
"Boleh tidak jika Yin'er minta dibelikan makanan enak yang ada di rumah makan yang bagus?" tanya putrinya Lee Jiang Wook.
"Tentu boleh dong sayang. Lalu kapan kita akan berangkat? Siang ini?" tambah si Rong Hya.
"Tapi kita harus pulang dulu paman, jika tidak ijin dulu nanti Yin'er bisa ditegur oleh kakek nenek," ucap gadis kecil itu terus terang.
"Baiklah, kalau begitu kita pulang dulu ya sayang. Kamu mau paman gendong di belakang?" sambung siluman serigala itu masih berkelakar.
"Ih ya malu lah paman, Yin'er sudah sebesar ini kok digendong," ujar putrinya Lee Jiang Wook dengan polosnya padahal ucapan Rong Hya tadi tidaklah serius.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang sekarang yuk."
Tak berapa lama, terlihatlah mereka berdua sedang berjalan menuju ke kediaman Chu.
🌹
Dua puluh menit an kemudian...
Saat ini, tampaklah si Rong Hya dan putrinya Lee Jiang Wook sudah memasuki gerbang kediaman Chu.
Saat dalam perjalanan menuju ke kediaman utama, terlihatlah oleh mereka berdua, Nyonya Chu Jeong Byun, Zhin Zhuan dan Xi'er sedang duduk di kursi yang ada di teras, yang sengaja menunggu kedatangan dua sosok tersebut dari istana.
Setelah dekat dengan ketiga perempuan itu, si Rong Hya pun lalu duduk di kursi kosong yang ada di sebelah kanannya Xi'er, sedangkan Lee Chu Mian Yin menghampiri neneknya.
"Sudah pulang sayang? Bagaimana sekolahnya tadi? Lancar?" tanya Nyonya Chu Jeong Byun sambil menatap lekat sepasang mata cucu kesayangannya dan memegang kedua lengan gadis kecil itu.
"Sekolahnya lancar kok nek, tadi tugas yang diberikan oleh pak guru, Yin'er bisa menjawab dengan benar semua dan mendapat nilai yang bagus," terang gadis kecil itu.
"Cucu nenek memang pintar," wanita paruh baya itu memberi pujian pada Lee Chu Mian Yin seperti biasanya sebagai wujud kasih sayang dan penyemangat pada cucu satu-satunya tersebut, apalagi semenjak ibundanya telah tiada.
"Sekarang tas sekolahnya disimpan di ruang belajar ya sayang, terus cuci tangan yang bersih lalu kita makan bersama, termasuk dengan paman Rong Hya," lanjut Nyonya Chu Jeong Byun.
"Nek, boleh tidak kalau siang ini Yin'er makan di luar? Paman Rong Hya sudah janji mau mentraktir Yin'er," putrinya Lee Jiang Wook meminta ijin pada neneknya dengan harapan permintaannya tersebut dikabulkan.
Mendengar perkataan cucunya itu, wanita paruh baya tersebut langsung menoleh ke arah Rong Hya untuk meminta penjelasan melalui sorot kedua matanya.
"Betul bibi, aku tadi memang menjanjikan Yin'er jika akan mentraktirnya. Bibi pasti memberi ijin kan? Lagipula makan di luarnya juga tidak setiap hari," terang siluman serigala itu membenarkan ucapannya Lee Chu Mian Yin sekaligus menyampaikan alasan yang masuk akal agar gadis kecil itu mendapatkan ijin dari neneknya.
__ADS_1
"Begitu ya, tentu saja aku memberi ijin. Sebaiknya kalian segera berangkat saja, nanti keburu semakin panas," imbuh Nyonya Chu Jeong Byun yang tentu saja membuat gadis kecil itu sangat senang.
Tak berapa lama, Lee Chu Mian Yin pun segera beranjak dari tempat tersebut untuk menyimpan tas sekolahnya di ruang belajarnya.
"Kakak tidak sekalian mentraktirku dan Xi'er juga?" tanya Zhin Zhuan sepeninggal putrinya Lee Jiang Wook.
"Tidak mau ah. Jangan-jangan kalau aku mentraktir kalian nanti, banyak orang yang akan mengira jika kalian pacarku lagi," ujar Rong Hya terus terang karena dia memang merasa tidak nyaman jika keluar dengan gadis seusia kedua perempuan tersebut.
"Bilang saja kalau pelit," potong Xi'er menyindir siluman serigala itu.
Mendapat sindiran dari gadis pelayan tersebut, si Rong Hya tidak memberikan komentar lebih lanjut karena dia sedang malas berdebat apalagi diantara mereka ada Nyonya Chu Jeong Byun.
Beberapa menit kemudian Lee Chu Mian Yin pun telah kembali ke tempat tersebut, lalu dengan segera gadis kecil itu dan si Rong Hya beranjak dari depan kediaman utama setelah berpamitan dengan Nyonya Chu Jeong Byun.
Saat ini, terlihatlah si Rong Hya dan Lee Chu Mian Yin sedang menyusuri jalanan ibukota Qin untuk mencari rumah makan yang menyediakan menu masakan yang enak.
"Bukankah ayahmu juga punya rumah makan, sayang? Kau tidak ingin mencoba makan di sana? Makanannya kan juga enak-enak," kata Rong Hya memancing kejeliannya gadis kecil itu.
"Kalau makannya di rumah makan milik ayah namanya ya tidak mentraktir paman, kan pasti digratiskan," karena putrinya Lee Jiang Wook anak yang cerdas, gadis kecil itu bisa memberi jawaban persis seperti yang diperkirakan oleh siluman serigala tersebut.
Puluhan menit kemudian, mereka berdua pun sepakat masuk ke sebuah rumah makan yang lumayan besar dan ramai pengunjungnya.
Selama hampir satu jam Rong Hya dan Lee Chu Mian Yin berada di rumah makan tersebut, selesai menikmati acara makan bersama mereka berdua pun langsung kembali ke kediaman Chu.
🌹
Sore harinya...
Saat ini, tampaklah si Rong Hya sedang berada di ruang belajarnya Lee Chu Mian Yin dan bermaksud mendampingi gadis itu belajar dengan duduk di sebrang meja dan tubuhnya berhadapan dengan putrinya Lee Jiang Wook tersebut.
"Paman dengar kamu bercita-cita ingin menjadi seorang jenderal sayang?" suara siluman serigala itu memecah keheningan ruangan tersebut.
"Iya paman, Yin'er ingin seperti paman Zhu'er dan kakek Long Yuan yang gagah dan punya banyak prajurit," jawab gadis kecil itu dengan lugunya.
"Paman Zhu'er dan kakek Long Yuan kan laki-laki, jadi wajar jika mereka menjadi jenderal," ucap Rong Hya berusaha memberi pemahaman pada putrinya mendiang Chu Pian Ran itu.
"Memangnya kalau perempuan tidak boleh jadi jenderal? Kata ibunya Yin'er boleh kok," Lee Chu Mian Yin masih kukuh dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Tapi menjadi jenderal itu resikonya besar Yin'er, kau bisa sering terluka, banyak musuh bahkan bisa kehilangan nyawa," terang siluman serigala tersebut masih terus mencoba untuk menggoyahkan keinginan putrinya Lee Jiang Wook itu.
"Sekalipun Yin'er sering terluka, banyak musuh dan kehilangan nyawa, tapi itu kan demi melakukan sesuatu yang baik seperti ibu, paman. Ibu kan meninggal karena ingin membunuh iblis jahat yang suka mencelakai manusia. Apa yang dilakukan ibu itu perbuatan mulia," sahut gadis kecil itu dengan mengungkapkan sebagian ajaran yang pernah disampaikan ibundanya yang sempat membuat Rong Hya terdiam sesaat dan keheranan dengan perkataan cerdas Lee Chu Mian Yin.
"Kamu tidak takut jika tidak cantik lagi? Dengan menjadi seorang jenderal kamu tentu harus banyak latihan di bawah sinar matahari, kulitmu bisa menjadi gelap lo," siluman serigala itu masih belum menyerah.
"Yin'er tidak takut menjadi jelek, kan Yin'er ingin menjadi hebat seperti ibu, paman Zhu'er dan kakek Long Yuan," lagi-lagi si Rong Hya dibuat terkesiap dengan jawaban putrinya Lee Jiang Wook.
"Kamu tidak ingin seperti ayahmu sayang? Kan ayahmu juga orang hebat dan pintar sehingga bisa mengelola bisnis," imbuh siluman serigala tersebut.
"Tidak paman, Yin'er maunya ingin seperti ibu, paman Zhu'er dan kakek Long Yuan," lagi-lagi gadis kecil itu mengucapkan hal yang sama yang menyiratkan bahwa apa yang menjadi keinginannya tersebut sudah menjadi 'harga mati' yang tidak bisa diubah oleh siapapun.
Karena pendirian Lee Chu Mian Yin tidak bisa digoyahkan dan tetap bersikukuh ingin menjadi seorang jenderal, Rong Hya pun berhenti mengungkit masalah itu lagi.
"Kemarin paman bertemu dengan Peri Jinfeng Zhui, dan katanya kamu diberi kekuatan supranatural oleh beliau dan para peri senior yang lain," kata siluman serigala itu yang cukup membuat Lee Chu Mian Yin terkejut dan sikapnya itu tentu saja tidak lepas dari sepasang mata Rong Hya.
"Kenapa kamu terkejut begitu Yin'er?" tambah siluman serigala itu penasaran.
"Paman kenal dengan nenek Jinfeng?" tanya gadis kecil itu.
"Tentu kenallah sayang, kan paman dulu sering tinggal di hutan Jinfeng. Bahkan saat kamu masih berumur dua tahunan, paman pernah membawa bibi Zhin Zhuan ke nenek Jinfeng untuk mengembalikan kekuatan supranaturalnya yang sudah dihisap hampir habis oleh iblis jahat," jelas Rong Hya.
"Apa kamu sudah memiliki kelebihan dari kekuatan supranatural yang diberikan oleh para peri itu?" lanjut siluman serigala tersebut ingin tahu.
"Sudah paman," putrinya Lee Jiang Wook memberikan jawaban singkat tanpa menjabarkan keistimewaan yang telah dia miliki.
"Kalau tidak ada jadwal sekolah, kamu mau kan latihan dengan paman?" si Rong Hya menawarkan dirinya untuk melatih kemampuan gadis kecil itu.
"Mau sih paman. Tapi kalau libur sekolah, Yin'er harus latihan dulu di markas prajurit," jawab Lee Chu Mian Yin terus terang.
"Iya sayang tidak apa-apa, selonggar kamu saja dan jangan terlalu memaksakan diri, nanti kamu kelelahan."
Tak berapa lama, masuklah Lee Jiang Wook ke ruang belajar putrinya dan mengajak Rong Hya keluar dari ruangan itu untuk mengobrol karena mereka sudah lama sekali tidak bertemu. Sementara itu, si kecil Lee Chu Mian Yin melanjutkan acara belajarnya yang sempat tertunda cukup lama karena diajak bicara oleh siluman serigala tadi.
Sejak hari itu, jika tidak ada sesuatu hal yang penting untuk dikerjakan, Rong Hya akan mengantar dan menjemput Lee Chu Mian Yin jika gadis kecil itu ada jadwal sekolah. Sedangkan kegiatan latihan untuk mengasah kelebihannya, gadis itu melakukannya setelah pulang dari markas prajurit.
Tanpa sepengetahuan semua penghuni kediaman Chu, pemuda jelmaan siluman serigala tersebut setiap malam berada di kediaman itu dalam wujud seekor kumbang, dengan maksud memantau keamanan anggota keluarga Chu khususnya si kecil Lee Chu Mian Yin.
__ADS_1
🌹🌹🌹