
Pria bertopeng meninggalkan dusun tempat Bibi Chung tinggal.
Dia kembali memacu kudanya untuk melanjutkan pengembaraannya.
Setelah beberapa jam berkuda, tiba-tiba Chu Pian Ran merasa kurang enak badan.
Dengan sekuat tenaga gadis itu mencoba bertahan karena saat ini dia belum mencapai perumahan penduduk.
Setelah sampai di dusun terdekat, Chu Pian Ran segera mencari penginapan. Untungnya di situ ada sebuah penginapan sekalipun lumayan sederhana.
Gadis itu segera memesan sebuah kamar, membayar dan memberi pesan pada pemilik penginapan bahwa dia ingin beristirahat yang lama dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Sesampainya di kamar, belum juga naik di atas ranjang, tubuh Chu Pian Ran sudah limbung.
Kepala gadis itu berputar-putar dan rasanya ingin muntah.
Dengan tenaga yang tersisa, Chu Pian Ran meraih ranjangnya dan langsung naik ke atasnya.
Beberapa detik kemudian karena gadis itu merasakan tubuhnya yang campur aduk, diapun akhirnya pingsan.
****
Kediaman Chu Jeong Byun
Entah kenapa dua hari ini nyonya Chu merasa gelisah. Pikirannya tidak bisa lepas dari putrinya.
Wanita paruh baya itu menjadi pemurung dan sulit makan.
Tuan Chu yang melihat gelagat aneh istrinyapun bertanya.
"Istriku kamu kenapa? Apakah kau sedang ada beban pikiran yang berat?" Tanya tuan Chu pada suatu malam sebelum mereka hendak tidur.
"Entah kenapa dua hari ini hatiku tidak tenang suamiku. Aku takut terjadi apa-apa dengan putri kita." Jawab nyonya Chu.
"Mungkin itu karena pikiranmu saja yang sedang berlebihan istriku." Lanjut tuan Chu
"Tidak suamiku. Kali ini rasa cemasku berbeda dari sebelumnya. Bagaimana kalau kita meminta Lee untuk mencari Ran Er saja?" Sambung nyonya Chu.
"Ya sudah, besok setelah pertemuan rutin di istana, aku akan membicarakan masalah ini pada tuan Lee. Sekarang sudah malam, lebih baik kita istirahat saja." Kata tuan Chu.
Keesokan harinya pada siang hari, di kediaman keluarga Lee, terlihat tuan Chu sedang berbicara serius dengan tuan Lee.
Tuan Chu menyampaikan masalah kegelisahan istrinya pada tuan Lee.
Akhirnya tuan Lee pun setuju untuk mengutus anaknya pergi mencari keberadaan Chu Pian Ran.
Tiga hari kemudian, sebelum matahari terbit, Lee dan 5 anak buah ayahnya sudah berkuda untuk meninggalkan ibukota.
Dengan tekad yang kuat, pemuda itu dengan sukarela menuruti perintah ayahnya untuk mencari keberadaan Chu Pian Ran.
Kabar terakhir yang dia dengar, kekasihnya itu berada di Yingchuan. Peristiwa yang terjadi di daerah Yingchuan memang telah menyebar dengan cepat di wilayah Qin.
Dengan kecepatan penuh, mereka berenam memacu kudanya menuju daerah Yingchuan.
Perjalanan dari ibukota menuju Yingchuan cukuplah lama, kira-kira ada dua minggu.
Selama dalam perjalanan, untuk mempercepat waktu, mereka hanya istirahat saat malam menjelang dengan menginap di sebuah penginapan.
Sesampainya di daerah Yingchuan, Lee mengutus dua orang anak buahnya untuk mencari informasi tentang keberadaan pria bertopeng pada penduduk setempat.
Tentu saja alasan mereka mencari keberadaan pria itu adalah untuk meminta bantuannya. Mereka tidak ingin identitas nona muda Chu Pian Ran terbongkar.
Setelah setengah hari rehat di daerah Yingchuan, rombongan itu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat yang diarahkan oleh penduduk Yingchuan.
Rupanya berita tentang pria bertopeng menolong seorang pemuda yang kerasukan siluman harimau juga telah sampai ke daerah Yingchuan. Jadi rombongan Lee tidak terlalu sulit untuk mencari tahu dimana keberadaan kekasihnya itu.
Empat hari kemudian, sampailah rombongan Lee di sebuah dusun yang bernama dusun Shiu Lan. Di dusun itu, lagi-lagi anak buah Lee mencari informasi tentang keberadaan pria bertopeng.
Atas petunjuk penduduk dusun itu merekapun kembali melanjutkan perjalanan.
Saat melintasi suatu jalan yang kanan kirinya adalah hutan, rombongan Lee dihadang oleh tiga orang bercadar dan membawa pedang.
__ADS_1
"Jika kalian mau selamat, serahkan harta kekayaan kalian!" Seru salah seorang dari mereka.
"Memangnya kalian ini siapa ha!, seenaknya saja mau merampas harta kami!" Balas Lee.
Tanpa buang waktu lagi rombongan Lee bertarung melawan tiga orang jahat itu.
Rupanya, tanpa mereka sangka, tiga orang itu memiliki ilmu bela diri yang tinggi.
Salah satu anak buah Lee telah terkena sabetan pedang pada lengannya.
Satu jam sudah mereka bertarung, namun belum menunjukkan tiga orang itu kalah.
Tiba-tiba dari arah hutan, terbanglah sosok pria bertopeng sambil mengebaskan tangannya.
Alhasil, tiga orang jahat itu terlempar mundur beberapa meter dan jatuh ke tanah.
Rombongan Lee merasa senang, terkhusus Lee karena akhirnya dia bertemu dengan kekasihnya yang telah berpisah hampir satu tahun itu.
Chu Pian Ran kembali melanjutkan aksinya. Diapun memberi pelajaran pada tiga orang begal itu hingga tak berkutik.
Ketiga pria itu akhirnya diikat oleh tali dan dibawa oleh tiga anak buah Lee untuk diserahkan ke biro keamanan terdekat.
Salah seorang anak buah Lee yang lain membalut luka temannya dengan kain.
Chu Pian Ran mengajak Lee menuju ke sebuah gua tempat peristirahatan sementara gadis itu.
Untunglah mereka bertemu disaat yang tak terduga.
Kedua anak buah Lee berjaga-jaga di luar, agak jauh dari gua. Mereka sadar bahwa sang majikan saat ini sedang berduaan dengan kekasihnya dan mereka tidak ingin mengganggu.
Hati Lee benar-benar terharu, setelah sekian lama menahan rindu akhirnya dia bertemu kembali dengan kekasihnya.
Pemuda itupun membuka topeng Chu Pian Ran. Kedua telapak tangannya menangkup pipi gadis itu.
Lee melihat tubuh kekasihnya sedikit kurus dan wajahnya juga sedikit pucat.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Tanya Lee dengan wajah penuh kerinduan.
Chu Pian Ran menjawab dengan anggukan.
"Mungkin hanya sedikit kelelahan." Balas Chu Pian Ran pelan.
Kedua mata insan itu pun beradu. Lee menatap lekat mata kekasihnya yang terlihat sayu itu dengan rasa sayang.
Beberapa detik kemudian mereka sudah saling berciuman lembut untuk menyalurkan rasa rindunya.
Cukup lama mereka saling menyatukan bibir.
Setelah menyelesaikan ciumannya, pemuda itu memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
"Aku sangat merindukanmu sayang... Sejak kau pergi hatiku sering gelisah..." Ucap Lee dan tak terasa air matanya mengalir.
Chu Pian Ran tahu jika Lee menangis.
"Maafkan aku..." Gadis itu hanya menjawab singkat.
Chu Pian Ran menghapus air mata Lee. Tangannya mengusap-usap pipi pemuda itu.
Wajah Lee terlihat lelah karena beberapa minggu ini dia melewati perjalanan panjang demi mencari kekasihnya itu.
Mereka berdua kini telah duduk di gua itu. Lee menciumi wajah dan bibir kekasihnya untuk melampiaskan rasa rindunya. Chu Pian Ran hanya pasrah saja diperlakukan seperti itu.
(Untuk selanjutnya, adegan di bawah ini mengandung unsur konten dewasa, dimohon para readers yang belum cukup umur men skipnya saja...)
Pemuda itu mulai mencium daerah leher Chu Pian Ran. Tanpa disadari gadis itu, Lee meletakkan telapak tangan kanannya pada bagian dada sebelah kirinya.
Sambil menciumi leher kekasihnya, Lee meremas lembut bagian itu.
Awalnya Chu Pian Ran hanya membiarkannya saja.
Tanpa disangka, tangan kanan Lee malah menelusup masuk ke balik baju pria yang dipakai kekasihnya itu.
__ADS_1
"Jangan Lee... Kita masih belum menikah." Kata Chu Pian Ran pelan.
"Sayang, aku benar-benar merindukanmu. Apakah aku tidak boleh merasakannya? Aku janji tidak akan melakukan lebih dari itu..." Balas Lee dengan wajah melas.
Untuk sesaat Chu Pian Ran sedang berpikir.
"Baiklah, aku mengijinkanmu. Tapi kau harus ingat tidak akan berbuat lebih dari ini." Ucap Chu Pian Ran.
"Terimakasih sayang..."
Lee kemudian melanjutkan kembali aksinya.
Sambil menciumi wajah gadis itu, tangan kanannya berusaha mencari bagian tubuh Chu Pian Ran yang saat itu diinginkannya.
Tak berapa lama, tangan itu berhasil menyentuh langsung buah dada kekasihnya.
Pemuda itu menyentuh lembut bagian itu dan memainkan puncaknya.
Chu Pian Ran memejamkan matanya saat Lee melakukan hal itu.
Cukup lama pemuda itu bermain di area itu.
Beberapa menit kemudian, Lee mulai menyingkap pakaian atas kekasihnya itu dan mulai melepasnya.
Mata Lee melihat kulit putih mulus gadis itu.
Tak berapa lama, bagian atas tubuh Chu Pian Ran sudah tidak mengenakan apa-apa lagi.
Bagian atas tubuh gadis itu kini dilihat jelas oleh Lee. Untuk sesaat mata pemuda itu menelusuri tubuh atas kekasihnya itu dengan matanya.
Buah dada Chu Pian Ran tidak terlalu besar namun cukup ideal dengan puncaknya yang berwarna coklat muda.
Pemuda itu lalu membaringkan tubuh kekasihnya.
Dia kembali melakukan aksinya. Lee menciumi dan menjilati tubuh bagian atas kekasihnya itu sambil tangan kanannya meremas lembut buah dada Chu Pian Ran sebelah kiri.
Chu Pian Ran memejamkan matanya. Baru kali ini dia diperlakukan seperti itu dan menunjukkan bagian atas tubuhnya dengan jelas pada seorang laki-laki.
Kini bibir Lee sudah menciumi dan menjilati buah dada kanan kekasihnya. Dengan lembut pemuda itu bertingkah layaknya kucing.
Puncak bagian itu dia jilati dan kemudian dia hisap lembut dalam waktu yang cukup lama.
Chu Pian Ran merasakan sensasi yang aneh dalam tubuhnya. Dia menikmati apa yang dilakukan Lee itu. Tangan kanan gadis itu membelai rambut kekasihnya.
Sudah puas di bagian kanan, sekarang Lee berpindah di bagian kiri dan berbuat sama juga.
Dua jam kemudian wajah Lee sudah di atas wajah Chu Pian Ran sambil tangan kanannya terus bermain di buah dada kiri gadis itu.
Puncak hidung Lee diusap-usapkannya pada puncak hidung gadis itu.
"Sayang, kita pulang ya... Paman dan bibi Chu lah yang menyuruhku mencarimu hingga ke sini. Bibi Chu sangat khawatir kalau kau sedang kenapa-kenapa." Kata Lee.
Pemuda itu lagi-lagi menghujani wajah Chu Pian Ran dengan ciuman.
"Baiklah, aku akan ikut pulang bersamamu..." Balas Chu Pian Ran.
"Benarkah?" Tanya Lee berusaha memastikannya lagi.
"Iya... Mungkin karena aku baru pengalaman sekali bertarung dengan siluman yang lumayan kuat, tubuhku sedikit kurang membaik." Lanjut Chu Pian Ran.
"Jadi benar kau sedang tidak baik-baik saja?" Tanya Lee dengan cemas.
"Tidak apa-apa Lee, tubuhku hanya sedikit kurang baik saja." Jawab Chu Pian Ran pelan.
Kedua mata insan itu kembali beradu. Tangan kanan gadis itu mengelus-elus pipi kekasihnya.
Hingga matahari terbenam sepasang kekasih itu saling melepas rindu.
Saat ini Lee sudah menyiapkan makanan dan minuman di depan kekasihnya itu.
Lee juga mencari kayu bakar untuk membuat api unggun.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya makan dan minum bersama.
Setelah selesai makan, mereka berdua kembali memadu kasih untuk melepaskan rasa rindu yang masih menggebu dalam hati.