Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 79 Menikmati Kehidupan Berumah Tangga


__ADS_3

Selesai sarapan bersama, pasangan suami istri baru itu pun keluar kamar untuk menemui tuan dan nyonya Lee.


Dengan menahan rasa sakit di bagian bawahnya, Chu Pian Ran berjalan pelan-pelan menuju ke tempat ayah dan ibu mertuanya berada.


Lee yang tanggap dengan keadaan istrinyapun berkata.


"Apa perlu aku gendong?" Tanya pemuda itu pelan sambil menoleh pada Chu Pian Ran.


"Tidak perlu... Apa kata orang nanti jika kau menggendongku." Balas istrinya.


Untunglah tak berapa lama mereka berdua melihat sosok tuan dan nyonya Lee yang sedang mengobrol di halaman depan kediaman utama.


"Pagi ayah ibu..." Sapa Lee dengan semangat.


Sementara itu, Chu Pian Ran hanya diam saja dan langsung duduk di kursi dengan diapit oleh ibu mertuanya dan suaminya.


Ekspresi lesu perempuan itu tak lepas dari pandangan ibu mertuanya.


"Ran Er sayang, apa kau baik-baik saja? Jangan-jangan suamimu memperlakukanmu dengan ganas ya?" Tanya wanita paruh baya itu sambil menatap lekat menantunya.


Chu Pian Ran tersenyum sekilas lalu mengangguk.


"Tidak bu tidak, kemarin aku tidak memperlakukannya dengan ganas, sumpah..." Lee berusaha membela diri.


Mendengar perbincangan antara istri dan putranya itu tuan Lee hanya mampu terdiam sekalipun dalam hatinya juga merasa geli.


"Benarkah? Kau tidak berbohong? Masa istrimu yang terbilang hebat ini bisa berwajah lemas dan lesu seperti ini..." Lanjut ibunya tidak percaya.


"Benar bu, Lee tidak berbohong... Tapi karena kita sedang menikmati malam pertama jadi aku melakukannya hingga tiga kali." Sahut Lee terus terang.


Sontak saja perkataan Lee itu membuat tuan dan nyonya Lee sedikit terhenyak, bahkan istrinya menatapnya mendelik dengan wajah cemberut.


"Kenapa sayang? Kau tidak perlu malu mengakuinya di depan ayah dan ibu, kan mereka lebih berpengalaman duluan..."


"Heem!" Tuan Lee berdehem lumayan keras sebagai isyarat bahwa perkataan seperti itu tidak perlu dilanjutkan lagi.


Nyonya Lee dan Lee yang paham dengan isyarat pria paruh baya itu pun berhenti membahas hal yang tadi.


Sebagai gantinya mereka mengobrol hal-hal ringan.


****


Satu minggu sudah Lee Jiang Wook membina rumah tangga dengan Chu Pian Ran.


Pasangan pengantin baru itu mulai melakukan aktifitas hariannya layaknya suami istri kebanyakan.


Seperti halnya pagi ini, mereka berdua terlihat di jalanan ibukota untuk berbelanja sayuran, lauk pauk mentah dan sejenisnya yang akan dipakai untuk masak nanti.


Saat ini terlihatlah tangan kiri Lee sedang menggandeng tangan kanan istrinya, sementara tangan kanan pemuda itu membawa keranjang dari rotan untuk tempat belanjaan nanti.


Tak berapa lama sampailah mereka berdua di kios penjual sayuran yang saat itu telah ada beberapa pembeli.


Chu Pian Ran pun mulai memilih-milih sayuran segar. Setelah membayar, dia meletakkan sayuran itu di keranjang yang dibawa suaminya.


Hampir satu jam mereka melakukan kegiatan belanja itu.


Sejak mereka keluar dari kediaman, Rong Hya si siluman serigala membuntuti mereka berdua. Awalnya Chu Pian Ran tidak merasa jika diikuti, namun setelah selesai kegiatan berbelanjanya dan akan kembali ke kediaman, perempuan itu mulai merasakan tanda-tanda itu.


Untuk memastikan firasatnya, Chu Pian Ran pun berhenti lalu membalikkan tubuhnya, namun di belakangnya tidak ada orang yang terlihat mencurigakan. Suaminya yang melihat tingkah aneh istrinya pun menjadi penasaran dan bertanya.


"Ada apa sayang?" Tanya Lee.


"Aku merasa kalau kita sedang diikuti." Jawab istrinya.


Mendengar jawaban istrinya, Lee pun sedikit terkejut.


"Benarkah? Diikuti siapa?" Lanjut suaminya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu..." Balas Chu Pian Ran dengan masih mengamati jalanan yang di belakangnya.


Karena tidak menemukan apa-apa, pasangan itu pun melanjutkan perjalanannya menuju kediaman.


Sesampainya di kediaman, Lee dan istrinya berjalan menuju dapur. Rupanya di dapur telah ada ibu mertuanya dan seorang pelayan yang sedang membuat adonan yang akan dibuat kue.


Lee lalu meletakkan keranjang belanjaan itu di atas meja dan keluar dapur untuk melakukan pekerjaan lain.


Sementara itu, Chu Pian Ran dan ibu mertuanya mulai memotong-motong sayuran, menghaluskan bumbu dan lainnya yang akan diperlukan untuk memasak nanti.

__ADS_1


Sedangkan seorang pelayan tadi mengambil alih membuat adonan dan mencetaknya untuk dibuat kue.


Selesai sarapan bersama dengan keluarga Lee dalam suasana yang hangat dan harmonis, kini terlihatlah Chu Pian Ran sedang membantu suaminya memeriksa buku catatan keuangan. Perempuan itu melakukan kegiatan ini sudah sejak dua hari yang lalu.


Pada awalnya Chu Pian Ran diajari sedikit oleh suaminya. Tak butuh waktu lama perempuan itu pun dengan cepat menjadi paham.


Dan sekarang ini dia terlihat serius memeriksa buku keuangan itu di samping suaminya.


Setelah tiga jam berlalu, Lee beranjak dari tempat duduknya lalu menutup pintu ruang kerjanya.


Chu Pian Ran yang melihat sikap aneh suaminya itu pun cepat tanggap dan berfirasat pasti pemuda itu akan melakukan sesuatu padanya.


Dan benar saja, setelah suaminya duduk di kursi dia meminta Chu Pian Ran untuk duduk di pangkuannya.


Tanpa membantah, perempuan itu menuruti permintaan suaminya.


"Ada apa suamiku? Bukankah pekerjaan kita belum selesai." Ucap Chu Pian Ran sambil merangkulkan tangan kanannya di leher suaminya.


"Urusan pekerjaan bisa kita lanjutkan nanti sayang. Lagipula memeriksa buku catatan keuangan tidak akan ada habisnya. Bisa membuat jenuh." Jelas Lee.


18+


Tanpa minta ijin dulu pada istrinya, pemuda itu langsung menyingkap pakaian atas sebelah kanan Chu Pian Ran hingga gundukannya yang putih mulus itu terlihat jelas.


Untuk beberapa saat Lee menatap lekat bagian itu.


"Apa kau tidak bosan sering melakukan hal ini?" Tanya istrinya sambil menatap lekat suaminya. Mata pemuda itu pun balik menatap istrinya.


"Mana mungkin aku bosan sayang. Apapun yang ada di tubuhmu telah membuatku tergila-gila dan terus ingin menikmatinya." Jawab suaminya.


"Bagaimana jika aku sudah tua dan keriput nanti? Apakah kau masih mau denganku?" Sambung Chu Pian Ran.


"Sayang, bagiku menikah itu cukup seumur hidup sekali. Dan kita sudah berjanji akan hidup bersama hingga akhir hayat." Sahut Lee.


"Benarkah? Bagaimana jika nanti kau terpikat dengan perempuan lain?" Lanjut istrinya.


"Itu tidak akan terjadi sayang, karena hanya kaulah perempuan satu-satunya yang sangat kucintai." Terang pemuda itu.


Suasana hening lalu menghiasi ruangan itu. Kedua insan yang saling mencintai itu sedang beradu pandangan hingga beberapa saat.


Tak berapa lama merekapun saling menyatukan bibir dan berciuman dengan rasa cinta yang dalam.


Chu Pian Ran memejamkan matanya selama puncaknya itu dihisap kuat oleh suaminya.


Perempuan itu benar-benar menikmati setiap hisapan dari pemuda itu.


Setelah merasa puas, bibir Lee terlepas dari puncak gundukan itu dan merapikan kembali pakaian istrinya.


****


Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Kehidupan Lee Jiang Wook dipenuhi dengan hari-hari bahagia bersama istrinya.


Sejak menikah, pemuda itu minta jatah pada istrinya setiap dua hari sekali. Dan seperti keinginan semula Chu Pian Ran, perempuan itu akan meminum obat anti hamil terlebih dahulu sebelum bercinta dengan suaminya, kecuali pada saat malam pertama dulu.


Jika sore menjelang, Chu Pian Ran sering mengajak latihan suaminya. Mulai dari bela diri ataupun bermain pedang.


Telah beberapa hari ini, perempuan itu mengajari suaminya ilmu peringan tubuh karena pemuda itu memang tidak bisa melakukan hal itu.


Dengan sedikit menyalurkan kekuatan supranaturalnya, Chu Pian Ran membantu suaminya agar lebih cepat menguasai ilmu peringan tubuh.


Karena Lee Jiang Wook tipe laki-laki yang tak mudah putus asa jika mengalami kegagalan, maka setelah dua minggu berlatih pemuda itu mulai menguasai ilmu peringan tubuh.


Awal latihan sudah cukup dilakukan di halaman kediaman. Namun untuk lebih memaksimalkan hasilnya, pemuda itu perlu terjun ke medan yang sesungguhnya.


Maka hari ini, setelah sarapan bersama pasangan suami istri baru itu meminta ijin keluar kepada tuan dan nyonya Lee untuk berlatih.


Setelah mendapat ijin, melesatlah mereka keluar kediaman dengan menunggangi kuda yang sama.


Mereka pun mencari tempat yang banyak pepohonannya di dekat ibukota.


Selama perjalanan menuju tempat itu, Lee beberapa kali mencium pipi kanan istrinya.


Empat puluh lima menit kemudian mereka telah menemukan tempat yang cocok untuk berlatih.


Maka turunlah mereka berdua dari kudanya dan Lee langsung melakukan latihan.


Awalnya dia mencari pijakan di pohon yang tidak terlalu tinggi terlebih dahulu, baru setelah lumayan mahir dia mulai naik terbang ke atas pohon yang tinggi dan melompati pohon- pohon itu.

__ADS_1


Selama empat jam pemuda itu terus berlatih tanpa henti dengan diawasi oleh istrinya.


Tanpa mereka sadari, di kejauhan, di balik semak-semak ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi gerak gerik suami istri itu. Dan sepasang mata itu milik Rong Hya.


Kini Lee Jiang Wook tengah beristirahat sambil minum air putih yang dibawanya dari rumah.


Sambil beristirahat mereka pun mengobrol dengan duduk bersandar pada batang pohon yang lumayan besar.


Chu Pian Ran yang melihat dahi suaminya berkeringat, dengan segera mengelap keringat itu menggunakan sapu tangan yang biasa dia bawa.


"Terimakasih sayang..." Ucap pemuda itu.


"Kapan-kapan, jika kau mengembara lagi aku ikut ya?" Tambah Lee sambil menatap istrinya.


"Sebaiknya jangan suamiku, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu lagi seperti waktu itu..." Terang Chu Pian Ran.


"Kalau begitu aku akan ikut mengembara jika jaraknya tidak terlalu jauh dari ibukota. Bagaimana?" Lanjut suaminya.


"Jika kau ikut, identitasku bisa terbongkar suamiku..." Sahut Chu Pian Ran.


Untuk sesaat pemuda itu berpikir, lalu muncullah ide dalam benaknya.


"Kalau begitu aku akan mengenakan topeng sepertimu juga sayang, jadi mereka tidak akan mengenaliku." Kata Lee tak putus asa dengan harapan dia akan diijinkan oleh istrinya.


"Bagaimana jika ayah dan ibumu tidak mengijinkanmu?" Sambung istrinya.


"Tentu saja aku akan membujuknya hingga diijinkan." Jawab pemuda itu.


"Kita lihat saja dulu nanti... Jika keadaan memungkinkan dan kau sudah mendapat ijin, maka kau boleh ikut." Jelas Chu Pian Ran.


Beberapa saat kemudian, kedua tangan Lee menangkup kedua pipi istrinya. Pemuda itu lalu memajukan kepalanya dan mulailah mereka menyatukan bibir dan berciuman dengan lembut hingga lebih dari sepuluh menit.


Aksi keduanya pun tak lepas dari pandangan mata Rong Hya. Siluman serigala itu sangat iri dengan Lee karena dia bisa bermesraan dengan perempuan reinkarnasi peri Mei Hwa Lie.


Karena itu merupakan tempat terbuka, maka Lee menahan hasratnya untuk menghisap puncak gundukan milik istrinya seperti biasanya.


Tak berapa lama mereka berduapun memutuskan untuk pulang.


Sore harinya...


Lee Jiang Wook sedang mengajak istrinya jalan-jalan sambil menikmati pemandangan ibukota di sore hari.


Tangan kiri pemuda itu menggandeng tangan kanan istrinya di sepanjang perjalanan.


Sesekali terlihatlah mereka berhenti di beberapa kios untuk melihat-lihat beberapa barang dagangan, hingga suatu ketika mata Lee melihat sebuah jepit rambut yang cantik bentuk dan hiasannya.


Tanpa meminta persetujuan istrinya, pemuda itu langsung memasangkan jepit itu di rambut perempuan itu dan melakukan pembayaran.


Kini pasangan suami istri itu sedang duduk di tepi kanal dengan bahu dan kepala saling bersandar dan tangan kiri Lee memeluk pinggang ramping istrinya.


Dari mulut mereka tidak terucap sepatah katapun namun aliran cinta mereka seolah-olah saling membelenggu satu sama lain. Hari demi hari rasa cinta itu berakar semakin kuat dalam hati mereka.


Selama satu jam mereka bertahan dalam posisi seperti itu, dan tak lama kemudian mereka memutuskan untuk pulang.


Sesampainya di rumah, pasangan suami istri itu makan malam bersama dalam suasana yang hangat.


Malam ini adalah malam dimana Lee libur meminta jatah pada istrinya, namun bukan berarti pemuda itu tidak bisa menikmati bagian lain dari tubuh istrinya.


Kini tubuh pemuda itu sudah berbaring sangat dekat dengan tubuh istrinya yang bagian atasnya sudah polos.


Sudah beberapa menit yang lalu kedua insan itu saling menatap lekat satu sama lain.


Tak berapa lama Chu Pian Ran mendorong tubuh suaminya hingga pemuda itu berada di bawahnya.


Beberapa detik kemudian bibir perempuan itu mulai menciumi wajah tampan suaminya hingga puluhan menit.


Sementara itu, kedua tangan Lee memeluk istrinya sambil mengelus-elus punggung mulus perempuan itu.


Setelah puas menciumi wajah suaminya, kini perempuan itu mengarahkan gundukan kirinya tepat di atas mulut pemuda itu.


Tak berselang lama Chu Pian Ran kembali menikmati hisapan kuat mulut Lee pada puncaknya.


Selesai di puncak kiri, perempuan itu ganti menyodorkan gundukannya yang sebelah kanan. Hal yang sama pun terulang kembali.


Rasa cinta yang dalam benar-benar membuncah di hati suami istri itu. Mereka berdua seolah tenggelam di lautan cinta yang tak mungkin dipisahkan kembali.


Malam itu, Lee Jiang Wook membiarkan istrinya lebih mendominasi karena selama ini dialah yang sering menuntut pada istrinya.

__ADS_1


Setelah melakukan aktifitas yang begitu mesra selama dua jam, akhirnya kedua insan itu tertidur dengan saling berpelukan di balik selimut tebal mereka.


__ADS_2