Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 40 Tahanan Korban Fitnah


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan paman dan bibi Chu, Lee Jiang Wook pun membawa Chu Pian Ran untuk jalan-jalan seperti yang telah direncanakan kemarin siang.


Sesudah beberapa langkah meninggalkan kediaman Chu, pemuda itu meraih tangan kiri kekasihnya lalu menggandengnya.


Sore itu, jalanan ibukota terlihat lumayan ramai. Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran tampak melihat-lihat dagangan yang dijual di pinggir jalan.


"Kalau kau menginginkan sesuatu katakan saja, aku akan membelikannya untukmu..." Ucap pemuda itu yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh gadis cantik yang ada di sampingnya.


Mereka berdua benar-benar menikmati suasana ibukota pada malam itu. Hati Lee Jiang Wook merasa sangat bahagia dan damai bisa berjalan-jalan kembali dengan kekasihnya.


"Apa kau ingin makan sesuatu?" Tanya Lee pada Chu Pian Ran. Sedari tadi berjalan-jalan, gadis cantik itu sama sekali belum minta dibelikan apapun.


"Tidak Lee, aku belum lapar." Balas kekasihnya.


Setelah satu jam lebih mereka menghabiskan waktu dengan menikmati malam di jalanan ibukota sambil melihat-lihat beberapa barang dagangan di beberapa kios, saat ini mereka berdua sudah terlihat duduk di tepi kanal. Suasana di sekitar tempat itu cukup hening dan tenang karena agak jauh dari jalanan ibukota. Lee Jiang Wook pun lalu menyandarkan kepalanya di bahu kiri Chu Pian Ran.


"Aku merasa bahagia karena bisa bersamamu lagi sayang." Kata pemuda tampan itu pelan.


"Aku dengar, saat di Sanchuan kau sempat bersama pangeran Qin Wu Zhu dan menyelesaikan suatu masalah di sana." Lanjut Lee.


"Iya." Balas gadis cantik itu singkat.


"Kau tidak terpesona dengannya kan?" Tanya pemuda itu.


Chu Pian Ran hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan kekasihnya itu. Sikap diam gadis cantik itu telah membuat Lee Jiang Wook mengangkat kepalanya lalu menatap lekat pada kekasihnya itu.


"Sayang, aku bertanya padamu." Ujar Lee.


Gadis itu pun menatap balik pemuda itu.


"Kau menanyakan suatu hal yang tidak penting Lee." Ucap Chu Pian Ran.


"Tapi bagiku itu sangat penting sayang." Sahut Lee dengan wajah mulai sedikit terlihat masam.


"Menurutmu, apakah aku tipe gadis yang mudah terpesona dengan pria tampan?" Tanya gadis cantik itu.


"Aku tidak tahu." Jawab Lee.


"Jangan membahas hal-hal yang tidak perlu dibahas." Tukas Chu Pian Ran.


"Baiklah, aku minta maaf..." Kata pemuda tampan itu yang akhirnya tidak mengungkit lagi masalah yang dia bicarakan tadi.


"Aku masih terus teringat saat kita di gua beberapa waktu yang lalu sayang." Ucap Lee setengah berbisik.


"Andai saja kita bisa mengulanginya kembali." Lanjut pemuda tampan itu.


Beberapa detik kemudian, Lee Jiang Wook lalu mendekatkan kepalanya pada Chu Pian Ran dan mencium pipi gadis itu secara tiba-tiba. Spontan, sikap pemuda itu membuat mata kekasihnya sedikit mendelik.


"Ini masih di tempat umum Lee." Chu Pian Ran berusaha mengingatkan kekasihnya.


"Kapan-kapan, apakah aku boleh memintanya lagi?" Tanya Lee penuh harap.

__ADS_1


Tanpa mempedulikan pertanyaan pemuda itu, gadis cantik itu pun langsung bangkit dari duduknya lalu meninggalkan pemuda itu dengan hati sedikit jengkel.


"Sayang, tunggu aku!" Seru Lee sambil mengikuti gadis itu.


Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk pulang, setelah suasana yang awalnya damai dan hangat menjadi berubah gara-gara ucapan Lee Jiang Wook yang dianggap tidak bermutu oleh Chu Pian Ran.


****


Tiga hari kemudian, pagi-pagi benar, Chu Pian Ran dan Xi Er sudah keluar kediaman untuk belanja sayuran.


Pagi itu, entah kenapa, gadis cantik itu memiliki niat untuk menggantikan pelayan yang biasanya bertugas membeli sayuran.


Saat itu, terlihatlah oleh mereka berdua, beberapa kios sayuran ada di pinggiran kanan kiri jalanan ibukota. Banyak para kaum hawa ibukota yang pagi itu tampak sedang berbelanja sambil membawa keranjang belanjaan mereka.


Ketika Chu Pian Ran dan pelayan setianya itu sedang memilih-milih sayuran di sebuah kios, lewatlah sebuah kereta kuda yang mengangkut tiga orang tahanan.


Untuk beberapa saat, beberapa penduduk ibukota yang kebetulan sedang berada di jalanan memperhatikan kereta tahanan itu, termasuk Chu Pian Ran dan Xi Er.


Mata gadis cantik itu pun melihat 3 orang pria yang berada di kurungan besi dalam keadaan yang babak belur dan rambutnya acak-acakan.


Tiba-tiba muncullah suara batin yang kuat dari dalam diri gadis itu untuk menolong mereka karena ketiga orang itu sebenarnya tidak bersalah.


Begitu kereta tahanan itu telah menjauh, Chu Pian Ran pun dengan segera melanjutkan acara berbelanjanya.


Sesampainya di kediaman, gadis cantik itu pun langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar tersebut.


Tak berapa lama, tampaklah gadis cantik itu menulis pesan singkat di atas secarik kertas lalu meletakkan kertas itu di atas meja.


Kini, terlihatlah gadis cantik itu sedang melepaskan baju luarnya lalu dia pun mengenakan salah satu baju pria yang tersimpan dalam kotak itu, dan kemudian mengenakan sebuah topeng di wajahnya.


Sementara itu, pakaian yang dilepasnya tadi, dia lipat dan dimasukkannya ke dalam kotak, lalu dikembalikannya kotak itu kembali ke dalam almari.


Setelah berkonsentrasi sebentar, Chu Pian Ran pun lalu merubah wujudnya menjadi seekor kupu-kupu.


Dengan mengandalkan instingnya instingnya, kupu-kupu itu terbang menuju ke tempat dimana para tahanan itu dipenjara.


Beberapa menit setelah kupu-kupu jelmaan Chu Pian Ran terbang meninggalkan kamar, masuklah Xi Er ke dalam kamar nona mudanya dengan perasaan heran karena tidak menjumpai majikannya itu di dalam kamar


Tak berapa lama, mata gadis pelayan itu lalu melihat ada secarik kertas yang tergeletak di atas meja. Xi Er pun kemudian membaca tulisan yang ada di atas kertas itu.


Aku ada urusan sebentar di luar. Kau tidak perlu mencariku.


Xi Er masih merasa bingung dengan maksud pesan itu. Namun akhirnya, dia tetap menuruti apa yang tertulis di kertas itu.


Gadis itupun lalu mulai membersihkan kamar majikannya.


****


Kupu-kupu itu telah tiba di penjara istana. Lalu binatang itu terbang masuk lebih dalam untuk mencari tiga tahanan tadi.


Rupanya tiga tahanan itu kini sudah dirantai tangan dan kakinya dengan posisi berdiri pada sebuah tiang untuk masing-masing orangnya.

__ADS_1


Untuk waktu satu jam suasana di penjara itu terlihat hening.


Kemudian dari arah luar muncullah beberapa orang penjaga dan kepala penjara.


Mereka berjalan mendekat pada tiga tahanan itu.


"Aku akan memberi kalian satu kesempatan lagi untuk mengaku. Jika kalian tetap tutup mulut, maka rasakan sendiri akibatnya." Kata kepala penjara memecah keheningan ruangan itu.


Kepala penjara sudah menunggu selama lima belas menit, namun ketiga tahanan itu tetap tak mengeluarkan suara apa-apa.


"Penjaga, cambuk mereka!" Printah kepala penjara.


"Baik."


Tiga orang penjaga masing-masing mengambil satu buah cambuk dari dalam kotak besi besar yang ada di ruangan itu.


Penjaga itupun mulai mencambuki tubuh tiga tahanan yang sebelumnya sudah dibuat babak belur entah oleh siapa dan dimana.


Ctar! Ctar! Ctar!


Terdengar suara cambukan secara berulang-ulang.


Ketiga tahanan itu masih tetap berdiam diri sambil menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.


Di bagian lain ruangan penjara, seekor kupu-kupu sedang berusaha mencari tempat yang tak terlihat oleh orang lain.


Untunglah di situ terdapat sebuah area yang sangat gelap dan tidak terlihat oleh siapapun.


Dengan segera si kupu-kupu berubah ke wujud manusia yaitu pria bertopeng.


"Berhenti!" Sebuah suara menghentikan aksi para penjaga untuk mencambuk.


Kepala penjara dan para penjaga memalingkan wajahnya untuk mencari sumber suara.


Bukan main terkejutnya mereka saat melihat sosok pria bertopeng yang sedang naik daun di dataran Qin tiba-tiba sudah ada di penjara itu.


"Tu tuan Song, anda ada di tempat ini?" Tanya kepala penjara itu dengan nada kaget.


"Aku tidak suka bicara bertele-tele. Mereka bertiga tidak melakukan kesalahan apapun, lalu kenapa kalian menyiksanya sedemikian rupa?!" Kata pria bertopeng dengan nada sedikit tinggi.


"Maaf tuan, kami tidak akan menyiksa orang jika orang itu tidak berbuat salah. Kami sudah mendapatkan laporan dari gubernur daerah Hanzhong dan disertai keterangan beberapa saksi bahwa mereka kedapatan ingin memberontak." Terang kepala penjara.


"Laporan? Laporan yang bagaimana? Lalu kalian percaya begitu saja?!" Ucap pria bertopeng itu.


Tanpa diduga, pria bertopeng itu mengibaskan tangannya dan melemparkan tubuh para pria itu hingga mundur beberapa meter dan jatuh berguling di tanah.


"Sekarang kalian cepat bebaskan ketiga pria itu dan panggil tabib untuk mengobati mereka sampai sembuh! Jika kalian membantah, aku yang akan membuat kalian babak belur." Lanjut tuan Song dengan suara menggelegar.


Kepala penjara lalu dengan segera memerintahkan anak buahnya untuk melepas rantai ikatan ketiga pria itu.


Tubuh mereka dibopong dan dibaringkan sementara di lantai ruangan itu.

__ADS_1


Sedangkan kepala penjara dengan langkah cepat keluar dari penjara untuk mencari tabib dan melaporkan kejadian yang baru saja terjadi pada pangeran Qin Wu Zhu.


__ADS_2