
Karena saat itu telah lewat tengah hari, maka tuan Chu Jeong Byun pun mengajak pangeran Qin Wu Dang dan kedua besannya untuk makan siang bersama.
Sebelum masuk ke ruang makan, tak lupa, nyonya Chu memerintahkan beberapa pelayan perempuannya agar membeli banyak buah-buahan dan memotong-motongnya untuk makanannya si burung elang raksasa.
Tanpa menunggu lama, salah satu dari pelayan yang mendapat instruksi tersebut pun segera menemui bibi Chen selaku 'kepala pelayan' sekaligus pihak 'pemegang keuangan' kediaman Chu, yang bertugas mendistribusikan dana untuk membeli sebagian besar kebutuhan sehari-hari di kediaman tersebut, sementara itu pelayan yang lain menunggu temannya di depan gerbang kediaman yang saat itu telah kembali sepi seperti biasanya.
Sesudah mendapatkan uang dari bibi Chen, pelayan itu pun segera menyusul temannya yang lain yang sedang menunggunya di gerbang kediaman dan setelahnya mereka pun langsung berangkat ke kios buah-buahan langganan kediaman Chu.
Saat ini, terlihatlah keluarga Chu sedang makan siang bersama pangeran Qin Wu Dang dan kedua besannya dengan diiringi oleh tatapan matanya Jinying yang waktu itu berdiri di pangkuannya Chu Pian Ran.
"Jinying, apakah kamu tidak lapar?" tanya anak dari putra mahkota Qin Wu Zhang yang saat itu duduk di samping kanan nyonya muda Lee sambil menoleh pada bayi burung elang itu.
"Kik kik...," balas Jinying malah menatap Lee Chu Mian Yin, dan tingkahnya itu tentu saja mendapat respon dari putrinya Chu Pian Ran.
"Tunggu sebental ya Jinying, Yin'el tak makan siang dulu setelah itu gantian kamu yang makan..."
Mendengar jawaban dari teman manusianya itu, si bayi burung elang emas pun menganggukkan kepalanya dan mau tidak mau binatang itu pun terpaksa harus bersabar untuk menahan rasa laparnya.
Begitu acara makan siang selesai, Lee Chu Mian Yin pun segera mengambil tubuh Jinying dari pangkuan ibunya, menggendongnya, lalu mengajaknya ke depan teras kediaman utama, sementara itu nyonya muda Lee membawa piring lebar berisi buah-buahan dan sebuah pisau.
Kini, tampaklah Chu Pian Ran sedang duduk di kursi yang ada di teras kediaman utama sambil memotong-motong buah-buahan dengan ditemani oleh putrinya di samping kanannya dan anak putra mahkota Qin Wu Zhang di sebelah kirinya. Sedangkan untuk Jinying, bayi burung elang itu diletakkan di atas meja dengan merasa tak sabaran menunggu nyonya muda Lee memotong buah yang pertama.
Sesudah buah yang pertama selesai dipotong, dengan segera si Jinying pun mematuki dan memakan potongan buah-buahan tersebut dengan paruh emasnya yang kuat.
Hingga belasan menit, Chu Pian Ran terus memotong buah-buahan tersebut dan baru berhenti setelah buah-buahan yang ada di atas piring tadi habis tak tersisa.
Sementara itu tak jauh dari mereka, terlihatlah si burung elang emas raksasa juga sedang menyantap potongan buah-buahan yang baru saja disiapkan oleh beberapa pelayan perempuan tadi yang diletakkan di dalam bak air kayu yang besar, yang isinya bisa muat 20 kg buah-buahan apel bercampur pir.
Selama puluhan menit, ibu dan anak burung itu pun tampak sedang menyantap buah-buahan hingga sosok Lee Jiang Wook muncul dari gerbang utama sepulang dari toko perhiasan milik keluarganya.
"Halo ibu burung, selamat makan...," ucap Lee Jiang Wook sambil tangan kanannya melambai pada induknya Jinying yang kemudian mendapat balasan berupa anggukan kepala dari burung elang raksasa itu.
__ADS_1
"Ayah Wook sudah pulang? Lihat yah, Jinying datang kemali belsama ibunya kalena lindu pada Yin'el...," kata Lee Chu Mian Yin begitu ayahnya telah duduk di samping kanannya.
"Iya sayang, ayah sudah pulang... Halo bayi burung yang imut, bagaimana kabarmu?" sahut ayah muda tampan itu menjawab pertanyaan putri kecilnya yang kemudian tangan kanannya mengelus puncak kepala Jinying yang saat itu bayi burung elang itu masih makan potongan buah-buahan di atas meja dengan lahapnya.
Karena Jinying sedang fokus dengan makanannya, bayi burung elang itu pun tidak membalas pertanyaan Lee Jiang Wook yang akhirnya membuat si Jinying mendapat teguran dari Lee Chu Mian Yin.
"Jinying, ayah Wook beltanya padamu itu lo, kok tidak dijawab..."
Mendapat peringatan dari teman manusianya itu, si Jinying pun langsung menghentikan kegiatan makannya untuk sesaat lalu menolehkan kepalanya pada ayahnya Lee Chu Mian Yin sambil mengeluarkan suara khas nya yang artinya 'kabarku baik'.
Sesudah membalas sapaan Lee Jiang Wook, bayi burung elang itu pun langsung melanjutkan kembali aktifitas makannya karena perut binatang itu memang masih merasa lapar.
"Halo pangeran Qin Wu Dang, bagaimana kabarnya?" lanjut ayah muda tampan itu sambil melihat pada anak dari putra mahkota Qin Wu Zhang dan selir Liang Jing Zao itu.
"Kabarku sangat baik paman Wook... Paman baru pulang kerja ya?" balas bocah laki-laki berumur 8 tahunan itu.
"Iya pangeran, banyak urusan yang harus saya kerjakan di toko perhiasan hari ini...," jawab Lee Jiang Wook.
"Iya sayang, ayah lumayan lelah... Tentu saja ayah mau jika Yin'er ingin memijit ayah..."
Tak berapa lama, Lee Chu Mian Yin pun beranjak dari tempat duduknya lalu kedua tangannya yang kecil itu pun mulai memijit sepanjang tangan kiri ayahnya lalu kini telah beralih ke kedua pundak Lee Jiang Wook.
"Terimakasih banyak ya putri ayah cantik...," ujar ayah muda tampan itu.
"Iya ayah tidak apa-apa, kan Yin'el sayang pada ayah... Kalau ayah butuh pijitan, langsung saja ngomong ke Yin'el ya...," imbuh gadis kecil itu.
"Kau sudah pulang nak?" tanya nyonya Lee Jiang Xun begitu muncul dari balik pintu kediaman utama yang disusul oleh suaminya.
"Iya bu, Lee baru saja pulang dari toko perhiasan... Ayah dan ibu di sini juga rupanya?" jawab Lee Jiang Wook sambil menoleh pada kedua orang tuanya itu.
"Iya lah nak, ayah dan ibumu ini tentu saja sangat ingin melihat burung elang emas raksasa milik Dewa Shao Hao. Rugi dong kalau menyia-nyiakan kesempatan luar biasa ini...," ucap wanita paruh baya itu jujur setelah dia duduk di kursi di samping kiri putranya bekas tempat duduknya Lee Chu Mian Yin tadi, sedangkan suaminya duduk di kursi kosong yang ada di samping kanan putranya.
__ADS_1
"Cucu kakek benar-benar pintar... Gantian kakek dong yang minta pijit...," sela tuan Lee Jiang Xun sambil melihat pada cucunya yang masih memijit kedua pundak ayahnya.
"Kakek juga capek ya? sebental ya kek, setelah ini gantian Yin'el yang akan pijitin kakek..."
🌹
Tiga jam kemudian, setelah menumpang mandi di kediaman Chu Jeong Byun, pangeran Qin Wu Dang pun dijemput oleh dua prajurit suruhan ayahnya. Setelah berpamitan dengan keluarga Chu dan keluarga Lee, bocah laki-laki berumur 8 tahunan itu pun pamit undur diri dan pulang ke istana dengan dikawal oleh dua prajurit tersebut.
Belasan menit kemudian, tuan dan nyonya Lee Jiang Xun pun juga pamit undur diri untuk kembali ke kediaman mereka karena pasangan suami istri itu sudah cukup lama berada di rumah besannya.
Saat ini, terlihatlah Lee Chu Mian Yin sedang berbincang dengan Jinying di depan teras kediaman utama dengan ditemani oleh Chu Pian Ran.
Tak berapa lama, muncullah 'pikiran iseng' dari nyonya muda Lee. Setelah beranjak dari kursinya, perempuan cantik itu pun mendekati induknya Jinying lalu melambaikan tangannya sebagai isyarat agar burung elang raksasa itu menurunkan kepalanya.
"Sebelum pulang jangan lupa ya eek emas yang besar supaya emasnya nanti bisa kujual dan bisa untuk belanja barang-barang mahal...," bisik Chu Pian Ran asal-asalan di telinga kiri induknya Jinying yang langsung saja dibalas dengan gelengan kepala dari binatang raksasa itu.
"Ayolah jangan pelit seperti itu... Ingat ya, makhluk yang pelit akan sulit masuk surga lo...," lanjut perempuan cantik itu yang tetap saja dijawab dengan gelengan kepala.
"Kamu itu memang payah ah... Ya sudah kalau begitu bagaimana jika besok kau ajak aku terbang bersama putriku? Mau tidak?" imbuh nyonya muda Lee yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala dari induknya.
"Nah begitu dong... Betulan besok lo ya, awas kalau bohong, tak panggang nanti anakmu...," ujar peri cantik itu mulai bicara sembarangan.
"Krak krak...," burung elang raksasa itu pun bersuara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak tidak, aku tadi hanya bercanda... Kenapa juga kamu anggap serius..."
Malam itu pun, Jinying dan induknya pun menginap di kediaman Chu.
Karena satu hari di dunia atas sama dengan tujuh hari di dunia bawah, maka Dewa Shao Hao yang saat itu belum pulang ke istananya pun belum mengetahui jika burung elang emas raksasa kesayangannya beserta bayinya sudah berada setengah harian lebih di kediaman Chu.
🌹🌹🌹
__ADS_1