
"Kau gugup ya sayang? Tidak perlu takut...," bisik Lu Zee di dekat telinga kanan Zhin Zhuan setelah dia melepas ciumannya.
Beberapa saat kemudian, pemuda itu mulai menciumi wajah cantik si peri pegar emas dengan lembut hingga tubuh Zhin Zhuan semakin lemas tak berdaya.
Setelah puas dengan aksinya, Lu Zee pun menjauhkan tubuhnya dari peri cantik itu, agar Zhin Zhuan dapat menetralkan keadaannya.
"Kau baik-baik saja sayang?" tanya pengawal pribadi Qin Wu Zhu setelah belasan menit membiarkan peri pujaan hatinya itu mengendalikan kegugupannya.
"Berani-beraninya kau berbuat seperti itu padaku Lu Zee, aku akan mengadukanmu pada kakak Chu Pian Ran...," sahut Zhin Zhuan dengan wajah cemberut.
"Itu karena aku benar-benar mencintaimu Zhuan Er...," lanjut Lu Zee.
"Kau bohong!" ucap si peri pegar emas sedikit ketus.
"Aku tidak bohong sayaang... Jika kau tidak percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu, tanyalah pada yang mulia pangeran Qin Wu Zhu dan tuan putri Nanyang...," kata pemuda gagah itu meyakinkan peri pujaan hatinya.
Beberapa saat kemudian, terulurlah tangan kanan Lu Zee untuk mengelus pipi kiri Zhin Zhuan sambil menatap lekat mata peri cantik itu. Begitu pula dengan peri pegar emas itu, dia pun menatap mata pemuda gagah yang ada di depannya untuk memastikan bahwa sinar mata Lu Zee benar-benar menyiratkan cinta yang tulus padanya. Akhirnya, saling beradu pandanglah mereka untuk beberapa detik dengan tatapan yang mendalam.
Tak lama kemudian, pengawal pribadi Qin Wu Zhu itu mencium lembut bibir Zhin Zhuan lagi, tapi kali ini dalam suasana hati yang hangat dan penuh rasa cinta yang mendalam. Seolah aliran cinta Lu Zee menyalur pada peri pegar emas itu, maka Zhin Zhuan pun membalas ciuman pemuda gagah itu, dan akhirnya terpautlah cinta mereka berdua melalui ciuman itu.
Setelah beberapa menit menyatukan bibir, Lu Zee pun mengulangi pertanyaannya.
"Bagaimana Zhuan Er, apakah kau mau jadi kekasihku?"
"Iya aku mau, tapi ingat kau jangan coba-coba dekat dengan gadis lain di luar sana...," jawab peri cantik itu dengan mengajukan syarat.
"Iya sayang, aku janji... Bagiku kau lah satu-satunya gadis yang aku cintai di alam semesta ini," ucap Lu Zee dengan hati bahagia karena perasaannya diterima oleh peri pujaannya.
Kini, tampaklah mereka berdua berbincang dengan suasana yang romantis dan hangat.
****
21+
Rumah Bordil Wei Xhu Lei, Kota Huang Chang
Malam itu, di sebuah kamar yang lumayan mewah dan wangi, tampak dua insan sedang melakukan hubungan terlarang yang begitu menggairahkan.
Si pria, yang sudah berumur lebih dari 45 tahun, yang telah memiliki istri dan dua anak, terlihat sedang melakukan pergerakan dengan ritme lumayan cepat di atas tubuh seorang perempuan cantik jelita, yang menjadi primadona di rumah bordil itu.
Bibir perempuan itu melenguh dengan suara tertahan seiring dengan pergerakan pria yang ada di atasnya sambil memeluk erat pinggang pria paruh baya itu.
Permainan panas itu akhirnya berhenti setelah lahar si pria telah keluar dan memasuki rahim perempuan cantik yang ditindihnya.
"Jangan lupa ya tuan, besok malam aku tunggu di luar gerbang Huang Chang...," ucap perempuan cantik itu dengan nada manja yang dibuat-buat sambil matanya menatap lekat pada mata pria paruh baya itu untuk mengendalikan pikirannya dengan menggunakan kekuatan supranaturalnya.
"Tentu saja cantikku, besok malam pasti aku akan kesana," jawab pria itu dengan tangan kanannya merayap di seluruh tubuh perempuan cantik itu yang telah dibayarnya dengan harga yang sangat tinggi untuk memuaskannya malam itu.
Semalaman, kedua insan itu saling memuaskan hasrat hingga dini hari dan si pria hidung belang itu pamit pulang untuk kembali ke rumahnya.
__ADS_1
*
Keesokan harinya...
"Aku dengar kemarin malam kau menginap lagi di rumah bordil itu suamiku," ucap nyonya Shiu Lan sambil menuangkan teh di cangkir untuk suaminya.
"Jika iya memangnya kenapa? Aku sudah pernah memperingatkanmu untuk tidak mencampuri urusan pribadiku. Yang penting, selama kau jadi istriku, urusan materi yang kau butuhkan sudah kupenuhi. Sebaiknya kau tutup mulut cerewetmu itu. Sudahlah, sebaiknya kau keluar saja, aku sudah bosan melihat wajahmu itu," sahut Phang Shu Jing dengan wajah kaku.
Tanpa banyak bicara, nyonya Shiu Lan pun keluar dari ruang kerja suaminya dengan hati pedih yang telah tersimpan selama bertahun-tahun.
Bukan kemauan wanita paruh baya itu untuk rela menikah dengan suaminya yang sudah terkenal dengan sifat hidung belangnya sejak muda sebelum mereka menikah. Namun, karena perjodohan yang tidak bisa ditolak, nyonya Shiu Lan pun mau tidak mau, suka tidak suka harus menerima takdirnya sekalipun harus sering menelan pil pahit akibat kelakuan suaminya.
Adapun Phang Shu Jing adalah anak tunggal orang tuanya yang lumayan kaya raya di kota Huang Chang karena memiliki dua buah toko perhiasan, satu buah rumah makan terkenal, dan satu buah toko kain yang lumayan besar.
Karena sedari kecil sudah dimanja oleh kedua orang tuanya, maka perilaku pria itu lumayan melenceng dari jalur yang sewajarnya apalagi sejak kedua orang tuanya meninggal akibat dibunuh oleh perampok saat Phang Shu Jing masih berumur 15 tahun.
Akibat peristiwa tragis yang menimpa kedua orang tuanya, pria itu seperti kehilangan pegangan dan mulai terjun ke dunia mabuk-mabukan dan suka bermain perempuan.
Setelah kedua orang tuanya meninggal, kakek neneknyalah yang menggantikan posisi kedua orang tuanya untuk mengasuh Phang Shu Jing, namun pasangan suami istri tua itu pun akhirnya ikut menghembuskan nafas terakhir akibat terkena serangan jantung karena tidak kuat menghadapi kebengalan cucu satu-satunya itu.
Karena sudah tidak memiliki kerabat yang menceramahinya lagi, maka ibarat panah yang melesat dari busurnya, itulah perilaku Phang Shu Jing hingga sekarang. Sekalipun sudah beristri dan memiliki dua anak, tabiatnya masih tetap tidak berubah. Bahkan karena tidak tahan dengan sifat buruk ayahnya, kedua anaknya pun memilih membuka bisnis di luar kota agar tidak sering tertekan dengan kelakuan ayahnya itu.
Malam harinya...
Terlihatlah Phang Shu Jing sedang mengendarai kudanya menuju gerbang Kota Huang Chang. Setelah tiga puluh lima menit berkuda, sampailah pria itu di luar gerbang kota lalu sempat celingukan beberapa menit untuk mencari keberadaan Xhian Shi Mei, si perempuan cantik jelita primadona rumah bordil Wei Xhu Lei.
Tiba-tiba saja, tanpa masuk di nalar, pria itu serasa dituntun oleh 'sesuatu' untuk berkuda menuju ke tepi hutan.
Dengan kekuatan supranatural yang dimiliki oleh 'perempuan jadi-jadian' itu, bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Phang Shu Jing pun mengikuti langkah Xhian Shi Mei masuk ke dalam hutan di bawah terangnya sinar bulan purnama yang menembus hutan itu.
Setelah tiga puluh menit berjalan, Xhian Shi Mei pun membalikkan badannya menghadap pria itu, lalu tanpa banyak bicara telapak tangan kirinya didekatkan di dada kiri Phang Shu Jing dan dengan kekuatan supranaturalnya perempuan siluman itu pun mengeluarkan jantung pria itu dan langsung memakannya tanpa sisa.
Sementara itu, tubuh Phang Shu Jing langsung ambruk ke bawah begitu jantungnya terlepas dari tempatnya dan mati dengan mata terbelalak.
Setelah menyantap jantung manusia segar itu, dengan kekuatan supranaturalnya, Xhian Shi Mei membersihkan dirinya dari darah yang belepotan di wajah dan tangannya, serta mengubur jasad si pria hidung belang itu di hutan.
Tak lupa, dengan kekuatan supranaturalnya juga, perempuan siluman itu juga menghalau si kuda agar menjauh dari area hutan, dan setelahnya Xhian Shi Mei kembali ke rumah bordil setelah dia merubah wujudnya menjadi ngengat.
Malam itu, di bawah sinar bulan purnama, di hutan yang sunyi, Xhian Shi Mei mendapatkan korban pertamanya agar wujudnya bertahan seperti saat ini dan kekuatan supranaturalnya semakin meningkat.
Setelah ngengat itu sampai di kamar, maka tak berapa lama wujudnya berubah kembali menjadi perempuan tercantik di rumah bordil itu.
Sudah menjadi kebiasaan di rumah bordil, jika Xhian Shi Mei habis melayani pelanggan hingga puas, maka perempuan itu akan dibebas tugaskan untuk beristirahat dan memulihkan dirinya.
Karena kemarin malam dia melayani Phang Shu Jing hingga dini hari, maka hari ini Xhian Shi Mei bebas tugas dan kesempatan inilah dia gunakan untuk memangsa jantung pria hidung belang yang sudah ditargetkannya itu.
Trik itu dia lakukan bukan karena kebetulan, tapi memang karena dia harus merayu targetnya dulu sebelum malam purnama tiba, dan jika sudah saatnya datang, maka si target akan dimangsa jantungnya tepat saat malam purnama penuh.
****
__ADS_1
Keesokan paginya, saat nyonya Shiu Lan tidak mendapati suaminya di rumah, wanita paruh baya itu merasa biasa-biasa saja karena hal itu sudah dianggap sesuatu yang wajar karena Phang Shu Jing memang mempunyai kebiasaan tidak pulang ke rumah bahkan hingga beberapa hari.
Satu minggu hingga dua minggu berlalu. Karena suaminya tidak kunjung pulang, maka nyonya Shiu Lan menyuruh beberapa pelayannya untuk mencari keberadaan pria paruh baya itu hingga diantara pelayannya disuruhnya ke luar kota ke tempat dua anaknya berada. Namun, setelah satu minggu pencarian, nyonya Shiu Lan masih belum juga mendapatkan kabar tentang keberadaan Phang Shu Jing.
Setelah selama satu bulan suaminya tidak ada di rumah, muncullah kabar yang menggemparkan penduduk kota Huang Chang, dimana ada seorang pemuda yang diberitakan menghilang secara tiba-tiba.
Otomatis, berita itu memunculkan sebuah pemikiran di benak nyonya Shiu Lan, jangan-jangan suaminya juga menghilang sama seperti dengan pemuda itu.
Maka, tak menunggu lama, pergilah wanita paruh baya itu ke biro keamanan Kota Huang Chang untuk melaporkan keberadaan suaminya yang tak kunjung pulang selama satu bulan.
Setelah memberikan keterangan secara detail kepada pihak biro keamanan, pulanglah nyonya Shiu Lan ke rumahnya sambil menunggu kabar selanjutnya dari biro keamanan.
****
Semenjak mendapatkan dua laporan kehilangan warga penduduk, dengan segera kepala biro keamanan dengan beberapa pegawainya mengadakan penyelidikan secara teliti termasuk mendatangi rumah bordil dimana dua orang itu sempat menginap disana sebelum dinyatakan hilang.
Salah satu orang yang diinterogasi dalam penyelidikan itu adalah Xhian Shi Mei, si perempuan cantik primadona rumah bordil, yang sehari sebelumnya sempat melayani dua orang yang dinyatakan hilang itu.
Karena tidak ingin kedoknya terkuak terlalu cepat, maka pada saat diinterogasi oleh pihak biro keamanan, Xhian Shi Mei menyalurkan kekuatan supranaturalnya melalui tatapan matanya agar petugas biro keamanan percaya dengan kata-katanya.
Setelah melakukan penyelidikan, interogasi dengan beberapa orang terkait, serta membuat kesimpulan, maka muncullah pemikiran di benak kepala biro keamanan, jika kasus yang sedang ditangani sekarang adalah kasus yang tidak wajar dan itu ada hubungannya dengan si primadona rumah bordil.
Maka, untuk meyakinkan asumsinya, kepala biro keamanan sengaja menunggu hingga satu bulan berlalu setelah korban kedua menghilang.
Dan benar saja, sesuai dengan waktu yang dia perkirakan, datang lagi penduduk yang melapor jika ada anggota keluarganya yang menghilang, dan sama seperti kasus sebelumnya, si korban sempat menginap di rumah bordil dan tidur dengan si primadona rumah penjaja cinta itu sebelum akhirnya dia dinyatakan menghilang.
Tanpa menunggu lama, kepala biro keamanan pun menyuruh asistennya agar pergi ke ibukota dan meminta bantuan pada putri angkat kaisar sebelum jatuh korban selanjutnya.
Xhian Shi Mei yang saat itu merasa percaya diri jika perbuatannya tidak akan terbongkar pun hanya santai-santai saja sambil memikirkan kira-kira siapa target dia selanjutnya.
Karena perempuan siluman itu sudah tiga kali menyantap jantung segar manusia, maka kecantikannya itu semakin bersinar dan kekuatan supranaturalnya ada sedikit peningkatan. Selain itu, selama tiga bulan terakhir ini pelanggannya menjadi semakin banyak.
****
Kediaman Lee
Tampaklah di depan teras kediaman utama, Chu Pian Ran sedang berbincang dengan Rong Hya, yang saat itu sedang bertamu di kediaman Lee.
Sementara itu, Lee Jiang Wook terlihat sedang mengikuti langkah kaki mungil Lee Chu Mian Yin keliling kediaman. Sambil berjalan, bibir mungil gadis kecil itu sering berceloteh sambil menunjuk-nunjuk ke beberapa arah.
"Yah uk, itu uyung...," kata Lee Chu Mian Yin sambil menunjuk burung kecil yang sedang berkicau di atas pohon yang agak tinggi.
"Iya sayang, itu namanya burung...," sahut ayahnya turut melihat ke arah burung kecil itu.
"Uyung uyung, ni ni, uyun...," panggil bibir mungil Lee Chu Mian Yin pada burung itu yang meminta agar binatang bersayap itu turun.
Maka tak berapa lama, turunlah burung kecil itu dan hinggap di pundak gadis cilik itu sambil berkicau. Hal yang terjadi kemudian adalah gadis kecil itu berbincang dengan si burung dengan ucapan yang tidak dimengerti oleh ayahnya.
Pemandangan seperti itu sudah menjadi hal yang biasa di mata Lee Jiang Wook. Seiring dengan bertambahnya usia putrinya, Lee Chu Mian Yin jadi sering berbincang dengan binatang yang kebetulan dia temui.
__ADS_1
Belasan menit kemudian, datanglah asisten biro keamanan Kota Huang Chang dengan wajah lelahnya karena habis berkuda selama 4 hari 4 malam tanpa henti.
"Salam hormat tuan putri Nanyang, semoga tuan putri panjang umur...," si pemuda asisten biro keamanan itu memberi hormat pada Chu Pian Ran sambil membungkukkan badannya.