Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 139 Lee Chu Mian Yin Mencoba Kesaktian Cincinnya


__ADS_3

"Jangan pelit begitu dong..., sekali-kali paman kan juga ingin merasakan bagaimana punya kekuatan supranatural," pangeran kedua Kaisar Qin itu masih saja menggoda keponakan angkatnya.


"Pokoknya tidak boleh, cincin ini kan miliknya Yin'er!" putrinya Lee Jiang Wook berusaha mempertahankan benda berharga miliknya.


"Iya iya, paman kan cuma bercanda, kenapa kamu anggap serius sih...," akhirnya Qin Wu Zhu pun menghentikan gurauannya karena gadis kecil yang berdiri di dekatnya itu menganggap sikapnya barusan adalah sesuatu yang serius.


"Sekarang paman akan tes kamu ya. Kamu lihat bendera kecil berwarna merah yang ada di atas atap sana, coba kamu panah bendera itu," lanjut jenderal muda tersebut sambil jari telunjuk tangan kanannya menuding ke arah bendera yang terus bergerak-gerak karena tertiup angin, yang jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka berdiri.


"Jauh sekali paman, lagipula benderanya terus bergerak-gerak seperti itu, kan sulit untuk dipanah," sahut Lee Chu Mian Yin jujur sekaligus ragu-ragu apakah dia mampu untuk memanah bendera merah tersebut.


"Ini kan sekedar latihan sayang, kalau gagal ya tidak apa-apa...," pangeran kedua Kaisar Qin itu mengingatkan keponakan angkatnya jika apa yang dimintanya tadi hanyalah uji kemampuan saja.


Tak berapa lama, terlihatlah gadis kecil itu mengambil sebuah anak panah di tempat penyimpanan lalu memasang benda tersebut di busurnya dan kemudian untuk beberapa saat dia konsentrasi pada target panahannya yakni bendera kecil berwarna merah yang ada di atas atap yang jaraknya sekitar 100 meter an.


Setelah merasa yakin, putrinya Lee Jiang Wook pun melepas anak panah itu yang ternyata sukses melubangi bendera berwarna merah tersebut.


Plok plok plok plok...


Qin Wu Zhu pun memberikan tepuk tangan sebagai wujud penghargaan atas keberhasilan Lee Chu Mian Yin dalam melakukan tes yang dia berikan.


"Sepertinya memang benar, cincin pemberian para peri itu yang membuatmu bisa melakukan hal yang sekiranya sulit kamu kerjakan... Ingat Yin'er, jangan beritahu tentang rahasia cincin tersebut pada sembarang orang. Jika ada orang lain yang bertanya tentang cincin itu, jawab saja jika benda itu pemberian dari ayahmu. Kan ayahmu punya toko perhiasan," jenderal muda itu memberi wejangan pada keponakan angkatnya.


"Baik paman," jawab gadis kecil itu mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pamannya tadi.


"Bagaimana kalau sekarang kamu mencoba melakukan sesuatu yang lain untuk mengetahui kehebatan cincinmu itu?" imbuh pangeran kedua Kaisar Qin.


"Mencoba dengan cara apa paman?" tanya Lee Chu Mian Yin dengan lugunya.


"Ya misalnya saja kamu mengangkat benda tanpa dengan menyentuhnya atau apa begitu, siapa tahu saja kamu mempunyai kemampuan seperti ibumu," balas Qin Wu Zhu memberi masukan.


Dan benar saja, beberapa detik kemudian gadis kecil itu pun mencoba saran pamannya dengan mengangkat tempat untuk menyimpan anak panah yang letaknya tak jauh darinya.


Setelah mengulurkan tangan kanannya 2 meter an dari benda tersebut, putrinya Lee Jiang Wook pun berusaha mengangkat tempat penyimpanan anak panah itu dengan menggerak-gerakkan tangan kanannya beberapa kali hingga...


Klontang


Terdengar suara benda yang terbuat dari besi tersebut jatuh.


"Bagus Yin'er, kamu coba lagi beberapa kali," ucap jenderal muda itu memberi semangat pada keponakan angkatnya sambil menegakkan kembali tempat penyimpanan anak panah tersebut.


Tak berapa lama, Lee Chu Mian Yin pun mengulang beberapa kali apa yang dilakukannya tadi hingga belasan menit kemudian dia berhasil mengangkat benda itu sejauh 3 meter an dari tanah.


Saat ini, tampaklah tempat penyimpanan anak panah tersebut melayang di udara. Beberapa detik kemudian, gadis kecil itu menggerakkan tangan kanannya ke kanan dan ke kiri yang membuat benda tersebut bergerak selaras dengan perpindahan tangan kanannya itu.


Setelah yakin jika dia memiliki kelebihan menggerakkan, mengangkat atau pun memindahkan benda tanpa menyentuhnya, putrinya mendiang Chu Pian Ran pun mengembalikan benda tersebut di tempatnya semula.


"Jangan lupa ya nanti di rumah terus kamu asah kesaktian cincinmu Yin'er... Kelak kelebihan yang kamu miliki itu pasti akan berguna," pesan Qin Wu Zhu pada keponakan angkatnya.


"Iya paman."


🌹


Sore harinya...


Saat ini, tampaklah Lee Jiang Wook beserta putri kesayangannya sedang ada di gazebo taman dengan Lee Chu Mian Yin berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan ayahnya.


"Bagaimana latihannya hari ini sayang?" tanya ayah muda itu sambil tangan kanannya mengelus rambut panjang putrinya.

__ADS_1


"Lumayan ayah, hari ini Yin'er sudah bisa menancapkan anak panah tepat di bagian tengah papan," jawab gadis kecil itu masih belum menceritakan kehebatan cincinnya.


"Baguslah kalau begitu... Apa kamu ingin jalan-jalan? Jika iya, besok ayah akan libur kerja dan menemanimu," ucap Lee Jiang Wook.


Lee Chu Mian Yin yang tadinya berbaring dengan posisi miring sekarang mengubahnya menjadi telentang agar dia bisa melihat wajah ayahnya.


"Jalan-jalan kemana yah?" tanya gadis kecil itu lumayan semangat, karena semenjak kepergian ibundanya minatnya untuk jalan-jalan sempat menurun secara drastis.


"Terserah kamu nak, entah kamu ingin berkuda atau jalan-jalan untuk belanja, ayah akan menemanimu," ujar ayah muda itu sambil menatap putrinya.


"Bagaimana kalau berkuda sampai luar gerbang ibukota? Apakah boleh?" lanjut Lee Chu Mian Yin penuh harap.


"Tentu boleh sayang, besok setelah sarapan kita berangkat ya...," jelas Lee Jiang Wook yang membuat gadis kecil itu senang.


"Baiklah ayah."


"O iya yah, ada yang ingin Yin'er beritahukan pada ayah...," imbuh Lee Chu Mian Yin.


"Apa itu sayang?" balas ayah muda tersebut dengan masih menatap putrinya.


"Cincin ini hebat lo yah," ujar gadis kecil itu sambil mengulurkan tangan kanannya yang mana di jari bagian tengahnya terpasang sebuah cincin.


"Hebat bagaimana maksudnya nak?" sambung Lee Jiang Wook penasaran.


"Cincin ini yang membuat Yin'er bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Biasanya Yin'er kan masih sulit menancapkan anak panah tepat di bagian tengah, tapi sejak awal latihan tadi pagi Yin'er langsung bisa membidik bagian tengah papan..." terang Lee Chu Mian Yin.


"Lalu paman Zhu'er mengetes Yin'er untuk memanah bendera merah kecil yang terus bergerak-gerak karena tertiup angin yang ada di atas atap yang jaraknya lumayan jauh dari Yin'er, eh waktu Yin'er memanahnya ternyata langsung bisa melubangi kain benderanya," tambah gadis kecil itu.


"Apa iya itu karena kehebatan cincinmu nak? Siapa tahu saja itu karena kamunya yang pintar...," sahut ayah muda itu terus terang dan masih ragu-ragu dengan apa yang diceritakan oleh putrinya.


Untuk sesaat, Lee Jiang Wook menatap lekat putrinya, sebelum berkomentar lebih lanjut, datanglah Nyonya Lee Jiang Xun menghampiri ayah dan anak itu.


"Kalian ada di sini rupanya...," kata wanita paruh baya itu setelah duduk di gazebo di samping kiri putranya.


"Iya bu, baru saja Yin'er bercerita tentang kehebatan cincinnya," ucap ayah muda itu sambil menoleh pada ibunya.


"Oh ya? Hebat bagaimana maksudnya?" tanya Nyonya Lee Jiang Xun penasaran.


"Katanya sewaktu latihan tadi, yang biasanya dia susah membidik anak panah ke bagian tengah papan sasaran, sejak awal latihan dia sudah bisa melakukannya. Bahkan dia juga bisa melubangi kain bendera kecil yang ada di atas atap yang jaraknya lumayan jauh," jawab Lee Jiang Wook.


"Bahkan Yin'er juga bisa mengangkat atau memindahkan tempat penyimpanan panah dengan tanpa menyentuhnya," lanjut ayah muda itu yang membuat wanita paruh baya yang duduk di samping kirinya tersebut sempat tercenung untuk sesaat.


"Iya lo nek cincinnya Yin'er ini ternyata hebat, bisa membuat Yin'er bisa melakukan sesuatu yang luar biasa. Paman Zhu'er saja mau membeli mahal cincin ini, tapi Yin'er menolaknya," sela Lee Chu Mian Yin sambil bangkit dari posisi berbaringnya yang tentu saja membuat rambut gadis kecil itu agak berantakan yang kemudian dirapikan oleh ayahnya.


"Benarkah itu sayang?" imbuh wanita paruh baya itu ingin memastikan apa yang diceritakan oleh cucu kesayangannya itu.


"Benar nek. Besok setelah berkuda dengan ayah, Yin'er akan mencoba latihan yang lain lagi, siapa tahu Yin'er nanti bisa sehebat ibu," ujar gadis kecil itu dengan polosnya.


"Kau ingin berkuda dengan Yin'er kemana nak?" lanjut Nyonya Lee Jiang Xun sambil menatap putra tunggalnya itu.


"Yin'er minta berkuda sampai di luar gerbang ibukota bu," sahut Lee Jiang Wook jujur.


"Apa?" wanita paruh baya itu melihat anaknya tersebut dengan tatapan tidak setuju.


"Ibu tidak perlu khawatir terlalu berlebihan, kita akan baik-baik saja kok... Lagipula iblis jahatnya juga sudah dimusnahkan oleh para peri," imbuh ayah muda itu dengan suara pelan, berusaha untuk meyakinkan ibunya.


"Ya sudahlah, tapi berkudanya jangan terlalu jauh dari luar ibukota ya," Nyonya Lee Jiang Xun memperingatkan putranya.

__ADS_1


"Baik bu."


🌹


Keesokan harinya...


Seperti yang telah dijanjikannya kemarin, setelah sarapan, Lee Jiang Wook menemani putrinya berkuda menuju luar gerbang ibukota.


Karena jalanan ibukota pada pagi hari itu ramai seperti biasanya, ayah muda tersebut mengendarai kudanya dengan pelan.


Lee Chu Mian Yin yang sudah dua bulanan lebih tidak jalan-jalan dengan berkuda pun tentu lumayan senang, di sepanjang jalanan ibukota, gadis kecil cantik tersebut mengedarkan pandangannya menyaksikan hiruk pikuk penduduk ibukota yang melakukan aktifitasnya masing-masing.


Empat puluh menitan kemudian, ayah dan anak itu sampai di gerbang ibukota. Saat mereka berdua melewati gerbang, para prajurit penjaga pun melambaikan tangan kanannya yang dibalas lambaian tangan juga oleh Lee Chu Mian Yin.


Begitu ada di luar ibukota, Lee Jiang Wook pun menambah kecepatan kudanya menuju ke area dekat sungai, yang merupakan salah satu tempat kenangan antara ayah muda tersebut dengan mendiang istrinya saat mereka belum menikah, sambil tangan kirinya merangkul pinggang putrinya, sementara tangan kanannya memegang tali kekang kuda.


Setelah sampai di area yang lumayan bagus, Lee Jiang Wook pun menghentikan kudanya, turun dari punggung binatang berkaki empat itu lalu gantian menurunkan tubuh putrinya dari punggung si kuda.


Sesudah menambatkan kuda tersebut di salah satu batang pohon, Lee Chu Mian Yin minta ditemani oleh ayahnya untuk jalan-jalan di sekitar sungai itu.


Sambil menemani putri tunggalnya jalan-jalan, pikiran Lee Jiang Wook mengembara mengenang sosok istri yang sangat dicintainya, hingga tanpa dia sadari, Lee Chu Mian Yin telah berada di tepi sungai dan mengangkat sebuah batu berukuran sedang dengan gerakan tangan kanannya yang langsung membuat ayah muda itu terkejut lalu dengan segera menghampiri gadis kecil tersebut.


"Jangan lakukan di sini sayang," cegah Lee Jiang Wook begitu dekat dengan putrinya.


Karena dilarang oleh ayahnya, Lee Chu Mian Yin pun menjatuhkan batu yang awalnya melayang tadi kembali ke sungai.


"Kenapa ayah?" gadis kecil yang masih lugu itu merasa heran dengan sikap ayahnya.


"Jika kamu melakukan di tempat terbuka seperti ini dan ada makhluk jahat yang melihatmu bagaimana? Bisa-bisa kamu dicelakai gara-gara cincinmu itu nak...," Lee Jiang Wook memperingatkan putrinya.


"O iya ya... Maafkan Yin'er ya ayah, Yin'er lupa...," Lee Chu Mian Yin baru tersadar akan kesalahannya.


"Sebaiknya kita pulang sekarang ya sayang, tadi nenekmu sudah berpesan agar kita tidak berkuda terlalu jauh..."


Tak berapa lama, tampaklah ayah dan anak itu menapakkan kaki mereka kembali menuju ke tempat si kuda ditambatkan, lalu mereka naik ke atas punggung binatang berkaki empat itu secara bergantian.


Beberapa menit kemudian, Lee Jiang Wook pun melajukan kudanya dengan kecepatan sedang menuju ke ibukota sambil tangan kirinya merangkul pinggang putrinya, sedangkan tangan kanannya memegang tali kekang si kuda.


Satu jam kemudian...


Saat ini, terlihatlah Lee Chu Mian Yin sedang berada di atas gazebo taman kediaman Lee dan mencoba mempraktekkan ilmu peringan tubuh seperti yang dimiliki oleh ayahnya.


Sebagai permulaan, Lee Jiang Wook meminta putrinya tersebut untuk melayangkan tubuhnya dari atas gazebo menuju sebuah kursi kayu yang agak panjang yang telah disiapkan sebelumnya oleh ayahnya dengan jarak 4 meter an dari gazebo.


Sementara gadis kecil itu memantapkan hatinya untuk beberapa saat sebelum beraksi, Lee Jiang Wook pun berdiri di antara gazebo dan kursi kayu sebagai langkah antisipasi jika putrinya gagal mencoba dan terjatuh.


Setelah merasa yakin, tak berapa lama Lee Chu Mian Yin pun merentangkan kedua tangannya lalu dia mengangkat kaki kirinya dan mencoba untuk terbang yang ternyata bisa dan akhirnya kedua kakinya mendarat di kursi kayu dengan posisi tubuh sempat tidak seimbang namun langsung disangga oleh ayahnya.


"Awal yang bagus sayang, kamu ingin mencobanya lagi?" kata Lee Jiang Wook sesudah menegakkan tubuh putrinya.


"Iya ayah, Yin'er mau mencobanya lagi sampai mahir," balas Lee Chu Mian Yin antusias.


"Pelan-pelan saja ya sayang, usahakan tubuhmu seimbang saat mendarat dan jangan gugup...," ayah muda itu memberikan sedikit masukan pada putrinya.


"Iya ayah."


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2