
Bukan main terkejutnya Gang Shuang dan Meng Fei saat menyaksikan pemandangan yang ada di atasnya itu.
Karena kedua pria itu melihat jika si burung raksasa sepertinya akan mendarat, maka dengan segera Gang Shuang dan Meng Fei pun menyingkir dari tempat itu lalu keduanya berdiri di teras kediaman utama.
Beberapa menit sebelum mendaratkan kedua kakinya di tanah, burung elang emas raksasa itu pun menarik rentangan sayapnya dan akhirnya binatang itu kini telah meletakkan kedua kakinya di daratan tepat di depan kediaman utama Chu.
"Halo paman dewa, rupanya anda benar-benar Dewa Shao Hao si Dewa Burung ya? Aku kira tadi pagi anda hanya tukang ngibul... Besar sekali burung elang emasnya...," sapa Chu Pian Ran sambil melambaikan tangan kanannya pada pria yang ada di atas punggung burung dengan tanpa rasa takut dan sungkan sama sekali jika yang diajaknya bicara itu adalah seorang dewa.
Mendengar perkataan 'ceplas-ceplos' nya perempuan cantik yang sedang berdiri di atas atap rumah itu, Dewa Shao Hao pun tersenyum lebar karena melihat keberanian Chu Pian Ran.
Tak berapa lama, Dewa Burung itu pun terbang lalu menjajari nyonya muda Lee di atas atap.
"Paman dewa kenapa datangnya kelamaan, aku sampai lumutan tahu...," ucap perempuan cantik itu sambil menoleh pada pria yang ada di sebelahnya.
Menangkap kata 'lumutan' dari bibir Chu Pian Ran, Dewa Shao Hao pun dengan lugunya melihat tubuh nyonya muda Lee dari ujung kepala hingga ujung kaki namun tidak menemukan sedikit pun 'lumut' di badan perempuan cantik yang sedang berdiri di samping kirinya itu.
"Mana lumutnya? Aku tidak melihat ada lumut di tubuhmu...," balas Dewa Burung dengan polosnya.
"Maksudnya 'lumutan' itu bukannya ada lumut di tubuhku paman dewaa..., tapi lumutan itu hanya sekedar kiasan dari merasa bosan karena menunggu anda yang terlalu lama datangnya...," jelas Chu Pian Ran.
"Begitu ya... Ya maaf karena sudah membuatmu terlalu lama menunggu. Harap maklum, perjalanan dengan menunggangi burung dari dunia atas ke dunia manusia lebih lama sampainya daripada melesat dalam bentuk seberkas cahaya...," terang Dewa Shao Hao.
"Jadi ini ya ibunya Jinying? Pantas telurnya besar, ibunya saja sebesar ini... Halo ibu burung, selamat malam, how are you?" sapa nyonya muda Lee sambil melambaikan tangan kanannya pada burung raksasa yang tinggi badannya lebih tinggi dua meteran dari atap kediaman utama.
"Kraak...," induk burung itu bersuara pelan sebagai balasan atas sapaannya Chu Pian Ran.
Mendengar ucapan nyonya muda Lee yang ada kalimat 'how are you' nya, lagi-lagi Dewa Burung pun menjadi bingung.
"Nyonya muda, 'ho a yu' itu artinya apa? Sepertinya baru kali ini aku mendengar bahasa aneh itu...," tanya Dewa Shao Hao jujur.
"Itu tadi bahasa alien dari planet pluto paman dewa...," sahut peri cantik itu asal-asalan.
"Alien itu siapa lagi? Planet pluto itu apa?" lanjut Dewa Burung semakin tambah bingung.
"Sudahlah paman dewa, lupakan saja hal itu..."
Sementara itu, Gang Shuang dan Meng Fei yang sedang berdiri di teras kediaman utama Chu, sedari tadi bengong dan takjub karena melihat besarnya burung elang emas yang sekarang ini berdiri beberapa meter di depan mereka.
"Besarnya luar biasa sekali tuan... Jika saya tadi tidak salah dengar, tuan putri Nanyang menyebut pria yang menunggangi burung raksasa ini dengan kata 'Dewa Burung'. Apa benar pria yang sedang berbicara di atas atap dengan tuan putri adalah si 'Dewa Burung'?" kata Meng Fei pada atasannya itu.
"Pastinya begitu...," jawab Gang Shuang singkat karena pria itu tidak bisa berkomentar banyak sebab saking takjubnya.
"Luar biasa sekali anggota keluarga tuan putri Nanyang ini, bisa didatangi oleh Dewa Burung... Kira-kira ada hal penting apa ya dewa itu bisa sampai ke kediaman tuan Chu Jeong Byun ini?" imbuh pemuda itu.
"Sudahlah jangan banyak tanya-tanya, aku sendiri juga bingung... Kita lihat saja nanti kelanjutannya...," ujar si kepala biro keamanan.
__ADS_1
Mendengar suara berisik di luar, tuan dan nyonya Chu memprediksi jika sang tamu kehormatan sudah datang. Maka pasangan suami istri itu pun keluar dari kamar setelah merapikan penampilannya seperlunya.
Begitu keluar dari pintu kediaman utama, terlihatlah oleh tuan dan nyonya Chu, si kepala biro keamanan dan seorang pegawainya sedang berdiri di teras.
Dengan segera, dua orang dari biro keamanan itu pun memberikan salam hormat pada pasangan suami istri itu.
"Maaf tuan dan nyonya Chu jika kedatangan kami berdua telah mengganggu ketenangan kalian. Kami berdua bisa datang kemari, karena saat berpatroli tadi, secara tidak sengaja kami melihat tuan putri Nanyang sedang duduk di atas atap. Karena kami merasa penasaran, kami berdua pun masuk kemari untuk bertanya pada tuan putri. Sekali lagi mohon maafkan atas kelancangan kami ini...," ucap Gang Shuang dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa tuan, aku memaklumi tindakan kalian sebagai pihak keamanan di ibukota ini. Sekarang, bisakah saya minta tolong pada kalian agar pergi dari tempat ini, karena ada hal penting yang akan kami bicarakan dengan yang mulia Dewa Shao Hao...," balas tuan Chu terus terang.
"Baik tuan Chu, kalau begitu kami undur diri dulu...,"
Setelah memberi hormat pada pasangan suami istri yang terpandang di ibukota Qin itu, Gang Shuang dan Meng Fei pun melangkahkan kakinya menuju gerbang kediaman Chu sambil mata mereka tak lepas dari sosok burung elang raksasa.
Begitu sudah keluar dari gerbang kediaman Chu, bukannya melanjutkan patroli, si kepala biro keamanan malah memerintahkan Meng Fei untuk pergi ke kantor biro keamanan agar mengajak yang lain untuk menyaksikan 'kejadian langka dan luar biasa' yang sedang berlangsung di kediaman Chu itu.
Maka, tanpa banyak bicara, Meng Fei pun berlari sekencang-kencangnya menuju ke kantor biro keamanan, lalu sesampainya di tempat, dengan nafas terengah-engah pemuda itu pun memberitahu teman-temannya yang lain agar segera ikut di kediaman Chu untuk menyaksikan burung raksasa yang kemarin dia lihat dan sekaligus melihat Dewa Shao Hao, si Dewa Burung.
Bagai disambar petir di siang bolong, petugas biro keamanan yang lain pun kaget bukan main setelah mendengar perkataan Meng Fei. Tak menunggu lama, mereka pun akhirnya berlari kencang menuju ke kediaman Chu.
Setelah sampai di depan kediaman penasehat kerajaan, teman-teman Meng Fei pun terkejut bercampur takjub saat mereka melihat dengan mata kepala sendiri burung raksasa yang awalnya tidak mereka percayai dari cerita si Meng Fei.
Demikian pula waktu mereka melihat di atas atap ada sosok putri angkat kaisar Qin bersama seorang pria yang adalah Dewa Burung, mereka pun semakin terpana.
Beberapa menit kemudian, semua pelayan di kediaman penasehat kerajaan tersebut telah ada di halaman tersebut karena tidak ingin melewatkan kejadian luar biasa yang ada di depan mata mereka.
Tak beda dengan lainnya, tuan dan nyonya Chu sendiri sangat terkejut begitu melihat induknya Jinying yang ukurannya sangat besar. Terkhusus untuk nyonya Chu, wanita paruh baya itu menjadi sangat malu dan juga takut karena tadi pagi dia tidak percaya jika tamunya adalah Dewa Burung sungguhan.
Karena sedari tadi tuan Chu melihat putrinya tidak segera mempersilahkan Dewa Shao Hao masuk ke dalam rumah, maka pria paruh baya itu pun akhirnya berseru dari bawah.
"Ran'er kenapa yang mulia Dewa Shao Hao tidak dipersilahkan masuk?!"
"Okey Daddy, we are comiing!...," balas Chu Pian Ran yang tak berapa lama perempuan cantik itu pun turun ke bawah dengan diikuti oleh Dewa Burung.
Begitu Dewa Shao Hao mendaratkan kakinya di tanah, tuan dan nyonya Chu beserta semua pelayan yang sedang berkumpul di halaman kediaman, dengan segera mereka pun mengambil posisi hendak bersujud dan memberi hormat namun langsung dicegah oleh dewa tersebut.
"Silahkan yang mulia Dewa Shao Hao kita masuk ke ruang tamu saja...," tuan Chu mempersilahkan tamu kehormatannya untuk masuk ke ruang tamu sambil tangan kanannya diulurkan ke arah dalam kediaman utama.
"Tidak usah tuan, kita bicara di sini saja agar terlihat santai...," sahut Dewa Burung.
"Mohon ampuni hamba yang mulia Dewa Shao Hao jika tadi pagi hamba berkata tidak pantas dan tidak percaya jika anda benar-benar yang mulia Dewa Burung...," sela nyonya Chu jujur sambil memberi hormat dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Anda tidak perlu minta maaf nyonya, saya memaklumi sikap anda karena anda berniat melindungi bayi burung elang emas milik saya... Sudahlah tidak perlu mempermasalahkan hal itu lagi...," jawab Dewa Burung.
"Kita langsung ke intinya saja ya, karena aku sudah membuktikan jika aku benar-benar Dewa Burung dan telah membawa induk dari bayi burung elang emas yang ada pada kalian, maka dengan hormat aku meminta kalian agar menyerahkan bayi burung itu, mengingat dia nanti akan diincar oleh suku iblis atau bangsa siluman jahat. Bukan hanya itu saja, keluarga kalian pun nanti bisa ikut terkena imbasnya jika bayi burung elang emasnya berada terlalu lama di rumah ini...," lanjut Dewa Shao Hao.
__ADS_1
"Tidak boleh, kakek dewa tidak boleh bawa Jinying!" tiba-tiba muncullah Lee Chu Mian Yin dan Lee Jiang Wook dari arah samping kiri kediaman utama sambil kedua tangan gadis kecil itu membawa bayi burung elang emas yang matanya masih terpejam karena memang sedang ngantuk berat.
Melihat kedatangan bayinya, dengan segera induk burung itu pun memutar tubuhnya 90° lalu menekuk kedua kakinya dan menundukkan kepalanya sambil matanya menatap lekat pada bayinya.
"Kraak..."
Mendengar suara 'kraak', si Jinying pun tiba-tiba menjadi terbangun dan untuk sesaat mata bayi burung itu pun menatap mata burung elang raksasa itu, hingga induk dan anak pun kini saling beradu pandang. Tak berapa lama, Jinying pun mengeluarkan suaranya kegirangan karena bertemu dengan ibunya.
"Kik kiiik, kik kiiik...," bayi burung elang emas itu pun beberapa kali mengeluarkan suara 'kiik" sambil menatap ibunya dan menggerak-gerakkan sayap kecilnya yang berbulu pendek.
Tanpa ijin dulu dari Lee Chu Mian Yin, Dewa Shao Hao pun mengambil Jinying dari tangan gadis kecil itu yang tentu saja membuat Lee Chu Mian Yin sempat terkaget.
Tak berapa lama, Dewa Burung itu pun mengangkat tubuh si Jinying dan mendekatkannya pada kepala induk burung. Kini, tampaklah si induk burung sedang menggesek-gesekkan paruhnya pada tubuh bayinya.
"Apakah kau merasa senang telah bertemu dengan anakmu?" tanya Dewa Shao Hao pada burung kesayangannya itu yang kemudian mendapat balasan berupa anggukan dari si induk burung.
"Maaf ya gadis kecil, kakek dewa harus membawa pulang bayi burung ini. Jika bayi burung ini tetap ada di rumah kalian, bukan hanya nyawa burung ini yang terancam, tapi nyawa anggota keluargamu bisa terancam juga ," kata Dewa Burung jujur sambil menatap Lee Chu Mian Yin.
"Telancam bagaimana kakek dewa?, Yin'el tidak mengelti...," jawab gadis kecil itu dengan polosnya.
"Jantung dan hati dari burung elang emas bisa digunakan untuk meningkatkan kekuatan supranatural hingga beberapa kali lipat... Makanya jika bayi burung ini tetap berada di sini, nanti bisa mengundang perhatian dari suku iblis dan bangsa siluman. Kan itu bahaya untuk anggota keluargamu, bisa-bisa ada yang kehilangan nyawa gara-gara bayi burung ini...," terang Dewa Shao.
"Bagaimana kalau kakek dewa ganti dengan burung merak jantan yang bulunya sangat indah?" lanjut Dewa Burung itu.
"Ya sudah kakek dewa, Yin'el mau bulung melaknya. Kasihan Jinying kalau nanti mati dibunuh iblis atau siluman jahat..."
Mendengar jawaban Lee Chu Mian Yin, semua pun merasa lega karena gadis kecil itu rela melepas Jinying.
"Tapi kalau Yin'el nanti kangen Jinying bagaimana kakek dewa?" imbuh Lee Chu Mian Yin.
"Kakek dewa akan memikirkan caranya dulu ya gadis kecil... Terimakasih banyak sudah ikhlas menyerahkan bayi burung elang emas ini. Besok kakek dewa akan datang lagi untuk mengantar burung meraknya...," ujar Dewa Shao.
"Benelan besok ya kakek dewa, awas lo kalau bohong...," ucap Lee Chu Mian Yin.
"Iya kakek janji, besok akan kemari lagi dengan membawa burung meraknya."
Setelah berpamitan dengan anggota keluarga Chu, Dewa Burung pun terbang dan naik ke punggung burung elang emas raksasanya sambil kedua tangannya membawa si Jinying.
"Da da Jinyiing, sampai ketemu lagi yaa... Jaga dili baik-baik!...," seru Lee Chu Mian Yin sambil melambaikan tangan kanannya yang dibalas dengan suara 'kiik' beberapa kali dari mulut bayi burung itu.
Tak berapa lama, burung elang emas raksasa itu pun berdiri tegak lalu dengan pelan-pelan tubuhnya terangkat ke atas menggunakan kekuatan supranaturalnya dan kemudian binatang itu merentangkan kedua sayap panjangnya.
Kini, tampaklah burung elang emas raksasa itu mengepak-ngepakkan sayapnya lalu terus terbang naik hingga menghilang di balik gelapnya awan hitam.
Beberapa saat kemudian, semua penghuni kediaman Chu pun kembali ke peraduannya masing-masing untuk melanjutkan tidur mereka.
__ADS_1