
Chu Pian Ran membawa remaja laki-laki itu di sebuah area yang banyak pepohonannya.
Gadis itu dengan segera membuat api unggun sebagai penghangat badan.
Udara dini hari saat itu memang lumayan dingin.
"Hei bangun." Chu Pian Ran menepuk-nepuk pundak bocah laki-laki itu.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya bocah laki-laki itu membuka matanya. Dia terkejut dan sangat ketakutan saat ada pria bertopeng berjongkok di depannya.
"Kau tidak perlu takut, aku bukan orang jahat. Akulah yang sudah membebaskanmu dari ruangan itu." Kata Chu Pian Ran menenangkan bocah itu.
Bocah laki-laki itu lalu melihat ke sekelilingnya. Dia bingung karena tiba-tiba sudah berada di tempat lain.
"Tuan siapa?" Tanya bocah itu lemah.
"Panggil saja aku tuan Song." Jawab Chu Pian Ran.
"Apa kau baik-baik saja?" Lanjut Chu Pian Ran.
"Tubuhku sakit semua karena mereka beberapa kali menyiksaku." Ucap bocah itu sambil meringis kesakitan.
"Kenapa kau disiksa oleh mereka? Dan kenapa kau juga dikurung di tempat itu?" Tanya Chu Pian Ran.
Bocah itu lalu bercerita kepada Chu Pian Ran.
"Jadi sekarang kakak perempuannmu ada di tangan mereka?" Lanjut Chu Pian Ran.
"Iya tuan. Tapi sepertinya mereka sudah membawa kakak Mian pergi ke tempat yang lain. Saya tidak tahu mereka membawa pergi kemana." Bocah itu lalu menangis.
Chu Pian Ran berusaha menenangkan bocah laki-laki itu dengan mengelus-elus pundaknya.
"Aku akan berusaha membantumu dengan dengan sekuat kemampuanmu. Sekarang yang penting kita harus mencari tempat yang aman. Jika mereka tahu kau tiba-tiba menghilang begitu saja dari ruangan itu, mereka tentu tidak akan tinggal diam." Ucap Chu Pian Ran.
Setelah beristirahat satu jam. Chu Pian Ran kembali menggendong bocah itu dan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
Mata Lu Zee yang sedari tadi melihat bahkan mendengar percakapan mereka berdua pun terkesiap. Muncul niat dalam hatinya untuk membantu pria bertopeng itu.
Namun tidak mungkin baginya untuk mengambil langkah sebelum ada perintah dari majikannya.
Pagi hari sebelum matahari terbit
Lu Zee melaporkan semua kejadian itu pada Qin Wu Zhu.
"Lalu dimana dia menyembunyikan bocah itu?" Tanya Qin Wu Zhu.
"Di atas sebuah pohon besar tuan." Jawab Lu Zee.
"Kita pergi ke sana sekarang. Kita harus membantu tuan Song." Ucap pemuda itu.
Kedua pemuda itu lalu pergi menuju hutan tempat bocah laki-laki itu disembunyikan.
Dengan menggunakan jurus peringan tubuh, keduanya melakukan pengintaian terlebih dahulu.
Rupanya saat ini si bocah laki-laki itu sedang sendirian di atas pohon. Sedangkan keberadaan pria bertopeng itu entah pergi kemana.
Setengah jam kemudian, terlihatlah sosok pria bertopeng sedang melompati beberapa pepohonan. Pria bertopeng itu membawa sebuah buntelan yang cukup besar.
Pria bertopeng mengeluarkan
sesuatu dari dalam buntelan itu, yang rupanya adalah makanan.
Bocah laki-laki itu makan dengan sangat lahap.
Aksi mereka berdua dilihat oleh Qin Wu Zhu dan Zee.
Tanpa pikir panjang lagi, Qin Wu Zhu terbang menuju ke pohon tempat mereka berdua berada.
__ADS_1
Chu Pian Ran yang mengetahui pergerakan pemuda itu lalu menoleh.
Bocah laki-laki itu menghentikan makannya dan memperlihatkan wajah yang tegang dan ketakutan.
Gadis itu sama sekali tidak terkejut dengan kedatangan Qin Wu Zhu.
"Akhirnya kau datang juga yang mulia pangeran?" Kata Chu Pian Ran membuat pemuda itu terkejut.
"Kau mengenaliku?" Tanya Qin Wu Zhu dengan rasa tidak percaya.
"Siapa yang tidak kenal dengan anda yang mulia. Penyamaran anda benar-benar buruk sekali. Mataku tidak bisa ditipu." Ucap Chu Pian Ran terus terang.
"Karena tuan Song sudah mengenaliku, kita langsung bicara ke intinya saja. Kami datang ke sini untuk menawarkan bantuan. Sepertinya masalah Hong Gwan itu tidaklah mudah." Tawar Qin Wu Zhu.
"Baiklah, aku menerima bantuan anda tuan." Kata Chu Pian Ran.
Lu Zee ikut berdiskusi dengan mereka berdua.
Akhirnya mereka sepakat untuk keluar dari Sanchuan dan mencari tempat yang aman untuk pemulihan Wang Er, nama panggilan bocah laki-laki itu.
Tugas itu diserahkan pada Qin WunZhu dan Lu Zee. Sementara Chu Pian Ran akan tetap tinggal di Sanchuan untuk mengamati gerak gerik Hong Gwan.
Akhirnya merekapun berpisah dan Chu Pian Ran kembali ke penginapan untuk istirahat sebentar.
****
Pagi harinya, kediaman Hong Gwan gempar. Bocah laki-laki yang beberapa hari ini mereka sandera tiba-tiba menghilang begitu saja. Padahal gembok pintu itu masih dalam keadaan terkunci.
Hong Gwan, pria paruh baya bertubuh gemuk dan berperut buncit itu lalu mengerahkan semua anak buahnya untuk menjelajahi Sanchuan dan menangkap kembali bocah itu, dalam keadaan bernyawa atau mati.
Hong Gwan tidak ingin dengan hilangnya bocah laki-laki itu keselamatan keluarganya menjadi terancam.
Dengan reaksi cepat anak buah Hong Gwan menyebar ke beberapa tempat untuk mencari bocah laki-laki itu.
****
Setelah mereka mendapatkan penginapan, Lu Zee segera mencarikan tabib untuk memeriksa bocah itu.
Di tubuh Wang Er memang banyak terdapat luka-luka. Sepertinya bocah itu sudah mendapatkan banyak siksaan di rumah Hong Gwan itu.
Wang Er lalu diserahkan pada Lu Zee dan Qin Wu Zhu kembali ke Sanchuan untuk menemui tuan Song.
****
Sore harinya, Chu Pian Ran baru bangun dari tidur. Setelah mandi dan makan gadis itu mengurung diri di kamar untuk bermeditasi sambil menunggu kedatangan Qin Wu Zhu.
Gadis itu tidak tahu jika saat ini Hong Gwan sedang kalang kabut mencari bocah laki-laki itu.
Merasa kebobolan, Hong Gwan menambah lagi jumlah penjaga di kediamannya sebanyak 3 kali lipat, khususnya pada malam hari.
Bahkan ada beberapa penjaga yang ditugaskan untuk berdiri di atas atap kediaman.
Seorang anak buah pria itu datang untuk melapor.
"Bagaimana, apakah bocah itu sudah berhasil ditemukan?" Tanya Hong Gwan.
"Maaf tuan, sampai sekarang kami belum menemukan bocah itu." Jawab anak buah itu.
"Goblok! Menangkap seorang bocah saja kalian tidak becus ha?!" Teriak pria paruh baya itu sambil menggebrak meja.
"Lalu untuk apa kau datang kemari!" Lanjut Hong Gwan dengan suara masih tinggi.
"Maaf tuan, saya ingin melaporkan jika beberapa hari ini pria bertopeng yang sedang naik daun itu ada di Sanchuan. Mungkin saja dialah orang yang membawa kabur bocah itu tuan." Terang si anak buah.
"Apa? Si Song itu ada di Sanchuan? Kenapa tidak kau beritahu aku sebelumnya goblok!" Ketus Hong Gwan sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Maafkan kelalaian kami tuan. Kami pikir pria bertopeng itu hanya sekedar mampir saja." Balas si anak buah.
__ADS_1
"Sudah jangan banyak alasan! Sekarang kau amati gerak-gerik si Song itu. Jika ada yang mencurigakan segera laporkan padaku!" Perintah Song Gwan.
"Baik tuan, akan saya laksanakan." Ucap si anak buah itu lalu meninggalkan majikannya.
Sejak saat itu gerak-gerik Chu Pian Ran diawasi oleh beberapa anak buah Song Gwan.
Pagi harinya, Qin Wu Zhu telah tiba di Sanchuan lagi.
Pemuda itu langsung menuju ke penginapan Yukuai untuk menemui tuan Song.
"Kau kelihatan lelah sekali yang mulia pangeran. Sebaiknya anda istirahat dulu, jangan sampai anda sakit sebelum kita berhasil membongkar kebusukan Hong Gwan itu." Kata Chu Pian Ran saat melihat wajah Qin Wu Zhu.
"Apa rencana anda selanjutnya tuan Song?" Tanya pemuda itu.
"Sekarang ini orang-orang Hong Gwan sedang siaga, kita tidak perlu gegabah. Bahkan dia sudah mencurigaiku dan menyuruh anak buahnya untuk mengawasiku." Kata Chu Pian Ran.
"Sebaiknya anda istirahatlah dulu. Jika aku nanti butuh bantuanmu aku akan memberitahumu." Lanjut Chu Pian Ran.
Qin Wu Zhu menuruti kata-kata pria bertopeng itu dan mengistirahatkan tubuhnya selama beberapa jam di salah satu kamar yang ada di penginapan.
Sore harinya, Qin Wu Zhu dan pria bertopeng makan di warung mie langganan mereka lagi. Kali ini mereka membicarakan hal-hal umum karena mereka sadar sedang diawasi.
Mereka sengaja makan di warung mie itu untuk memancing anak buah Hong Gwan.
Setelah selesai makan mie, mereka berduapun berjalan-jalan di daerah Sanchuan itu.
Saat mereka melewati jalanan yang lumayan sepi, mereka sengaja berpisah.
Chu Pian Ran sengaja melewati jalanan yang sepi dan lumayan gelap untuk memancing anak buah Hong Gwan.
Saat ada kesempatan bagus, gadis itu dengan cepat menghilang dari pengawasan anak buah Hong Gwan.
Seperti perkiraan Chu Pian Ran. Ada seorang pria bertubuh tinggi besar sedang celingukan mencari keberadaan pria bertopeng yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Hei, kau sedang mencariku?" Tanya Chu Pian Ran santai di belakang pria itu.
Anak buah Hong Gwan tidak menjawab pertanyaan pria bertopeng itu.
"Kau anak buah Hong Gwan kan? Dan dia menyuruhmu mengawasi gerak-gerikku? Memang akulah yang membawa kabur bocah laki-laki yang kalian cari itu. Kalian pasti ketakutan kalau kejahatan kalian terbongkar kan?" Kata Chu Pian Ran terus terang.
Tanpa berkomentar apa-apa, pria itu melesat ke depan dan menyerang si pria bertopeng.
Terjadilah perkelahian sengit antara Chu Pian Ran dan anak buah Hong Gwan.
Lebih dari 20 menit mereka berkelahi sebelum akhirnya tubuh pria itu terhempas oleh kekuatan tangan Chu Pian Ran dan jatuh berguling-guling di tanah.
Rupanya Qin Wu Zhu sudah berada di dekat pria itu. Tanpa menunggu waktu, Qin Wu Zhu menghajar pria itu dan terjadilah perkelahian kembali.
Karena pemuda itu sudah banyak makan asam garam di dunia persilatan dan perang, tidak sampai setengah jam pria itu berhasil dikalahkannya.
Kini anak buah Hong Gwan sudah terikat kuat di sebuah ruangan yang telah disewa oleh Qin Wu Zhu sebelumnya.
Lagi-lagi Qin Wu Zhu menghajar laki-laki itu hingga babak belur.
"Katakan, kemana majikanmu menjual orang-orang itu?!" Tanya Qin Wu Zhu sambil mencekik leher pria itu.
"Rupanya kau ingin dihajar lagi? Asal kau tahu, aku ini adalah pangeran kedua kaisar Qin yang sedang menyamar. Aku sudah bertahun-tahun hidup di dunia kemiliteran, jadi aku dengan mudah bisa meringkus komplotan kalian." Lanjut pemuda itu.
Karena tidak ada reaksi dari anak buah Hong Gwan, Qin Wu Zhu melepas kumisnya dan menunjukkan token identitasnya di depan pria itu.
"Bagaimana, apa kau masih tidak percaya juga ha!" Bentak Qin Wu Zhu.
"Maaf yang mulia pangeran, hamba hanya menjalankan perintah... Otak di balik perdagangan manusia ini adalah tuan Hong." Akhirnya pria itu pun bersuara.
Plak!
Qin Wu Zhu pun menampar pria itu sekali lagi.
__ADS_1