
"Tidak perlu terlalu formal, duduklah...," balas nyonya muda Lee tanggap jika tamunya sedang lelah dan haus. Beberapa saat kemudian, duduklah pemuda itu di kursi yang ada di dekat Rong Hya.
Seolah juga mengerti kondisi tamu Chu Pian Ran, maka Rong Hya pun menuangkan teh ke dalam cangkir untuk pemuda tersebut hingga beberapa kali sampai tamu itu hilang rasa hausnya.
"Sepertinya kau juga sangat lapar, sebaiknya kau makanlah dulu di dapur agar kekuatanmu pulih...," kata perempuan cantik itu.
"Terimakasih banyak tuan putri, tidak perlu repot-repot... Kedatangan saya kemari karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada tuan putri...," sahut pemuda itu.
"Aku tahu kalau kau datang kemari karena ada hal penting yang harus kausampaikan, tapi lebih kau makanlah dulu dan bersihkan badanmu agar tubuhmu kuat dan segar kembali setelah berkuda selama beberapa hari. Lagipula, setelah ini kau juga akan melakukan perjalanan panjang lagi," lanjut Chu Pian Ran lalu dengan segera memanggil salah satu pelayan yang ada di dekatnya dan meminta pelayan tersebut untuk membawa tamunya ke dapur dan memberinya makan serta mengantarkannya ke kamar mandi agar dapat membersihkan tubuhnya.
Maka, mau tak mau, asisten kepala biro keamanan yang bernama Wang Shu Jung itu pun menuruti kata-kata putri angkat kaisar itu.
"Sepertinya ada hal serius yang sedang terjadi...," ujar Rong Hya setelah tamunya itu pergi ke belakang kediaman.
"Menurut penerawanganku tadi juga seperti itu," balas Chu Pian Ran.
"Bagaimana jika aku ikut denganmu? Siapa tahu disana nanti aku bisa membantumu menyelesaikan masalah yang sedang terjadi," lanjut siluman serigala itu.
"Baiklah. Aku juga akan mengajak Zhin Zhuan kesana," jawab nyonya muda Lee yang kemudian meminta salah seorang pelayannya agar memanggil Zhin Zhuan di kediaman Chu.
Empat puluh lima menit kemudian, Chu Pian Ran dan 3 orang lainnya telah bersiap di depan kediaman Lee. Sebelum berangkat, perempuan cantik itu berpamitan pada kedua mertuanya, suaminya dan putrinya.
"Bu yan yan, ti ti ya...," ucap bibir mungil Lee Chu Mian Yin pada ibu tercintanya.
"Iya sayang, ibu akan hati-hati... Selama ibu tidak ada, Yin Er tidak boleh nakal ya nak...," sahut nyonya muda Lee lalu mencium pipi putrinya secara bergantian.
Tak lama kemudian, berangkatlah keempat orang itu menuju ke Kota Huang Chang.
****
Setelah berkuda hampir 4 hari 4 malam tanpa henti, saat mereka melewati hutan dimana Xhian Shi Mei mengeksekusi 3 korbannya, tiba-tiba saja Chu Pian Ran menghentikan kudanya. Otomatis, sikap nyonya muda Lee itu mengundang pertanyaan Zhin Zhuan dan Wang Shu Jung.
Karena Rong Hya memiliki penciuman yang tajam hingga ratusan meter, pemuda jelmaan siluman serigala itu mempertajam penciumannya dengan mengendus-endus.
"Ada bau beberapa bangkai di hutan sana," ucap Rong Hya sambil menoleh ke arah hutan yang dimaksud.
"Tepatnya itu mayat manusia yang dikubur," nyonya muda Lee memperjelas keterangan pemuda serigala itu.
Spontan, perkataan dua orang itu membuat asisten kepala biro keamanan sangat terkejut, karena berdasarkan laporan, ada tiga orang penduduk Kota Huang Chang yang menghilang dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Maka, Wang Shu Jung pun memiliki pemikiran jangan-jangan mayat yang dikubur di hutan itu adalah tiga orang yang dinyatakan menghilang itu.
"Kau pergilah ke biro keamanan dan bawalah beberapa orang ke sini untuk menggali kuburan itu. Tapi ingat, jangan menyebarkan kejadian ini dulu ke orang lain selain pihak biro keamanan karena pelakunya masih ada di dalam kota," lanjut Chu Pian Ran dengan menoleh pada si asisten biro keamanan.
"Baik tuan putri,"
Maka dengan segera Wang Shu Jung pun melajukan kudanya menuju Kota Huang Chang yang tinggal beberapa puluh menit lagi sampainya.
__ADS_1
Satu jam kemudian, tampaklah beberapa petugas biro keamanan sedang menggali tanah di hutan. Setelah kedalaman 1,5 meter mereka pun langsung mencium bau busuk yang membuat mereka menutup hidung lalu mengambil sapu tangan masing-masing untuk dijadikan masker.
Begitu pula dengan yang lainnya. Karena bau busuk itu sangat menyengat, mereka yang berada di dekat tanah yang digali pun ikut mengambil sapu tangan untuk digunakan sebagai penutup hidung.
Sesudah belasan menit, mulai terlihatlah jasad yang sudah membusuk dan berbelatung di dalam tanah galian itu. Mau tidak mau, karena ini adalah perintah yang sudah tidak bisa diganggu gugat mereka pun melanjutkan pekerjaannya sekalipun tidak tahan dengan bau busuknya yang minta ampun.
Zhin Zhuan, si peri pegar emas yang tidak tahan mencium bau busuk itu pun menjauh beberapa meter dari tempat itu hingga sampai muntah beberapa kali.
Dalam waktu tiga jam, telah terkumpul 3 jasad manusia dengan kondisi yang berbeda. Jasad Phang Shu Jing yang sudah terkubur lebih dari 3 bulan yang lalu mulai nampak sebagian tulang-tulangnya.
Melihat pemandangan itu, kepala biro keamanan dan beberapa petugas menjadi sangat miris. Mereka tidak menyangka jika ada kasus pembunuhan yang tragis dan sadis seperti itu.
"Apa yang akan kita kerjakan selanjutnya tuan putri?" tanya Bei Mang, si kepala biro keamanan sambil menoleh pada Chu Pian Ran.
"Jika kita membawa jasad ini masuk ke kota pasti menarik banyak perhatian penduduk dan akhirnya si pelaku langsung kabur sebelum sempat kita hadapi. Lebih baik kuburkan saja jasad itu di suatu tempat untuk sementara waktu sampai siluman terkutuk itu kita musnahkan," jawab nyonya muda Lee.
Sontak perkataan putri angkat kaisar itu membuat Bei Mang dan beberapa pegawainya terkejut.
"Siluman tuan putri? Jangan-jangan perempuan yang di rumah bordil yang menjadi primadona para pria hidung belang itu adalah siluman yang sudah membantai 3 mayat itu," kata si kepala biro keamanan mencoba untuk menyampaikan hasil pemikirannya yang selama ini sudah menaruh curiga pada perempuan cantik si penjaja cinta itu.
"Iya benar. Perempuan itu jelmaan siluman yang jahat, yang memakan jantung manusia agar kecantikannya bisa bertahan dan kekuatannya menjadi meningkat," balas Chu Pian Ran.
Mendengar jawaban putri angkat kaisar itu beberapa petugas biro keamanan pun bergidik ngeri. Untungnya mereka tidak ikut terpesona dengan primadona rumah bordil itu.
Beberapa saat kemudian, atas perintah Bei Mang, beberapa petugas biro keamanan itu pun segera membuat tandu dari dahan-dahan pohon yang akan digunakan untuk mengangkut tiga mayat itu.
"Apa rencana kita sekarang nyonya muda Lee?" tanya Rong Hya sambil menoleh pada perempuan cantik yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kita langsung saja ke rumah bordil itu. Dan untuk Zhin Zhuan dan tuan Bei Mang, setelah kita nanti sampai di sana, beritahu secara diam-diam semua orang yang kebetulan berada di tempat itu agar mereka keluar dari rumah bordil sebagai langkah pencegahan jika siluman itu mengamuk di tempat."
Setelah memberi penjelasan seperlunya, berangkatlah keempat orang itu menuju rumah bordil Wei Xhu Lei.
Setelah tiga puluh lima menit berkuda, sampailah mereka di depan rumah bordil dan langsung masuk ke dalam.
Seperti yang telah diperintahkan Chu Pian Ran sebelumnya, si peri pegar emas dan kepala biro keamanan memberitahu dengan diam-diam semua orang yang pada saat itu berada di tempat tersebut jika di dalam rumah bordil ada siluman jahat yang sudah membunuh 3 orang penduduk.
Begitu mendapatkan informasi itu, maka terkejut dan ketakutanlah semua orang yang ada di rumah bordil tersebut, termasuk si induk semang (germo) nya dan dengan segera mereka pun keluar tanpa ada yang berani bicara sedikitpun seperti yang telah diperintahkan oleh Bei Mang dan Zhin Zhuan.
Setelah berada di luar, mereka pun berdiri agak jauh dari rumah bordil untuk menyaksikan peristiwa yang selanjutnya akan terjadi dengan perasaan was-was bercampur penasaran.
Otomatis, kerumunan puluhan orang itu menarik perhatian penduduk yang saat itu sedang berlalu lalang di jalanan itu. Sesudah mendapatkan jawabannya, spontan mereka pun ikut terkejut dan turut bergabung untuk menunggu hal besar yang akan terjadi.
Sementara itu, nyonya muda Lee dan Rong Hya mencari keberadaan si perempuan siluman yang rupanya pada saat itu sedang bercumbu dengan seorang pelanggan di sebuah kamar VIP yang ada di lantai tiga.
Tanpa basa basi, secara serentak, Chu Pian Ran dan siluman serigala itu mendobrak pintu dimana di dalamnya ada Xhian Shi Mei bersama seorang pria hidung belang.
__ADS_1
"Hei, apa yang kalian lakukan?! Lancang benar mengganggu kesenangan orang lain!" teriak pria mesum itu sambil menatap tajam nyonya muda Lee dan Rong Hya dengan wajah penuh amarah.
"Jangan banyak bicara! Sebaiknya kau segera keluar dari tempat ini karena perempuan yang sudah kaucumbui itu adalah siluman jahat yang sudah membunuh tiga orang penduduk kota ini!" ucap pemuda siluman serigala itu dengan volume suara agak tinggi.
Bukan main terkejutnya si pria hidung belang itu setelah mendengar penuturan Rong Hya. Tanpa mengulur waktu lagi, pria mesum itu pun lalu lari tunggang langgang menuju lantai bawah untuk mencari pintu keluar sampai-sampai beberapa kali kakinya tersandung karena takutnya.
Kini, terlihatlah Chu Pian Ran dan Rong Hya sedang menatap tajam perempuan siluman yang saat itu matanya sudah berubah merah menyala dan dari sudut kanan kiri mulutnya keluar taring yang panjangnya sekitar 5 cm.
Tak menunggu lama lagi, nyonya muda Lee dan pemuda jelmaan siluman serigala itu pun menyerang siluman jahat yang ada di depannya.
Maka, terjadilah pertempuran sengit diantara mereka hingga menyebabkan banyak barang bahkan dinding ruangan itu rusak parah.
Spontan, suara-suara yang timbul akibat pertempuran itu terdengar oleh banyak orang yang berkerumun di tempat yang agak jauh dari rumah bordil itu.
Karena merasa tidak leluasa bertarung di dalam ruangan, maka siluman Xhian Shi Mei pun terbang ke atas dan menjebol atap rumah bordil itu lalu melesat terbang menuju gerbang Kota Huang Chang dengan diikuti oleh Chu Pian Ran, Rong Hya dan Zhin Zhuan.
Sementara itu, Bei Mang si kepala biro keamanan menyusul belakangan menggunakan ilmu peringan tubuhnya.
Begitu keempat makhluk itu sampai di gerbang kota yang tampak lapang, maka berlanjutlah pertempuran sengit itu.
Karena rasa penasaran yang sangat besar, maka orang-orang yang awalnya berkerumun di sekitar rumah bordil tadi, berlarian menuju ke tempat kelima orang itu pergi.
Otomatis, pemandangan seperti itu menarik perhatian penduduk lain yang awalnya tidak tahu apa-apa.
Saat ini, terlihatlah sebagian besar penduduk Kota Huang Chang sedang menyaksikan pertempuran sengit empat makhluk yang lumayan jauh ada di depan mereka.
Tadi, begitu para penduduk baru tiba agak jauh dari gerbang kota, mereka dibuat terkejut bukan main saat melihat sosok primadona rumah bordil Xhian Shi Mei matanya berubah merah menyala dan sudut mulutnya keluar taring.
Maka, kenyataan itu tentu membuat si induk semang (germo), para perempuan penjaja cinta di rumah bordil, serta para pelanggannya menjadi bergidik ngeri.
Terkhusus para pelanggan yang pernah bercumbu bahkan menikmati tubuh si perempuan siluman itu spontan merasa menyesal tak terkira bahkan terkesan jijik dengan perbuatan yang pernah mereka lakukan saat bersama si primadona rumah bordil itu yang ternyata jelmaan dari siluman jahat yang telah membunuh tiga warga Kota Huang Chan.
Dua jam hingga empat jam, pertempuran sengit antara tiga kubu lawan satu kubu itu belum menunjukkan tanda-tanda berakhir karena siluman Xhian Shi Mei termasuk jenis siluman yang kuat, apalagi makhluk terkutuk itu juga sudah makan jantung segar manusia sebanyak tiga kali.
Karena pertempuran itu berlangsung sangat lama, maka satu persatu dari penduduk mulai meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan aktifitasnya karena dianggap urusan penting yang harus segera diselesaikan.
Sementara sebagian penduduk lagi masih setia bertahan menyaksikan pertarungan itu karena rasa keingintahuannya yang sangat besar.
Berita tentang kematian tiga penduduk yang ternyata dibunuh oleh siluman tentu saja telah terdengar oleh nyonya Shiu Lan dan anggota keluarga korban yang lain.
Para anggota keluarga korban itu sama sekali tidak menyangka jika kebiasaan 'jajan' di rumah bordil akhirnya berujung malapetaka yang fatal.
Begitu nyonya Shiu Lan mendapat kabar itu, maka dengan segera wanita paruh baya itu menyuruh pelayannya untuk memberitahukan berita itu pada kedua anaknya yang berada di luar kota lewat jalan yang lain mengingat saat ini gerbang Kota Huang Chang sedang dipakai sebagai medan tempur oleh keempat mahkluk itu.
Akhirnya, setelah hampir sepuluh jam bertarung, musnahlah siluman Xhian Shi Mei itu sesudah menerima tiga jurus pamungkas dari tiga lawannya dalam waktu bersamaan.
__ADS_1
Saat melihat akhir pertempuran keempat makhluk itu, maka legalah penduduk Kota Huang Chang dan merekapun spontan kembali ke rumah masing-masing dengan membahas peristiwa yang baru saja mereka lihat bersama.
Tanggap jika putri angkat kaisar dan dua rekannya kelelahan karena bertarung dengan segenap kemampuan untuk membinasakan siluman jahat itu, maka Bei Mang membawa mereka bertiga ke kediamannya agar bisa makan sepuasnya, mandi dan beristirahat.