
Saat ini sudah berjalan 3 bulan sejak Chu Pian Ran pertama kali melakukan meditasi.
Kali ini gadis itu meminta ijin pada ayahnya untuk berlatih berkuda.
Awalnya tuan Chu tidak mengijinkan. Tapi karena Chu Pian Ran terus membujuk ayahnya, akhirnya gadis itu mendapatkan ijin, dengan syarat dia hanya boleh berlatih kuda dengan Lee.
Lee sendiri dengan senang hati mengajari kekasihnya berkuda.
Minggu pagi setelah sarapan, Lee mulai melatih berkuda untuk pertama kalinya.
Lee membawa Chu Pian Ran ke tanah lapang dekat sungai yang masih ada dalam wilayah ibukota.
Dalam perjalanan ke tanah lapang itu mereka menaiki kuda yang sama. Chu Pian Ran duduk di depan, sedangkan Lee duduk di belakang gadis itu.
Sambil memeluk pinggang Chu Pian Ran agar gadis itu tidak terjatuh, sesekali Lee mencuri cium pipi kekasihnya hingga membuat Chu Pian Ran menjadi jengkel.
"Awas kau ya, nanti aku akan memberimu pelajaran." Ancam Chu Pian Ran.
"Jangan begitu dong sayang... Kenapa akhir-akhir ini kamu jadi sering galak." Ucap Lee.
Memang benar yang dikatakan Lee. Semenjak Chu Pian Ran suka bermeditasi, gadis itu menjadi galak dan sulit didekati Lee.
****
Mereka berdua telah sampai di tanah lapang yang dimaksud. Lee langsung mengajari Chu Pian Ran berkuda dengan pelan-pelan.
Tak butuh waktu lama, Chu Pian Ran pun sudah berani berkuda sendiri dan mengendalikan kuda.
Lee sendiri merasa heran dengan kecepatan Chu Pian Ran dalam berlatih kuda.
Kini mereka berdua sedang duduk di bawah pohon yang lebat daunnya, sementara si kuda dibiarkan merumput dan minum air sungai.
"Untuk apa kau tiba-tiba ingin berlatih kuda?" Tanya Lee.
"Suatu saat nanti aku harus mengembara." Balas Chu Pian Ran mantap.
"Mengembara? Tidak, aku tidak akan mengijinkanmu mengembara kemana-mana." Larang Lee tegas.
"Lalu kau pikir untuk apa kelebihanku ini jika tidak untuk dimanfaatkan." Kata Chu Pian Ran.
"Keanehan yang kualami sampai sekarang ini karena ada maksud ke depannya." Lanjut Chu Pian Ran.
"Ayah dan ibumu tentu juga tidak setuju sepertiku." Sambung Lee.
"Kita lihat saja nanti. Jika mereka tidak mengijinkan, aku bisa keluar rumah tanpa ijin mereka." Ucap Chu Pian Ran sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Apa kau bilang? Kau mau kabur?!" Lee lumayan kaget dengan pernyataan Chu Pian Ran.
"Jika aku terpaksa mengambil langkah itu, maka akan kulakukan." Jawab Chu Pian Ran.
****
"Jadi benar apa yang diceritakan Lee?" Tanya tuan Chu.
"Maaf ayah, aku bukannya bermaksud membantah kemauan ayah. Tapi memang inilah maksud dari kelebihan yang aku miliki saat ini." Terang Chu Pian Ran.
Tuan Chu sedang berpikir.
Tadi sore setelah Lee melatih berkuda Chu Pian Ran, pemuda itu langsung menemui tuan Chu dan menceritakan keinginan Chu Pian Ran untuk mengembara.
"Kau yakin dengan keinginanmu itu?" Lanjut tuan Chu.
"Aku sangat yakin ayah. Tapi aku akan melakukannya setelah aku benar-benar siap." Jawab Chu Pian Ran.
"Maksudmu?" Tanya tuan Chu kurang paham.
"Aku akan mengembara setelah mendapatkan bekal yang cukup. Untuk itu, saat-saat ini aku harus mengembangkan kemampuan yang aku miliki." Jelas Chu Pian Ran.
"Ibumu pasti tidak akan setuju. Apa kau tahu betapa khawatirnya ibumu saat kau menjadi sakit-sakit satu setengah tahun yang lalu." Kata tuan Chu.
"Aku tahu ayah... Untuk itu, aku mohon bantuan ayah untuk meyakinkan ibu. Sekarang ini tubuhku sudah sehat-sehat saja kan." Tambah Chu Pian Ran.
****
Hari-hari berikutnya, Chu Pian Ran menjadi giat berlatih.
Dia mulai menekuni latihan memanah, bela diri, dan lainnya. Semua keinginan itu muncul di luar kendali dia.
Hari-hari gadis itu hanya berkisar antara meditasi dan latihan.
Saat ini Chu Pian Ran sedang melatih kekuatan tangannya untuk mengendalikan air. Jika sebelumnya kekuatan tangannya hanya digunakan pada benda-benda padat, kali ini dia ingin mencoba pada benda cair.
Gadis itu sedang berdiri di tepi kolam dan berkonsentrasi mengumpulkan kekuatan pada kedua telapak tangannya.
Dia berniat untuk menarik sebagian kecil air kolam itu.
Awalnya gadis itu mengalami beberapa kali kegagalan. Namun setelah terus mencoba, akhirnya dia berhasil membuat sebagian air kolam itu terangkat ke atas.
Chu Pian Ran mulai mengendalikan air itu sesuai keinginannya. Air yang awalnya berbentuk seperti sebuah gumpalan besar, kini bentuknya berubah lengkung memanjang.
Sepasang mata sedang mengawasi aksi gadis itu. Semakin hari hatinya semakin cemas. Kini hubungannya dengan gadis itu mulai merenggang.
__ADS_1
Pemuda itu merasa kekasihnya sudah banyak berubah semenjak kemunculan gambar bunga mei hwa di bahu gadis itu.
Lee berjalan mendekat dan berdiri agak jauh di samping Chu Pian Ran.
Chu Pian Ran yang sebenarnya tahu kedatangan Lee hanya bersikap acuh. Gadis itu masih meneruskan latihannya dalam mengendalikan air.
"Ran Er." Panggilnya pada gadis itu.
"Jika tidak ada sesuatu yang penting, jangan ganggu aku." Kata Chu Pian Ran.
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu." Lanjut Lee.
Gadis itu menyudahi latihannya. Air yang awalnya melayang di udara, jatuh berkecipak di atas kolam.
"Kau ingin bicara soal apa?" Tanya Chu Pian Ran sambil menoleh pada pemuda itu.
"Kita bicara sambil duduk saja." Sambung Lee lalu beranjak menuju kursi yang ada di dekat kolam itu.
Chu Pian Ran mengikuti pemuda itu.
"Katakanlah." Ucap Chu Pian Ran singkat.
"Kau serius ingin mengembara?" Tanya Lee.
"Iya. Tinggal menunggu semuanya siap baru aku akan berangkat." Jawab Chu Pian Ran.
"Kalau begitu aku akan menemanimu." Kata Lee.
"Tidak. Aku ingin mengembara sendiri." Balas Chu Pian Ran.
"Baiklah jika itu keinginanmu. Aku mengijinkanmu mengembara tapi dengan satu syarat." Lanjut Lee serius.
"Kau ingin mengajukan syarat pertunangan kan?" Chu Pian Ran sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan itu.
"Kenapa? Kau takut kehilanganku?" Sambung gadis itu.
"Pemuda mana yang sanggup jika kehilangan kekasihnya. Kau tahu, aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan hatimu." Terang Lee.
"Tidak perlu melankolis seperti itu. Aku bukan tipe gadis yang mudah jatuh hati. Jika takdir mempersatukan kita, tentu kita nanti akan bersatu juga." Ucap Chu Pian Ran.
"Jadi kau menolak bertunangan denganku?" Tanya Lee dengan nada putus asa.
"Iya, aku menolak. Saat ini aku sedang tidak ingin terikat hubungan dengan pemuda manapun. Jika kau memang tulus mencintaiku, tentu kau akan sabar menungguku." Jelas Chu Pian Ran.
Lee sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan keputusan Chu Pian Ran. Dipaksapun juga akan sia-sia.
__ADS_1
"Baiklah. Aku hargai keputusanmu. Aku akan terus menunggu sampai kau bersedia menikah denganku. Hanya saja tolong ingat, jika kau sekarang adalah kekasihku. Jika nanti ada pemuda lain yang mendekatimu, ingatlah bahwa aku sedang menunggumu." Kata Lee dengan suara pelan.