
Mendengar gagasan putri angkatnya itu kaisar Qin Shi Huang tampak berpikir untuk sesaat.
"Idemu bagus nak, coba besok aku bicarakan hal ini dengan para pejabat istana saat sidang rutin...," sahut pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu.
"Kira-kira jika para tunawisma itu dibuatkan rumah penampungan bagaimana ayahanda?... Jika uang pajak rakyat tidak mencukupi, aku akan mencari cara agar memperoleh dana untuk membangun rumah penampungan itu...," tambah Chu Pin Ran.
"Boleh juga... Besok sore saja kau datang kemari setelah perundingan di persidangan telah mencapai kesepakatan," balas kaisar Qin Shi Huang.
"Terimakasih ayahanda, sudah mau menerima masukanku..." kata nyonya muda Lee.
"Justru aku lah yang seharusnya berterimakasih padamu nak, karena kau sudah memberikan gagasan yang baik demi kesejahteraan rakyat Qin ini... Selain itu, selama ini kau juga telah banyak membantu permasalahan yang terjadi di wilayah Qin, ditambah lagi kau juga telah membuat kerajaan Lian yang sedari dulu ingin menguasai wilayah kita menjadi terpuruk. Jika tidak ada kau, pasti keadaan Qin kita tidak akan mengalami perkembangan seperti sekarang ini..." ujar kaisar.
"Setelah statusmu berubah menjadi peri, apa yang akan kau lakukan Nanyang?" lanjut kaisar Qin Shi Huang.
"Mulai besok aku akan berkeliling di wilayah Qin dan sekitarnya ayahanda, paling tidak satu atau dua jam per hari... Dengan kemampuan yang aku miliki sekarang, aku harus lebih banyak memanfaatkan kelebihanku untuk menolong sesama," jawab peri cantik itu.
"Bagaimana caranya kau berkeliling di wilayah Qin yang luas ini dalam waktu secepat itu?" sambung pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu ingin tahu.
"Aku bisa berubah menjadi berkas cahaya yang dapat melesat dengan cepat ayahanda... Bahkan aku juga diberi kemampuan oleh Dewi Chang'e agar bisa melakukan perjalanan antara dunia bawah dengan dunia atas...," terang Chu Pian Ran.
"Oh ya... Hebat sekali... Pasti dengan kemampuanmu itu kau akan mudah menjelajah di berbagai penjuru alam semesta ini," timpal kaisar Qin Shi Huang.
"Benar ayahanda, namun kemampuanku ini tetap harus dimanfaatkan di jalur yang benar dan bermanfaat," kata nyonya muda Lee.
Setelah berbincang selama lebih dari satu jam. Chu Pian Ran pun pamit undur diri dari hadapan ayah angkatnya.
Begitu keluar dari ruang kerja kaisar Qin Shi Huang, tampaklah sosok Qin Wu Zhu sedang duduk di taman yang ada di halaman depan ruang kerja kaisar.
Pangeran kedua kaisar Qin itu memang sedari tadi sedang menunggu Chu Pian Ran keluar dari ruang kerja ayahnya.
Rupanya, saat nyonya muda Lee datang ke istana untuk menemui kaisar, ada salah seorang prajurit yang memberitahu pemuda tampan itu jika putri angkat kaisar ada di istana.
"Kau sedang menungguku kak?" tanya Chu Pian Ran setelah dekat dengan Qin Wu Zhu.
"Iya, aku memang sengaja menunggumu. Sekarang ini yang lain sedang berkumpul di paviliun kak Zhang Er. Jika kau tidak terburu-buru, bagaimana jika bergabung dengan kami? Lagipula sudah lama sekali kita tidak mengobrol bersama denganmu," jawab pangeran kedua kaisar Qin itu.
"Baiklah, saat ini aku sedang senggang kok..."
Tak berapa lama, mereka berdua pun terlihat sedang melangkahkan kakinya menuju ke paviliun putra mahkota Qin Wu Zhang.
Begitu sosok Chu Pian Ran terlihat oleh pangeran bungsu kaisar Qin, spontan ayah muda yang terkenal ceriwis itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan berniat untuk memeluk adik angkatnya yang cantik itu, tapi langsung dihalangi Qin Wu Zhu dengan cara merentangkan tangan kanannya di depan nyonya muda Lee.
"Yaelah kakak Zhu Er, aku kan ingin memeluk adik Nanyang, lagipula kita juga sudah lama tidak bertemu...," ucap Qin Wu Wang dengan wajah cemberut sambil mendelik pada kakak keduanya.
"Tidak boleh. Ingat Wang Er, Nanyang sudah punya suami dan anak, jika kau menyentuhnya sembarangan lalu suaminya tidak terima bagaimana?" sahut pangeran kedua kaisar Qin dengan nada dingin yang sebenarnya hanyalah alasan dia saja, agar perempuan cantik yang disukainya sejak dulu itu tidak disentuh sembarangan orang, sekalipun itu adiknya sendiri.
Melihat tingkah adik kakak itu, Chu Pian Ran pun tersenyum.
"Sudahlah kak Wang Er, tidak perlu pelukan-pelukan segala...," kata nyonya muda Lee sambil menurunkan tangan kanan Qin Wu Zhu yang masih terentang di depannya.
Mau tidak mau, batallah niat Qin Wu Wang untuk memeluk adik angkatnya itu. Dan dia pun kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang masih masam.
"Selamat ya Nanyang, sekarang kau sudah menjadi peri...," ujar pangeran keempat Qin Wu Zhi.
__ADS_1
"Iya kak Zhi Er, terimakasih...," balas Chu Pian Ran.
"Bagaimana perasaanmu saat di Istana Bulan, Nanyang? Aku benar-benar iri denganmu, bisa bertemu dengan Dewi Chang'e dan tinggal di istananya... Benar-benar luar biasa...," sela putra mahkota Qin Wu Zhang dengan nada kagum.
"Istana Bulan sangat mengagumkan kak... Baru pertama kali aku melihat secara langsung istana megah dan seluas itu berdiri kokok di atas langit yang berawan...," jawab nyonya muda Lee jujur dengan rasa takjub.
"Wiih, hebat sekali kau adikku yang cantik, bisa mengalami hal-hal yang luar biasa seperti itu... Rasanya, aku jadi ingin ke sana saja," ucap pangeran bungsu Qin Wu Wang yang sekarang sudah tidak masam lagi wajahnya.
"Aku sendiri juga tidak menyangka jika akan menjadi seperti ini...," sahut peri cantik itu.
"Aku dengar dari ayahanda, jika umurmu nanti bisa mencapai ribuan tahun... Aku tidak bisa membayangkan saat kita semua nanti sudah tua renta, kau masih tetap sama cantiknya seperti sekarang ini...," timpal pangeran ketiga Qin Wu Lei.
"Iya kak, menurut penuturan Dewi Bulan juga seperti itu... Untuk saat ini aku masih belum memikirkan hal yang sejauh itu. Justru hal terpenting adalah bagaimana dengan kemampuanku yang sekarang ini aku bisa menolong sesama yang sedang membutuhkan bantuan...," jelas Chu Pian Ran.
"Kau benar Nanyang. Dengan kemampuanmu yang hebat seperti itu jika tidak dimanfaatkan untuk sesuatu yang mulia, semuanya akan sia-sia saja... Lalu apa rencanamu selanjutnya Nanyang?" Sela putra mahkota Qin Wu Zhang.
"Mulai besok aku akan berkeliling di wilayah Qin dan sekitarnya kak, jadi jika kebetulan aku menjumpai seseorang yang sedang membutuhkan bantuan, aku bisa dengan cepat menolongnya," jawab nyonya muda Lee.
"Pemikiranmu sangat bagus Nanyang... Aku sangat mendukung gagasanmu itu," ujar Qin Wu Zhang.
Hampir dua jam, Chu Pian Ran mengobrol dengan para pangeran itu. Karena tadi sebelum berangkat dari rumah pamitnya hanya akan bertemu dengan kaisar, maka nyonya muda Lee pun segera pamit undur diri dan kembali ke kediaman mertuanya dengan diantar oleh Qin Wu Zhu hingga di depan istana.
****
"Bu Yan Yan napa ma kali?" tanya Lee Chu Mian Yin begitu ibunya telah pulang.
"Maaf ya sayang, tadi ibu mengobrol dulu dengan para paman...," jawab Chu Pian Ran dengan pengucapan agak lambat seperti biasanya jika dia berkomunikasi dengan putrinya.
"Yin Er ingin ke rumah nenek Chu? Ya sudah, ayuk ibu temani...,"
Setelah berpamitan dengan mertuanya, nyonya muda Lee pun pergi ke kediaman orang tua kandungnya dengan naik kuda.
Karena Lee Chu Mian Yin senang dengan kuda, otomatis gadis cilik itu sangat senang. Selama dalam perjalanan, bibir mungil Lee Chu Mian Yin berceloteh mengajak si kuda bercakap-cakap. Sebagai jawabannya, kuda itu beberapa kali mengeluarkan dengusan atau geraman pelan dari mulutnya.
"Nek Chuu, nek Chuu, Yin ataang...!" seru gadis cilik itu setelah tubuhnya diturunkan dari punggung kuda oleh salah seorang pelayan kediaman Chu.
Tak berapa lama, kaki mungil Lee Chu Mian Yin pun berlari pelan mencari neneknya sambil beberapa kali memanggil nama wanita paruh baya itu.
Beberapa detik kemudian, muncullah sosok neneknya dari balik pintu kediaman utama lalu berjalan menghampiri gadis kecil yang imut dan menggemaskan itu
"Halo cucu kesayangan nenek...," ucap nyonya Chu sambil mengangkat tubuh Lee Chu Mian Yin lalu menggendongnya.
"Nek Chu asak apa?" tanya gadis cilik itu.
"Yin Er lapar?" sahut wanita paruh baya itu.
"Ya nek, Yin mo akan...," balas bibir mungil Lee Chu Mian Yin.
"Ya sudah, kita makan bersama yuk...," ucap nyonya Chu.
Tak berapa lama, wanita paruh baya itu pun membawa cucunya ke ruang makan dengan diikuti oleh Chu Pian Ran. Beberapa saat kemudian, tampaklah ketiga orang itu sedang makan bersama.
Karena Lee Chu Mian Yin masih berumur 3 tahun 7 bulan, maka gadis cilik itu masih makan menggunakan sendok dengan mangkuk ringan berukuran sedang sebagai tempat makannya.
__ADS_1
****
Keesokan siangnya, seperti yang telah direncanakan oleh Chu Pian Ran, mulai hari ini dia akan berkeliling ke wilayah Qin secara bergantian arahnya.
Tak lupa sebelum berangkat, perempuan cantik itu membawa buntelan berisi banyak uang koin emas yang niatnya akan dibagikan untuk rakyat yang tidak mampu. Tentu saja semua itu dengan seijin oleh semua anggota keluarganya. Dan bahkan aksinya itu mendapatkan dukungan penuh dari orang-orang terdekatnya.
Maka, berangkatlah peri cantik itu ke wilayah Qin bagian timur terlebih dahulu setelah dia merubah wujudnya menjadi seberkas cahaya putih.
Selama dalam perjalanannya, sempat ada beberapa orang melihat seberkas cahaya putih jelmaannya yang melesat di atas mereka dengan pikiran yang bertanya-tanya.
Dalam aksinya hari itu, ada puluhan orang yang mendapatkan uang koin emas dari Chu Pian Ran, masing-masing orang mendapatkan 3 keping koin emas.
Saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba suara batinnya muncul dengan kuat, yang memberitahunya jika di sekitar itu ada tambang emas tersembunyi yang sangat banyak jumlahnya.
Untuk memastikan kebenarannya, maka berkas cahaya putih itu turun ke bawah dan berubah wujud menjadi manusia kembali. Setelah melakukan penerawangan, benarlah jika di bawah tempat yang dia pijak, terdapat tambang emas yang jumlahnya sangat besar.
Sebagai penanda, maka nyonya muda Lee pun mengikatkan sapu tangannya di pucuk pohon yang tinggi, sehingga mudah terlihat dari atas jika dia akan kembali lagi.
Sore harinya...
Seperti yang telah disepakati bersama, datanglah Chu Pian Ran ke istana untuk menemui ayah angkatnya lagi.
"Berdasarkan kesepakatan hasil sidang rutin tadi pagi, para pejabat istana sangat setuju dengan saranmu nak. Jadi, mulai bulan depan, tunjangan rutin untuk kalangan 'rakyat khusus' itu akan disalurkan secara bertahap hingga merata sampai di seluruh wilayah Qin," ucap kaisar Qin Shi Huang memecah keheningan.
"Begitu selesai sidang rutin tadi, aku langsung menulis aturan baru itu dan segera memerintahkan puluhan prajurit untuk menyampaikan aturan tertulis itu ke seluruh gubernur, bupati, atau kepala daerah yang ada di wilayah Qin ini," lanjut pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu.
"Baguslah ayahanda, semakin cepat aturan itu diberlakukan, maka semakin cepat kalangan 'rakyat khusus' itu mendapatkan bantuan agar kehidupan mereka bisa menjadi lebih baik...," sahut Chu Pian Ran.
"Oh ya ayahanda, tadi siang sewaktu aku berkeliling ke arah timur wilayah Qin, aku secara tidak sengaja menemukan tambang emas terpendam yang jumlahnya sangat besar, yang bisa digunakan untuk mensejahterakan rakyat Qin...," sambung nyonya muda Lee.
Mendengar perkataan putri angkatnya itu, kaisar Qin Shi Huang sangat terkejut bercampur bahagia.
"Benarkah itu nak? Di daerah mana itu?"
"Nama daerahnya aku tidak tahu ayahanda, tapi aku tahu tempatnya dan juga sudah memberikan penanda dengan sapu tanganku," balas peri cantik.
"Syukurlah, di saat kita sedang bertindak untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, tiba-tiba ada sumber dana yang datang... Terimakasih banyak nak, jika bukan karena kau, tambang itu pasti tidak akan pernah ditemukan...," kata kaisar Qin.
"Ayahanda tidak perlu berkata seperti itu, aku bisa menemukan tambang emas tersembunyi itu juga bukan murni dari diriku sendiri. Ini semua pasti bawaan dari peri Mei Hwa Lie yang telah melebur dengan jiwaku...," jelas Chu Pian Ran.
"Masalah rencana pembangunan rumah penampungan untuk para tunawisma, kita bisa memanfaatkan sebagian dari penjualan tambang emas itu ayahanda...," saran nyonya muda Lee.
"Iya nak, aku juga berniat demikian... Untungnya waktu sidang rutin tadi aku belum sempat menyampaikan hal ini karena ada hal penting lain yang ditanyakan oleh salah satu perdana menteri," sahut kaisar Qin Shi Huang.
"Lalu, kapan kau siap menunjukkan tempatnya nak? Aku berencana akan mengutus Qin Wu Wang untuk mengurus masalah ini agar anak itu bisa berkembang tanggung jawabnya," imbuh sang kaisar.
"Aku masih belum bisa memastikannya ayahanda. Besok aku akan kembali ke tempat itu lagi untuk mencari rute jalan terdekat dan termudah yang bisa dilewati oleh rombongan kuda, mengingat tempat itu dikelilingi oleh banyak pepohonan," jawab peri cantik itu.
"Baiklah nak, aku akan menunggu informasi selanjutnya darimu...,"
Setelah perbincangan itu selesai, Chu Pian Ran pun pamit undur diri dari hadapan kaisar.
Agar mempercepat kepulangannya, perempuan cantik itu pun merubah wujudnya menjadi kupu-kupu dan akhirnya terbanglah binatang bersayap itu dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman mertuanya.
__ADS_1