
"Ya tidak begitu juga Yin'er. Maksud kakak, kalau kamu tidak diajak bicara olehnya ya jangan mengajak dia bicara duluan atau pun mendekati dia," terang Qin Wu Dang karena dia memang tidak suka dengan tabiat anaknya Tuan Gu Lian Jui itu.
"Iya kak.
"Dan untuk Rui Xiao Wang, juga jangan kau dekati dia ya. Anak itu dan Gu Lian Chung sama-sama badungnya. Apa gunanya pintar kalau nakal seperti itu," sambung putranya Qin Wu Zhang sambil mengeluh tentang kelakuan dua temannya tersebut yang tidak wajar.
"Baik kakakku yang tampaan... Jadi ini hal penting yang ingin kakak bicarakan?" ucap gadis kecil itu mulai jengkel karena kakak angkatnya tersebut sore ini berubah menjadi 'cerewet'.
"Kalau ngobrol terus kapan kita akan belajarnya kaak?" lanjut Lee Chu Mian Yin seperti menyadarkan Qin Wu Dang jika saat ini sudah waktunya untuk belajar.
"Baiklah Yin'er, kakak minta maaf ya jika sudah banyak bicara... Sekarang ayuk kita mulai belajarnya."
Tak berapa lama, tampaklah kedua anak tersebut belajar dengan lumayan serius yang kadang diselingi dengan diskusi bersama.
Sebelum jam 7 malam, putranya Qin Wu Zhang menyudahi belajarnya lalu memasukkan kembali perlengkapan studinya tersebut ke dalam tas sekolahnya dan kemudian dia pun mencari Tuan dan Nyonya Chu Jeong untuk berpamitan dengan diantar oleh putrinya Lee Jiang Wook.
Kini, terlihatlah pasangan suami istri tersebut beserta cucunya mengantar Qin Wu Dang hingga di depan kediaman.
"Sampai ketemu besok di sekolahan ya Yin'er," ucap anak laki-laki itu sebelum kedua kakinya beranjak dari tempat tersebut dengan dikawal dua orang prajurit di belakangnya.
🌹
Keesokan harinya...
Pagi itu, sekitar jam 9 nan, tampaklah si Rong Hya sedang berjalan kaki memasuki gerbang ibukota Qin dengan pundak kanannya mencangklong buntelan kain yang berisi beberapa potong pakaian.
Selama beberapa tahun, pemuda jelmaan siluman serigala tersebut tidak menampakkan dirinya di ibukota Qin karena dia memang diberi mandat oleh ayahnya untuk mengerjakan hal penting di luar wilayah Qin, dan hari ini si Rong Hya berniat untuk mengunjungi Chu Pian Ran dan keluarganya. Adapun hingga saat ini, siluman serigala itu sama sekali belum mendengar kabar jika nyonya muda Lee telah tiada.
Dengan langkah yang ringan dan hati riang, si Rong Hya menapakkan kedua kakinya di jalanan ibukota Qin yang waktu itu lumayan ramai. Setelah berjalan kaki santai hingga puluhan menit, sampailah siluman serigala itu di depan kediaman Chu lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gerbang.
Kebetulan, saat si Rong Hya sudah melewati gerbang, ada seorang pelayan pria yang sedang menyiangi rumput di sekitar tempat itu dan baru satu setengah tahunan bekerja di kediaman tersebut.
Begitu melihat ada seorang tamu masuk ke halaman kediaman, dengan segera pelayan yang sudah berusia lebih dari 50 tahunan itu bangkit berdiri dan menyambut siluman serigala tersebut.
"Maaf tuan muda, anda siapa dan ingin bertemu dengan siapa?" pelayan itu bertanya dengan ramah pada tamunya.
"Namaku Rong Hya paman, dan aku ingin sekali bertemu dengan nyonya muda Lee dan keluarganya."
Mendengar jawaban siluman serigala tersebut, pelayan itu pun langsung terkejut dan sikapnya tadi tentu saja membuat si Rong Hya menatapnya keheranan.
"Ada apa paman? Apakah nyonya muda Lee sedang ada urusan penting di luar ibukota?" imbuh pemuda itu penasaran.
__ADS_1
"Maaf tuan muda, apakah anda belum mendengar berita tentang nyonya muda Lee?" lanjut si pelayan dengan suara lebih rendah dari sebelumnya.
"Berita apa paman? Selama beberapa tahun terakhir ini saya ada tugas dari ayah saya untuk mengerjakan urusan penting di luar wilayah Qin," sahut Rong Hya jujur dengan hati semakin bingung karena pelayan yang ada di depannya itu bersikap lumayan aneh.
"Maaf tuan muda, nyonya muda Lee sudah meninggal lebih dari satu tahun yang lalu," terang pelayan tersebut.
Mendapat jawaban demikian dari si pelayan, siluman serigala itu sempat bengong untuk sesaat karena dia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya tadi.
"Nyonya muda Chu Pian Ran meninggal? Apa benar? Kau jangan bercanda paman," ucap si Rong Hya sebagai bentuk ketidakpercayaannya, bahkan menganggap pelayan yang berdiri di depannya tersebut hanya bergurau saja.
"Saya tidak bercanda tuan muda, nyonya muda Chu Pian Ran telah tiada akibat bertarung dengan iblis jahat yang saya dengar namanya Qing Liong," si pelayan mempertegas keterangannya tadi yang langsung membuat tubuh siluman serigala tersebut goyang untuk sementara karena dia juga tahu siapa itu Qing Liong.
"Tuan muda, anda baik-baik saja?" tambah si pelayan sambil menopang badan tamunya yang sempat tidak stabil.
"Aku pergi dulu saja pelayan, kapan-kapan aku akan kemari lagi."
Belum juga mendapat balasan dari si pelayan, Rong Hya langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah yang sedikit sempoyongan karena saking terkejutnya dia mendengar kabar barusan.
Sementara itu, si pelayan tadi mengiringi kepergian siluman serigala tersebut dengan tatapan yang lumayan iba.
Begitu sampai di depan kediaman Chu, si Rong Hya menghentikan langkahnya sesaat untuk mengatur suasana hatinya yang tidak stabil.
Satu setengah jam kemudian...
Terlihatlah si Rong Hya sedang menyandarkan tubuhnya di sebuah batang pohon besar dalam keadaan hati yang sangat pedih.
Kesedihan hatinya terlihat jelas di raut wajahnya dan kedua matanya yang tampak merah berair.
Pemuda siluman serigala tersebut tidak pernah menyangka jika pertemuannya beberapa tahun yang lalu merupakan pertemuan terakhirnya dengan mendiang Chu Pian Ran.
Selama satu jam lebih, posisi tubuh si Rong Hya tetap bertahan seperti itu bahkan dia juga sempat meneteskan air matanya.
Setelah dirasa suasana hatinya lumayan tenang, maka pemuda jelmaan serigala itu pun bangkit dari duduknya, mengubah wujudnya menjadi seberkas cahaya putih lalu melesat terbang menuju hutan Jinfeng dengan maksud ingin menemui peri penguasa hutan tersebut.
🌹
Hutan Jinfeng
"Sudah lama sekali kau tidak kemari Rong Hya, kemana saja kau ini?" tanya Peri Jinfeng Zhui pada siluman serigala yang duduk di samping kirinya tersebut.
"Aku diberi tugas penting oleh ayahku di luar wilayah Qin, peri," jawab si Rong Hya dengan suara agak serak karena tadi memang sempat menangis yang tentu saja gelagatnya tersebut diketahui oleh peri senior itu.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja Rong Hya?" lanjut peri penguasa hutan Jinfeng itu dengan tatapan mata menyelidik.
"Aku tidak baik-baik saja Peri Jinfeng, karena aku baru saja mendengar kabar jika Chu Pian Ran sudah tiada," sahut siluman serigala itu terus terang.
"Kau baru mendengarnya ya? Sebelum jiwanya musnah, kami berdua sempat bertarung sengit dengan iblis terkutuk itu," ucap peri senior itu yang langsung membuat si Rong Hya sempat terkejut dengan sepasang matanya menatap lekat pada peri penguasa hutan Jinfeng tersebut.
"Benarkah itu peri? Kalian bertarung dengan Qing Liong jahanam itu?" tanya siluman serigala tersebut berusaha memastikan bahwa apa yang didengar oleh sepasang telinganya tadi adalah suatu kebenaran.
"Benar Rong Hya. Dan iblis jahat itu sebenarnya sudah mentargetkan akan membinasakan aku, tapi karena kepekaan instingnya Chu Pian Ran, perempuan cantik itu langsung melapor kemari begitu dia tahu Qing Liong sudah lepas dari segel mantra yang mengurungnya yang ternyata sudah lumayan lama," jelas Peri Jinfeng Zhui.
"Jika waktu itu nyonya muda Lee tidak segera datang kemari, pasti sekarang akulah yang tinggal nama saja," imbuh peri senior tersebut dengan hati yang pedih kembali setiap kali mengingat pengorbanannya mendiang Chu Pian Ran.
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening karena dua orang dari bangsa yang berbeda tersebut sama-sama terhanyut oleh perasaannya masing-masing.
"Lalu bagaimana iblis keparat itu sekarang peri?" suara Rong Hya memecah keheningan.
"Aku dan peri senior yang lain sudah memusnahkannya setelah dua bulan sejak pertarungan yang sengit itu terjadi, begitu kondisiku sudah lebih baik karena aku sempat sekarat gara-gara terkena serangannya iblis terkutuk itu," terang peri penguasa hutan Jinfeng.
"Syukurlah kalau begitu... Jika iblis keparat itu masih hidup pasti dia akan membuat kekacauan besar lagi seperti ribuan tahun yang lalu," timpal pemuda jelmaan siluman serigala itu.
"Kau sudah bertemu dengan keluarganya?" sambung peri senior tersebut.
"Tadi pagi sebenarnya aku sudah masuk ke kediaman Chu, peri. Tapi begitu mendapat kabar dari salah seorang pelayan jika nyonya muda Lee telah tiada, aku mengurungkan niatku karena aku butuh waktu untuk menetralkan suasana hatiku," balas siluman serigala itu terus terang.
"Setelah aku dan para peri senior menghabisi Qing Liong, kami berkunjung ke kediaman Chu lalu kami juga membekali Lee Chu Mian Yin dengan sebagian kekuatan supranatural kami sebagai pelindung baginya agar nasibnya tidak seperti mendiang ibundanya," kata Peri Jinfeng Zhui.
"Mungkin besok pagi aku akan kembali ke sana lagi, peri. Entah bagaimana kabar putrinya mendiang nyonya muda Lee itu, sudah beberapa tahun aku tidak melihatnya," ujar Rong Hya menyampaikan rencananya sekaligus mengungkapkan rasa rindunya pada putrinya mendiang Chu Pian Ran.
"Sekarang Lee Chu Mian Yin sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dan cerdas. Dia juga sudah bersekolah bahkan punya cita-cita ingin menjadi seorang jenderal," jelas peri senior itu yang membuat siluman serigala yang duduk di samping kirinya tersebut menjadi termangu untuk beberapa saat sambil menatap pada Peri Jinfeng Zhui.
"Gadis kecil itu ingin menjadi seorang jenderal, peri? Bukankah itu status yang banyak mengandung resiko," si Rong Hya menyampaikan keheranannya.
"Awalnya semua anggota keluarganya tidak setuju jika Lee Chu Mian Yin bercita-cita ingin menjadi seorang jenderal, tapi karena gadis kecil itu kukuh dengan pendiriannya, akhirnya mereka pun mengalah dan menerima keputusan anak perempuan itu," terang peri penguasa hutan Jinfeng tersebut.
"Untungnya, waktu itu aku dan para peri senior yang lain sudah memberikan bekal kekuatan supranatural padanya, jadi sekarang tidak perlu khawatir dengan keselamatan gadis kecil itu. Aku harap anak perempuan itu cepat menyadari keistimewaan yang dimilikinya sekarang. Jika nanti kau berkunjung ke sana, tolong sampaikan pada anggota keluarganya jika Lee Chu Mian Yin memiliki beberapa keistimewaan," imbuh peri senior tersebut dengan menitip pesan pada siluman serigala itu.
"Baik peri, nanti akan aku sampaikan kepada mereka."
Beberapa menit kemudian, setelah berpamitan dengan peri penguasa hutan Jinfeng tersebut, si Rong Hya kembali melesat menuju ke ibukota Qin.
🌹🌹🌹
__ADS_1