
Tuan Song beralasan ingin ke kamar mandi agar dia bisa keluar dari istana.
Pelayan yang tadi mengantar pria bertopeng itu ke kamar mandi menjadi heran karena sudah tiga puluh menit pria itu belum keluar juga.
Setelah lima menit berlalu, si pelayan memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi.
"Tuan Song, apakah anda belum selesai juga?" Seru si pelayan.
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.
"Tuan Song." Panggi si pelayan sekali lagi.
Karena sama sekali tidak ada jawaban, si pelayan akhirnya membuka pintu kamar mandi dan melihat bahwa di dalam kamar mandi tidak ada siapapun.
Untuk sesaat pelayan itu menjadi bingung. Bagaimana caranya pria bertopeng itu menghilang begitu saja dari kamar mandi.
Si pelayan kemudian melaporkan kejadian tidak masuk akal itu pada pangeran Qin Wu Zhu.
"Yang mulia pangeran, lagi-lagi tuan Song membuat kita penasaran. Bagaimana caranya tuan Song tiba-tiba bisa menghilang begitu saja dari kamar mandi. Ataukah dia itu sebangsa siluman yang mulia?" Ucap Lu Zee menduga-duga.
"Aku juga tidak tahu Zee. Pria itu benar-benar pintar menyembunyikan identitasnya. Yang juga membuatku heran bagaimana bisa dia tiba-tiba ada di ibukota ini. Jika dia memang sedang di ibukota pasti akan menginap di sebuah penginapan di sini. Tapi sampai sekarang tidak ada yang tahu dimana pria itu tinggal sementara." Balas Qin Wu Zhu.
"Jangan lupa kau siapkan semua kebutuhan untuk kita berangkat ke Hanzhong besok lusa Zee." Lanjut pemuda itu.
"Baik yang mulia, hamba tidak akan lupa." Jawab Lu Zee.
****
Kediaman Chu Jeong Byun
Saat ini Chu Pian Ran telah berada di kamarnya dan berganti pakaian seperti semula.
"Xi Eeer!" Panggil gadis itu dengan suara kencang.
Beberapa menit kemudian muncullah pelayan itu dari balik pintu.
"Nona, kau sudah kembali?" Tanya Xi Er sedikit heran.
"Jika kau ingin bertanya nanti saja Xi, sekarang tolong siapkan makanan untukku karena perutku sudah menagih dari tadi." Kata Chu Pian Ran.
"Baik nona, Xi Er akan segera menyiapkannya." Ucap gadis itu.
Lalu dengan cepat Xi Er meninggalkan kamar majikannya untuk melaksanakan apa yang ditugaskannya tadi.
Lima belas menit kemudian, Xi Er bersama seorang pelayan lain datang dengan membawa baki berisi makanan dan seteko teh.
Dengan segera kedua pelayan itu menata makanan dan minuman itu di atas meja.
__ADS_1
Setelah itu pelayan yang satunya undur diri dari ruangan, sedangkan Xi Er masih tinggal di ruangan itu.
"Kau sudah makan Xi?" Tanya Chu Pian Ran sambil mengunyah makanan.
"Sudah sejak tadi nona." Balas Xi Er.
"Apakah ayah dan ibu menanyakanku?" Lanjut Chu Pian Ran.
"Bukan hanya menanyakan nona, tuan dan nyonya besar juga cemas dan bingung bagaimana bisa nona tiba-tiba ada di penjara istana." Sahut pelayan itu.
Baru saja Chu Pian Ran membahas soal kedua orang tuanya, nyonya Chu sudah muncul dari balik pintu.
"Kau sudah kembali sayang." Ucap wanita paruh baya itu lalu duduk di kursi yang ada di samping putrinya.
"Sudah bu, ibu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Ujar Chu Pian Ran dengan mulut masih mengunyah makanan
"Bagaimana bisa kau tiba-tiba muncul di penjara istana nak?" Tanya nyonya Chu penasaran.
"Aku berubah menjadi hantu bu." Jawab gadis itu sekenanya.
Xi Er yang mendengar jawaban nona mudanya itu sedikit jengkel.
"Ayolah sayang, kau jangan bercanda seperti itu. Ibu serius bertanya padamu." Kata nyonya Chu.
Untuk sesaat Chu Pian Ran menghentikan makannya lalu memalingkan kepalanya pada wanita paruh baya itu.
"Apa? Itu tidak mungkin nak. Kau pasti bercanda lagi kan." Ucap nyonya Chu.
"Aku tidak berbohong bu. Aku bisa berubah menjadi kupu-kupu saat aku ada di Sanchuan. Semua itu ada di luar kendaliku." Sambung Chu Pian Ran.
Wanita paruh baya itu menatap putrinya lekat-lekat. Kali ini nyonya Chu benar-benar terkejut.
"Besok lusa pagi aku harus pergi ke Hanzhong bu. Aku harus menolong ketiga pria yang difitnah itu." Lanjut Chu Pian Ran.
"Baru beberapa hari kau pulang dan ingin pergi lagi nak? Tidak sayang tidak, Ibu tidak mengijinkanmu." Protes nyonya Chu.
"Bu, di luar sana banyak orang menderita yang butuh pertolonganku. Jika aku hanya berdiam diri saja, akulah yang merasa sangat bersalah bu." Gadis itu berusaha memberi pengertian pada ibunya.
Wanita paruh baya itu terdiam. Beberapa menit kemudian masuklah tuan Chu ke kamar putrinya.
Sadar jika para majikannya itu akan mengadakan perbincangan serius, Xi Er pun minta ijin untuk undur diri.
Malam harinya...
"Kau akan pergi lagi?" Tanya pemuda itu dengan nada tidak rela.
"Iya Lee, aku harus pergi." Balas Chu Pian Ran singkat.
__ADS_1
"Dengan pangeran Qin Wu Zhu?" Lanjut Lee.
"Bukan hanya kami berdua yang berangkat, tapi dia pasti juga membawa para pengawalnya." Terang Chu Pian Ran.
Kedua tangan Lee lalu merengkuh pinggang gadis itu lalu menariknya agar merapat padanya.
"Apa yang kau lakukan Lee?" Tanya gadis itu dengan hati agak jengkel.
"Dengar sayang, sekalipun kau menyamar menjadi laki-laki tapi tetap saja aku tidak rela kau terlalu lama dekat-dekat dengan pemuda lain. Pangeran Qin Wu Zhu itu bukan pemuda sembarangan, jika dia jadi tahu identitas aslimu bagaimana?" Kata Lee dengan raut wajah sedikit cemberut.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyimpan rahasiaku rapat-rapat Lee. Kau terlalu berpikir berlebihan." Sahut Chu Pian Ran.
Lee menatap mata kekasihnya itu lekat-lekat. Kedua mata sepasang kekasih itu pun akhirnya beradu.
Beberapa detik kemudian bibir Lee mencium lembut bibir gadis itu.
"Lalu kapan kau akan pulang?" Tanya Lee setelah bibirnya terlepas dari bibir Chu Pian Ran.
"Aku tidak tahu. Tergantung masalah itu cepat selesai atau tidak." Jelas Chu Pian Ran.
"Jangan lupa sayang, kita akan bertunangan." Lee mengingatkan kekasihnya.
"Iya aku ingat." Balas Chu Pian Ran singkat.
Tangan kanan Lee kemudian sedikit menyingkap kerah pakaian kekasihnya itu lalu menariknya berusaha mengintip sesuatu yang ada di baliknya.
Untungnya saat itu mereka berdua sedang ada di kamar Chu Pian Ran, jadi tidak ada seorangpun yang mengetahui tingkah laku Lee itu.
"Apa yang kau lakukan Lee?" Tanya Chu Pian Ran jengah.
"Aku sedang mencari sesuatu. Sebentar lagi kau akan pergi lagi padahal baru beberapa hari saja kita bertemu, jadi aku mau melihat itu lagi." Jelas Lee tanpa sungkan.
Tangan pemuda itu melanjutkan kembali aksinya hingga terlihatlah sebagian salah satu bagian tubuh Chu Pian Ran yang membuat Lee terpesona.
Lee menyingkapkan separuh pakaian atas kekasihnya hingga bagian itu kini terlihat jelas.
Lee menundukkan kepalanya dan terulanglah peristiwa yang pernah terjadi di gua beberapa waktu yang lalu.
Chu Pian Ran tidak menolak. Gadis itu memejamkan matanya dan menikmati apa yang pemuda itu lakukan.
Lee melakukan itu lebih dari setengah jam. Kemudian pemuda itu merapikan kembali pakaian kekasihnya.
"Ingat sayang, sampai kapanpun kau adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan pemuda lain merebutmu dariku." Ujar Lee.
Chu Pian Ran membelai pipi pemuda itu kemudian mencium bibirnya.
Kedua insan itupun saling menyatukan bibir kembali dengan perasaan sayang.
__ADS_1
Malam itu Chu Pian Ran dan Lee memadu kasih sebelum mereka berpisah kembali.