sebenarnya dan mengapa aroma tubuhnya sama seperti aroma tubuh mendiang peri Mei Hwa Lie.


Lebih dari tiga jam kemudian terbangunlah Chu Pian Ran dari tidurnya. Dengan segera gadis itu mengambil buntelannya, turun dari dahan dan langsung naik ke punggung kudanya untuk melanjutkan perjalanan.


****


Ibukota Qin


Setelah tiga minggu lebih dua hari sampailah Chu Pian Ran di depan gerbang ibukota.


Para prajurit yang saat itu sedang berjaga di gerbang, membungkukkan badannya ketika gadis bertopeng itu lewat di depan mereka.


Begitu melewati gerbang itu, tanpa disangka-sangka, penduduk ibukota yang melihatnya melintas langsung menepi ke pinggir jalan sambil berteriak 'hidup tuan putri Nanyang' dan 'hidup kerajaan Qin' secara berulang-ulang dengan menaik turunkan tangan kanan mereka yang terkepal. Pemandangan itu terjadi hingga mendekati gerbang istana.


Rupanya berita tentang kerajaan Lian telah tersebar di kalangan penduduk ibukota dan tidak tahu siapa yang telah menyebarkan kabar itu.


Semua penduduk ibukota merasa yakin bahwa yang bisa membuat hal yang tidak masuk akal seperti itu adalah tuan Song yang sekarang menjadi putri Nanyang.


Kini Chu Pian Ran telah sampai di depan istana. Para prajurit langsung membungkukkan badannya begitu gadis itu lewat di depan mereka.


Tanpa mempedulikan sekitarnya, Chu Pian Ran melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, dengan segera gadis itu merubah wujudnya menjadi kupu-kupu dan langsung terbang meninggalkan istana menuju ke kediaman Lee.


Para pelayan di kediaman Lee sudah tidak terkejut lagi saat melihat Chu Pian Ran tiba-tiba muncul di kediaman.


Saat itu tuan dan nyonya Lee beserta putranya sedang bercengkerama di gazebo taman.


Begitu melihat sosok gadis itu terlihat di kejauhan, dengan segera nyonya Lee pun berlari menyongsong calon menantunya itu lalu memeluknya.


Tuan Lee juga tidak mau ketinggalan. Pria paruh baya itu berjalan mendekati kedua perempuan yang saling berpelukan itu.


Lee sendiri merasa terharu dan senang saat melihat calon tunangannya itu telah kembali dengan selamat dan sehat.


"Bagaimana kabarmu sayang? Apa kau baik-baik saja?" Tanya nyonya Lee begitu melepaskan pelukannya sambil memegang kedua bahu gadis itu.


"Aku baik-baik saja bibi. Oh ya, aku juga berhasil mendapatkan obat untuk Lee." Balas Chu Pian Ran.


"Benarkah? Darimana kau mendapatkannya nak?" Tanya tuan Lee.


"Dari hutan Jinfeng paman." Lanjut gadis itu.


Tuan dan nyonya Lee terkejut mendengar perkataan calon menantunya itu.


"Hutan Jinfeng? Kau sudah sampai di sana?" Sambung pria paruh baya itu tak percaya.


"Iya paman. Aku mendapatkannya langsung dari peri penguasa hutan itu." Jelas Chu Pian Ran.


Lagi-lagi pasangan suami istri itu terkejut.


"Kau bertemu dengan penguasa hutan itu? Benarkah?" Kali ini gantian nyonya Lee yang bertanya.

__ADS_1


"Iya bibi. Namanya peri Jinfeng Zhui. Peri itu baik sekali padaku." Ucap gadis itu.


Tuan dan nyonya Lee merasa sangat heran. Untuk kesekian kalinya dia dibuat kagum oleh calon menantunya itu.


Beberapa saat kemudian, Chu Pian Ran membuka bungkusan sapu tangannya dan menyerahkan tanaman itu pada nyonya Lee.


"Ini bibi obatnya. Kata peri itu, tanaman ini ditumbuk dengan dicampur 5 sendok air lalu diperas dan sarinya diminum." Terang Chu Pian Ran.


Tak menunggu lama lagi, nyonya Chu segera menumbuk tanaman itu seperti petunjuk calon menantunya.


Setelah sari tanaman itu diminum Lee, pemuda itu merasakan ada aliran hangat dalam tubuhnya.


Lee memejamkan matanya begitu obat itu bereaksi. Rasa hangat itu berlangsung hingga satu jam dan selama itu tubuhnya mengeluarkan asap tipis berwarna hitam secara terus menerus.


Sesudah tubuhnya kembali normal, pemuda itu membuka matanya.


"Sekarang cobalah untuk berjalan Lee..." Kata Chu Pian Ran.


Dengan dibantu oleh ayahnya, Lee bangkit berdiri dari kursi rodanya pelan-pelan lalu mencoba untuk melangkahkan kakinya.


Secara ajaib kaki Lee bisa berjalan kembali seperti sediakala.


Betapa leganya semua orang yang ada di situ, bahkan nyonya Lee sampai meneteskan air matanya karena terharu.


Karena senangnya pria paruh baya itu, dia memeluk putra satu-satunya itu.


"Terimakasih sayang, karena perjuanganmu sekarang Lee sembuh seperti sediakala." Kata nyonya Chu sambil memegang kedua tangan calon menantunya.


"Bibi tidak perlu berterimakasih, ini semua sudah menjadi tanggungjawabku sebagai calon istrinya. Jika aku bisa membantunya kenapa tidak kulakukan." Jelas Chu Pian Ran.


Lee lalu menghampiri tunangannya itu lalu memeluknya erat.


Tuan dan nyonya Lee yang menyaksikan itu menjadi terharu. Mereka berdua akhirnya meninggalkan muda mudi itu agar bisa menghabiskan waktu bersama.


Setelah melepaskan pelukannya, pemuda itu langsung menciumi wajah calon istrinya tanpa peduli jika dilihat oleh pelayan yang kebetulan lewat.


"Terimakasih banyak sayang, jika bukan karena usahamu pasti aku tidak akan seperti ini lagi." Ucap Lee sambil kedua tangannya menangkup kedua pipi gadis itu.


"Tidak perlu berterimakasih Lee, ini memang sudah seharusnya kulakukan untukmu. Lagipula kau bisa sakit separah itu karena kesalahanku juga." Balas Chu Pian Ran.


Beberapa saat kemudian Lee membawa tunangannya itu ke ruang kerjanya, dan setelah sampai Chu Pian Ran dengan segera merubah wujudnya menjadi kupu-kupu lalu langsung terbang meninggalkan kamar pemuda itu dan kediaman Lee.


Tanpa menemui orang tuanya terlebih dahulu, kupu-kupu jelmaan Chu Pian Ran langsung masuk ke kamarnya, merubah wujudnya menjadi manusia lalu langsung membaringkan tubuhnya untuk tidur.


Sore harinya, Xi Er yang kebetulan masuk ke kamar nona mudanya untuk mengganti sprei menjadi terkejut karena melihat majikannya itu tiba-tiba sudah berbaring di atas ranjang.


Dengan segera pelayan itu meletakkan sprei yang dibawanya di atas meja lalu dengan setengah berlari dia mencari keberadaan tuan dan nyonya Chu.


Begitu pasangan suami istri itu diberitahu Xi Er bahwa putrinya telah kembali, dengan cepat mereka berdua melangkah pergi menuju ke kamar putrinya dengan diikuti Xi Er.


Kini nyonya Chu sudah duduk di tepi ranjang putrinya, sedangkan suaminya berdiri di dekatnya.


Pasangan suami istri itu melihat putrinya yang sedang tertidur pulas dan tidak ingin mengganggunya.


"Dia pasti sangat lelah..." Ucap nyonya Chu pelan.


"Kalau begitu kita biarkan saja dia beristirahat sepuasnya." Kata tuan Chu.


Tak berapa lama pasangan suami istri itu meninggalkan kamar putrinya.


Dua hari sudah Chu Pian Ran tertidur tanpa bangun sebentar pun.


Karena rindu, pagi itu Lee berkunjung ke kediaman calon mertuanya untuk menemui calon istrinya.


Begitu pemuda itu ada di ambang pintu kamar Chu Pian Ran, Lee masih mendapati tunangannya itu tidur dengan nyenyaknya.


Setelah menutup pintu kamar, seperti biasa pemuda itu naik ke ranjang gadis itu lalu merebahkan tubuh di sampingnya sambil memandangi wajah cantik calon istrinya itu.


Tak berapa lama tangan kanan pemuda itu mengelus pipi Chu Pian Ran.


Merasa ada yang menyentuh pipinya, gadis itu dengan malas membuka matanya lalu melihat di sampingnya sudah ada tunangannya.


"Kenapa kau sering mengganggu tidurku Lee..." Ujar Chu Pian Ran pelan.


"Kau sudah tidur selama 2 hari sayang, apa kau tidak lapar?" Tanya Lee.


"Perutku memang lapar tapi mataku masih ngantuk..." Balas gadis itu malas.

__ADS_1


"Jangan dibiasakan telat makan sayang, nanti lambungmu bisa sakit..." Pemuda itu memperingatkan tunangannya.


"Aku minta Xi Er untuk menyiapkan makanan untukmu ya?" Lanjut Lee.


"Jangan sekarang, aku masih malas makan..." Jawab Chu Pian Ran dan tak lama kemudian matanya tertutup kembali.


Beberapa saat kemudian tangan kanan Lee lalu menyelusup di balik selimut yang menutupi tubuh gadis itu dan mulailah tangannya merayap di balik baju gadis itu.


Tak butuh waktu lama, tangan kanannya telah menangkup gundukan sebelah kiri tunangannya itu.


Selanjutnya Lee kemudian memijit-mijit bagian itu dengan lembut dan memainkan puncaknya.


Chu Pian Ran tak bergeming dan masih menutup matanya karena memang masih ngantuk.


Tapi tak lama kemudian matanya kembali terbuka saat puncaknya dipencet Lee dengan agak kencang.


Gadis itu pun melihat tunangannya dengan wajah cemberut tapi tidak berkomentar apa-apa.


Kini tangan kanan Lee berpindah tempat di bagian kanan dan menyingkap pakaian atas tunangannya hingga gundukannya terlihat jelas.


Untuk sesaat pemuda itu melihat gundukan itu dan tak lama dia pun mulai menghisap puncaknya agak kuat.


Chu Pian Ran yang sebenarnya ingin melanjutkan tidurnya pun tidak jadi karena ulah tunangannya itu.


Setengah jam Lee melakukan itu, lalu merapikan kembali pakaian gadis itu.


Kini kedua mata muda mudi itu saling beradu.


Kemudian Chu Pian Ran memajukan kepalanya dan mencium bibir tunangannya selama beberapa menit.


"Sayang, bagaimana kalau kita menikah saja?" Tanya Lee.


"Jika kita menikah kau pasti akan melarangku pergi jauh." Jawab Chu Pian Ran.


"Aku akan mengijinkanmu pergi tapi tidak boleh terlalu lama seperti sebelumnya, apalagi jika kau hamil nanti, aku jelas melarangmu untuk bepergian." Sambung pemuda itu.


"Aku masih belum bisa menikah sekarang Lee, karena aku merasa yakin tugasku di luar sana masih banyak." Jelas gadis itu.


"Lalu kapan dong kita bisa menikah?" Lanjut Lee dengan wajah memelas.


"Atau kau cari saja gadis lain yang mau kau nikahi secepatnya." Usul Chu Pian Ran sekenanya.


Alhasil, perkataan tunangannya itu membuat wajah Lee cemberut dan matanya agak melebar.


"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu sayang? Memangnya kau rela melihat aku menikah dengan gadis lain?" Ucap Lee sedikit kesal.


"Kenapa aku tidak rela?" Sahut gadis itu dengan santai dan malah semakin membuat Lee geregetan.


Pemuda itu menatap lekat mata tunangannya untuk beberapa saat.


Pandangan mata pemuda itu seolah-olah menusuk sanubari Chu Pian Ran.


"Aku tidak suka kau berkata seperti itu sayang. Jangan main-main dengan hubungan kita. Bagiku kau adalah satu-satunya gadis yang harus kumiliki hingga akhir hayat dan tidak tergantikan dengan yang lain." Tegas Lee.


"Aku tadi hanya bercanda sayang, kenapa kau anggap serius..." Kata gadis itu.


"Lalu kapan kita bisa menikah?" Tanya pemuda itu sekali lagi.


Chu Pian Ran terdiam sesaat dan terlihat berpikir.


"Ya sudah, aku akan mengalah dengan keinginanmu. Tapi jika kau hamil nanti jangan bepergian jauh. Bagaimana?" Tambah pemuda itu.


"Apakah kau mengijinkan aku minum obat anti hamil hingga aku benar-benar siap untuk memiliki anak?" Tanya Chu Pian Ran.


"Baiklah, jika itu memang keinginanmu aku menyetujuinya. Bagaimana? Kau mau menikah secepatnya denganku?" Sekali lagi Lee mengulangi pertanyaannya.


"Terserah kau saja..." Jawab gadis itu.


"Jadi kau mau menikah denganku? Bagaimana jika bulan depan?" Tanya Lee tiba-tiba bersemangat.


"Bulan depan terlalu cepat Lee..." Ucap Chu Pian Ran.


"Kalau begitu dua bulan lagi. Bagaimana?" Lanjut pemuda itu.


"Baiklah..." Sahut tunangannya itu.


Bukan main senangnya Lee mendengar jawaban Chu Pian Ran. Pemuda itu dengan semangatnya menciumi wajah tunangannya itu.

__ADS_1


__ADS_2