
Begitu terkena cahaya putih itu, beberapa detik kemudian si harimau pun berhenti mengejar. Sementara itu, makhluk kerdil tadi masih terus saja berlari hingga dia kelelahan dan akhirnya berhenti dengan napas tersengal-sengal sambil tangan kanannya memegang bagian dada.
Setelah mendaratkan kakinya di tanah dan berdiri sekitar empat meteran di depan binatang buas itu, Chu Pian Ran pun lalu menatap mata harimau itu selama beberapa detik untuk mengendalikan pikirannya.
"Hei harimau, pergilah kau jauh-jauh dan jangan pernah mengganggu makhluk sebangsa dia lagi!" kata nyonya muda Lee yang tahu jika manusia mini tadi hidup dalam kelompok yang jumlahnya cukup besar melalui penerawangan batinnya.
Tak berapa lama, binatang buas berbulu loreng itu pun membalikkan badannya lalu pergi menjauh sampai menghilang dari pandangan.
Sesudah harimau itu pergi, Chu Pian Ran juga membalikkan tubuhnya lalu berjalan sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan sosok kerdil tadi.
Setelah melangkahkan kakinya hingga beberapa meteran, terlihatlah olehnya, manusia mini tadi sedang duduk bersandar di batang pohon besar sambil menghirup dan mengeluarkan napas dalam-dalam untuk menetralkan suasana hatinya yang sempat ketakutan setengah mati karena dikejar-kejar harimau.
"Hei makhluk mungil, apa kau baik-baik saja?" tanya peri cantik itu begitu dia telah duduk jongkok di samping si makhluk kerdil.
Sosok itu hanya mampu menjawab dengan gelengan kepala karena sampai saat ini jantungnya masih saja berdegup dengan kencang.
Tanggap dengan suasana hati lawan bicaranya, Chu Pian Ran pun berdiam diri untuk sesaat sambil matanya mengamati manusia mini yang ada di dekatnya itu.
Dari penampilannya, makhluk kerdil itu mengenakan pakaian yang jahitannya sangat sederhana dan terlihat kumal, serta tinggi badannya lebih rendah dari Lee Chu Mian Yin.
"Terimakasih banyak nona cantik, kau sudah menyelamatkan aku dari terkaman makhluk sialan itu...," akhirnya sosok itu mengeluarkan suaranya yang cempreng.
"Panggil aku nyonya muda ya makhluk mini, karena aku sudah bersuami dan punya seorang anak kecil," sahut Chu Pian Ran terus terang.
Setelah mendengar balasan dari nyonya muda Lee, sosok kerdil itu pun menatap peri cantik itu dengan wajah serius dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku terlihat aneh bagimu?" lanjut Chu Pian Ran keheranan dengan tatapan manusia mini yang ada di dekatnya itu.
"Baru kali ini aku bertemu langsung dengan bangsa manusia. Bagaimana caranya nyonya muda bisa ada di hutan lebat ini yang belum pernah didatangi oleh manusia? Apakah kau termasuk manusia jadi-jadian?" tanya makhluk itu penuh selidik yang juga disadari oleh nyonya muda Lee.
"Iya benar, aku adalah manusia jadi-jadian... Apakah kau bangsa kurcaci?" jawab peri cantik itu sekenanya lalu balik bertanya pada manusia mini itu.
"Iya, aku adalah bangsa kurcaci. Kau tidak akan membocorkan keberadaan kami pada manusia lainnya kan?" imbuh sosok kerdil itu.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh membocorkan keberadaan kalian kepada banyak orang?" sambung nyonya muda Lee ingin tahu.
"Itu karena keberadaan kami selama ini hanya dianggap sebagai 'mitos' oleh mereka. Jika bangsa manusia sampai tahu jika kami ada, mereka bisa datang ramai-ramai di hutan ini, menangkap kami dan menjadikan kami sebagai bahan tontonan karena mereka menganggap kami makhluk yang langka dan aneh," terang si kurcaci.
"Begitu ya... Kau tenang saja, aku jamin keberadaan kalian akan aman di hutan ini...," timpal Chu Pian Ran.
"Kau janji?" ujar si manusia mini masih belum percaya dengan penuturan perempuan cantik yang ada di dekatnya itu
"Iya, aku janji," peri cantik itu berusaha meyakinkan si makhluk kerdil dengan memberikan penekanan pada jawabannya.
"Namaku Chu Pian Ran, siapa namamu?" lanjut nyonya muda Lee.
"Namaku Fong Chai... Sudah dulu ya, aku mau melanjutkan mencari tanaman obat untuk ibuku, nanti keburu cepat gelap," ucap kurcaci itu sambil bangkit berdiri, namun dicegah oleh Chu Pian Ran saat Fong Chai hendak melangkahkan kakinya.
"Ada apa?" tanya manusia mini itu sambil menoleh pada nyonya muda Lee.
"Memangnya ibumu sakit apa?" ujar Chu Pian Ran.
__ADS_1
"Entahlah, sampai sekarang kami juga belum tahu apa penyakitnya. Makin lama makin parah saja keadaannya. Dan beberapa hari terakhir ini, ibuku sudah tidak sadarkan diri," terang si kurcaci.
"Bagaimana jika aku melihat keadaan ibumu? Siapa tahu aku bisa membantu kalian...," peri cantik itu menawarkan dirinya untuk memberi bantuan.
Manusia mini itu tidak menjawab. Malahan dia mulai merasa curiga dengan tawaran Chu Pian Ran barusan yang dianggapnya punya niat yang buruk.
Tanggap dengan reaksi lawan bicaranya, nyonya muda Lee pun berusaha meyakinkan makhluk kerdil itu jika niatnya untuk membantu benar-benar tulus.
"Kau tidak perlu berburuk sangka seperti itu Fong Chai, aku ini orang baik... Selama ini aku sudah pernah beberapa kali menyembuhkan orang sakit. Kalaupun aku tidak mampu menyembuhkan ibumu, aku bisa minta bantuan pada peri penguasa hutan Jinfeng, karena beliau membudidayakan tanaman obat yang sangat langka," jelas Chu Pian Ran.
"Apakah yang kau katakan itu benar?" tanya Fong Chai masih saja sulit percaya dengan kata-kata nyonya muda Lee. Harap maklum karena bangsa kurcaci memang sengaja menghindar dari makhluk yang namanya manusia. Jadi, sekalinya ketemu dengan manusia, dia akan sulit percaya dengan omongan makhluk hidup bertubuh tinggi dan besar itu.
"Aku tidak bohong Fong Chaiii, jika tidak percaya aku bisa membuktikannya padamu...," peri cantik itu mulai tidak sabaran dengan sikap si manusia mini.
Setelah diyakinkan beberapa kali oleh Chu Pian Ran, akhirnya Fong Chai pun mengajak perempuan cantik itu untuk ikut dengannya ke sebuah gua.
Agar lebih menghemat waktu dan tenaga, maka nyonya muda Lee pun menyarankan agar manusia mini itu naik ke punggungnya (digendong) dan dia akan terbang hingga sampai ke gua yang dimaksud.
Setelah Fong Chai naik ke atas punggung peri cantik itu, tak berapa lama Chu Pian Ran pun terbang dengan mendapat petunjuk arah dari makhluk kerdil itu.
Empat puluh lima menit kemudian, sampailah mereka berdua di mulut sebuah gua yang lumayan lebar, lalu si Fong Chai pun turun dari punggung nyonya muda Lee.
Tak berapa lama, masuklah Fong Chai dan Chu Pian Ran ke dalam gua tersebut. Begitu sampai di dalam, tampaklah jika gua itu lumayan luas dan memiliki beberapa lorong berukuran sedang yang sangat gelap. Akhirnya, manusia mini itu pun mengajak nyonya muda Lee untuk masuk ke salah satu lorong tersebut.
Karena bangsa kurcaci sudah terbiasa hidup di tempat-tempat yang gelap, maka matanya pun telah terlatih untuk melihat objek-objek yang ada di kegelapan, sehingga mereka bisa melewati jalanan yang gelap gulita tanpa hambatan.
Sementara itu, Chu Pian Ran yang tidak terbiasa lewat di jalanan yang gelap gulita pun mengeluarkan cahaya dari telapak tangan kanannya yang dia gunakan sebagai penerangan.
Belasan menit kemudian, sampailah mereka berdua di sebuah tempat yang lapang yang dinding-dinding guanya terdapat belasan celah berukuran sedang yang cukup dalam.
Begitu para kurcaci itu melihat sosok manusia, spontan mereka pun langsung bersembunyi di celahnya masing-masing yang dianggapnya sebagai 'rumah' bagi mereka.
"Kalian tidak perlu takut dengan nyonya muda Chu Pian Ran, dia tadi sudah menyelamatkan aku dari kejaran harimau yang besar. Dan dia datang ke gua ini karena berniat ingin menyembuhkan ibuku...," jelas Fong Chai pada kaum sebangsanya dengan suaranya yang cempreng.
Mendengar penjelasan dari Fong Chai, maka para kurcaci itu pun menampakkan dirinya lagi, namun di depan pintu celahnya masing-masing karena mereka masih merasa was-was.
Karena mata Chu Pian Ran sudah merasa tidak nyaman terlalu lama di kegelapan, maka perempuan cantik itu pun membuat beberapa bola-bola cahaya dari telapak tangan kanannya yang lalu dilemparkan ke beberapa penjuru langit-langit gua yang akhirnya membuat tempat itu menjadi lumayan terang. Kini, terlihatlah lebih jelas keadaan yang ada di tempat dimana para kurcaci tinggal.
Tak berapa lama, mendekatlah seorang kurcaci pria paruh baya mendekati Chu Pian Ran, yang rupanya dialah ayah dari Fong Chai sekaligus kepala suku bangsa kurcaci.
"Benarkah nyonya muda bisa menyembuhkan istri saya?" tanya kurcaci paruh baya itu begitu dia sudah berdiri sangat dekat dengan nyonya muda Lee sambil mendongakkan kepalanya.
"Aku harus melihat kondisinya dulu tuan kurcaci...," balas peri cantik itu.
Tak menunggu lama, Fong Chong, nama kepala suku kurcaci itu mengajak Chu Pian Ran ke depan celah guanya.
Karena tubuh nyonya muda Lee tidak bisa masuk ke dalam celah tersebut, maka perempuan cantik itu pun duduk jongkok di depan celah gua lalu mengulurkan tangan kanannya untuk memeriksa denyut nadi nyonya Fong Chong, yang saat itu kurcaci wanita paruh baya itu sedang berbaring tak berdaya dengan mata terpejam karena dia sedang dalam keadaan sudah koma.
Setelah memejamkan matanya beberapa saat untuk menerawang, tahulah Chu Pian Ran jika kurcaci wanita itu sedang menderita infeksi usus halus yang sudah akut.
Maka, sebagai pertolongan pertama, nyonya muda Lee pun berusaha mengurangi sedikit penyakit nyonya Fong Chong dengan menggunakan kekuatan supranaturalnya.
__ADS_1
Selama empat puluh lima menit, terlihatlah peri cantik itu sedang menyalurkan sebagian kekuatan supranaturalnya melalui jari telunjuk dan jari tengahnya yang mengeluarkan berkas cahaya putih ke atas perut nyonya Fong Chong yang mengalami infeksi. Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Chu Pian Ran itu disaksikan oleh semua mata kurcaci dari yang tua hingga yang paling muda.
Sesudah empat puluh lima menit, tak berapa lama terdengarlah suara batuk dari mulut nyonya Fong Chong yang kemudian tersadarlah kurcaci wanita paruh baya itu, namun keadaannya masih lemah tak berdaya.
Dengan segera, tuan Fong Chong dan Fong Chai pun mendekati ranjang batu wanita itu dan menanyakan keadaannya.
Menyaksikan kejadian ajaib di depannya, para kurcaci yang merasa was-was tadi akhirnya berani mendekati nyonya muda Lee.
Karena sudah jongkok terlalu lama, kaki Chu Pian Ran pun merasa kesemutan. Akhirnya, berdirilah peri cantik itu lalu menggerak-gerakkan kaki dan tubuhnya untuk beberapa saat dengan disaksikan oleh mata para kurcaci.
"Siapa sebenarnya kau nyonya muda sehingga bisa menyembuhkan nyonya Fong Chong? Kau bukan manusia biasa kan?" tanya salah satu kurcaci yang tertua di situ yang memiliki jenggot putih agak panjang.
"Kira-kira kalau menurut kakek aku ini siapa?" Chu Pian Ran balik bertanya seolah malah memberikan teka-teki.
"Menurutku kau sebangsa siluman atau peri...," tebak kurcaci tua itu.
"Aku tidak suka menyandang gelar siluman kakek kurcaci...," sahut nyonya muda Lee terus terang.
"Kalau begitu kau seorang peri," lanjut si kurcaci tua.
"Jawabanmu benar kakek kurcaci. Tapi, nyonya Fong Chong sebenarnya belum sembuh seperti yang kau katakan tadi. Aku hanya memberikan pertolongan pertama agar dia sadar dan rasa sakitnya berkurang, sementara setelah ini aku akan pergi ke hutan Jinfeng untuk menemui dan meminta tanaman obat pada peri penguasa hutan itu," terang Chu Pian Ran.
"Aku dengar hutan Jinfeng adalah hutan yang paling luas di dataran China dan tidak dijamah oleh manusia. Benarkah nyonya muda kenal dengan peri penguasa hutan itu?" tambah si kurcaci tua masih kurang percaya dengan kata-kata perempuan cantik yang berdiri di depannya itu.
"Aku kenal dengan peri Jinfeng Zhui kek, bahkan aku sudah menganggapnya seperti nenekku sendiri...," balas peri cantik itu jujur.
Mendengar jawaban nyonya muda Lee, kurcaci tua itu pun terkejut.
"Oh ya semuanya saja, sekarang ini aku tidak bisa berlama-lama di sini karena harus segera ke hutan Jinfeng, mudah-mudahan saja peri Jinfeng Zhui punya tanaman obat yang bisa menyembuhkan infeksi usus halusnya nyonya Fong Chong,"
Tanpa menunggu jawaban dari para kurcaci, Chu Pian Ran pun merubah wujudnya menjadi seberkas cahaya dan langsung melesat cepat keluar dari tempat itu. Otomatis, sikapnya yang 'tidak biasa' itu membuat para kurcaci lumayan terbengong untuk sesaat.
****
Setelah melesat terbang secepat kilat, dalam waktu dua puluh menit, sampailah nyonya muda Lee di 'tempat tinggal' peri Jinfeng Zhui.
"Nenek Jinfeeeng! Woii nenek Jinfeeeng, dimanakah dirimuuuu?!" panggil Chu Pian Ran pada peri penguasa hutan Jinfeng dengan nada suara dibuat-buat.
Peri Jinfeng Zhui yang saat itu sedang memanen buah-buahan pun terkejut dengan kedatangan nyonya muda Lee.
Dengan segera peri senior yang telah berumur lebih dari 25.000 tahun itu meninggalkan pekerjaannya dan terbang untuk menemui perempuan cantik yang telah lama tidak ditemuinya itu.
Begitu sampai di tempat nyonya muda Lee berada, tampaklah oleh peri senior itu, Chu Pian Ran sedang makan sebuah apel merah tanpa merasa sungkan sedikitpun dengan si tuan rumah.
"Kau datang kemari nak?" tanya peri Jinfeng Zhui keheranan lalu duduk di kursi kayu berukir yang ada di samping kanan nyonya muda Lee.
"Iya nek, biasa, aku kemari karena butuh bantuan nenek peri...," balas Chu Pian Ran dengan mulut mengunyah apel.
"Bukan hal yang gawat seperti waktu itu kan?" lanjut peri Jinfeng Zhui.
"Tidak nek...," jawab nyonya muda Lee dengan masih menguyah apel.
__ADS_1