
Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan...
Kini, Lee Chu Mian Yin telah berusia 1 tahun 1 bulan dan gadis kecil itu sudah bisa berjalan sekalipun kadang masih agak tertatih-tatih.
Selain itu, anak Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran itu mulai bisa mengucapkan beberapa patah suku kata seperti : yah (ayah), bu (ibu), nyek (nenek), tek (kakek), dan suku kata lainnya.
Tentu saja semua suku kata yang bisa diucapkannya sekarang bukan terjadi secara kebetulan. Namun, ibunyalah yang mengajarkannya kata-kata tersebut dengan cara diulang berkali-kali, sekalipun pengucapan putrinya berbeda dari yang diajarkannya tapi itu adalah sesuatu yang sangat wajar untuk anak seusianya.
Sejak berusia 6 bulan, selain mendapatkan ASI dari ibunya Lee Chu Mian Yin juga mendapatkan makanan tambahan berupa bubur halus yang dicampur dengan sayuran dan kaldu ayam atau kaldu daging, serta sari buah-buahan.
Di usianya yang 1 tahun 1 bulan itu, putri kecil Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran telah tumbuh gigi sebanyak 4 buah.
Tidak seperti anak kecil pada umumnya yang lumayan aktif saat umur sekian, Lee Chu Mian Yin malah sebaliknya. Pembawaan gadis kecil itu lumayan tenang dan penurut.
Pagi itu, terlihatlah Lee Jiang Wook sedang mengajak istri dan putrinya jalan-jalan.
Karena ini baru pertama kalinya Lee Chu Mian Yin keluar dari kediaman, maka gadis kecil itu sangat senang saat matanya melihat keramaian jalanan ibukota.
Selagi dalam gendongan ayahnya, anak kecil itu sering menunjuk-nunjuk ke berbagai arah sambil berceloteh tidak jelas, hingga suatu ketika matanya melihat gulali yang bentuknya lucu-lucu.
Contoh bentuk gulali.
"Tu tu..." Ucap Lee Chu Mian Yin sambil menunjuk ke gulali itu.
"Kau mau gulali itu sayang? Ya sudah ibu belikan ya... Kau mau pilih yang mana?" Tanya ibunya.
Lee lalu mendekatkan putrinya pada gulali-gulali itu agar bisa memilih. Setelah matanya melihat kesana-kemari dengan lucunya, gadis kecil itu kemudian menunjuk salah satu gulali yang berbentuk kuda.
Setelah Chu Pian Ran membayar gulalinya, perempuan itu lalu mencabut gulali dari tatakannya.
"Ini namanya gulali sayang, gu la li..." Kata ibunya mengulang kata 'gulali' dengan sedikit ditekan dan dipenggal menjadi tiga suku kata.
"Li li..." Celoteh gadis kecil itu menggemaskan sambil tangan kanannya terulur ingin meraih gulali yang dipegang ibunya.
Tak berapa lama, nyonya muda Lee mendekatkan gulali itu di depan mulut putrinya, dan seketika gadis kecil itu mulai menjilati gulali itu dengan pelan.
"Kau suka sayang?" Tanya perempuan cantik itu.
"Nyak nyak.." Jawabnya sambil terus menjilati gulali itu.
Chu Pian Ran lalu meletakkan gagang gulali itu di tangan kanan putrinya agar gadis kecil itu belajar memegangnya sendiri.
Ketika sepasang suami istri itu sedang gemas memperhatikan putri mereka yang asyik menjilati gulalinya sampai belepotan terdengarlah suara seorang pria yang ada di dekat mereka.
"Asap apa itu? Sepertinya sedang ada kebakaran." Kata pria itu.
Dengan spontan Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran mengarahkan pandangannya ke arah sumber asap itu.
Terlihatlah dari jalanan ibukota itu asap hitam tebal yang membumbung ke langit.
Sebagian penduduk ibukota pun akhirnya menghentikan aktifitas mereka selama beberapa menit untuk menyaksikan pemandangan yang tidak biasa itu.
"Sepertinya hutan yang ada di luar ibukota itu sedang kebakaran, aku harus segera bertindak." Gumam Chu Pian Ran.
Tak menunggu lama, setelah berpamitan dengan suaminya, perempuan cantik itu pun langsung terbang menggunakan ilmu peringan tubuhnya dan menuju ke kediamannya untuk mengambil kuda.
"Buuu buuu..." Rengek Lee Chu Mian Yin begitu melihat ibunya yang tiba-tiba meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, ibu sedang ada urusan penting yang harus dikerjakan, nanti juga akan kembali lagi..." Ucap ayahnya lalu mencium pipi kanan putrinya yang cantik itu.
Seolah mengerti dengan kata-kata ayahnya, maka gadis kecil itu pun berhenti merengek.
Otomatis, sikap putri angkat kaisar yang tidak biasa itu mengundang perhatian sebagian penduduk ibukota. Karena penasaran, beberapa penduduk pria pun segera pulang ke rumah, mengambil kuda mereka lalu melajukannya ke sumber asap itu berasal.
Ketika Lee Jiang Wook dan putri kecilnya baru tiba di depan kediaman Chu, terlihatlah Qin Wu Zhu, Lu Zee dan beberapa prajurit menghentikan kuda mereka di depan kediaman.
Dengan masih di atas kudanya, pangeran kedua kaisar Qin itu bertanya keberadaan adik angkatnya. Setelah mendapat jawaban dari Lee Jiang Wook, rombongan itu pun dengan segera menyusul Chu Pian Ran yang terlebih dahulu berangkat beberapa menit yang lalu.
Saat ini, terlihatlah nyonya muda Lee sedang berdiri di atas dahan pohon yang tinggi dekat sumber kebakaran.
Dengan menggunakan cadar untuk mencegah masuknya asap di saluran pernapasannya, perempuan itu mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka menghadap ke langit.
Dengan mengerahkan kekuatan supranatural yang dia miliki, Chu Pian Ran membuat mendung tebal agar terjadi hujan lebat seperti yang pernah dia lakukan di Beidi beberapa waktu yang lalu saat daerah itu mengalami bencana kekeringan.
Tampaklah berkas cahaya putih keluar dari kedua telapak tangan nyonya muda Lee, lalu cahaya itu naik ke atas langit.
Setelah lima belas menit berlalu, mulailah muncul mendung di langit yang makin lama semakin tebal.
Saat proses pembuatan mendung itu berlangsung, datanglah rombongan Qin Wu Zhu diikuti beberapa penduduk ibukota ke tempat yang tak jauh dari keberadaan Chu Pian Ran.
Karena kebakaran itu lumayan parah dan asap yang ditimbulkan sangat tebal, maka sebagian dari mereka ada yang menggunakan cadar dan sebagian lagi menutup hidung dengan sapu tangan yang mereka bawa.
Dengan segera, pangeran kedua kaisar Qin terbang menggunakan ilmu peringan tubuhnya agar bisa berdiri di samping adik angkatnya.
Begitu mendung di langit sudah tebal, maka tak berapa lama kemudian turunlah hujan dengan derasnya di kawasan hutan itu.
Spontan, para penduduk yang saat itu sedang melihat putri angkat kaisar Qin sedang beraksi, merekapun dengan segera mencari tempat berteduh yang tak jauh dari awal mereka datang.
Sementara itu, Qin Wu Zhu merasa tidak peduli jika pakaian dan tubuhnya mulai basah karena air hujan. Sedangkan, karena Chu Pian Ran menggunakan kekuatan supranaturalnya, maka pakaian dan tubuhnya tetap kering.
Karena mendapat guyuran air hujan yang lebat, api yang membakar hutan itu makin lama makin padam sampai membutuhkan waktu hingga lebih dari dua jam.
Kini tampaklah di depan orang-orang itu, hutan yang awalnya terlihat hijau segar sekarang menjadi hitam legam kerena terbakar api disertai dengan kepulan-kepulan asap putih yang tipis.
Beberapa saat kemudian, terbanglah Chu Pian Ran menggunakan ilmu peringan tubuhnya untuk memeriksa keadaan hutan itu diikuti oleh Qin Wu Zhu.
Ketika mereka berkeliling di area hutan itu, muda mudi itu melihat beberapa ekor kelinci dan burung yang mati terpanggang akibat kebakaran itu.
Tak berapa lama kemudian, terdengarlah di telinga perempuan itu suara menggeram pelan.
Setelah beberapa saat mempertajam pendengarannya, dengan segera Chu Pian Ran mencari asal sumber suara itu dengan tetap diikuti oleh pangeran kedua kaisar Qin.
Hingga terlihatlah oleh mereka berdua, di bawah sana ada seekor harimau dewasa sedang berusaha membangunkan anaknya yang saat itu sedang tergeletak akibat terlalu banyak menghirup asap dan sebagian badannya terbakar.
Rupanya harimau itu adalah binatang yang pernah tersesat dan masuk ke wilayah ibukota beberapa waktu yang lalu.
Tanpa rasa takut, nyonya muda Lee dan Qin Wu Zhu lalu turun dari dahan pohon dan mendarat di dekat dua harimau itu.
Begitu melihat perempuan dan pemuda itu datang, si harimau langsung mengenali mereka dan menggeram pelan.
Setelah memeriksa anak harimau itu sebentar, Chu Pian Ran pun memberikan pertolongan pertama dengan cara mengeluarkan asap dari saluran pernapasan binatang itu menggunakan kekuatan supranaturalnya.
Dua puluh menit kemudian, terlihatlah anak harimau itu berusaha untuk bangkit berdiri namun dengan postur tubuh yang gontai karena memang masih lemas dan sebagian tubuhnya terbakar cukup parah di bagian kaki depannya.
"Anakmu harus mendapat perawatan khusus, jika tidak dia bisa mati karena infeksi di luka bakarnya." Kata perempuan itu sambil menatap mata harimau itu.
Binatang berkaki empat dewasa itu menggeram pelan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau anakmu kubawa pulang dulu untuk dirawat? Setelah dia sembuh nanti, aku janji akan mengembalikannya padamu." Lanjut nyonya muda Lee.
Selama beberapa menit, Chu Pian Ran menunggu persetujuan harimau yang terlihat masih bimbang itu.
"Kau tidak perlu takut, aku tidak akan mencelakai anakmu. Percayalah, aku nanti akan mengembalikan anakmu setelah dia sembuh nanti." Sambung perempuan itu mulai tidak sabaran.
Akhirnya, beberapa saat kemudian, Chu Pian Ran meminta Qin Wu Zhu untuk mengangkat tubuh anak harimau itu.
Setelah itu, mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu menggunakan ilmu peringan tubuh mereka dengan disaksikan oleh sepasang mata harimau yang terlihat sedih itu.
****
Begitu Chu Pian Ran pulang ke kediaman dengan membawa seekor anak harimau berukuran sedang, ketakutanlah sebagian besar penghuni kediaman itu.
Sekalipun binatang itu dalam keadaan terluka, tetap saja rasa ngeri itu tetap ada, takutnya jangan-jangan harimau itu nanti tiba-tiba saja menerkam.
Nyonya muda Lee lalu menurunkan anak harimau itu di depan halaman kediaman utama.
Tak berapa lama, perempuan itu kemudian memanggil dua orang pelayan laki-laki. Yang seorang disuruhnya untuk memanggil tabib, sedangkan pelayan yang lain diperintahkannya agar menyiapkan sebuah kandang untuk anak harimau itu.
Tanpa berbantah, dua pelayan itu langsung melaksanakan perintah majikannya.
"Ingat ya harimau, selama kau tinggal di rumahku, kau tidak boleh macam-macam di sini." Ucap nyonya muda Lee sambil mengelus kepala binatang itu.
Seolah mengerti dengan perkataan manusia yang ada di depannya itu, si anak harimau menjawabnya dengan geraman.
Berita kepulangan Chu Pian Ran sebenarnya telah terdengar oleh nyonya Chu. Namun karena rasa rakut, wanita paruh baya itu tidak berani menghampiri putrinya, malahan nyonya Chu bersembunyi di dalam kamarnya sedari tadi.
Sementara itu, keberadaan tuan Chu saat ini sedang ada di dalam istana untuk menghadiri sidang rutin dan hingga sekarang belum pulang.
Lima menit kemudian, datanglah Lee Jiang Wook menghampiri istrinya yang saat itu sedang duduk di kursi dengan seekor anak harimau berukuran sedang di samping kanannya.
Begitu pemuda itu telah di dekat istrinya, tampaklah pakaian perempuan cantik itu terlihat cukup kotor dan bau asap, bahkan di wajahnya ada kotoran jelaga.
Maka tak berapa lama, Lee mengambil sapu tangan dari balik bajunya lalu mengelap kotoran jelaga yang ada di wajah istrinya itu.
"Apakah urusannya sudah beres sayang?" Tanya pemuda itu.
"Sudah suamiku, api itu sudah berhasil dipadamkan. Sekarang tinggal merawat anak harimau yang terkena luka bakar ini." Balas istrinya.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang tabib di kediaman Chu.
Awalnya tabib itu merasa takut untuk mendekat, tapi setelah dibujuk beberapa kali oleh Chu Pian Ran, mau tak mau akhirnya tabib itu memeriksa luka bakar si harimau, mengolesi lukanya dengan salep khusus dan menutup luka itu dengan perban sambil tangannya sedikit gemetaran karena takutnya.
Setelah menyelesaikan tugasnya hari itu, segera saja si tabib undur diri dari hadapan nyonya muda Lee.
Beberapa menit kemudian, Chu Pian Ran membawa harimau itu menuju ke kandang sementaranya yang terletak di belakang kediaman dekat dengan kandang kuda.
Para pelayan perempuan yang kebetulan akan berpapasan dengan majikannya dan harimau itu, dengan secepat kilat menyingkir agak jauh hingga mereka berdua lewat karena takutnya dengan binatang berkaki empat itu.
"Kau baik-baik di sini ya harimau, nanti aku akan menyuruh pelayanku menyiapkan makanan dan minuman untukmu." Ujar perempuan itu yang disambut dengan geraman dari mulut harimau.
Setelah mengunci kandang tadi, Chu Pian Ran lalu memerintahkan seorang pelayan untuk membeli daging sapi mentah sebanyak 5 kilo untuk harimau itu. Tak lupa, perempuan itu juga menyuruh si pelayan agar menyiapkan air putih yang bersih dalam ember untuk binatang berkaki empat itu.
Setelahnya, nyonya muda itu pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.
Saat ini, berkumpullah dua pasang suami istri di ruang tamu.
"Ya ampun sayang, bisa-bisanya kau membawa pulang harimau ke rumah. Ibu sampai ketakutan tahu..." Ucap nyonya Chu dengan raut wajah yang masih ketakutan.
__ADS_1
"Maafkan aku bu, aku tidak tega melihat luka bakar harimau yang cukup parah itu. Jika dibiarkan tidak diobati, pasti harimau itu akan mati karena infeksi." Terang perempuan cantik itu.
"Selama harimau itu di sini, aku janji akan terus mengendalikan pikirannya sehingga binatang itu tidak akan mencelakai siapapun." Lanjut Chu Pian Ran berusaha menenangkan ibunya.