
Saat berita bahwa Ran Er pulang dalam keadaan terluka parah sampai di kediaman tuan Lee, Lee segera berangkat menuju ke kediaman paman dan bibi Chu malam itu juga.
Pemuda itu langsung berlari setelah masuk pintu gerbang kediaman menuju ke kamar kekasihnya.
Di kamar Ran Er telah ada tuan Chu, nyonya Chu dan tabib Lou yang sedang memeriksa nona Chu.
Sedari tadi nyonya Chu masih saja menangis melihat keadaan putrinya yang sedang tak berdaya.
"Tabib Lou bagaimana keadaan putriku?" Tanya tuan Chu begitu tabib itu selesai memeriksa putrinya.
"Saya turut berdukacita atas sakitnya nona Chu. Berdasarkan pemeriksaan saya, kondisi luka nona Chu sangat parah. Ada organ dalamnya yang terluka dan untuk keadaan tulang punggungnya, saya masih membutuhkan waktu untuk pemeriksaan ulang." Terang tabib Lou.
"Saya berharap untuk saat ini putri anda mendapatkan sebuah keajaiban lagi tuan, jika tidak nyawanya tidak akan tertolong." Lanjut tabib itu.
Mendengar penjelasan tabib Lou suara tangis nyonya Chu menjadi sedikit lebih keras.
Hati wanita paruh baya itu benar-benar pedih.
Sepeninggal tabib Lou, nyonya Chu duduk di tepi ranjang putrinya sambil membelai rambut gadis itu dengan masih mengeluarkan air mata.
Tuan Chu menarik napasnya dalam-dalam agar terus diberi ketabahan untuk menghadapi masa-masa sulit yang kesekian kalinya.
Seperti yang dikatakan tabib Lou, pria paruh baya itu juga berharap ada keajaiban lagi sehingga putrinya itu bisa sembuh seperti sedia kala.
"Paman, bibi, bolehkah malam ini aku yang menjaga Ran Er?" Tanya Lee dengan suara agak sedih.
Tuan Chu memalingkan mukanya pada pemuda itu.
"Apakah kau sudah meminta ijin pada orang tuamu Lee?" Balas tuan Chu.
"Sudah paman." Jawab Lee.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, malam ini kau boleh menjaganya. Jika ada apa-apa pada Ran Er segera kau beritahu paman." Lanjut tuan Chu.
"Baik paman." Sahut Lee.
Malam itu Lee menjaga Ran Er dengan hati sedih dan meneteskan air mata.
Kekasih yang dirindukannya itu saat ini benar-benar sedang tak berdaya.
Sepeninggal paman dan bibi Chu dari kamar tak henti-hentinya pemuda itu menciumi wajah kekasihnya sambil meneteskan air matanya.
Karena sedihnya, Lee ikut berbaring di atas ranjang dan memeluk gadis itu. Semalam suntuk mata pemuda itu tidak bisa terpejam.
Pagi harinya tuan dan nyonya Chu mendapati Lee tertidur di samping putrinya dan memeluk pinggangnya.
Sepasang suami istri itu tidak berkomentar apa-apa karena mereka tahu bahwa Lee memang cinta mati pada Ran Er.
Tuan Chu lalu membangunkan Lee dengan mengguncang pelan bahunya.
Pemuda itupun terbangun dan turun dari ranjang Ran Er.
"Sudah pagi Lee, sebaiknya kau pulang dan istirahat, biar Xi Er yang ganti menjaga Ran Er." Kata tuan Chu.
"Baik paman." Sahut Lee kemudian dia meninggalkan kamar itu.
****
Paviliun Huo Jiang
"Tabib Lou, bagaimana keadaan nona Chu sekarang?" Tanya Qin Wu Zhu.
"Masih tetap sama yang mulia pangeran. Kali ini luka yang diderita nona Chu sangat parah." Balas tabib Lou.
__ADS_1
"Ingat tabib Lou, jangan sampai rahasia apapun tentang nona Chu diketahui oleh orang lain." Lanjut pemuda itu.
"Baik yang mulia pangeran, hamba mengerti." Jawab tabib itu.
"Jika terjadi apa-apa pada nona Chu jangan lupa kau memberi kabar padaku tabib Lou." Sambung Qin Wu Zhu.
"Baik yang mulia pangeran." Sahut tabib Lou.
****
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan kini telah memasuki bulan ketiga sejak Ran Er dibawa pulang dalam keadaan sakit. Kondisi gadis itu tetap sama saja, belum ada perubahan.
Hari itu pada saat tengah malam, ketika giliran Xi Er berjaga, pelayan itu kembali melihat ada berkas-berkas cahaya yang keluar dari bahu nona mudanya.
Berkas-berkas sinar itu lalu mengelilingi tubuh Ran Er. Setelah dua jam berlalu, tubuh gadis itupun terangkat dari ranjang sekitar setengah meteran dengan berkas sinar yang masih mengelilingi tubuhnya.
Xi Er pun keluar dari kamar nonanya dan melaporkan kejadian itu pada tuan dan nyonya Chu.
Kini mereka bertiga telah berada di kamar Ran Er dan menyaksikan kejadian yang tetap sama selama berjam-jam.
Keesokan harinya keluarga Lee yang datang menjenguk Ran Er menjadi tahu perubahan yang terjadi pada gadis itu.
Keluarga Chu dan keluarga Lee berharap kejadian aneh ini menjadi titik awal keajaiban yang akan menyembuhkan Ran Er.
Selama dua minggu sudah tubuh Ran Er dalam keadaan seperti itu.
Tabib Lou yang awalnya datang untuk memeriksa kondisi nona Chu pun tidak jadi dan melaporkan kejadian aneh itu pada pangeran Qin Wu Zhu.
Pemuda itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dia lihat dan dia dengar selama ini tentang nona Chu.
Selama dia hidup, baru kali ini menemukan seorang manusia yang memiliki keanehan dan kehebatan seperti nona Chu.
__ADS_1
Sejak berpisah di dekat gerbang Qianzhong, Qin Wu Zhu belum melihat lagi wajah gadis itu.
Hatinya mulai menyimpan kerinduan dan ingin bertemu dengan nona Chu.