
Saat dalam perjalanan kembali ke ibukota, tiba-tiba suara batin Chu Pian Ran muncul dengan kuatnya yang memerintahkan agar perempuan itu berhenti di tempat itu.
Maka dengan segera perempuan itu menarik tali kekang kudanya. Untuk beberapa saat, nyonya muda Lee memejamkan matanya untuk melakukan penerawangan, dan tak berapa lama dia pun membelokkan kudanya ke sebelah kanan lalu melarikan binatang itu pelan-pelan masuk ke dalam hutan.
Dua puluh lima menit kemudian, terlihatlah oleh Chu Pian Ran sebuah pondok kayu kecil yang tidak karuan bentuknya karena memang dibuat ala kadarnya, dengan tampak di depan pondok itu seorang gadis kecil yang kira-kira berumur 4 tahunan yang sedang menangis karena kelaparan di samping seorang perempuan muda yang umurnya selisih 3 tahunan di bawah nyonya muda Lee, yang adalah ibu dari anak kecil itu. Penampilan ibu dan anak itu hampir sama, pakaiannya compang-camping, tubuhnya kotor dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Begitu melihat ada orang yang datang mendekat, ibu dan anak itu beringsut mundur dengan sedikit ketakutan.
"Kalian tidak perlu takut padaku, kedatanganku kemari karena ingin menolong kalian. Aku sudah tahu permasalahan yang sedang kalian hadapi. Kalian sudah diusir oleh para tetangga karena punya penyakit kusta turunan kan?" Kata Chu Pian Ran.
Suasana menjadi hening karena perempuan yang ada di hadapannya itu berdiam diri, tidak berniat untuk menyapa ataupun menjawab pertanyaan nyonya muda Lee.
"Sepertinya kalian sedang kelaparan, kalau begitu aku akan membelikan kalian makanan di desa terdekat. Kalian tunggulah di sini." Lanjut Chu Pian Ran.
Dengan segera, perempuan itu pun melajukan kudanya kembali untuk membeli makanan dan minuman di desa terdekat.
Dua puluh menit kemudian, tibalah nyonya muda Lee di sebuah desa kecil. Tak berapa lama perempuan itu pun menemukan sebuah warung makan, lalu segeralah dia membeli makanan bungkus yang lumayan banyak dan minuman bungkusnya sekalian di tempat itu.
Setelah makanan dan minuman itu siap dan dibayar, maka dengan segera Chu Pian Ran berkuda kembali menuju hutan sambil membawa buntelan berisi makanan dan minuman.
Begitu sampai di hutan kembali, terlihatlah keluarga kecil itu telah berkumpul sambil makan beberapa buah jambu biji yang setengah matang.
Tak menunggu lama, nyonya muda Lee pun turun dari kudanya dan meletakkan buntelan berisi makanan dan minuman itu di dekat tiga orang yang sedang kelaparan itu.
"Makanlah, aku sengaja membelikan makanan itu untuk kalian." Kata Chu Pian Ran.
"Terimakasih banyak nyonya karena anda sudah sudi menolong kami. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi nanti jika anda tidak membantu kami, pasti kami sudah mati kelaparan di sini..." Sahut pemuda itu yang penampilannya tak beda jauh dengan istri dan anaknya.
"Kalian tidak perlu sungkan, aku tulus membantu kalian. Lebih baik, sekarang kalian cepat makan makanan itu." Lanjut nyonya muda Lee.
Dengan segera pemuda itu pun mengambil buntelan itu, mengeluarkan isinya dan membagikannya kepada anak dan istrinya. Tak berapa lama, mereka pun makan dengan lahapnya.
Saat menyaksikan pemandangan yang ada di depannya itu, hati Chu Pian Ran menjadi trenyuh. Betapa beruntungnya dia yang terlahir dari orang tua yang kaya dan terpandang. Sementara, di luar sana banyak orang yang nasibnya sama seperti keluarga kecil yang ada di hadapannya ini, yang makan sehari-hari saja kesusahan.
Yang semula perempuan itu berencana segera kembali ke ibukota, tapi karena ada tugas kemanusiaan yang harus dia tangani, maka nyonya muda Lee pun menunda kepulangannya selama beberapa hari untuk membantu keluarga itu.
"Maafkan sikap saya yang kurang sopan tadi nyonya, saya pikir anda adalah orang jahat yang akan mengusir kami lagi..." Ucap perempuan muda itu pelan setelah menyelesaikan makannya.
"Sudahlah, jangan memikirkan hal itu. Sekarang mendekatlah, aku ingin melihat penyakit kalian itu, siapa tahu aku bisa menyembuhkan kalian." Kata nyonya muda Lee.
__ADS_1
"Apakah nyonya seorang tabib? Menurut saya sebaiknya anda jangan terlalu dekat-dekat dengan kami nyonya, nanti anda bisa tertular, karena kusta kami ini jenis kusta basah yang mudah menular. Untuk berobat pun kami tidak punya uang sama sekali, jadi penyakit kami ini makin lama makin parah, makanya kami diusir oleh para tetangga..." Jelas perempuan muda itu.
"Kalian tidak perlu khawatir soal itu, aku bisa menjaga diriku dengan baik dan tidak akan bersentuhan dengan kalian. Sekarang mendekatlah kemari." Lanjut Chu Pian Ran mengulangi perintahnya agar perempuan muda itu agak mendekat padanya.
Tanpa beralasan lagi, perempuan muda itu pun menuruti kata-kata nyonya muda Lee, namun dengan tetap menjaga jarak kira-kira satu meteran dari perempuan cantik itu.
Sekalipun hidung Chu Pian Ran mencium bau yang tidak sedap dari tubuh perempuan muda itu, namun dia tidak peduli dan melanjutkan niatnya untuk memeriksa penyakit perempuan muda itu.
"Ulurkan tangan kananmu dan perlihatkan bagian yang ada kustanya." Sambung nyonya muda Lee.
Maka perempuan muda itu pun mengulurkan tangan kanannya dan menarik separuh lengan baju panjangnya dan terlihatlah borok kusta yang lumayan membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Tak menunggu lama, Chu Pian Ran pun mengulurkan jari telunjuk dan jari tengahnya beberapa puluhan senti dari luka itu dan beberapa saat kemudian keluarlah cahaya berwarna putih dari kedua jarinya itu lalu menembus luka itu dan merambat di bagian dalam tubuh perempuan muda itu.
Begitu sinar cahaya itu masuk dan merambat di dalam tubuhnya, maka perempuan muda itu mulai merasakan seperti ada aliran hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya itu. Setengah jam kemudian, mulai keluarlah asap hitam tipis dari tubuh perempuan muda itu.
Saat suaminya melihat keanehan itu, maka barulah dia tersadar jika perempuan cantik yang menolong mereka adalah tuan putri Nanyang alias si pria bertopeng. Karena di wilayah Qin ini hanya dia seoranglah yang bisa melakukan hal-hal ajaib seperti yang dilihatnya saat ini.
Maka, sungguh terharulah pemuda itu karena saat ini keluarganya sedang ditolong langsung oleh putri angkat kaisar. Dia pun berharap, dengan adanya Chu Pian Ran, penyakit kusta yang mereka derita selama bertahun-tahun bisa sembuh dan akhirnya para tetangga mengijinkan mereka untuk tinggal di rumah mereka kembali.
Dua jam sudah tubuh perempuan muda itu mengeluarkan asap hitam tipis, dan terlihatlah borok kusta yang tadinya membusuk sekarang lumayan mengering.
Karena kaki nyonya muda Lee mulai terasa tidak nyaman akibat kelamaan berdiri, maka saat proses penyembuhan untuk pemuda itu dia lakukan dengan cara duduk. Jadi, seperti yang dilakukannya pada istrinya, Chu Pian Ran juga melakukan hal yang sama pada pria muda itu.
Setelah proses penyembuhan tahap pertama untuk ketiga orang itu selesai, nyonya muda Lee pun lalu meminta mereka untuk mandi di sungai yang kebetulan ada di dekat hutan itu, berganti pakaian dan mencuci pakaian mereka hingga bersih agar bakteri kusta itu tidak kembali lagi.
Tak berapa lama, Chu Pian Ran lalu berpamitan kepada pasangan suami istri itu karena ada urusan lain yang harus dia kerjakan.
Beberapa detik kemudian, nyonya muda Lee pun kembali memacu kudanya untuk pergi ke kota terdekat karena berniat untuk membelikan tiga orang itu beberapa helai pakaian baru agar proses penyembuhan kusta mereka lebih cepat.
Untungnya, sebelum Chu Pian Ran berangkat ke Mong Yan, perempuan cantik itu membawa beberapa tail emas dalam buntelan pakaiannya.
Jadi, dengan tail emas itu dia bukan hanya bisa menghidupi keluarga kecil itu selama beberapa hari, namun juga bisa membelikan mereka beberapa helai pakaian baru.
Sejak hari itu, Chu Pian Ran pun tinggal di hutan bersama keluarga kecil itu.
Selama beberapa hari, nyonya muda Lee mengalirkan kekuatan supranaturalnya ke dalam tubuh tiga orang itu selama empat jam per hari agar bakteri kusta yang ada dalam tubuh mereka bisa mati sampai ke akar-akarnya, sehingga keluarga kecil itu bisa diterima kembali oleh para tetangganya dan tinggal di rumah mereka lagi.
Setelah tujuh hari Chu Pian Ran tinggal di hutan, kondisi tubuh ketiga orang itu semakin lebih baik. Bakteri kusta yang menyerang mereka kini telah mati dan tinggal pemulihan bagian luarnya saja.
__ADS_1
Maka pada hari itu, dengan diantar oleh Chu Pian Ran, keluarga kecil itu kembali ke desanya lagi. Setelah satu jam berjalan kaki, sampailah mereka di sebuah dusun kecil.
Awalnya, saat beberapa pasang mata penduduk desa itu melihat jika ketiga orang berpenyakit kusta itu kembali lagi, mereka memasang tampang sinis dengan hati emosi. Namun, begitu mereka sadar jika ketiga orang itu datang dengan seorang perempuan cantik, mereka mengurungkan niatnya yang hendak memaki-maki ketiga orang itu.
Rupanya penduduk desa itu tidak mengenali siapa Chu Pian Ran. Selama ini mereka hanya mendengar bahwa pendekar bertopeng adalah putri angkat kaisar, namun untuk bertemu dan melihat wajahnya secara langsung mereka belum pernah sama sekali.
"Para penduduk desa, hari ini aku sengaja datang kemari karena ingin mengantarkan ketiga orang ini kembali ke rumahnya." Ucap nyonya muda Lee di depan sebagian para penduduk desa itu.
"Tapi nyonya mereka itu punya penyakit kusta yang menular, jika mereka tinggal di desa ini lagi bisa-bisa kita semua tertular penyakit mereka." Protes seorang pria paruh baya dengan wajah sangat masam dengan didukung oleh penduduk lainnya.
"Selama tujuh hari ini aku sudah melakukan pengobatan secara rutin kepada tiga orang ini, dan sekarang aku menjamin jika bakteri kustanya sudah mati hingga ke akar-akarnya, tinggal pemulihan kulit luarnya saja." Ujar Chu Pian Ran.
"Nyonya, sebaiknya kau jangan bercanda. Selama ini kami tahu jika penyakit kusta itu belum ada obatnya hingga sekarang. Lalu bagaimana bisa kau mengatakan dan menjamin jika bakteri kusta mereka sudah mati. Kami sama sekali tidak percaya dengan omong kosongmu itu!" Lanjut pria itu tadi dengan suara ketus dan diiringi oleh teriakan penduduk yang lain.
Untuk menghadapi situasi itu, maka nyonya muda Lee mengambil token identitasnya yang dia simpan di buntelan pakaiannya, lalu memperlihatkannya kepada para penduduk desa itu.
Begitu melihat tulisan yang ada di token itu, para penduduk itu pun langsung bersujud dan meminta maaf.
"Sudahlah kalian tidak perlu bersujud seperti itu. Sekarang berdirilah kembali." Kata Chu Pian Ran.
Maka para penduduk desa itu pun bangkit berdiri seperti yang diperintahkan oleh perempuan cantik itu.
"Aku memaklumi sikap kalian yang takut tertular oleh penyakit kusta tiga orang ini, namun bukan berarti kalian bisa mengusirnya dengan sembarangan hingga mereka kelaparan. Jika aku tidak bertemu dengan tiga orang ini pada hari itu, pasti sekarang mereka tinggal jasadnya saja karena meninggal akibat kelaparan. Itu sama artinya kalian sudah menjadi pembunuh. Bukan keinginan mereka untuk mempunyai penyakit kusta, namun itu dikarenakan takdir yang tidak bisa dielakkan. Jadi sekarang, setelah keluarga ini kembali lagi ke rumahnya, aku harap kalian bisa menerima mereka dengan lapang dada dan aku menjamin jika bakteri kusta yang ada di tubuh mereka benar-benar sudah mati." Terang nyonya muda Lee panjang lebar pada penduduk desa itu.
"Baiklah yang mulia tuan putri, jika anda berkata demikian maka kami pun percaya dan mau menerima mereka kembali di desa ini dengan ikhlas." Ucap pria paruh baya itu dengan disetujui oleh penduduk yang lain.
Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun mengantar ketiga orang itu ke rumahnya lagi. Namun begitu sampai di depan rumah, perempuan cantik itu melarang mereka agar tidak masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian, nyonya muda Lee mengambil sapu tangan lebarnya dari dalam buntelan dan menggunakannya sebagai masker. Lalu perempuan cantik itu pun membuka pintu rumah itu.
Tak berapa lama, Chu Pian Ran mengarahkan kedua tangannya ke dalam rumah itu dengan kedua telapak tangan yang terbuka. Beberapa detik kemudian, keluarlah cahaya putih dari kedua telapak tangannya, lalu cahaya putih itu terbagi menjadi garis-garis cahaya putih yang tipis yang merambat ke seluruh rumah itu.
Tiga puluh menit kemudian, keluarlah asap hitam yang lumayan banyak dari rumah itu selama satu jam. Rupanya dengan kekuatan supranaturalnya, Chu Pian Ran membersihkan rumah itu dari segala bakteri maupun kuman.
Aksi nyonya muda Lee itu pun menarik perhatian para penduduk desa dan merekapun dibuat kagum oleh kelebihan yang dimiliki Chu Pian Ran.
Begitu asap hitam itu tidak terlihat lagi, nyonya muda Lee menurunkan kedua tangannya lalu meminta pasangan suami istri itu untuk membersihkan rumah mereka sebelum ditinggali kembali.
Sebelum meninggalkan desa itu, Chu Pian Ran memberikan beberapa uang koin emas kepada keluarga kecil itu agar dapat dimanfaatkan untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari sampai pemuda itu mendapatkan pekerjaan.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan para penduduk desa, dengan segera nyonya muda Lee melanjutkan perjalanannya ke ibukota karena dia tidak tega meninggalkan putri kecilnya terlalu lama.