
3 hari kemudian...
Dini hari itu, tampaklah 2.000 orang prajurit sedang bersiap-siap di depan markas besar sebelum mereka berangkat ke lokasi tambang emas di bawah pengawasan Qin Wu Zhu.
Adapun sesuai dengan instruksi kaisar, para prajurit diperintahkan untuk membawa : perlengkapan untuk menggali atau menambang semaksimal mungkin; gerobak angkut besar yang kuat; tenda untuk mereka menginap selama proses penambangan berlangsung; bahan makanan tahan lama; minuman; alat memasak; alat makan dan masih banyak lagi.
Semua persiapan itu dilakukan mengingat lokasi tambang emas sangat jauh dari pemukiman penduduk.
Saat pertemuan terakhir antara Chu Pian Ran dengan kaisar Qin Shi Huang, yang mana di kesempatan itu, nyonya muda Lee menyerahkan kertas yang berisi gambar rute antara ibukota Qin dengan lokasi tambang emas. Maka dengan segera, pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu memanggil putranya Qin Wu Zhu agar mempersiapkan 2.000 prajuritnya dan memerintahkan mereka untuk menyediakan segala perlengkapan yang harus dibawa ke lokasi tambang emas.
Mendapat perintah seperti itu dari ayahandanya, tentu saja pangeran kedua pun langsung bertindak.
Sesuai dengan rencana awal, maka Qin Wu Wang lah yang ditunjuk oleh kaisar Qin Shi Huang untuk memimpin 2.000 orang prajurit itu dan mengawasi proses penambangan emas besar-besaran hingga kegiatan itu usai.
Mau tidak mau, pangeran bungsu kaisar Qin yang belum pernah pergi jauh dan dalam waktu yang lama pun hanya bisa menuruti perintah ayahandanya.
Sesuai dengan kesepakatan, Qin Wu Wang akan berangkat terlebih dahulu bersama 2.000 orang prajurit ke lokasi tambang emas dengan berbekal gambar rute yang diberikan oleh Chu Pian Ran kepada kaisar Qin Shi Huang.
Sementara itu, nyonya muda Lee sendiri akan menyusul jika rombongan itu telah sampai di lokasi, mengingat perjalanan antara ibukota Qin hingga lokasi tambang emas bisa memakan waktu lebih dari satu minggunan dengan berkuda.
Daripada menghabiskan waktu demi mengikuti rombongan prajurit hingga ke tempat tujuan, peri cantik itu lebih memilih untuk berkeliling ke beberapa penjuru wilayah Qin dan membagi-bagikan uang koin emas kepada rakyat yang membutuhkan.
Setelah melakukan persiapan selama tiga jam, berangkatlah rombongan besar dan panjang itu dengan membawa segala perlengkapannya. Karena kereta gerobak angkut yang dibawa jumlahnya lebih dari 200, maka tampaklah rombongan itu seperti mau berangkat berperang.
Tak heran, jika selama dalam perjalanan, para penduduk ibukota maupun rakyat yang kebetulan melihat rombongan itu melintas, banyak yang menyimpan tanda tanya besar.
Karena membawa kereta gerobak angkut dalam jumlah yang banyak, otomatis rombongan itu tidak bisa melakukan perjalanan dengan cepat. Alhasil, baru dua minggu rombongan itu sampai di lokasi dengan Chu Pian Ran yang rupanya telah ada di tempat tersebut selama setengah jam sebelum rombongan itu tiba.
Mengingat lokasi tambang emas ada di tengah area hutan, maka untuk sementara waktu, kereta gerobak angkut diletakkan di sepanjang tepian hutan dengan dijaga oleh prajurit secara bergantian.
Atas instruksi Qin Wu Wang, para prajurit pun mendirikan tenda terlebih dahulu dan istirahat selama satu hari penuh sebelum penambangan besar-besaran dimulai (kecuali para prajurit yang mendapatkan jatah berjaga), mengingat mereka habis melakukan perjalanan jauh yang lumayan menguras tenaga.
Tak lupa, diantara prajurit itu ada yang diperintahkan untuk mendirikan tenda khusus yang akan ditempati oleh pangeran bungsu kaisar Qin.
Sementara menunggu tendanya jadi dan perabotan pribadinya dimasukkan ke dalam tenda, Qin Wu Wang pun duduk di bawah sebuah pohon rindang sambil tangan kanannya memijit-mijit punggungnya yang pegal karena terlalu lama berkuda.
"Kau lelah kak?" tanya Chu Pian Ran setelah duduk di samping kakak angkatnya, yang umurnya hanya terpaut satu tahunan dengannya.
"Bukan hanya lelah Nanyang, pantatku rasanya panas dan pinggangku pegal karena terlalu lama berkuda...," keluh pangeran kelima kaisar Qin itu.
Mendengar keluhan Qin Wu Wang, nyonya muda Lee pun tersenyum.
"Makanya kak, jadi pangeran itu jangan terlalu nyaman di istana... Mentang-mentang banyak pelayannya jadi malas kerja berat. Jadinya ya seperti ini...," kata peri cantik itu terus terang.
Selama ini, Chu Pian Ran memang tahu jika pangeran bungsu kaisar Qin itu memiliki sifat yang lumayan manja dan tidak mau melakukan sesuatu yang sekiranya terlalu menguras tenaga dan waktu.
Rasanya sudah menjadi hal yang umum jika yang namanya anak bungsu pasti diperlakukan agak berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain.
__ADS_1
Sebenarnya, bukan hanya Chu Pian Ran saja yang sudah memberi nasehat serupa. Kaisar Qin, ibu kandungnya sampai keempat kakaknya pun juga pernah memberi masukan pada ayah muda itu, namun sepertinya perkataan mereka hanya dianggap seperti angin lalu saja bagi Qin Wu Wang alias hatinya belum merasa tersentuh.
"Kau ada benarnya juga sih...," sahut pangeran bungsu kaisar Qin jujur.
"Sekalipun kakak sudah punya istri dan anak, jangan lupa dengan statusmu yang sebagai pangeran, yang harus punya kepedulian dengan rakyatnya. Kan anggota kerajaan kalian bisa hidup mewah seperti itu asalnya juga dari rakyat...," lanjut Chu Pian Ran berusaha mengingatkan kakak angkatnya sambil menoleh pada ayah muda itu.
"Iya iya adikku yang cantik... Kapan-kapan aku akan mencoba untuk lebih memperhatikan rakyat...," balas Qin Wu Wang dengan wajah sedikit masam.
"Betulan kaak? Jangan-jangan cuma di mulut sajaa..." nyonya muda Lee mulai menggoda kakak angkatnya.
"Ya ampun Nanyang, kamu kan tahu aku baru saja melakukan perjalanan jauh selama dua minggu, bisa-bisanya kau bicara yang tidak-tidak... Lebih baik kamu pijitkan punggungku sini gih...," lanjut ayah muda itu mulai dongkol hatinya dengan wajah cemberut.
"Ye enak saja, memangnya aku tukang pijiit... Lebih baik kakak suruh saja salah satu prajurit untuk memijit punggung kakak...," tolak Chu Pian Ran terus terang.
"Tidak jadi lah, bisa malu aku kalau sampai minta tolong prajurit untuk memijat punggungku... Ketahuan betul jika aku tidak pernah bekerja berat...," kata pangeran kelima kaisar Qin itu masih dengan wajah cemberut.
"Ya memang begitu kenyataannya kan...," timpal nyonya muda Lee jujur.
"Nanti malam kau temani aku tidur di tenda ya Nanyang," pinta Qin Wu Wang serius karena ayah muda itu memang takut jika harus tidur sendirian di tenda dan di tengah hutan yang belum pernah dia alami sebelumnya.
"Tidak mau ah kak, nanti malam aku mau tidur di rumah saja...," sahut peri cantik itu terus terang yang memang nanti malam tidak berniat menginap di lokasi tambang.
"Ayo dong Nanyang temani aku yaa...," rengek ayah muda itu dengan kedua tangannya menggoyang-goyangkan lengan kiri Chu Pian Ran.
"Kan kakak ditemani oleh ribuan prajurit, apa juga yang kakak takutkaan?" sahut nyonya muda Lee sedikit jengkel dengan sifat kekanak-kanakan kakak angkatnya itu.
"Bagaimana jika ada siluman atau setan atau sejenisnya yang tiba-tiba masuk ke tendaku?" pangeran bungsu kaisar Qin itu berusaha membujuk adik angkatnya dengan suatu alasan.
"Ayolah Nanyang, tolong temani aku tidur di tenda malam ini, semalaam saja, ya ya...," Qin Wu Wang masih tidak mau menyerah, ayah muda itu terus saja merengek sambil tetap menggoyang-goyangkan lengan kiri adik angkatnya.
"Kak Wang Er, kakak tidak perlu takut pada makhluk tak kasat mata yang ada di hutan ini... Sebelum rombongan kalian datang, selama tiga hari berturut-turut aku telah mensterilkan lokasi tambang ini dari semua makhluk seperti itu dan mereka tidak akan berani mendekat lagi," jelas Chu Pian Ran berusaha meyakinkan kakak angkatnya yang manja itu.
"Apa iya? Kamu bohong kan...," balas pangeran kelima kaisar Qin masih tidak percaya.
"Memangnya kapan aku pernah berbohong? Ya sudahlah, nanti malam aku akan menginap di hutan ini, tapi aku tidak akan tidur di tenda kakak, aku begadang saja. Tapi, besok sebelum matahari terbit aku akan pulang ke ibukota," akhirnya nyonya muda Lee pun mengalah daripada terus mendengar rengekan kakak angkatnya yang kekanak-kanakan dan membuatnya jengkel.
"Begitu dong Nanyang, terimakasih banyak ya adikku yang baik dan cantik...," ujar Qin Wu Wang merasa lega dengan keputusan adik angkatnya itu.
Dan benar saja, malam itu Chu Pian Ran tetap tinggal di hutan sambil memantau keadaan sekitar.
****
Seperti yang telah disepakati sebelumnya, sebelum matahari terbit, nyonya muda Lee pun kembali ke ibukota Qin.
Sementara itu, setelah sehari penuh para prajurit diistirahatkan, mulailah mereka bergerak bahu membahu untuk melakukan tugas inti mereka datang ke tempat itu.
Atas perintah Qin Wu Wang, ribuan prajurit itu dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan tugas di hari pertama ini.
__ADS_1
Kelompok prajurit pertama diperintahkan untuk menebang pohon yang akan digunakan untuk akses keluar masuk kereta gerobak angkut; kelompok prajurit kedua ditugaskan untuk mencari kayu bakar; kelompok prajurit ketiga diberi tanggung jawab memasak untuk semua para prajurit dan sisanya diberi pekerjaan untuk melakukan penggalian di lokasi tambang.
Adapun, khusus kelompok prajurit pertama, yang dibebankan pekerjaan untuk menebang pohon, jika sudah menyelesaikan tugasnya, mereka disuruh bergabung dengan kelompok penggali.
Sebelum semua prajurit itu bergerak sesuai dengan tugas masing-masing, tak lupa mereka membersihkan tubuhnya terlebih dahulu di sebuah sungai yang lumayan lebar, yang kebetulan ada di dekat lokasi tambang dan setelahnya mereka sarapan dari sisa bekal yang dibawa dari markas.
Kini, tampaklah ribuan prajurit itu beraksi sesuai dengan pembagian tugas masing-masing.
Kelompok prajurit yang bertugas mencari kayu bakar, mulai berpencar ke segala penjuru hutan untuk mengumpulkan kayu-kayu kering yang tergeletak di tanah.
Sementara itu, di tempat yang agak jauh dari lokasi penggalian, terlihat kelompok prajurit yang mendapat tanggung jawab memasak, sedang membuat dapur umum yang banyak dan panjang serta sebagian dari mereka tampak mondar mandir sambil membawa perlengkapan memasak dan makan minum untuk semua prajurit.
Selama berjam-jam ribuan prajurit itu bekerja giat di bawah pengawasan Qin Wu Wang.
Saat tengah hari telah tiba, merekapun berhenti selama dua jam untuk makan siang dan istirahat sebentar.
Karena jumlah prajuritnya ada 2.000, maka tampaklah antrian yang sangat panjang mereka saat mengambil jatah makan siang.
Setelah dua jam berlalu, para prajurit itu pun melanjutkan tugasnya kembali.
Kelompok yang bertugas menggali melanjutkan aktifitasnya menggali, kelompok yang mendapat tanggung jawab mencari kayu bakar juga berpencar kembali untuk mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya, sedangkan kelompok yang bertugas memasak, terlihat mengangkut perlengkapan makan minum prajurit untuk dicuci di sungai, dan sesudahnya mereka kembali memasak untuk makan malam nanti.
Sebelum matahari terbenam, kelompok penggali dan pencari kayu bakar menghentikan pekerjaannya sesuai dengan perintah pangeran bungsu kaisar Qin.
Sementara itu, kelompok pemasak terus berlanjut hingga pembagian jatah makan malam pun usai.
Itulah hari-hari yang dilewati oleh para prajurit di lokasi tambang emas hingga pekerjaan mereka tuntas.
Setelah satu setengah hari penggalian, mulailah tampak bongkahan-bongkahan batu besar dan keras yang berwarna kekuningan, dalam jumlah yang sangat banyak.
Menyaksikan pemandangan yang mengagumkan itu, semakin bersemangatlah para prajurit itu. Bongkahan-bongkahan emas yang besar itu pun dipukuli agar menjadi bongkahan yang lebih kecil sehingga mudah dipindahkan dan diangkut.
Setelah semua kereta gerobak angkut penuh dengan bongkahan-bongkahan emas, maka diangkutlah semua itu menuju ke ibukota dan tentu saja dalam keadaan ditutup oleh kain yang lebar.
Karena barang yang diangkut adalah benda yang sangat berharga, maka untuk mengantar batu-batu emas itu ke ibukota, Qin Wu Wang mengerahkan 500 orang prajurit.
Setelah sampai di ibukota, sesuai dengan rencana, batu-batu emas itu ditampung sementara di gudang markas besar prajurit dan tentu saja di bawah pengawasan ketat Qin Wu Zhu.
500 orang prajurit yang mengantar emas ke ibukota tadi, kini diganti dengan 500 prajurit lainnya.
Dalam perjalanannya kembali ke lokasi tambang, 500 prajurit pengganti dengan dibantu prajurit lainnya akan mengisi kereta gerobak angkut yang telah kosong dengan bahan-bahan makanan mentah yang akan digunakan untuk makan sehari-hari para prajurit di lokasi tambang emas.
Itulah sistem yang dilakukan selama proses penambangan emas berlangsung. Jadi, setiap ada 500 orang prajurit yang mengantarkan batu-batu emas ke markas besar, mereka akan diganti dengan prajurit yang baru, dengan maksud agar terjadi keseimbangan tugas.
Mengingat jumlah batu-batu emas yang digali sangat banyak, maka para prajurit itu membutuhkan waktu selama 6 bulan. Dan selama 6 bulan itu terjadi beberapa kali pengiriman dan pergantian prajurit.
Sedangkan Qin Wu Wang sendiri, setelah dua bulan berada di lokasi tambang emas diganti oleh kedua kakaknya secara bergantian, yakni Qin Wu Zhi dan Qin Wu Lei, yang masing-masing mendapat jatah dua bulan untuk mengawasi kerja prajurit.
__ADS_1
Dalam waktu 6 bulan itu, Chu Pian Ran juga sering berkunjung setiap tiga hari sekali, sekedar untuk mengetahui apakah ada halangan selama proses penambangan.
Begitu proses penambangan emas selesai, para prajurit diperintahkan untuk mengembalikan keadaan tanah dan sekitarnya serapi dan sebersih mungkin sebelum rombongan itu kembali ke ibukota.