
Pagi hari sebelum Chu Pian Ran berangkat ke istana, Lee sengaja datang ke kediaman paman Chu untuk mengantar kepergian tunangannya itu.
Saat ini, di kamar Chu Pian Ran telah berkumpul tuan dan nyonya Chu, Lee dan Xi Er.
Setelah berpamitan sekali lagi, di depan mereka berempat, Chu Pian Ran berubah menjadi kupu-kupu.
Kupu-kupu itu lalu terbang meninggalkan kamar dan menjauh dari kediaman Chu dan menuju istana Qin.
Di depan gerbang istana, puluhan prajurit terlihat sibuk mengangkut beberapa peti besar yang isinya bantuan untuk rakyat Beidi dan meletakkannya di atas kereta barang.
Barang-barang bantuan itu berupa ribuan tail emas, obat herbal, bahan makanan yang tahan lama seperti : gandum, kacang-kacangan, jagung, dan lain-lain.
Kemarin sore Chu Pian Ran datang kembali ke istana untuk meminta kepada kaisar Qin agar memberikan bantuan benih-benih tanaman pangan pada rakyat di Beidi.
Selain itu, Chu Pian Ran juga meminta kepada kaisar agar memerintahkan ratusan prajuritnya untuk ikut serta ke Beidi dengan tujuan pada saat di sana nanti para prajurit bisa membantu rakyat Beidi untuk mengolah lahan pertanian.
Karena pria paruh baya itu percaya dengan kemampuan putri angkatnya, maka kaisar Qin langsung menyetujui permintaan Chu Pian Ran.
Setelah semuanya dirasa siap, rombongan itupun berangkat.
Pada saat melewati jalanan ibukota, pengemis samaran Kim Lung melihat iring-iringan itu. Bahkan pemuda itu juga mendapati nona Chu Pian Ran ada diantara rombongan tersebut.
Tanpa menunggu lama lagi, pemuda itu beranjak dari tempat duduknya dan mencari tempat yang aman untuk membersihkan diri dan merubah dirinya kembali menjadi Kim Lung.
Karena rombongan itu berjalan cukup lambat, Kim Lung dapat menyusul mereka setelah setengah jam kemudian.
Kim Lung membuntuti rombongan itu dengan berkuda hingga sampai di gerbang ibukota. Namun setelah di luar ibukota, pemuda itu menitipkan kudanya di sebuah dusun lalu mengikuti iring-iringan itu dengan menggunakan ilmu peringan tubuhnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Tak lupa pula, sebelum melanjutkan pengintaiannya, Kim Lung menyempatkan diri untuk menemui temannya yang ditempatkan di luar ibukota Qin untuk memberitahu bahwa dia akan membuntuti kemana perginya nona Chu Pian Ran.
Mulailah rombongan itu melakukan perjalanan panjang ke daerah Beidi.
****
Setelah melakukan perjalanan selama tiga minggu lebih dua hari sampailah rombongan itu di perbatasan daerah Beidi.
Sepanjang mata memandang, lahan pertanian Beidi yang bisa dikatakan sangat luas memang terlihat sangat kering hingga tanahnya retak-retak.
Begitu juga dengan tanaman lain yang ada di daerah Beidi, semuanya hanya terlihat batang kering saja.
Di daerah Beidi terdapat sebuah sungai yang cukup lebar. Namun karena kemarau panjang, sungai itu sekarang juga tinggal menyisakan sedikit lumpur saja.
Ketika mendengar kabar bahwa rombongan dari istana datang, bupati Chao Fang, bupati daerah Beidi, dengan segera menyambut kedatangan rombongan itu beserta beberapa pegawainya.
Hampir semua penduduk dari Beidi berjajar di tepi jalan untuk menyaksikan iring-iringan dari istana itu.
Selama hampir satu tahun, selain mengalami bencana kekeringan, rakyat Beidi juga menderita kelaparan dan kehausan.
Tak menunggu lama, ratusan prajurit itu membongkar muatan bantuan yang akan dibagikan kepada rakyat Beidi.
Sesuai instruksi Qin Wu Zhu, prajurit membagi bantuan itu dengan adil sesuai dengan jumlah anggota keluarga per rumahnya.
__ADS_1
Qin Wu Zhu dan Chu Pian Ran mengawasi pembagian bantuan itu hingga selesai.
"Apa yang selanjutnya akan kau lakukan Nanyang?" Tanya Qin Wu Zhu sambil memantau pembagian bantuan.
"Aku punya keyakinan kuat jika aku bisa mendatangkan hujan di daerah ini." Balas Chu Pian Ran.
"Lalu kapan kau akan melakukannya?" Lanjut Qin Wu Zhu.
"Aku harus bermeditasi dulu untuk mendapatkan kemampuan itu." Sahut Chu Pian Ran.
"Kalau begitu aku akan meminta bupati Chao Fang agar menyiapkan ruangan khusus untukmu."
Setelah berkata demikian, dengan segera Qin Wu Zhu meninggalkan Chu Pian Ran dan menghampiri bupati Chao Fang.
Setelah membersihkan diri dan makan, Chu Pian Ran masuk ke ruangan yang telah disiapkan oleh bupati Chao Fang untuknya.
Gadis itu mulai bermeditasi dengan khusyuk.
Selama menunggu Chu Pian Ran selesai bermeditasi, Qin Wu Zhu dan para prajurit memberikan bantuan kepada rakyat Beidi yang sekiranya membutuhkan pertolongan.
Satu minggu kemudian, pada tengah malam di saat suasana daerah Beidi sunyi sepi. Chu Pian Ran merubah dirinya menjadi kupu-kupu dan terbang untuk mencari tempat yang sekiranya lumayan tinggi dan agak jauh dari pemukiman penduduk.
Setelah dua puluh menit terbang, akhirnya kupu-kupu itu menemukan sebatang pohon kering besar dan lumayan tinggi.
Chu Pian Ran lalu merubah dirinya ke wujud semula.
Dengan menaiki salah satu dahan besar pada pohon itu, gadis itu kemudian mengerahkan kekuatannya pada telapak tangannya dan mengarahkan kedua telapak tangannya itu ke langit.
Satu jam kemudian turunlah titik-titik air hujan dan tak berselang lama hujan yang cukup deras turun ke daerah Beidi itu.
Saat hujan deras itu turun, pakaian dan tubuh Chu Pian Ran tetap kering karena ada kekuatan magis yang menutupi sekeliling tubuhnya.
Penduduk Beidi yang telah tertidur lelap akhirnya terbangun ketika mendengar suara hujan.
Tak berapa lama banyak penduduk Beidi yang keluar rumah untuk menyaksikan hujan itu.
Seperti beban berat yang terlepas, itulah perasaan penduduk Beidi sekarang.
Mereka merasa lega dan sangat bersyukur dengan adanya hujan itu.
Qin Wu Zhu yang dini hari itu sedang berada di depan kamarnya bersama Lu Zee untuk menyaksikan hujan pun juga merasa lega.
"Yang mulia pangeran, sepertinya tuan putri Nanyang telah berhasil membuat hujan." Kata Lu Zee.
"Benar Zee. Aku yakin hujan ini dia yang membuatnya. Syukurlah, bencana yang terjadi di daerah Beidi akhirnya akan segera berakhir." Sahut Qin Wu Zhu.
"Tuan putri Nanyang benar-benar luar biasa yang mulia pangeran. Dia memang pantas untuk menjadi putri angkat yang mulia kaisar Qin." Lanjut Lu Zee.
Selama tiga jam Chu Pian Ran menurunkan hujan deras itu. Sesudahnya, gadis itu kembali merubah wujudnya menjadi kupu-kupu dan kembali terbang ke kamarnya untuk istirahat.
Keesokan paginya, dengan arahan Qin Wu Zhu, penduduk Beidi dibantu dengan para prajurit mulai mencangkul lahan pertanian yang ada di daerah tersebut.
__ADS_1
Pada siang hari Chu Pian Ran baru bangun dari tidur. Seusai mandi dan makan dia pun berkeliling daerah Beidi hingga bertemu Qin Wu Zhu di pinggiran lahan pertanian sambil mengawasi penduduk Beidi dan prajurit yang sedang mencangkul lahan pertanian.
"Bagaimana keadaanmu Nanyang, apa kau baik-baik saja?" Tanya Qin Wu Zhu sambil menoleh pada gadis itu.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja." Balas Chu Pian Ran.
"Oh ya, nanti setelah proses pencangkulan tanah selesai, katakan kepada mereka semua agar jangan menanam benih terlebih dahulu. Setelah satu tahun kekeringan, tanah itu pasti tingkat kesuburannya sangat rendah." Lanjut Chu Pian Ran.
"Baiklah, nanti aku akan menyampaikan hal ini pada mereka. Apa rencanamu selanjutnya?" Ucap Qin Wu Zhu.
"Selain mendatangkan hujan setiap hari, aku berencana akan mengerahkan kekuatanku untuk mengembalikan kesuburan semua lahan pertanian di sini." Sahut Chu Pian Ran.
"Bagaimana caramu melakukannya?" Sambung Qin Wu Zhu penasaran.
"Jika kau ingin tahu, nanti malam kau bisa ikut denganku." Ujar Chu Pian Ran.
Hari itu proses pencangkulan tanah berhenti sebelum matahari terbenam.
Sore itu Qin Wu Zhu, Chu Pian Ran dan bupati Chao Fang sedang mengobrol di ruang tamu kediaman si bupati.
"Terimakasih banyak yang mulia pangeran dan tuan putri, karena bantuan kalian, sekarang daerah Beidi ini mulai terlepas dari musibah yang dialami selama setahun ini." Kata bupati Chao Fang.
"Anda tidak perlu berterimakasih bupati, sudah menjadi kewajiban kami sebagai anggota keluarga kerajaan untuk memperhatikan kesejahteraan rakyat Qin. Justru kamilah yang seharusnya minta maaf karena baru tahu tentang masalah ini. Selain itu, bantuan yang kami berikan juga berasal dari pajak para rakyat." Balas Qin Wu Zhu.
"Maafkan hamba yang mulia pangeran dan tuan putri, jika boleh hamba bertanya apakah hujan kemarin malam didatangkan oleh tuan putri Nanyang? Hamba baru saja mendengar berita jika tuan putri Nanyang adalah pendekar bertopeng yang tersohor di wilayah Qin ini." Ucap bupati Chao Fang.
"Benar bupati, itu memang aku yang melakukannya. Tapi aku harap hal ini tidak perlu dibesar-besarkan karena aku tidak suka menarik perhatian banyak orang." Sahut Chu Pian Ran.
"Baik tuan putri, hamba mengerti."
Malam harinya, Qin Wu Zhu dan Lu Zee ikut Chu Pian Ran pergi ke lahan pertanian penduduk Beidi.
Sesampainya di lahan pertanian, Chu Pian Ran meminta Qin Wu Zhu dan Lu Zee untuk berdiri saja di pinggir lahan. Sedangkan gadis itu turun ke pematang lahan hingga dia berjalan agak jauh dari pinggiran lahan.
Kemudian Chu Pian Ran meletakkan telapak tangannya pada permukaan tanah, dan keluarlah cahaya dari telapak tangannya itu.
Cahaya itu lalu merambat ke tanah hingga menjangkau seluruh lahan pertanian yang luas itu.
Qin Wu Zhu dan Lu Zee yang menyaksikan pemandangan itu dibuat kagum dengan apa yang dilakukan oleh Chu Pian Ran.
Tanpa mereka sadari, di kejauhan ada sepasang mata yang turut melihat kejadian aneh itu. Sepasang mata itu adalah milik Kim Lung, salah satu mata-mata kerajaan Lian.
Sejak rombongan dari istana Qin tiba di daerah Beidi, pemuda itu benar-benar menjaga jarak agar jangan sampai tertangkap oleh prajurit, mengingat prajurit yang dikirim di daerah Beidi ada ratusan jumlahnya.
Kim Lung merasa bahwa malam ini adalah malam keberuntungan karena dia mendapat kesempatan untuk menyaksikan sendiri kehebatan dari Chu Pian Ran, sehingga perjalanannya ke daerah Beidi tidaklah sia-sia.
Chu Pian Ran menyalurkan kekuatannya pada lahan pertanian itu hingga tiga jam ke depan mengingat lahan pertaniannya sangat luas.
Peningkatan kesuburan lahan pertanian dilakukan Chu Pian Ran secara rutin selama dua minggu penuh.
Kemudian setelah jangka waktu tersebut, penduduk Beidi dengan dibantu prajurit mulai menanam berbagai benih yang telah dibawa dari ibukota.
__ADS_1
Sejak penanaman benih, Chu Pian Ran sedikit menurunkan kadar hujannya agar benih itu bisa tumbuh dengan baik.