
Sore harinya...
Saat ini, tampaklah Lee Chu Mian Yin sedang mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh gurunya tadi siang di ruang belajarnya dengan tubuh menghadap pada lukisan ibundanya.
Karena gadis kecil itu adalah anak yang cerdas, dalam waktu satu jam an, dia sudah berhasil menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya.
Seperti biasanya, jika dia telah tuntas mengerjakan tugas tersebut, dia akan mengulang kembali pelajaran yang diberikan oleh gurunya tadi sekaligus mempelajari materi pelajaran untuk esok harinya seperti yang pernah diajarkan oleh ibunya.
Beberapa menit kemudian, masuklah sosok Lee Jiang Wook ke dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana belajarnya sayang? Ada pekerjaan rumah?" tanya ayah muda itu setelah ada di depan meja belajar putrinya.
"Lancar ayah, Yin'er sudah menyelesaikan tugas rumah yang diberikan oleh pak guru tadi siang...," balas Lee Chu Mian Yin sambil menatap pada ayahnya
"Coba ayah periksa pekerjaan rumahmu nak...," ucap Lee Jiang Wook.
Tak berapa lama, gadis kecil itu pun menyerahkan buku tugasnya kepada ayahnya. Untuk beberapa menit, Lee Jiang Wook memeriksa hasil tugas rumah putrinya.
"Pintar sekali, jawabannya benar semua... Kamu yang terus semangat belajar ya sayang, agar kelak besar nanti hidupmu bisa berguna bagi banyak orang seperti ibundamu...," imbuh Lee Jiang Wook sambil meletakkan buku tugas putrinya di atas meja belajar.
"Tentu ayah, Yin'er akan semangat belajar agar bisa seperti paman Qin Wu Zhu dan kakek Long Yuan...," sahut Lee Chu Mian Yin yang bercita-cita ingin menjadi seorang jenderal.
"Tidak adakah impian lainmu selain menjadi seorang jenderal nak...," untuk kesekian kalinya ayah muda itu ingin mengetahui harapan putri tunggalnya itu.
"Tidak ada ayah, Yin'er ingin mengabdikan hidup untuk menjaga keamanan wilayah Qin ini," ujar gadis kecil itu mantap.
"Jika kau terjun ke bidang kemiliteran kau harus siap menanggung derita badan yang lumayan banyak sayang..." lanjut Lee Jiang Wook masih terus berusaha menggoyahkan keinginan putrinya itu, karena dari kedalaman hatinya, setelah kepergian istri tercintanya, ayah muda itu menjadi tidak rela jika gadis kecil tersebut bercita-cita ingin menjadi seorang jenderal.
"Tidak apa-apa ayah, Yin'er siap menanggung semua resikonya," kata Lee Chu Mian Yin tetap kukuh pada pendiriannya.
"Ayah tidak perlu khawatir dan sedih jika kelak Yin'er meninggal karena Yin'er melakukan tugas yang mulia demi wilayah Qin ini. Bukankah orang yang baik meninggalnya nanti pasti masuk surga dan bahagia. Lagipula Yin'er nanti bisa berkumpul lagi dengan ibu di sana."
Deg!
Perkataan putrinya yang polos barusan membuat ayah muda itu lumayan terkesiap. Apa yang diajarkan oleh istrinya dulu pada Lee Chu Mian Yin rupanya tertancap kuat di pikiran gadis kecil yang sekarang telah berumur 7 tahun 5 bulanan tersebut, yang membuat Lee Jiang Wook tidak bisa mengubah impian putri tunggalnya lagi.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi tekadmu nak... Apapun yang menjadi cita-citamu ayah akan mendukungmu, asal kamu bisa menjaga dirimu sendiri dengan baik...," ayah muda itu akhirnya berusaha mengalir dengan apa yang ada di depannya, toh kalau pun dipaksa hasilnya juga tidak akan baik di masa-masa yang akan datang.
Beberapa saat kemudian, masuklah Nyonya Lee Jiang Xun ke ruangan tersebut untuk memberitahu jika jam makan malam telah tiba.
Sesudah menyelesaikan acara makan malamnya, Lee Chu Mian Yin pun kembali ke ruang belajarnya, sementara Lee Jiang Wook masuk ke ruang kerjanya untuk memeriksa buku laporan keuangan.
Di ruang belajarnya tersebut, gadis kecil itu menulis sebuah catatan harian di buku khususnya yang isi tulisannya tentu saja tentang ibundanya.
Ibu, bagaimana kabarmu di surga sana? Yin'er yakin ibu pasti bahagia, kan ibu orang baik...
Ibu tidak perlu khawatir dan jangan sedih ya, di sini Yin'er, ayah, kakek dan nenek semua baik dan sehat...
Jika besar nanti Yin'er bercita-cita ingin menjadi seorang jenderal seperti paman Qin Wu Zhu dan kakek Long Yuan, ibu pasti mendukung Yin'er kan...
Jika besar nanti Yin'er ingin menjadi orang yang hebat seperti ibu...
__ADS_1
Lee Chu Mian Yin tiba-tiba menghentikan tulisannya, menutup buku tersebut lalu meletakkan kuas tulisnya di tempatnya kembali begitu sosok ayahnya masuk di ruang belajarnya lagi yang mengingatkan putri kesayangannya itu untuk segera tidur malam karena besok harus bangun pagi dan sekolah.
Setelah membantu Lee Chu Mian Yin memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas dan merapikan meja belajar gadis kecil itu, Lee Jiang Wook pun mengantar putrinya ke kamar pribadi Lee Chu Mian Yin.
Sesudah gadis kecil itu naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya, ayah muda itu lalu menyelimuti badan putrinya serta mencium dahinya.
"Selamat malam sayang, tidur yang nyenyak ya... Jangan lupa besok bangun pagi karena harus ke sekolah," Lee Jiang Wook memberikan kalimat pengantar tidur pada putrinya sekaligus mengingatkan gadis kecil itu agar besok bangun pagi.
"Iya ayah, besok Yin'er pasti bangun pagi. Selamat malam ayah, selamat tidur juga ya."
Tak berapa lama, Lee Jiang Wook pun kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu kamar dan beranjak dari depan ruangan tersebut setelah menutup pintu kamar putrinya.
Seperti biasanya, setelah mengantar putrinya ke kamar, ayah muda itu pasti memeriksa ruang belajar Lee Chu Mian Yin dan membaca buku harian gadis kecil itu yang entah mendapat pemikiran darimana, putrinya tersebut menjadi suka menulis catatan harian beberapa hari semenjak ibundanya telah tiada.
Setiap membaca buku harian Lee Chu Mian Yin yang masih polos itu, ayah muda tersebut selalu meneteskan air matanya dengan hati trenyuh karena dia menjadi tahu isi hati putrinya yang penuh keluguan itu.
🌹
Hari Jum'at pagi di markas besar prajurit...
Sekitar pukul 8 nan, tampaklah Lee Chu Mian Yin telah berada di area latihan memanah dan dengan giat gadis kecil tersebut pun berlatih memanah, sementara itu paman angkatnya Qin Wu Zhu sedang mengawasi ratusan prajuritnya yang melakukan latihan beladiri.
Setengah jam an kemudian, muncullah sosok Qin Wu Dang dari gerbang markas dengan dikawal oleh 4 orang prajurit memasuki tempat tersebut.
Begitu tahu jika pamannya sedang berada di halaman, anak laki-laki yang berumur 10 tahunan itu pun kemudian menghampiri Qin Wu Zhu.
"Selamat pagi paman...," sapa anaknya Qin Wu Zhang setelah berada di samping kiri jenderal muda itu.
"Tentu sudah paman..."
Untuk beberapa saat, kedua mata Qin Wu Dang diedarkan di sekitar area tersebut untuk mencari sosok Lee Chu Mian Yin yang biasanya jam segini an sudah ada di markas.
"Kamu mencari Yin'er? Dia ada di tempat latihan memanah," jenderal muda itu tanggap jika keponakannya sedang mencari keberadaan putrinya mendiang Chu Pian Ran.
"Kalau begitu Dang'er ke sana ya paman."
Tak berapa lama, tampaklah anak Qin Wu Zhang itu menapakkan kakinya menuju ke tempat latihan memanah tanpa dikawal oleh 4 prajurit tadi karena anak laki-laki itu memang melarang mereka untuk mengikutinya.
"Pagi Yin'er...," kata Qin Wu Dang sesudah dekat dengan Lee Chu Mian Yin yang saat itu sedang fokus mengarahkan anak panahnya ke papan sasaran yang jaraknya lebih dari 20 meter di depannya.
Untuk beberapa menit bibir gadis kecil itu belum memberikan jawaban karena dia sedang konsentrasi dengan aktifitas yang sedang dia lakukan.
Beberapa saat kemudian, putrinya Lee Jiang Wook tersebut terlihat melepaskan anak panahnya yang lagi-lagi sedikit meleset dari lingkaran bagian tengah papan.
"Latihan ya latihan tapi jangan terlalu serius...," imbuh anak laki-laki tersebut yang sedari tadi bukan hanya memperhatikan Lee Chu Mian Yin yang sedang serius dengan latihan memanahnya tapi juga menikmati kecantikan wajah putri dari mendiang bibinya itu.
"Sebenarnya aku tidak terlalu serius kak, aku hanya berusaha untuk memfokuskan anak panahku ke lingkaran bagian tengah papan, tapi sedari tadi belum ada satu anak panah pun yang berhasil mengenainya...," jawab gadis kecil itu jujur yang membuat Qin Wu Dang tersenyum tipis.
Tak berapa lama, anaknya Qin Wu Zhang itu pun mengambil sebuah anak panah yang ada di tempat penyimpanan tak jauh darinya lalu meminta Lee Chu Mian Yin untuk memasang anak panah tersebut di busur yang dia pegang.
Beberapa detik kemudian tampaklah pemandangan yang membuat siapa saja yang melihatnya mempunyai pikiran 'yang tidak biasa' karena saat ini Qin Wu Dang sedang merapatkan tubuhnya pada bagian belakang tubuh putrinya Lee Jiang Wook dengan maksud mengajari gadis kecil itu cara memanah yang benar.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, kedua anak berbeda gender tersebut tetap dalam keadaan tubuh yang merapat, yang tak lama kemudian anaknya Qin Wu Zhang sedikit menjauhkan badannya dari Lee Chu Mian Yin begitu anak panah itu sudah melesat dan tepat pada sasarannya.
"Begitu cara memanah yang benar...," ujar anak laki-laki itu.
"Iya kak, terimakasih ya sudah mengajariku cara memanah yang tepat. Habis, jika diajari oleh paman Qin Wu Zhu, Yin'er tidak bisa mengikutinya dengan baik karena tubuhnya paman kan tinggi," sahut gadis kecil itu dengan lugunya tanpa memiliki pemikiran lain jika sebenarnya Qin Wu Dang yang telah dia anggap sebagai kakaknya sendiri mempunyai perasaan padanya.
🌹
Sabtu sore...
Seperti yang telah direncanakan beberapa hari yang lalu, sore ini Liu Xhu Ru datang ke kediaman Chu untuk bertemu dengan Lee Chu Mian Yin dan 'ingin melihat' burung meraknya.
Sebelum anak Tuan Liu Xhu Wang itu datang, gadis kecil berumur 7 tahun 5 bulanan tersebut telah mengeluarkan si Khong'er dari kandangnya dan mengajak burung jantan itu ke taman bunga.
Kini, tampaklah Liu Xhu Ru sedang jongkok di depan Khong'er sambil mengelus-elus bulu biru terang yang menutupi sebagian tubuh merak jantan itu, sementara si Lee Chu Mian Yin sedang duduk di atas gazebo sambil kedua matanya menyaksikan dua makhluk berbeda jenis yang tak jauh di depannya tersebut.
"Burung meraknya cantik ya... Aku dengar harga burung ini sangat mahal...," kata anak Tuan Liu Xhu Wang memecah keheningan, mencoba mencari bahan pembicaraan.
"Iya kak, kata kedua orang tuaku dan kakek nenekku juga begitu," timpal putrinya Lee Jiang Wook.
"Apakah sore ini kamu ada waktu, Mian Yin? Maukah kamu jalan-jalan denganku?" lanjut cucunya perdana menteri kesejahteraan rakyat sambil memalingkan wajahnya pada gadis kecil berparas cantik itu.
"Maaf ya kak sore ini aku sedang tidak ada minat untuk jalan-jalan," balas Lee Chu Mian Yin jujur.
"Ya sudah, kalau begitu lain waktu saja jalan-jalannya..."
Tak berapa lama, Liu Xhu Ru pun bangkit dari jongkoknya lalu duduk di samping kiri putrinya Lee Jiang Wook.
Setelah berbincang selama lebih dari setengah jam an, anak laki-laki itu pun pamit pulang dengan dikawal oleh seorang pelayannya. Sementara itu, Lee Chu Mian Yin tetap tinggal dan menginap di kediaman nenek Chu hingga keesokan harinya yang sebenarnya saat-saat ini adalah gilirannya dia dan ayahnya tinggal di kediaman Lee.
🌹
Dua bulan setelah hari pertempuran dengan Qing Liong, keadaan Peri Jinfeng Zhui sudah menjadi lebih baik karena mendapat transferan energi dari beberapa siluman yang tinggal di Hutan Jinfeng.
Agar kebrutalan iblis jahat itu tidak menimbulkan kekacauan lagi, maka peri penguasa hutan Jinfeng tersebut pun segera mengambil tindakan dengan mengutus beberapa siluman kepercayaannya agar pergi ke tempat para peri senior yang tempat tinggal mereka menyebar di berbagai penjuru daratan China.
Setelah mendapatkan petunjuk tentang tempat tinggal masing-masing para peri senior tersebut, beberapa siluman yang diberi mandat pun segera melesat pesat menuju ke masing-masing lokasi yang dimaksud.
Tanpa menunggu lama, dalam satu hari, semua para senior yang berjumlah 15 orang itu pun sudah berkumpul di kediaman Peri Jinfeng Zhui dan langsung sangat kaget bercampur sedih begitu tahu jika iblis Qing Liong lepas dari segelnya dalam waktu yang lumayan lama, terlebih lagi saat mereka diberitahu jika roh Chu Pian Ran juga musnah dalam usaha membasmi iblis tersebut.
Berdasarkan prediksi dari peri penguasa hutan Jinfeng, saat-saat ini kemungkinan besar keadaan Qing Liong pun juga mengalami luka parah, maka senyampang kondisinya mendukung, mereka pun harus segera bertindak untuk memburu iblis jahat tersebut.
Setelah berdiskusi sebentar, maka para peri senior itu pun secara serempak dan bersamaan menjelajah ke banyak tempat untuk mencari keberadaannya Qing Liong.
Sesudah berusaha melakukan pencarian hingga lebih dari tiga minggunan, berhasil lah mereka menemukan iblis jahat tersebut yang waktu itu sedang melakukan meditasi di sebuah gua yang sangat dalam dengan keadaan tubuh yang masih terasa kesakitan.
Tanpa banyak kata, para peri senior itu pun bahu-membahu menyerang Qing Liong secara bersamaan hingga setelah bertempur selama dua jam lebih, iblis tersebut berhasil dimusnahkan selama-lamanya dari alam semesta.
Menyaksikan hal itu, para peri senior pun merasa sangat lega karena mereka tidak perlu khawatir lagi akan ancaman keganasan Qing Liong.
🌹🌹🌹
__ADS_1