
Setelah melewati bulan ke empat kehamilan, sikap manja dan ngambek Chu Pian Ran mulai menghilang. Kini, sifat perempuan cantik itu kembali seperti semula. Namun, untuk kesukaannya akan makanan manis masih tetap terus berlanjut.
Berat badan nyonya muda Lee bertambah lagi dari bulan sebelumnya, namun tidak bisa dikategorikan gemuk. Sementara itu, perutnya juga tambah membesar.
Pagi ini, terlihatlah Lee Jiang Wook sedang menggandeng tangan kanan istrinya sepanjang perjalanan yang mereka lewati. Pemuda tampan itu sedang menemani istrinya untuk membeli bedak karena persediaan bedak Chu Pian Ran tinggal sedikit.
Ketika dalam perjalanan, terlihatlah oleh mereka berdua ada seorang pemuda berpakaian sederhana dengan tangan diikat di belakang dan digelandang oleh dua petugas biro keamanan.
Chu Pian Ran memperhatikan pemuda itu dengan seksama, lalu tiba-tiba muncul suara batinnya yang kuat, yang menyatakan bahwa pemuda itu tidak bersalah.
Melihat sikap istri tercintanya yang sedikit aneh, Lee pun merasa heran dan bertanyalah ia pada perempuan itu.
"Ada apa sayang?" Tanya pemuda itu.
"Dia tidak bersalah." Balas Chu Pian Ran singkat.
"Benarkah? Jika dia tidak bersalah kenapa ditangkap oleh petugas biro keamanan?" Lanjut Lee penasaran.
"Apa yang dilihat mata belum tentu itu adalah suatu kebenaran suamiku... Sebaiknya aku segera mengikuti mereka sebelum petugas itu menghukum orang yang tidak bersalah."
Tanpa persetujuan suaminya, perempuan itu berbalik arah dan mengikuti ketiga orang tadi yang sedang dalam perjalanan menuju kantor biro keamanan.
Lee yang selama ini tahu betul bahwa istrinya memiliki kelebihan, hanya menurut saja dan mengikuti langkah istrinya itu.
Sesampainya di depan biro keamanan, seorang petugas menghadang mereka berdua.
"Ada urusan apa kalian datang kemari?" Tanya petugas itu dengan nada suara agak ketus.
"Pemuda yang diikat itu tadi tidak bersalah." Jelas Chu Pian Ran.
Mendengar perkataan perempuan hamil muda yang ada di depannya itu, si petugas menyeringai tanda meremehkan.
"Dengar baik-baik nyonya muda, semua petugas biro keamanan di sini adalah orang yang memiliki keahlian dalam menyelidiki suatu kejahatan. Jika kau berkata seperti itu, sama artinya kau mencemarkan nama baik kami." Ucap petugas itu.
"Jika kalian tidak percaya, aku akan membuktikannya pada kalian. Sekalian aku akan mengundang pangeran Qin Wu Zhu datang kemari sebagai saksinya." Lanjut perempuan itu.
Rupanya perkataan Chu Pian Ran tadi malah membuat petugas biro keamanan itu tertawa dan semakin meremehkan perempuan itu.
"Ayolah nyonya muda, jangan bercanda keterlaluan seperti itu sampai membawa-bawa nama yang mulia pangeran Qin Wu Zhu segala. Memangnya kau kenal dengan dia ha?!" Sambung petugas itu dengan nada suara agak tinggi dari sebelumnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Chu Pian Ran mengajak suaminya menjauh dari tempat itu kemudian meminta pemuda itu untuk datang ke istana agar memanggil Qin Wu Zhu, sedangkan perempuan itu akan menunggu kedatangan mereka di toko perhiasan milik keluarga Lee.
Empat puluh lima menit kemudian, datanglah mereka bertiga ke kantor biro keamanan.
Betapa terkejutnya petugas yang sempat meremehkan Chu Pian Ran tadi begitu melihat perempuan itu benar-benar datang dengan pangeran kedua kerajaan Qin.
Dengan segera, petugas biro keamanan itu memberi hormat pada Qin Wu Zhu dan melaporkan kedatangannya pada kepala biro keamanan yang kebetulan saat ini ada di tempat.
Kini, Qin Wu Zhu, Chu Pian Ran dan Lee Jiang Wook sudah duduk di ruang tamu kantor biro keamanan.
Beberapa saat kemudian, kepala biro keamanan beserta beberapa pegawainya yang kebetulan ada di kantor itu memberi hormat dengan serentak.
"Hamba benar-benar terkejut saat mengetahui yang mulia pangeran datang kemari. Ada apa gerangan yang mulia singgah di tempat ini?" Tanya kepala biro keamanan.
"Aku dengar ada seorang pemuda yang kalian tangkap hari ini. Bawa dia kemari agar menjelaskan permasalahannya." Balas Qin Wu Zhu tegas.
Tanpa membantah, kepala biro keamanan langsung menuruti perintah pemuda itu dengan diikuti oleh seorang bawahannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka berdua masuk kembali ke ruangan sambil membawa pemuda yang dituduh itu, namun sekarang tubuhnya dalam keadaan babak belur karena memang habis dihajar oleh dua petugas biro keamanan yang menangkap dia tadi.
"Yang mulia pangeran, tadi sewaktu aku dan suamiku pertama kali melihat pemuda ini dibawa ke kantor biro keamanan, keadaannya tidak babak belur seperti ini. Jangan-jangan dia habis dihajar oleh dua petugas itu tadi agar mau mengakui kesalahan yang tidak diperbuatnya." Adu Chu Pian Ran.
Mendengar perkataan perempuan itu, jantung kepala biro keamanan dan dua petugas yang menghajar pemuda itu tadi mulai berdegup kencang. Mereka pun menjadi ketakutan.
Tiba-tiba, kepala biro keamanan dan beberapa bawahannya yang ada di ruang tamu itu langsung bersujud dan minta ampun.
"Teruslah kalian bersujud seperti itu sampai aku selesai mendengar penjelasan dari pemuda ini. Masalah hukuman untuk kalian, itu akan ku urus nanti." Ujar pemuda itu.
Qin Wu Zhu lalu menyuruh pemuda itu duduk dan bercerita apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia ditangkap.
Dengan jujur akhirnya pemuda itupun bercerita tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Rupanya pemuda yang bernama Xio Bai itu dituduh oleh majikannya mencuri beberapa perhiasan, padahal dia sama sekali tidak melakukannya.
Tapi karena salah satu perhiasan yang hilang itu ditemukan di kamarnya pada saat penggeledahan, maka diapun dituduh melakukan pencurian itu.
Akhirnya, berdasarkan bukti yang ditemukan itu, Xio Bai pun dilaporkan ke biro keamanan dan dia pun ditangkap dan dihajar hingga babak belur.
Setelah mendengar penuturan Xio Bai, tanpa berlama-lama Qin Wu Zhu lalu memerintahkan kepala biro keamanan dan dua petugas yang sudah menghajar Xio Bai tadi untuk mengikutinya ke rumah majikan pemuda itu. Tak lupa Chu Pian Ran, suaminya serta Xio Bai turut bersama mereka.
Dua puluh lima menit kemudian, sampailah mereka di rumah bangsawan kelas biasa Kung Xhu Liu, majikan Xio Bai.
Di kediaman itu, selain tuan dan nyonya Kung, juga tinggal dua anak perempuannya bersama seorang menantunya.
Diantara mereka, yang begitu getol menuduh Xio Bai sebagai pencuri perhiasan nyonya Kung adalah menantu putri pertama tuan rumah yang bernama Zhao Xia.
Begitu tahu pangeran kedua kaisar Qin datang di kediaman, semua anggota keluarga tuan Kung yang kebetulan ada di rumah menjadi terkejut. Dengan tergesa-gesa mereka pun menuju halaman kediaman, memberi hormat pada pemuda itu dan mempersilahkan semua tamunya masuk ke ruang tamu.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Qin Wu Zhu pun menjelaskan maksud kedatangannya pada tuan Kung.
Awalnya, semua orang di kediaman sudah sangat yakin jika Xio Bai lah yang mencuri perhiasan itu karena ada sedikit barang bukti yang ditemukan di kamar pemuda itu.
Sejak pertama kali mereka tiba di kediaman itu, putri kedua tuan Kung kedapatan beberapa kali mencuri-curi pandang pada Qin Wu Zhu. Bahkan saat di ruang tamupun, gadis itu juga kedapatan beberapa kali melakukan hal yang sama.
Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, Qin Wu Zhu memberi kode pada Chu Pian Ran agar gantian perempuan itu yang mengambil alih masalah ini.
"Tuan Kung, apakah semua anggota keluargamu sudah berkumpul di sini?" Tanya Chu Pian Ran.
"Saat ini, putri sulungku dan suaminya sedang ada di toko kami nyonya muda." Jawab pria itu.
"Panggil secepatnya mereka kemari." Lanjut perempuan itu.
"Baik nyonya muda, saya akan memerintahkan pelayan untuk memanggil mereka." Sahut tuan Kung.
Sambil menunggu kepulangan putri sulung dan menantunya, pria itu mempersilahkan para tamunya untuk mencicipi teh dan cemilan yang disediakan.
Lagi-lagi, putri kedua tuan Kung kedapatan mencuri-curi pandang pada Qin Wu Zhu.
Lima belas menit kemudian, masuklah Zhao Xia beserta istrinya ke dalam ruang tamu.
Sejak pasangan suami istri itu masuk ruang tamu, mata Chu Pian Ran menatap tajam pada Zhao Xia untuk melakukan penerawangan.
Beberapa detik kemudian, perempuan itu telah menemukan titik terangnya.
Setelah semua berkumpul, tanpa menunggu lama lagi Chu Pian Ran pun mulai menyampaikan sesuatu yang membuat semua orang yang hadir di situ terkejut khususnya Zhao Xia, si pemfitnah Xio Bai.
__ADS_1
"Ada salah satu diantara kalian yang sudah memfitnah Xio Bai sebagai pencuri perhiasan nyonya Kung. Aku memberi kesempatan pada orang itu untuk mengaku sendiri atau aku yang akan membongkarnya." Ucap perempuan itu memecah keheningan.
Semua anggota keluarga Kung, kepala biro keamanan dan dua bawahannya menjadi terhenyak dan heran begitu mendengar perkataan Chu Pian Ran.
Jantung Zhao Xia mulai berdegup kencang karena pemuda itu takut jika kebusukan yang dia sembunyikan selama ini akan terbongkar dan didepak dari keluarga Kung.
"Maafkan saya nyonya muda, bukannya saya berkata lancang, tapi apakah anda benar-benar tahu siapa yang telah mencuri perhiasan istri saya?" Tanya tuan Kung penasaran.
"Jika aku tidak tahu tentu aku tidak akan berani berkata seperti ini tuan Kung." Sahut perempuan itu mantap.
Pria itupun terdiam sambil menyimpan rasa heran yang besar dalam benaknya.
Lima menit berlalu tapi tidak ada satu pun anggota keluarga Kung yang mau mengaku.
"Untuk seseorang yang sudah mencuri perhiasan nyonya Kung dan sampai sekarang belum mau mengaku, maka dengan terpaksa aku akan membongkarnya karena aku tidak suka jika ada orang yang bersih kelakuannya dituduh melakukan suatu kejahatan." Lanjut Chu Pian Ran.
Tak berapa lama, istri Lee itu melangkahkan kakinya dan mendekat tepat di depan Zhao Xia.
"Tuan, kaulah yang mencuri perhiasan itu untuk perempuan simpananmu. Dan aku tahu dimana sisa perhiasan itu kau sembunyikan." Kata Chu Pian Ran tanpa ragu-ragu.
Mendengar perkataan perempuan itu, lagi-lagi semua anggota keluarga Kung dibuat terkejut. Tak terkecuali kepala biro keamanan dan dua bawahannya. Istri Zhao Xia pun sampai melihat pada suaminya dengan tatapan mata yang tajam.
"Nyonya muda, kau bisa saja membuat hal konyol seperti ini. Mana buktinya jika aku mencuri perhiasan itu dan berselingkuh." Tantang Zhao Xia dengan berusaha bersikap tenang, padahal jantungnya sedang bergemuruh.
Tak ingin berlama-lama, nyonya muda Lee itu beranjak dari tempatnya berdiri dan keluar dari ruang tamu.
Tanpa dikomando, semua orang yang ada di ruangan itu mengikuti perempuan itu dari belakang.
Dengan menggunakan instingnya, Chu Pian Ran melangkah menuju halaman belakang kediaman itu.
Otomatis, pergerakan mereka membuat para pelayan kediaman keluarga Kung itu menjadi heran dan penasaran.
Tak berapa lama, istri Lee berhenti di bawah sebuah pohon berukuran sedang yang ada belakang halaman itu.
"Gali tanah ini. Perhiasan itu disembunyikan di sini sebelum diserahkan pada selingkuhannya." Ujar Chu Pian Ran.
Dengan segera, dua petugas biro keamanan menggali tanah yang ditunjuk oleh perempuan itu dan tak berapa lama mereka menemukan sebuah buntelan kain. Setelah dibuka, ternyata benar isi buntelan itu adalah beberapa perhiasan nyonya Kung yang hilang.
"Xio Bai, coba kau ingat-ingat, apakah beberapa hari terakhir ini kau pernah melihat menantu tuan Kung bersama seorang perempuan cantik." Lanjut istri Lee sambil menoleh pada Xio Bai yang sedari tadi diam saja dan banyak menundukkan kepalanya.
Yang empunya nama berusaha mengingat-ingat dengan ditatap oleh banyak mata yang hadir di situ.
"Ah ya saya ingat, tiga hari yang lalu saya melihat tuan Zhao Xia bersama seorang perempuan cantik, tapi saya tidak tahu siapa dia dan dimana rumahnya." Jelas Xio Bai.
"Keberadaan perempuan itu bisa aku dapatkan dengan mudah dengan cara menerawang pikirannya." Ucap Chu Pian Ran dengan menoleh pada Zhao Xia yang saat itu sudah tak bisa beralasan lagi.
Setelah didesak terus menerus oleh tuan dan nyonya Kung serta istrinya, akhirnya Zhao Xia pun mengaku jujur bahwa sebenarnya dia punya perempuan simpanan yang saat ini sedang hamil. Dan dia terpaksa mencuri perhiasan mertuanya untuk mencukupi kebutuhan selingkuhannya itu.
Hari itu juga, nama baik Xio Bai dibersihkan kembali. Sementara, Zhao Xia didepak dari keluarga Kung dan bercerai dengan istrinya.
Sebagai ganti permintaan maaf, keluarga Kung memberikan beberapa uang koin emas kepada Xio Bai. Namun, pemuda itu dengan halus menolaknya dan memutuskan untuk tidak bekerja di kediaman itu lagi.
Chu Pian Ran tahu betul bagaimana kondisi hati Xio Bai saat itu, dan benarlah jika 'permintaan maaf atau uang belum tentu bisa menyembuhkan luka hati'.
Atas saran perempuan itu, akhirnya Xio Bai bekerja di rumah makan milik keluarga Lee.
Sementara, sebagai hukuman karena telah menghajar Xio Bai, dua petugas biro keamanan itu diperintahkan Qin Wu Zhu untuk membayar uang kompensasi pada pemuda itu.
__ADS_1
Karena perintah pemuda itu tidak bisa dibantah, mau tidak mau Xio Bai menerima uang kompensasi itu.